Aroma bunga melati samar-samar masih tertinggal di ruang tengah, berbaur dengan sisa-sisa doa yang dipanjatkan para tetangga yang melayat tadi siang. Di sudut kamar, dengan mata yang sembap dan dada yang masih terasa sesak, aku menatap sebuah piring seng tua bergambar bunga yang tergeletak di atas meja.
Hari ini, Kakek pergi untuk selamanya. Semuanya terjadi begitu cepat, dipicu oleh gerimis tipis sore kemarin. Kakek bergegas ke belakang rumah untuk mengambil jemuran baju yang mulai basah. Beliau terburu-buru, melangkah tanpa alas kaki. Di area jemuran itu, bawahnya bukanlah tanah biasa, melainkan bata yang sudah bertahun-tahun tertutup lumut hijau yang licin. Pijakan kaki tuanya keliru, terpeleset, dan Kakek terjatuh dengan benturan keras di kepala. Kejadian singkat itu merenggut sosok yang selama ini terasing di rumahnya sendiri.
Melihat piring seng di meja, air mataku luruh lagi tanpa bisa dibendung. Piring itu membawa ingatanku melompat jauh ke masa lalu.
Sejak aku kecil, rumah ini terasa dingin karena Kakek dan Nenek tidak pernah akur. Mereka tinggal satu atap, tetapi selalu diam-diaman dan bertingkah seperti orang asing. Suasana kaku itu menular kepadaku. Ditambah lagi, aku sendiri memang tidak sedekat itu dengan Kakek. Kami hampir tidak pernah mengobrol, membuatku tumbuh menjadi cucu yang selalu canggung dan sungkan jika berada di dekat beliau.
Namun, semua berubah pada sebuah sore yang sunyi. Hari itu Nenek sedang pergi, dan ibuku belum pulang kerja. Aku duduk di ruang tengah dengan perut yang keroncongan. Kakek yang sedang berjalan melewati ruangan tiba-tiba berhenti dan menatapku datar.
Dari jarak yang agak jauh, dengan suara seraknya yang kaku beliau bertanya, “Sudah makan?”
Karena aku memang belum menyentuh makanan sama sekali sejak siang, aku menggelengkan kepala. Kakek tidak membalas gelenganku, tidak juga melangkah mendekat. Beliau langsung berbalik dan berjalan ke dapur dengan langkahnya yang lambat.
Tak lama kemudian, Kakek kembali membawa piring seng itu dan memberikannya kepadaku, lalu beliau duduk agak jauh di kursinya sendiri.
Aku terbelalak melihat piring seng itu. Nasi putih di atasnya menggunung sangat banyak. Di atas gunungan itu, diberi lauk sepotong ayam dan sedikit sambal. Namun, sama sekali tidak ada uap hangat. Nasinya sudah tidak panas lagi. Kakek memang sengaja membiarkan nasi itu di luar dan tidak memasukkannya ke dalam magicom, mungkin karena beliau memang tidak terbiasa mengurus dapur yang selalu dikuasai Nenek. Beliau menyajikannya begitu saja, tanpa tahu kalau kepolosan cara tua itu justru memicu masalah lain.
Seketika dadaku mencelos. Sejujurnya, aku adalah orang yang paling tidak suka dengan nasi yang sudah kering. Bagiku, nasi kering yang mengeras itu sangat susah ditelan dan membuat mual. Lebih parahnya lagi, di sela-sela lauk ayam dan gunungan nasi yang sudah dingin serta mengering itu, banyak sekali semut hitam yang merayap dan berkerumun.
Melihat kondisi makanan itu, tenggorokanku tercekat. Karena hubunganku dan Kakek yang tidak dekat, aku tidak berani protes sama sekali. Aku terlalu sungkan dan takut menyinggung perasaannya. Aku hanya bisa terdiam dan menatap piring itu dengan pandangan kosong, bingung harus berbuat apa.
Dari sudut mataku, aku sempat melirik ke arah Kakek yang duduk agak jauh. Di sinilah dadaku serasa dihantam sesuatu yang sangat berat.
Aku melihat mata Kakek. Mata tua yang mulai buram itu diam-diam sedang mencuri pandangan ke arahku dengan binar kekhawatiran yang begitu tulus. Senyum tipis yang sangat langka dipaksakan muncul di wajah keriputnya dari kejauhan.
Saat itulah aku tersadar. Mata Kakek yang sudah lamur memang benar-benar tidak melihat keberadaan gerombolan semut itu. Beliau juga tidak menyadari kalau nasi yang sengaja dibiarkannya di luar itu sudah mendingin hingga mengering. Di tengah dinginnya hubungan beliau dengan Nenek, dan kecanggungannya denganku, Kakek hanya ingin memastikan cucunya tidak kelaparan dengan caranya sendiri. Nasi menggunung itu adalah bentuk perhatian terbesar yang bisa beliau berikan.
Akhirnya, tanpa sepatah kata pun, aku mulai menyuap nasi itu. Aku memakan nasi itu lama sekali, mengunyahnya pelan-pelan sambil dengan sabar menyingkirkan semut-semut hitam itu satu demi satu dengan tangan kiriku agar Kakek tidak tahu. Dari kejauhan, Kakek tetap duduk diam di kursinya, mengawasiku tanpa suara sampai suapan terakhir dengan tatapan yang sangat lega.
Kini, di kamar yang sepi ini, aku memeluk piring seng kosong itu erat-erat. Air mataku menetes membasahi wajahku. Aku melihat Nenek duduk melamun di luar, menyadari bahwa lelaki yang puluhan tahun didiaminya dalam keheningan kini telah pergi selamanya di area jemuran belakang rumah.
Penyesalan terdalamku adalah ego rumah ini terlalu besar, hingga kami menghabiskan waktu dengan saling canggung dan diam. Kini tidak akan ada lagi orang tua kaku yang dari kejauhan bertanya apakah aku sudah makan, lalu menyendokkan nasi kering penuh semut untukku.
“Maafkan aku yang telat paham cara Kakek menyayangiku… Terima kasih untuk nasinya, Kek,” bisikku lirih di tengah keheningan malam yang dingin.
Penulis:
Maylina, seorang manusia yang entah kenapa bisa nemuin kedamaian hidup di antara wangi sabun cuci dan rapinya lipatan baju setrikaan. Buatnya, ngelurusin baju kusut itu jauh lebih gampang daripada meluruskan pikiran sendiri yang suka berantakan ke mana-mana. Sebenarnya, ia tipe penulis rahasia yang hobinya bikin cerita-cerita tapi cuma disimpan sendiri di folder laptop.