Oleh Arief Munandar
Langit di ufuk barat selalu berubah menjadi warna yang paling jujur ketika senja datang. Di saat itulah dunia seolah berhenti sebentar—membiarkan cahaya terakhir hari memeluk bumi sebelum gelap mengambil alih.
Akmal berdiri di tepi tebing kecil yang menghadap laut. Angin sore menggoyangkan rambutnya yang hitam, sementara matanya menatap garis horizon yang berkilau seperti luka lama yang belum sembuh.
Usianya dua puluh dua tahun, tetapi di wajahnya ada sesuatu yang terasa jauh lebih tua—seperti seseorang yang terlalu lama menyimpan kenangan.
Setiap senja, ia datang ke tempat itu.
Dan setiap senja pula, ia menunggu.
“Kalau suatu hari aku menghilang, kamu harus tetap datang ke sini,” suara lembut itu tiba-tiba hadir di benaknya.
Mira.
Namanya seperti gema yang tak pernah benar-benar pergi.
Akmal menutup mata sejenak. Ingatan itu datang lagi, seperti ombak yang selalu tahu jalan pulang ke pantai.
Dua tahun yang lalu.
Akmal pertama kali bertemu Mira di tempat yang sama.
Hari itu juga senja, dan langit tampak seperti lukisan yang dilukis oleh tangan yang terlalu mencintai warna.
Mira duduk di atas batu besar, memandang laut sambil memeluk lututnya. Rambut panjangnya tertiup angin, dan wajahnya tampak tenang seperti seseorang yang sudah berdamai dengan dunia.
Akmal yang kebetulan lewat sempat ragu untuk menyapa. Namun Mira lebih dulu berbicara.
“Kamu juga suka senja?”
Akmal terkejut.
“Ya… mungkin.”
Mira tersenyum kecil.
“Senja itu aneh. Dia tidak sepenuhnya terang, tapi juga belum gelap. Seperti perasaan yang belum sempat diucapkan.”
Sejak hari itu, mereka sering bertemu.
Kadang mereka berbicara tentang hal-hal sederhana—tentang buku, tentang mimpi, tentang masa depan yang belum tentu terjadi. Kadang mereka hanya duduk diam, membiarkan senja berbicara untuk mereka.
Akmal tidak pernah tahu dari mana Mira berasal. Gadis itu muncul begitu saja setiap sore, lalu menghilang ketika langit benar-benar gelap.
Namun bagi Akmal, itu tidak penting.
Yang penting adalah Mira ada.
Dan perlahan, perasaan itu tumbuh seperti cahaya senja yang menyusup tanpa disadari.
Suatu hari, ketika warna langit berubah menjadi jingga yang sangat dalam, Mira berkata pelan,
“Akmal, menurutmu rindu itu apa?”
Akmal berpikir sebentar.
“Rindu itu… keinginan untuk pulang.”
Mira menatapnya lama.
“Bagaimana kalau kita tidak punya tempat untuk pulang?”
Akmal tertawa kecil.
“Selama ada orang yang menunggu kita, kita selalu punya tempat pulang.”
Mira tidak menjawab.
Ia hanya menatap matahari yang perlahan tenggelam.
Di wajahnya ada kesedihan yang tidak sempat dijelaskan.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Akmal merasakan ketegangan yang aneh—seperti firasat bahwa sesuatu akan berubah.
Beberapa hari kemudian, Mira datang lebih lambat dari biasanya.
Wajahnya pucat, tetapi senyumnya masih sama.
“Aku mungkin tidak bisa sering datang lagi,” katanya.
Akmal mengernyit.
“Kenapa?”
Mira menatap laut.
“Karena waktuku tidak banyak.”
Kalimat itu terasa berat di udara.
“Waktu untuk apa?” tanya Akmal.
Mira tidak menjawab langsung.
Ia berdiri, lalu berjalan mendekati tepi tebing.
“Akmal, kalau suatu hari aku tidak ada, kamu tetap datang ke sini, ya.”
Akmal menggeleng cepat.
“Jangan bicara seperti itu.”
Namun Mira tersenyum.
Senyum yang hangat, tetapi juga menyedihkan.
“Janji.”
Akmal terdiam lama.
Akhirnya ia mengangguk.
“Janji.”
Hari-hari setelah itu berubah.
Mira semakin jarang datang.
Kadang ia muncul hanya beberapa menit sebelum matahari benar-benar tenggelam. Kadang ia sama sekali tidak datang.
Namun Akmal tetap menunggu.
Karena cinta, seperti senja, sering kali datang tanpa logika.
Suatu sore, Mira datang lagi.
Angin terasa lebih dingin dari biasanya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Mira pelan.
Akmal menatapnya.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi dunia seolah berhenti bergerak. Akmal merasa jantungnya berdetak terlalu keras.
“Aku juga,” jawabnya.
Untuk pertama kalinya, mereka saling menggenggam tangan. Hangat. Nyata. Namun di mata Mira, ada air yang hampir jatuh.
“Terima kasih,” bisiknya.
“Untuk apa?”
“Untuk membuatku merasa hidup.”
Itu adalah hari terakhir Akmal melihat Mira.
Setelah senja itu, Mira tidak pernah datang lagi. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar. Hanya keheningan. Namun Akmal tetap kembali ke tebing setiap sore. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Sampai dua tahun berlalu.
Sekarang, senja kembali turun. Langit berwarna jingga seperti dulu. Akmal berdiri di tempat yang sama, memegang liontin kecil yang dulu diberikan Mira. Di dalamnya ada foto mereka berdua—tertawa tanpa tahu waktu akan memisahkan.
Angin laut berhembus lebih kencang. Tiba-tiba langkah kaki terdengar di belakangnya. Akmal menoleh cepat. Seorang perempuan berdiri di sana. Wajahnya… sangat mirip Mira.
Jantung Akmal berdegup keras.
“Mira?”
Perempuan itu tampak terkejut.
“Maaf?”
Akmal mendekat, kebingungan.
Perempuan itu menggeleng pelan.
“Nama saya Lila.”
Akmal terdiam.
Perempuan itu memperhatikan liontin di tangan Akmal.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?”
Akmal mengangkatnya.
“Ini milik Mira.”
Lila menatapnya dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.
“Dia kakakku.”
Dunia terasa berhenti lagi.
Akmal menelan ludah.
“Di mana dia?”
Lila terdiam lama sebelum menjawab.
“Kak Mira meninggal tiga tahun lalu.”
Angin laut tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
“Tidak mungkin,” bisik Akmal.
Lila menunduk.
“Dia sakit sejak lama. Dia sering datang ke tebing ini sebelum meninggal.”
Akmal merasa tubuhnya membeku.
“Tapi… aku bertemu dia dua tahun lalu.”
Lila menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Kalau begitu… mungkin kakakku benar.”
“Benar tentang apa?”
Lila memandang langit yang hampir gelap.
“Kak Mira pernah bilang… kalau cintanya cukup kuat, dia akan tetap datang ke senja.”
Akmal memandang laut. Tiba-tiba semua kenangan terasa berbeda. Senja. Senyum Mira. Kata-kata anehnya.
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
Senja hari itu akhirnya tenggelam. Namun untuk pertama kalinya, Akmal mengerti sesuatu. Cinta sejati tidak selalu tinggal di dunia yang sama. Kadang ia hidup di antara kenangan, rindu, dan cahaya terakhir sebelum malam menghampiri.
Dan di tempat itu—di antara senja dan rindu— Mira masih ada.