Oleh Arief Munandar
Koridor lantai tiga SMA Bintang Harapan selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain. Cat dindingnya putih pucat, lampu-lampu neon menggantung panjang seperti garis takdir yang tak pernah putus. Di sanalah, setiap siang setelah bel pulang berbunyi, seorang gadis bernama Alina berdiri sendiri.
Alina, tujuh belas tahun, berambut hitam sebahu dan bermata teduh, terbiasa menjadi bayangan. Bukan karena ia tak terlihat, tetapi karena orang-orang memilih untuk tidak melihatnya.
“Eh, lihat tuh, si pendiam lewat,” bisik seorang siswi sambil terkekeh.
Sejak kelas sepuluh, Alina menjadi sasaran ejekan. Sepatunya pernah disembunyikan, bukunya dicoret, bahkan foto wajahnya diedit dan disebarkan di grup kelas. Semua bermula dari kesalahpahaman kecil—ia tak sengaja melaporkan tugas kelompok yang belum selesai. Sejak itu, namanya menjadi bahan tertawaan.
Yang paling sering memimpin ejekan adalah Rania, siswi populer dengan senyum manis yang tajam seperti pisau. Ironisnya, di kelas yang sama, ada Arga—ketua OSIS yang terkenal baik dan disukai banyak orang.
Arga satu-satunya yang kadang menyapa Alina.
“Lin, kamu belum pulang?” tanyanya suatu siang.
Alina menggeleng pelan. “Nunggu sepi.”
Arga terdiam. Ia tahu maksudnya.
Siang itu, ketika semua siswa sudah pulang, Alina kembali menyusuri koridor lantai tiga. Ia tak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul. Mungkin karena di sana, ia merasa tak benar-benar sendirian.
Sudah beberapa minggu, ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya.
Awalnya hanya perasaan—angin dingin yang menyentuh tengkuk, suara langkah samar di belakangnya. Lalu, suatu hari, ia melihatnya.
Bayangan.
Bukan bayangannya sendiri. Bentuknya lebih tinggi, samar, seperti siluet seseorang yang berdiri beberapa langkah darinya. Setiap kali ia menoleh, tak ada siapa pun.
“Aku cuma lelah,” gumamnya.
Namun bayangan itu tak pergi.
Suatu siang yang hujan, ketika koridor kosong dan suara rintik memantul di kaca jendela, Alina berdiri di depan ruang laboratorium yang tak terpakai. Bayangan itu muncul lagi, lebih jelas dari biasanya.
“Kenapa kamu sedih?” sebuah suara berbisik.
Alina menegang. “Siapa?”
Tak ada jawaban, hanya gema napasnya sendiri.
“Aku di sini,” suara itu terdengar lagi, lembut, seperti suara remaja laki-laki.
Anehnya, Alina tak merasa takut. Justru, ia merasa… dipahami.
“Aku capek,” bisiknya lirih. “Capek pura-pura kuat.”
Bayangan itu bergerak mendekat, menyatu dengan dinding. “Kamu tidak sendirian.”
Sejak hari itu, Alina mulai berbicara pada bayangan tersebut. Ia menamainya “Raka”, entah dari mana nama itu muncul di kepalanya. Raka selalu muncul di koridor lantai tiga, hanya ketika ia sendirian. Ia tak pernah menunjukkan wajah, hanya siluet kelam dengan garis samar bahu dan kepala.
Raka mendengarkan semua ceritanya—tentang ejekan Rania, tentang Arga yang diam-diam ia sukai, tentang ibunya yang sibuk bekerja sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu.
“Ayah pasti kecewa sama aku,” ujar Alina suatu siang.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Aku lemah.”
“Kamu bertahan sejauh ini. Itu bukan lemah.”
Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat mata Alina merasa kuat.
Hari-hari berikutnya, Alina mulai berubah. Ia masih pendiam, tetapi tatapannya tak lagi serapuh dulu. Ketika Rania menyenggolnya di kantin, ia tak lagi menunduk.
“Kenapa sih kamu selalu cari masalah sama aku?” tanya Alina pelan namun tegas.
Rania terkejut, begitu pula teman-temannya.
Arga yang menyaksikan dari jauh mulai melihat Alina dengan cara berbeda. Bukan sebagai gadis yang perlu dikasihani, tetapi sebagai seseorang yang sedang berjuang.
Suatu siang, Arga menghampirinya di koridor lantai tiga.
“Kamu sering di sini, ya?”
