Kehidupannya sekilas terlihat datar dan monoton, seakan tak ada yang spesial bagi dirinya. Bukan berarti ia tak bisa bahagia. Iya, dia masih bisa merasakannya, bertemu bapak ibu dan adik-adiknya adalah adegan terbaik dalam hidupnya. Tapi bukan bahagia itu yang dimaksud.
Tiap pagi ditemani angin sepoi-sepoi selepas sang fajar meninggalkan langit, Roni sedang duduk santai di serambi kamarnya. Ia seorang mahasiswa di kampus islam ternama. Roni gemar menyendiri tiap pagi, entah apa yang ia pikirkan, begitu betah ia menjalaninya. Rutinan ini ia jalani setiap hari Senin sampai Jumat, Sabtu, Minggu? Yap kasur tak rela ditinggal pergi olehnya.
Roni dikenal sebagai pribadi yang pendiam, namun bukan anti sosial. Ia aktif pada beberapa organisasi, kepribadiannya juga mudah akrab dengan orang. Ciri khas lain yang dimilikinya adalah sifat cuek dan bodo amatnya yang teramat sangat, meski begitu di sisi lain ia memiliki empati sesama yang luar biasa.
Hari Senin, hari ketika kebanyakan orang malas menemuinya mulai memaksa manusia untuk menjalani kebiasaannya. Begitupun Roni, selepas melakukan rutinannya ia bersiap untuk berangkat menuju kampus. Berpakaian ala adanya, tanpa menggubris tren masa kini sudah biasa, prinsipnya lebih ke tidak mau ribet. Supra peninggalan bapak menunggunya.
“Udah siap belom?”
“Siap gak siap ya harus siap.”
Percakapan kecil yang muncul di kepalanya saat dia memandang motor kesayangannya itu.
Sesampainya di kampus, lorong-lorong kelas ia lewati mencari ruang kelas mata kuliah. Di tengah perkuliahan, Roni mendapati temannya tak bisa lepas dari handphone serta terlihat gelisah dan bingung.
“Duh kenapa sih ndadak mulu” keluh temannya.
“Kenapa bre?” tanya Roni.
“Ini nih pimpinan organisasiku suka tiba-tiba bikin agenda, kesel banget” ucap temannya.
“Udaah sekarang kan lagi kuliah, ini lebih wajib dari organisasimu. Taruh HP-mu dan lupain bentar urusan itu” Roni menasehati kawannya.
“Hmmm ya udah” ucap temannya dengan nada kesal.
Selesai kelas Roni memilih beristirahat di perpustakaan. Melihat temannya yang memikirkan organisasinya ketika kuliah membuatnya ingat akan masa lalunya ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah. Roni dulu termasuk siswa yang gemar tak ikut pelajaran di kelas, keluyuran ke sana ke mari sudah dihafal oleh para gurunya. Ia aktif di organisasi intra sekolah, sebagian besar hari-hari di sekolah dipakai untuk menyiapkan kegiatan sekolah. Namun, pembelajaran saat di bangku sekolah dan perkuliahan berbeda pikir Roni, aktif berorganisasi saat di bangku aliyah meski meninggalkan pembelajaran di kelas adalah termasuk pembelajaran, sedangkan di perkuliahan jika meninggalkan pembelajaran di kelas untuk kepentingan organisasi baginya adalah tindakan yang kurang baik.
Di tengah kesendiriannya tiba-tiba teman Roni datang menghampirinya, Ahmed namanya.
“Roni! sendirian aja nih”
“Iya Med, seperti biasa hehe”
Mereka pun berbincang-bincang cukup lama. Kebetulan mereka sama-sama aktif di organisasi yang sama, tukar pikiran menjadi fokus utama obrolan mereka. Sampai akhirnya Ahmed menanyakan sesuatu hal.
“Ron temen seorganisasi kita si Habibah tuh cakep juga ya, hahaha.”
“Emang kenapa Med? Cinlok ya kamu?”
“Gak sih bercanda aja, hahaha.”
“Ah malu-malu mau aja kok pake dalil bercanda.”
Ahmed pun penasaran selama dia menemani Roni, yang dia lihat Roni tidak pernah menyatakan ketertarikan pada mahasiswi yang ada di kampus ini. Hidupnya terlalu monoton dan gitu-gitu saja.
“Ron kamu gak bosen apa hidup kayak gini-gini terus, coba cari cewek buat dideketin, haha.”
“Males ah buat apa juga, tapi gini-gini ya masih suka cewek loh ya, hahaha.”
“Dih bisa aja kamu, amit-amit jangan sampek mah kalo gak suka cewek, bahaya! hahaha.”
“Udahlah gak usah bahas gituan lah, mumpung kelas hari ini udah selesai aku mau balek dulu ya.”
“Lah ditanya gitu aja terus balek, yaudah hati-hati ya.”
Sesampainya Roni di kamarnya ia langsung membersihkan diri dan beribadah. Setelah semua aktivitas harian telah ia selesaikan Roni rebahan sambil sedikit memikirkan apa yang sudah ia lalui hari ini.
Kejadian tentang temannya yang aktif berorganisasi dan pertanyaan Ahmed tentang asmara, membuat Roni kembali membuka catatan lama yang telah dia kunci rapat-rapat dalam benaknya.
Kisah ini bermula saat Roni masih aliyah, waktu itu dia aktif di kepanitiaan MPLS sekolah. Semua berjalan lancar, Roni tetaplah Roni yang normal, datang, bekerja, pulang, monoton seperti biasanya. Sampai tibalah momen tak terduga yang belum pernah ia rasakan dalam hidupnya.
“Ini absensi panitianya udah semua ya?”
Namun bukan jawaban yang Roni terima, melainkan tatapan mata dengan seorang gadis Lamongan yang juga aktif di kepanitiaan acara itu, Ani namanya.
“Hah? oh iya udah” jawabnya setelah kontak mata dengan durasi beberapa detik itu.
Wajahnya sungguh manis, bola matanya bulat bak permata, bibirnya ketika senyum bak hamparan bunga di taman, indah sekali.
Semenjak kejadian itu Roni mulai berubah, motivasinya untuk berangkat sekolah bukan lagi menggugurkan kewajiban saja tapi juga untuk ngintip gimana keseharian si gadis Lamongan itu. Roni terlihat lebih ceria dan berseri-seri sepanjang hari waktu itu, ia pun tersenyum tipis waktu mengingat masa-masa itu.
Kebetulan Roni bersekolah di sekolah naungan pesantren, mayoritas muridnya adalah santri pondok termasuk si Ani. Roni hanya santri kalong, tiap hari pulang pergi dari rumah ke sekolah. Karena tinggal di pondok pasti tak boleh membawa HP, untungnya Madrasah membolehkan siswanya membawa laptop dan hanya bisa dipakai ketika sekolah, hanya itu satu-satunya celah yang dapat dimanfaatkan.
Setelah memendam rasa itu cukup lama akhirnya dia beranikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Ani si gadis Lamongan itu. Direction Massage atau DM Instagram menjadi saksi percakapan mereka saat itu.
“Halo Ani, mau ngomong sesuatu boleh?”
“Ngomong apa memang?”
“Ini aku mau ngomong kalau aku suka sama kamu, maaf kalau spontan, kata orang kan kalau suka nyatakan saja, maaf ya.”
“Kenapa kok aku?? Maaf ya aku gak mau berhubungan dengan siapa-siapa dulu.”
“Baiklah kalau begitu.”
Setidaknya perasaan yang telah ia pendam lama sudah ia nyatakan, meski jawabannya tak seindah film romantis, Roni tidak diam. Kejadian ini dia ceritakan ke teman-teman dekatnya, lantas ia mendapat wejangan.
“Sabar Ron, kamu terlalu cepat, ajak ngobrol aja dulu tiap hari, bikin dia kenal trus nyaman sama kamu” kata Iqbal, teman Roni yang memang pakar dalam urusan meluluhkan hati wanita, maklum sudah dua wanita pernah dia taklukkan meski akhirnya kandas juga hubungannya.
Mengikuti arahan si Iqbal, Roni pun mulai menyempatkan ngobrol dengan Ani di Instagram, via laptop waktu itu. Kabar baiknya Ani mau merespons meskipun Roni pernah menyatakan cinta padanya. Sekadar tanya kabar dan tugas sekolah menjadi bahan obrolan mereka di sela-sela pelajaran sekolah.
Singkat cerita liburan pun tiba, karena pondok libur akhirnya percakapan Roni dan Ani pun semakin sering. Bahkan sesekali ngobrol langsung via telepon. Suaranya khas, serak-serak imut, bayangnya waktu itu.
Suatu hari masih di tengah obrolan, Ani tiba-tiba mengirim link video TikTok dan ia menulis pesan “aku?”. Video itu berisi lagu Arab yang inti maknanya adalah orang yang sedang mengejar cintanya, waktu itu Roni belum mengerti makna lagu itu.
Reflek Roni pun sedikit teledor ia malah menjawab “maksudnya?”.
Dan yah dia kehilangan momen krusial itu.
