Pagi itu, udara di ruang kelas terasa begitu bersih. Tidak ada kabut asap kebakaran lahan dan hutan seperti yang sedang terjadi di sebagian wilayah Kalimantan. Dari jendela, matahari menyusup di antara pepohonan kampus di atas awan, menerangi wajah-wajah muda yang sebentar lagi akan menyandang gelar sarjana.
Abidin, dosen yang sudah puluhan tahun mengajar, memandang mahasiswanya satu per satu. Ia teringat wajah ibunya bertahun-tahun silam, saat mengantarnya berangkat kuliah dengan uang saku yang pas-pasan. Ia juga teringat empat puluh hari ketika dirinya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tidur di rumah warga, membantu warga, mengajar anak-anak di TPQ, dan berjalan dari satu tempat ke tempat lain demi menyelesaikan program pengabdian.
Dulu, KKN adalah perjalanan yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Sekarang, ia justru mendengar cerita-cerita yang membuatnya bertanya: apakah KKN masih menjadi ruang belajar, atau sekadar persyaratan administratif untuk mendapatkan gelar sarjana?
“Baik,” katanya sambil meletakkan buku di meja. “Hari ini kita tidak membahas teori. Saya ingin mendengar pendapat kalian tentang KKN.”
Abyan, mahasiswa yang dikenal kritis, segera mengangkat tangan.
“Pak, boleh jujur?”
“Di kelas ini, kejujuran tidak perlu meminta izin.”
“Kalau begitu, saya merasa KKN kita sedang kehilangan arah.”
Beberapa mahasiswa saling pandang.
Erin, yang duduk di dekat jendela, mengangguk pelan.
Abidin tersenyum tipis. “Menarik. Coba jelaskan.”
Abyan menarik napas.
“Seharusnya KKN menjadi tempat kita belajar hidup bersama masyarakat. Tetapi sekarang, sebagian mahasiswa justru lebih sibuk mengurus kenyamanan kelompoknya sendiri. Bahkan, ada yang menganggap tinggal bersama dalam satu rumah kontrakan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan sebagai sesuatu yang biasa. Normal saja.”
Ruangan mendadak hening.
“Alasannya macam-macam, Pak,” sambung Erin. “Supaya koordinasi mudah, lebih hemat, gampang menyusun program, dan bisa kompak. Semua terdengar rasional. Tetapi apakah efisiensi biaya otomatis membenarkan semua pilihan untuk ‘hidup bersama’ tersebut?”
Abidin tidak langsung menjawab. Ia tahu, pertanyaan itu tidak sederhana.
“Pak,” kata seorang mahasiswa dari barisan belakang, “bukankah yang terpenting adalah niat dan tanggung jawab? Kalau mereka tidak melakukan apa-apa, mengapa harus dipersoalkan?”
Abidin menoleh.
“Pertanyaan yang baik. Tetapi saya ingin bertanya balik. Apakah sesuatu otomatis menjadi bijaksana hanya karena belum terbukti menimbulkan masalah?”
Mahasiswa itu terdiam.
Abidin melanjutkan, “Kita harus membedakan antara menuduh seseorang melakukan kemaksiatan dan mengingatkan bahwa suatu pilihan memiliki risiko moral, sosial, serta konsekuensi yang perlu dipertimbangkan.”
Erin mengangguk.
“Persis, Pak. Kami tidak ingin menghakimi orang. Kami hanya khawatir ketika batas-batas yang dulu dijaga mulai dianggap kuno, sementara kebiasaan baru yang berisiko justru dibungkus dengan istilah kebebasan dan gaya hidup skena.”
Abyan menyambung dengan nada lebih tinggi.
“Bahkan ada istilah LAS VEGAS yang beredar di kalangan sebagian anak muda sebagai kode untuk gaya hidup bebas. Saya tidak tahu bagaimana setiap orang menggunakannya, tetapi kalau kebebasan dimaknai sebagai kesempatan melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan tanggung jawab, bukankah itu justru bentuk perbudakan terhadap hawa nafsunya?”
Abidin mengangguk.