Alina menoleh. Untuk pertama kalinya, ia merasa canggung. Bagaimana jika Arga tahu tentang Raka?
“Iya. Tenang aja.”
Arga tersenyum tipis. “Kalau kamu butuh teman… aku ada.”
Kalimat itu membuat jantung Alina berdegup lebih cepat. Namun di sudut koridor, bayangan Raka tampak lebih gelap dari biasanya.
“Mengapa dia?” suara Raka terdengar dingin malam itu.
Alina terdiam. “Aku… suka dia.”
Koridor mendadak terasa lebih sunyi.
“Kamu tidak butuh dia,” bisik Raka.
“Aku butuh seseorang yang nyata,” jawab Alina, tanpa sadar.
Bayangan itu bergetar, seakan tersinggung.
Hari berikutnya, sesuatu terjadi. Foto lama Alina bersama ayahnya disebarkan di papan mading dengan tulisan ejekan: Anak pembawa sial. Rania berdiri tak jauh, tersenyum puas.
Alina membeku. Dadanya sesak. Tawa terdengar seperti dentang besi di telinganya.
Tiba-tiba lampu di koridor berkedip. Angin kencang berembus meski jendela tertutup. Bayangan panjang menjalar di dinding, membesar, merayap seperti makhluk hidup.
Rania menjerit ketika loker-loker bergetar dan pintu kelas terbanting sendiri.
“Stop!” teriak Alina.
Semua terdiam.
Alina menoleh ke dinding. Bayangan Raka berdiri tinggi, hampir menyentuh langit-langit.
“Aku melindungimu,” bisiknya.
“Kamu menyakiti mereka,” jawab Alina gemetar.
“Mereka menyakitimu lebih dulu.”
Untuk pertama kalinya, Alina merasa takut pada sesuatu yang selama ini menguatkannya.
Malam itu, ia pulang dengan kepala penuh tanya. Di rumah, ia membuka album lama. Ada foto dirinya saat kecil bersama ayahnya di halaman sekolah yang sama. Di belakang foto, bertulis tanggal—hari di mana seorang siswa kelas dua belas meninggal karena terjatuh dari lantai tiga.
Nama siswa itu: Raka Adinata.
Tangan Alina bergetar.
Ia mencari informasi di internet sekolah. Raka Adinata, siswa pendiam yang sering dirundung. Ia jatuh dari koridor lantai tiga—tempat yang sama di mana Alina sering berdiri.
Keesokan harinya, Alina kembali ke sana. “Kamu… Raka itu, ya?”
Bayangan itu muncul dengan perlahan.
“Aku tidak ingin kamu seperti aku,” suaranya kini terdengar jauh.
“Jadi kamu memilihku?”
“Kamu berdiri di tempat aku berdiri. Kamu sering menangis sepertiku.”
Air mata Alina jatuh. “Tapi aku tidak ingin balas dendam. Aku ingin sembuh.”
Bayangan itu terdiam lama.
“Aku tidak pernah sembuh,” katanya lirih.
Langkah kaki terdengar. Arga muncul, napasnya terengah. “Alina! Jangan berdiri terlalu dekat pagar!”
Alina menoleh. Ia sadar, tanpa sadar ia berdiri begitu dekat tepi lantai tiga—tempat yang dulu menjadi akhir Raka.
“Aku tidak akan jatuh,” katanya pelan.
Bayangan Raka bergerak mendekat, seakan hendak memeluknya.
“Kamu harus hidup,” bisik Raka. “Hidup yang tidak sempat kumiliki.”
Alina memejamkan mata. “Kalau begitu… lepaskan aku.”
Hening.
Angin berhenti. Lampu tak lagi berkedip.
Ketika Alina membuka mata, bayangan itu menghilang.
Sejak hari itu, tak ada lagi kejadian aneh. Rania dipanggil ke ruang BK setelah beberapa siswa akhirnya berani bersuara. Arga semakin sering menemani Alina belajar. Perlahan, hidup terasa lebih hangat.
Namun suatu siang, ketika Alina berjalan sendirian melewati koridor yang kini tak lagi terasa dingin, ia melihat sesuatu di ujung lantai.
Seorang siswa laki-laki berdiri membelakanginya. Seragamnya model lama. Bahunya tinggi, siluetnya familiar.
“Raka?” bisiknya.
Sosok itu menoleh perlahan.
Bukan wajah yang ia kenal—melainkan wajahnya sendiri, dengan mata kosong dan senyum tipis yang asing.
Lampu koridor berkedip sekali.
Lalu gelap.