Setelah mendapat jawaban itu, Ani menghapus kiriman link video itu dan berkata “Nggak jadi, hehe”.
Roni yang tak begitu lihai membaca tanda-tanda perempuan pun melanjutkan percakapannya, lagi-lagi untung si Ani masih mau menggubrisnya.
Kisah yang saat ini dikenal dengan istilah just friend ini berjalan selama satu tahun. Kebetulan mereka mulai saling kenal saat kelas XII, lumayan buat kenangan indah sebelum lulus pikir Roni. Lalu tibalah momen di mana para siswa mulai bersiap untuk mendaftar di perguruan tinggi. Topik pembicaraan mereka mulai berkurang karena fokus persiapan daftar kampus. Ani daftar SNBP, Roni pun juga sama.
“Kamu ambil prodi sama kampus apa?” tanya Roni.
“Ada dehh” jawab Ani dengan gaya ketikannya yang khas, yaitu melebih-lebihkan huruf akhir suatu kata, kata orang sih ini nunjukin kalo dia excited hehe.
Menjelang H-1 pengumuman Ani mulai overthinking.
“Roni gimana ya hasilnya besok, aku takutt.”
“Yaa apapun hasilnya semoga yang terbaik.”
Begitu pengumuman ternyata Ani lolos SNBP di prodi Akuntansi, begitu terkejutnya Roni bahwa Ani memilih prodi Akuntansi karena Roni juga memilih prodi itu di kampus yang berbeda, namun Roni tak lolos di SNBP. Melihat pilihan prodi yang sama meski tanpa janjian, ia agak kepedean kalau sudah sehati dengan Ani.
Akhirnya Roni pun mendaftar SPAN PTKIN dan syukurnya lolos di prodi Sastra Arab.
“Wiih Alhamdulillah ikut senang dengarnya yaa.” ucap Ani.
“Hehe terima kasih, yaa” jawab Roni.
Tak terasa momen wisuda Madrasah sudah dekat, Roni masih berusaha mendekati Ani meski hanya via chat. Namun, Ani masih berprinsip tak mau berhubungan dengan siapa pun meski sempat goyah waktu itu. Roni melihat Ani sebagai wanita yang teguh pendirian, rasanya semakin suka ia padanya. Percakapan akrab terakhir mereka, berlangsung ketika momen wisuda itu.
“Selamat yaa sekarang sudah diwisuda” ujar Roni.
“Iyaa selamat juga ya kamuu” jawab Ani.
Semenjak wisuda, karena mereka jarang bertemu, maka obrolan pun mulai kehabisan topik. Roni tetap berusaha membuka topik tetapi Ani mulai slow respons. Mungkin mulai sibuk persiapan masuk perguruan tinggi pikir Roni waktu itu.
Roni pun akhirnya tersadar, dirinya meski santri kalong, ia juga pernah nyantri di pondok selama 4 tahun. Melihat Ani yang berusaha teguh pendirian dengan menjaga dirinya sesuai tuntunan syariat membuatnya tersadar bahwa memang belum waktunya untuk menjalani hubungan. Percakapan mereka pun mulai memudar dan perlahan berhenti. Nostalgia pun berakhir.
Masa itu sangat berharga bagi Roni, di mana secara tiba-tiba, tanpa rencana apa-apa, seorang gadis Lamongan dengan kesaktiannya mengubah kehidupan Roni. Dari lelaki yang monoton dan cuek menjadi lelaki yang ceria dan berbunga-bunga. Tapi kembali lagi, sudah sepatutnya sebagai pelajar yang mengerti agama untuk menahan diri karena perintah ilahi.
Akhirnya untuk melampiaskan emosinya, Roni pun beranjak dari kasurnya, mengambil pena dan kertas. Lantas pena itu menari di atas hamparan kertas putih.
pagi yang syahdu kala ituku termenung serta terpakusinar mentari pagi menyapakusimfoni sibuknya dunia menemanikusecangkir kopi ikut bercengkrama dengankunamun risau itu belum hilang dari benakkumemori-memori kala itumasih berputar putar di kepalakulantas terucap dalam kalbuoh tuhan berat sekali menjadi seorang perindu
Setelah menulis sepatah dua patah kata, Roni pun kembali beranjak ke kasur dan menutup mata, sambil berharap mungkin dia muncul dalam mimpinya, lagi-lagi ia tepis harapan itu dan ia memilih tuk berdoa sebelum tidur.
Penulis:
Abdurrosyid Muzakki merupakan seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab di UIN Malang. Menjadi mahasiswa di jurusan sastra membuat dirinya terpancing untuk membuat karya sastra, meskipun belum mahir.