Es Krim Vanila

Cerpen ini mengisahkan perjuangan seorang mahasiswa menghadapi ujian kehidupan, pengorbanan keluarga, dan misteri masa lalu yang mengubah nasibnya.

Suara riuh anak-anak kos di gang sempit itu menambah semaraknya malam menjelang pergantian tahun. Berbarengan dengan kegiatan persiapan akhir semester, para pemuda yang baru dua semester menapakkan kaki di bumi Sepintu Sedulang itu seakan berlomba dengan cita-cita mereka. Masing-masing memegang catatan dan diktat yang sudah menumpuk.

Nonton Drama Korea

Di pojokan teras samping kos, Rizki malah sedang menonton drama Korea. Drama AI yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Tokoh drama itu bernama Rizki Pratama, sama dengannya. Anak dari rakyat biasa yang naik kelas karena ternyata adalah keturunan miliarder ternama perusahaan multinasional, Pratama Corporation.

“Andai nasibku sama seperti tokoh utama drakor itu, hahaha ... alangkah indah hidupku.” Rizki berkata lirih. Teman di sebelahnya malah ikutan tertawa.

“Hahaha, apa iya, ada dunia khayal masuk ke dunia nyata?” Eza menepuk bahu Rizki. “kalau halu jangan ketinggian, entar jatuhnya sakit, loh.”

“Hei, siapa tahu dari khayalan jadi kenyataan, hahaha, berharap,” canda Rizki.

“Belajar yang tekun, biar ujian semesternya dapat A semua. Kita ini bukan pewaris, tetapi cuma perintis.” Eza menepuk bahu Rizki. “Ayo belajar!” Eza menyingkirkan gawai dari tangan Rizki.

“Ish, ganggu aja. Okelah, aku belajar dulu. Perintis memang harus kerja ekstra.” Kedua pemuda itu tertawa. Mereka melanjutkan membuka buku dan diktat yang ditumpuk di pojok meja belajar mereka.

Malam itu mereka lalui dengan membaca dan membuka-buka seluruh catatan perkuliahan. Begitu pun teman-teman Rizki yang lain. Tiada yang bersantai sekejap pun. Hingga pagi datang, barulah kos-kosan itu punya jiwa lagi. Ribut perkara remeh-temeh.

Jumat sore itu, tiba-tiba Rizki yang sedang menekuni buku Teori Ekonomi Makro-nya dikejutkan dengan getaran HP yang hampir saja jatuh bila tak lekas ditangkap. Bibinya menelepon, “Rizki, segeralah pulang dulu, Nak, Pamanmu kecelakaan. Sekarang sudah di RSUD Junjung Besauh.”

“Paman kecelakaan, Bi? Se-sekarang bagaimana keadaan Paman?” tanya Rizki pada Bibinya.

“Pulanglah dulu. Bibi tidak begitu mengerti proses administrasi rumah sakit.” Bibinya membujuk.

Dilema antara meneruskan ujian semester hari terakhir dan segera pulang. Akhirnya dia memilih pulang. Sahabatnya, Eza, yang diberitahu tentang masalahnya.

“Za, mungkin semester ini aku tidak selesai sebab pamanku kecelakaan. Bibi menelepon, menyuruhku pulang.” Rizki memberitahu Eza, dia menitipkan kunci kamarnya ke sahabatnya itu.

“Semoga semua baik-baik saja, Rizki. Bila ada sesuatu, jangan lupa kabari kami, ya.” Eza pun merangkul sahabatnya.

“Hati-hati di jalan, teman.” Sadam menjabat tangan Rizki, memeluknya, serta memberikan helm.

Teman-teman yang lain, mereka mengantarnya sampai motor Rizki menjauh dari halaman kos yang sempit itu. Mereka kembali menekuni materi untuk semesteran besok. Rizki melalui perjalanan pulangnya ke Bangka Selatan dengan hati yang gundah, Paman masih di RSUD Junjung Besauh. Butuh pertimbangan keluarga lain untuk tindakan medis berikutnya.

Tujuan utama Rizki adalah RSUD. Perjalanan 210 Km ditempuhnya dalam waktu 3 jam. 