“Dalam Islam, kebebasan bukan berarti bebas dari seluruh batas. Al-Qur'an mengingatkan, wa lā taqrabū al-zinā—janganlah kamu mendekati zina. Perhatikan, larangannya bukan hanya melakukan zina, tetapi juga mendekatinya. Itu mengajarkan kehati-hatian, penjagaan diri, dan kesadaran terhadap jalan yang dapat mengantarkan seseorang pada pelanggaran.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun, ayat itu juga bukan izin bagi kita untuk mempermalukan atau menuduh orang lain. Nasihat harus disampaikan dengan ilmu, adab, dan kepedulian.”
Abyan menyandarkan punggungnya.
“Yang membuat saya resah, Pak, adalah normalisasi. Sesuatu yang awalnya dipertanyakan, lama-lama dianggap biasa karena semakin banyak orang melakukannya.”
“Benar,” jawab Abidin. “Tetapi kita juga harus berhati-hati. Tidak semua mahasiswa yang tinggal di tempat yang sama otomatis melakukan pelanggaran. Kita perlu melihat kondisi, aturan kampus, norma agama, serta tata kelola KKN. Persoalannya adalah ketika alasan praktis dipakai untuk mengabaikan batas yang seharusnya dijaga.”
Erin menatap dosennya.
“Pak, kadang kami merasa aneh. Di satu sisi, kami bicara tentang Indonesia Emas 2045. Kami ingin menjadi pemimpin, akademisi, pengusaha, dan pembuat kebijakan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, menjaga disiplin dan tanggung jawab saja terasa sulit.”
Ia menunduk sebentar.
“Bagaimana kita akan membangun bangsa yang beradab kalau kita sendiri tidak berlatih menjaga adab?”
***
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Abidin tiba-tiba teringat masa mudanya. Dulu, sekitar tahun 2005 ketika sedang KKN, kelompoknya pernah menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Tempat KKN yang baru pulih dari bencana gempa bumi, hujan deras yang merusak jalan menuju dusun, dan hal-hal teknis lain yang sangat berpotensi mengganggu. Mereka harus berjalan kaki membawa buku dan peralatan mengajar. Malam hari, mereka duduk bersama warga, mendengarkan persoalan yang terjadi, anak-anak yang tidak mau lanjut sekolah, dan penghasilan yang tak sebanding dengan usaha kerjanya.
Tidak ada rumah kontrakan nyaman. Tidak ada grup percakapan yang setiap saat menyelesaikan masalah. Ada keterbatasan, tetapi mereka belajar memahami kehidupan yang tidak pernah mereka temui di ruang kuliah.
“Kalian tahu apa yang paling saya ingat dari KKN?” tanya Abidin.
Abyan, Erin, dan mayoritas mahasiswa di kelas menggeleng.
“Bukan laporan akhir. Bukan tanda tangan kepala desa. Bukan pula sertifikat.”
Ia tersenyum.
“Seorang warga pernah berkata kepada saya, ‘Nak, kalian datang hanya empat puluh hari. Kami hidup dengan persoalan ini setiap hari.’ Kalimat itu membuat saya malu. Kami datang membawa program yang menurut kami hebat, tetapi belum tentu memahami kebutuhan warga.”
Ruangan semakin sunyi.
“Sejak itu saya belajar bahwa pengabdian bukan tentang seberapa sibuk kita terlihat. Pengabdian adalah kesediaan hadir, mendengar, bekerja, dan bertanggung jawab.”
“Kalau begitu, Pak,” kata Abyan, “apakah KKN sekarang gagal?”
“Tidak sesederhana itu,” jawab Abidin. “Masih banyak mahasiswa yang bekerja sungguh-sungguh. Ada yang mengajar, membantu UMKM, mendampingi petani, mengembangkan literasi digital, dan menyelesaikan masalah lingkungan. Jangan sampai perilaku sebagian orang membuat kita mengabaikan pengabdian mereka.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan?”
“Mulailah dari hal yang dapat kalian perbaiki.”
Erin mengangkat wajah.
“Misalnya?”
“Pertama, buat kesepakatan kelompok KKN yang jelas tentang tempat tinggal, interaksi, pembagian tugas, dan tanggung jawab. Kedua, konsultasikan pengaturan tempat tinggal kepada dosen pembimbing dan pihak desa. Ketiga, jangan jadikan efisiensi anggaran sebagai alasan untuk mengabaikan keamanan, privasi, dan nilai yang kalian yakini.”
