Angka 98 di layar laptop itu bersinar lembut dalam remang kamar. Di bawahnya berderet 95, 100, dan satu angka 88 berhuruf A-. Ans mematikan layar, lalu menyalakannya kembali dengan ketukan jari. Angka itu tetap sama. Bagi orang lain, lembar hasil studi itu adalah impian. Bagi Ans, angka 88 adalah selip kecil yang mengganggu, sebuah retak tipis pada cermin yang selalu ia jaga tetap bersih.
Ia menutup laptop di atas meja kerjanya. Di sampingnya tergeletak draf pengajuan riset mandiri dan sertifikasi profesional yang ia bayar dari tabungan sendiri. Sebuah keputusan berani yang menuntut fokus penuh di tengah semester akhir.
Ans berdiri, melangkah keluar kamar.
Suasana rumah hening. Dapur rumah mereka bersih dan rapi, meski sederhana tanpa barang-barang mewah. Beberapa cangkir teh dan piring bekas makan siang masih berada di atas tempat cuci piring. Ans menggulung lengan kemeja kain linen abu-abunya hingga ke siku. Ia menyalakan keran, mengucurkan air di atas spons, lalu mulai menggosok piring pertama. Busa sabun wangi jeruk nipis memenuhi jemarinya. Ans ingat sebuah pesan ringkas dari ceramah Ustaz Adi Hidayat yang pernah ia dengar. Bahwa meringankan urusan orang tua, sekecil membersihkan sisa cangkir di dapur, adalah alasan sederhana agar pintu-pintu kemudahan dibuka dari tempat yang tidak disangka.
Langkah kaki halus mendekat dari arah koridor dalam. Mama berdiri di tepi meja dapur, mengenakan baju kurung rumahan yang rapi.
"Sudah, biar Mama saja, Ans," kata Mama.
Ans membilas cangkir kedua hingga berdecit bersih. "Tinggal sedikit, Mah. Biar Ans."
Mama tidak memaksa. Ia berjalan mendekat, mengambil kain lap halus, lalu mengelap sisa uap air di tepi meja. Ada jeda yang tenang di antara mereka. Sebuah kedekatan tanpa perlu banyak obrolan.
Dari arah pintu depan, langkah kaki terdengar mantap. Ayah melangkah masuk membawa tas kerja. Garis wajahnya tegas, kemeja kerjanya masih rapi meski lipatan di siku menandakan hari yang panjang.
Mata Ayah sempat tertuju pada Ans yang berdiri di depan tempat cuci piring. Ada detik yang tertahan di udara. Ingatan masa lalu hadir tanpa diundang, tentang ekspektasi tinggi yang dulu selalu ditaruh di pundak Ans, dan standar kaku yang membuat mereka perlahan mengambil jarak. Luka itu tidak lagi berdarah, tetapi menyisakan benteng tinggi yang membuat keduanya enggan bicara banyak.
"Pintu depan sudah dikunci?" tanya Ayah. Suaranya berat dan datar.
"Sudah, Yah," jawab Ans.
Ayah mengangguk pelan. Ia berjalan melewati dapur menuju kamarnya. Ans memperhatikan punggung Ayah yang sedikit membongkok saat membuka pintu. Ada pertanyaan kecil yang ingin Ans layangkan, sekadar menanyakan kabar pekerjaannya hari ini, namun lidahnya memilih diam. Pintu kamar Ayahnya tertutup rapat.
Sore harinya, Farhan duduk di sofa teras samping rumah Ans. Dua cangkir kopi aroma arabika tersaji di meja kayu.
"Ans," panggil Farhan setelah menyeruput kopinya. "Tadi waktu gue nunggu di depan kamar kamu sebelum shalat selesai, gue dengar kamu berdoa."
Ans menatap pantulan bayangan dedaunan di halaman. "Doa untuk orang tua?"
"Iya. Tapi beda dari yang biasa gue denger," kata Farhan. "Ujungnya kamu tambah kata apa tadi?"
Ans tersenyum tipis. Ia merapikan posisi cangkirnya. "Aku tambah wa kabiira."
Ia melafalkan kembali kalimat itu dengan tajwid yang halus:
"رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا وَكَبِيْرًا"
(Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani soghira wa kabiira)
"Kenapa harus ada wa kabiira?" tanya Farhan.
"Secara bahasa artinya, Ya Rabb ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka merawatku di waktu kecil dan di waktu besar," ujar Ans pelan.
Ia membiarkan angin sore berhembus sejenak.
"Orang tua kita tidak cuma menyayangi kita waktu kita masih kecil dan lucu, Far. Di usia kita yang hampir dua puluh tahun ini, saat kita sudah punya jalan sendiri, punya ego, atau kadang beda pandangan, mereka tetap menyayangi kita. Kasih sayang mereka tidak berhenti saat kita dewasa. Makanya aku tambah wa kabiira."
Farhan terdiam. Ia menatap Ans cukup lama, lalu mengangguk pelan tanpa menimpali lagi.
***
Malam merambat makin larut. Mama duduk di sofa ruang keluarga, membaca buku di bawah lampu meja yang hangat. Ans mendekat, membawa draf pengajuan riset mandiri di tangannya.
"Mah," panggil Ans halus.
Mama menoleh, meletakkan bukunya di meja. "Kenapa, Ans?"
"Ans mau ambil riset dan sertifikasi mandiri di luar kampus. Pakai tabungan Ans sendiri," kata Ans pelan. "Jadwalnya padat sekali. Ans cuma takut kalau hasilnya tidak maksimal, nilai semester ini bisa terpengaruh. Ans pernah gagal di proyek tahun lalu, dan Ans takut terulang."
Mama menatap wajah putranya. Mama tidak terlalu paham kerumitan dunia akademis atau riset yang disukai Ans. Bagi Mama, Ans adalah anak yang selalu membawa pulang lembaran nilai sempurna.
"Jangan terlalu dibebankan semuanya," kata Mama. Suaranya menenangkan.
Ans menunduk. Rasa takut akan kegagalan kecil terasa menghimpit dadanya. Ia menatap mata Mama kembali.
"Mah, kita punya Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Kalau Mama ridha dan restui jalan Ans, izinkan Ans ya. Ans takut kalau Mama tidak izin, Ans gagal lagi. Tapi kalau diizinkan, Ans janji akan berhati-hati dan berusaha lebih baik."
Mama memandang Ans dalam diam yang cukup panjang. Sebuah senyum teduh terukir di wajahnya.
"Iya, tidak apa-apa," kata Mama. "Jaga kesehatanmu. Mama tidak tahu apa-apa soal riset itu. Mama cuma bisa bantu doa."
Ans mengulurkan tangan, menyentuh lembut jemari Mama. "Mah, bacakan Al-Fatihah buat Ans."
Mama mengangkat kedua telapak tangannya. Bisikan ayat-ayat suci mengalir pelan di ruang keluarga itu. Ans memejamkan mata, meresapi setiap lafaz yang keluar dari bibir ibunya. Seusai doa, Ans mencium telapak tangan Mama yang wangi.
Pukul setengah satu malam, Ans mematikan lampu meja di kamarnya. Ia keluar menuju dapur untuk mengambil gelas air hangat. Suasana rumah benar-benar hening. Saat melewati lorong depan, ia melihat pintu kamar Ayah sedikit terbuka. Di dalam, Ayah tertidur di kasur dengan kacamata baca yang masih berada di pangkal hidung. Di meja kayu di depannya, berkas-berkas pekerjaan menumpuk. Ans berdiri sejenak di ambang pintu, memperhatikan helaan napas Ayah yang teratur. Rasa hangat muncul perlahan di sudut hatinya. Kasih sayang di antara mereka mungkin tidak pernah diucapkan dengan kata-kata manis, tetapi selalu ada di sana, diam dan bertahan.
Di dekat dapur, Mama keluar dari kamar dengan mukena putih yang masih terpasang seusai shalat malam.
"Belum tidur, Ans?" tanya Mama pelan.
"Baru mau tidur, Mah," jawab Ans.
Mama merapikan ujung mukenanya. "Jangan tinggalkan salat di mana pun, ya."
Ans tersenyum. "Iya, Mah. Selalu."
Mama mengangguk lembut lalu kembali ke kamarnya.
Ans berdiri sendirian di dekat jendela yang menghadap pekarangan. Di luar, gerimis tipis mulai jatuh membasahi dedaunan. Ans menyadari sesuatu. Selama ini ia terlalu sibuk mengejar nilai 100 dan kesempurnaan angka hanya untuk membuktikan bahwa ia mampu berdiri sendiri di hadapan dunia.
Padahal di rumah ini, ada seseorang yang tidak pernah menagih bukti apa pun darinya. Mama tidak pernah meminta angka sempurna. Mama hanya memintanya untuk tidak membawa beban terlalu berat, tidak lupa bersujud, dan selalu tahu jalan untuk pulang.
Sumenep, 1 Oktober 2026
Penulis:
Ans Kaelan, merupakan nama pena dari Khoirul Umam, mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah Universitas Annuqayah, Madura. Ia aktif sebagai penulis, editor, dan praktisi literasi. Hingga kini, ia telah terlibat dalam lebih dari 80 karya antologi berskala nasional dan internasional. Beberapa novel yang ditulisnya antara lain Biansagarta, Madura di Bawah Rintik Hujan, Nukilan Khadijahku, dan Khumaira di Istanbul. Ia juga menulis buku nonfiksi Dasar-Dasar Kepenulisan Fiksi Modern serta aktif sebagai penulis di Wattpad.