“Permisi, apakah ada pasien bernama Alda karena kasus kecelakaan?” tanya Rizki pada perawat yang berjaga.

“Oh, ada, ruang Anggrek nomor 5. Tetapi waktu bezuk sudah habis.” Perawat itu memberi tahu.

“Saya keponakannya, saya diminta dokter untuk datang guna memastikan tindakan observasi pasien. Jadi, saya harus bertemu Paman.” 

“Sebentar, saya telepon dokternya.” Perawat itu menelepon dokter, kemudian menyuruh Rizki masuk ke ruang dokter.

“Silakan, Dek, langsung aja ke ruangan pasien, kemudian baru ke ruangan dokternya.” Perawat itu memberitahukan pesan telepon dokter.

“Baik, terima kasih, Mbak.” Rizki pun berlalu menuju kamar tempat Pamannya dirawat. Begitu tiba, langsung menemui Paman. Tampak perban di beberapa bagian tubuhnya, serta bagian kaki dan tangan yang digantung karena patah. Paman dirujuk ke ibu kota provinsi. Operasi terjadwal bila administrasi lunas. Itulah sebabnya dokter memanggil keluarga untuk membicarakan tanggungan biaya operasi dan perawatan setelahnya.

Untuk memenuhi biaya operasi, uang UKT yang ditabung untuk membayar semester berikutnya dipakai. Kebun Paman sebagai nafas keseharian mereka ikut dijual. Pendapatan berkurang, bahkan bisa jadi hari-hari berikutnya tidak ada penghasilan.

“Akhirnya biaya operasi Paman lunas juga.” Rizki menemui Bibi Aini dan mengatakan semua biaya administrasi lunas. Menggenapkan biaya perawatannya dipakai uang UKT lebih dahulu.

Operasi Paman berjalan lancar. Rizki ikut pulang ke rumah Pamannya. Anak itu belum membayar uang kuliah untuk semester berikutnya. Akhirnya, setelah sepekan di RSUD, Paman diperbolehkan pulang dan kontrol ke rumah sakit setiap bulan hingga keadaan bekas kecelakaan itu berangsur membaik.

Anak itu berinisiatif mencari kerja di sekitar tempat tinggal Pamannya. Niatnya sambil merawat Paman serta mengantar untuk kontrol. Sepanjang hari ini, Rizki belum juga menemukan pekerjaan yang dimaksud. Telah lelah motornya mengantar. Lelah pula kakinya melangkah mengunjungi tiap kantor maupun kios.

Jawabannya selalu sama, “masa sulit ini, sangat minim lowongan kerja, Dek”.

Di antara rasa haus yang melanda, singgahlah Rizki di sebuah cafe kekinian. Tujuannya selain ingin menuntaskan rasa haus, juga mencoba bertanya, siapa tahu ada pekerjaan di tempat itu. Rizki duduk di kursi paling pojok. Dia memperhatikan pelanggan yang lalu lalang. Anak itu tak sadar ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya.

Bapak yang berpakaian safari itu mendekati pelayan cafe. “Tolong hidangkan es krim vanila ke meja nomor 9 itu. Anak muda yang memakai kaos abu-abu celana hitam.” Bapak itu meminta pelayan.

“Baik, Pak,” kata pelayan takzim. Tak lama es krim vanila pun dibawa menuju meja nomor sembilan.

“Bang, ni es krim vanilanya.” Pelayan meletakkan di meja.

“Loh, Mas, saya gak pesen es krim, kok, dianter? Pesanan saya sudah dari tadi datangnya. Es jeruk toping chia sheed.” Rizki menolak es krim yang disodorkan padanya.

“Maaf, Bang, ini dari Bapak yang duduk di sana,” kata pelayan sambil mengarahkan ibu jarinya ke arah Bapak yang duduk di meja depan.

“Oh, terima kasih, Bapak. Sebenarnya saya tidak bisa makan makanan beraroma vanila. Entah mengapa, kulit saya akan alergi, Pak. Mohon maaf karena telah menolak.” Rizki mengatupkan kedua tangannya pertanda takzim.

“Ternyata perasaanku tidak salah. Dari tadi, saat aku melihatmu ada rasa familiar yang kuat. Wajahmu adalah pahatan wajahku saat muda seusiamu.”

“Apakah Bapak tidak sedang bermasalah dengan mata dan perasaan?’ ucap Rizki bingung. 

“Oh, tidak, Nak,”

“Apakah Bapak cuma memastikan?” tanya Rizki lagi.

“Ternyata alergimu sama dengan istri saya.” Bapak menjawab dengan raut sedih. “Oh, kenalkan, saya Pratama.”

Kok sama dengan nama di Dracin atau Drakor? Bingungku.

“Nama saya Rizki Pratama, sama dengan nama belakang Bapak. Bagaimana Anda bisa tahu kalau saya ada kesamaan jenis alergi dengan istri Bapak?” 

“Entah mengapa, saat melihatmu tiba di cafe, saya berdebar. Wajahmu itu sama dengan wajahku masih muda.” Bapak itu mengambil foto dari dompetnya dan memperlihatkan pada Rizki.

“Loh, iya, sama. Bahkan bagai kembar.” Rizki menoleh pada Bapak Pratama.

“Alergi vanilamu sama dengan istri saya. Dia alergi dengan harum vanila, benar-benar langka. Makanya kepikiran memberimu es krim vanila. Kalau alergi, berarti kamu adalah anak bungsu kami yang hilang 20 tahun yang lalu. Saat itu kamu hilang di keramaian area pasar malam. Umurmu baru dua tahun. Sudah semua tempat di pasar malam itu kami telusuri, bahkan menghubungi polisi, tetapi bungsu kami tidak pernah ditemukan,” jelas Bapak Pratama.

“Lantas, pencarian dihentikan?” tanya Rizki.

“Sebenarnya tidak, kami terus mencari. Makanya saat berjumpa denganmu langsung dada ini berdebar aneh.”

“Paman pernah bercerita kalau saya ini ditemukan di pinggir hutan dengan keadaan pingsan dan luka. Karena mereka tidak punya anak, maka aku diangkat menjadi anaknya dan masuk dalam KK mereka. Mengurus adopsiku lewat saudaranya yang bekerja di Pengadilan Negeri.” Rizki bercerita dengan matayang berkaca-kaca.

“OH, iya, mungkin namamu Rizki Pratama dilihat dari gelang tanganmu. Sekarang di mana gelang peraknya?”

“Ada, disimpan Bibi karena sudah gak muat dipakai.” 

“Tolong besok kita ke rumah sakit untuk tes DNA, memastikan. Apakah kamu bersedia?” Bapak Pratama mengusulkan.

“Insyaa Allah siap, Pak. Saya pun senang bila akhirnya saya menemukan orang tua saya kembali, bisa jadi ini jawaban dari doa saya agar tidak berhenti kuliah dan bakti pada Paman dan Bibi yang sudah merawat saya dari semenjak ditemukan hingga sekarang.”

Hasil tes DNA memenuhi kecocokan 99,99 % Rizki dan Bapak Pratama memiliki hubungan darah. Ibunya menyambut kepulangan Rizki dengan suka cita. Rizki merasa hidupnya seperti Dracin yang ditontonnya. Aneh tapi nyata. Anak itu tidak jadi berhenti kuliah. Matkul yang tidak ikut ujian kemarin dapat diulang semester berikutnya.

Pengobatan Paman dijamin orang tua Rizki hingga membaik. Ternyata Bapak Pratama adalah pemilik perusahaan petikemas dan ekspor impor hasil bumi PT. Pratama Sentosa Grup. Nasib Rizki seperti dunia drama. Anak itu menjadi tranding berita online untuk beberapa waktu. Mungkin cerita fiktif di dracin atau drakor itu terinspirasi dari kisah dunia nyata. Rizki ... kamu beruntung, selamat, ya, khayalanmu dikabulkan Tuhan.

Penulis:

Ummi Sulis | Seorang guru SDN 3 Pulau Besar sekaligus penulis dan editor. Ruang menulis baginya adalah rekreasi jiwa untuk membuang jenuh.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.