Abidin lalu menatap seluruh kelas.
“Keempat, ukur keberhasilan KKN dari manfaatnya bagi masyarakat, bukan sekadar program yang terlaksana. Empat puluh hari terlalu singkat untuk menyelesaikan semua persoalan desa, tetapi cukup untuk belajar menghormati manusia dan memulai perubahan kecil.”
Abyan mengangguk.
“Saya mulai mengerti, Pak. Kritik saja tidak cukup.”
“Betul. Kalau kalian hanya pandai menunjukkan kesalahan, tetapi tidak mau membantu memperbaiki keadaan, kalian sedang melatih diri menjadi penonton.”
“Dan kalau kita pernah salah?” Tanga Erin serius.
Abidin menatapnya dengan lembut.
“Tidak ada manusia yang selalu benar. Kita semua bisa tergelincir. Tetapi jangan jadikan kesalahan sebagai identitas, apalagi sebagai kebanggaan. Orang yang baik bukan orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang bersedia mengakui kesalahannya, memperbaiki diri, dan tidak sengaja mengulanginya.”
Jam kelas segera berakhir. Namun, tidak seorang pun terlihat segera beranjak.
Abyan menutup bukunya.
“Pak, saya ingin mengusulkan sesuatu. Bagaimana kalau sebelum KKN, kita membuat forum persiapan yang bukan hanya membahas program kerja dan anggaran, tetapi juga etika hidup bersama masyarakat?”
Erin segera menambahkan, “Kita bisa mengundang alumni KKN, tokoh agama, perangkat desa, dan warga. Bukan untuk menggurui mahasiswa, melainkan untuk menyiapkan mereka menghadapi kehidupan nyata.”
Abidin tersenyum. Kali ini lebih lebar.
“Laksanakan. Saya akan membantu dan mendukung.”
Abyan memandang keluar jendela.
“Kadang saya takut, Pak. Kita disebut generasi yang akan membawa Indonesia menuju masa keemasan. Tetapi di sekitar kita, banyak hal yang terasa bertentangan dengan harapan itu.”
Abidin berdiri, lalu berjalan menuju jendela.
“Indonesia Emas tidak akan lahir hanya karena kita menunggu tahun 2045. Ia lahir dari kebiasaan yang kita bangun hari ini: kejujuran, disiplin, ilmu pengetahuan, kepedulian, dan keberanian memperbaiki diri.”
Ia menoleh kepada mahasiswanya.
“Jangan hanya bertanya, Indonesia akan menjadi apa ketika kalian dewasa. Tanyakan juga, Indonesia sedang kalian bentuk menjadi apa melalui pilihan-pilihan kalian hari ini?”
Erin tersenyum. Abyan mengangguk. Para mahasiswa sudah mulai paham.
Di luar kelas, matahari semakin tinggi.
Mereka belum mengetahui semua tantangan yang menunggu di lokasi KKN nanti. Mereka juga tidak bisa menjamin bahwa seluruh teman sebaya akan sependapat dengan mereka. Namun, mereka sepakat bahwa kehidupan yang baik tidak dibangun dengan menormalisasi segala sesuatu terutama hal-hal yang mengarah kepada kemaksiatan. Namun, dengan keberanian membedakan kebebasan dan kebablasan, toleransi dan pembiaran, serta kesalahan dan pembenaran.
Empat puluh hari mungkin hanya sekejap dalam perjalanan hidup mahasiswa. Tetapi bagi mereka, empat puluh hari itu akan menjadi latihan untuk menjadi manusia yang lebih matang, mahasiswa yang bertanggung jawab, dan calon pemimpin yang memahami arti pengabdian.
Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas meraih gelar. Indonesia membutuhkan generasi yang sanggup menjaga kehormatan dirinya, menghormati sesama, dan mengubah ilmu menjadi pengabdian.
Dan perubahan besar itu, mereka sadari, tidak selalu dimulai dari istana atau podium. Kadang, ia dimulai dari sebuah ruang kelas, dari percakapan yang jujur, dan dari keberanian seorang anak muda untuk berkata:
“Kalau kita ingin Indonesia menjadi lebih baik, kita harus berani memulainya dari diri sendiri.”
Penulis:
Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.
Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur'an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat.