Sore hari, Ainia menutup pintu kos dengan tangan gemetar. Di dalam tasnya masih ada surat pemberitahuan dari kampus, pengajuan beasiswanya ditolak. Padahal sudah tiga bulan ia menyiapkan berkas itu, begadang menyusun esai motivasi, mengejar tanda tangan dosen pembimbing, dan menahan diri untuk tidak terlalu berharap meski pada akhirnya tetap gagal juga.
Ia duduk di anak tangga depan kos, memandangi jalanan yang basah sehabis hujan sore. Ponselnya bergetar berkali-kali. Teman-temannya sudah lebih dulu mengabari kabar gembira, ada yang lolos magang di perusahaan besar, ada yang dapat beasiswa pertukaran ke luar negeri, ada pula yang baru saja diterima kerja paruh waktu di lembaga penelitian ternama. Dan Ainia, yang selama ini merasa paling rajin, paling total berusaha, paling banyak begadang menyusun rencana masa depan, justru pulang dengan tangan kosong.
“Kenapa harus aku?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Ia teringat semua malam yang ia habiskan merevisi esai motivasinya, mencari referensi jurnal untuk memperkuat argumen, bahkan sampai menangis sendirian karena lelah namun tetap memaksakan diri untuk lanjut. Semua terasa sia-sia sekarang. Ia merasa dunia sedang mempermainkannya, memberi harapan besar hanya untuk direbut kembali di detik-detik akhir.
Malam itu ia tidur dengan mata sembab, memeluk guling sambil sesekali terisak. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti mengejar hal-hal besar, cukup menjalani hidup sekadarnya saja, tanpa ambisi yang berujung kekecewaan.
***
Esoknya, dengan berat hati, ia tetap berangkat ke kampus karena ada jadwal bimbingan skripsi yang tidak bisa ditunda. Di ruang dosen pembimbing, duduk di kursi sambil menunggu gilirannya, ia berniat sekalian mengambil berkas-berkas beasiswa yang sudah tak terpakai, sekaligus menutup babak itu untuk selamanya. Namun di sanalah semuanya berubah arah, tanpa pernah ia duga sebelumnya.
“Ainia,” kata Bu Wulan, dosennya, sambil merapikan tumpukan kertas di meja, “kamu belum tahu, ya? Ada program riset baru dari pusat studi bahasa. Mereka butuh asisten yang paham sastra Arab klasik, terutama yang terbiasa membaca naskah-naskah lama. Saya sudah mengusulkan nama kamu ke koordinatornya.”
Ainia terdiam sejenak, mencoba mencerna kalimat itu. Ia tidak pernah mendaftar untuk program itu, bahkan tidak tahu program itu ada. Tapi rupanya, karena reputasinya di kelas, karena caranya selalu tekun mengerjakan tugas terjemahan dengan detail yang jarang dilakukan mahasiswa lain, namanya justru diingat oleh orang lain, tanpa ia sadari sedikit pun.
“Tapi Bu, saya enggak pernah ikut seleksi apa pun untuk itu,” ujar Ainia ragu.
“Justru itu,” jawab Bu Wulan sambil tersenyum. “Kadang kesempatan datang bukan dari yang kamu kejar mati-matian, tapi dari yang kamu kerjakan dengan sungguh-sungguh tanpa berharap dilihat.”
Dua minggu kemudian, setelah melalui wawancara singkat dan uji kemampuan membaca teks klasik, Ainia resmi bergabung sebagai asisten riset. Pekerjaan itu tidak hanya memberinya penghasilan kecil-kecilan untuk menutup biaya hidup bulanan, tapi juga membuka jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bertemu peneliti dari berbagai kampus, ikut menerjemahkan naskah-naskah lama yang tersimpan rapi di perpustakaan khusus, bahkan diajak menulis bersama untuk jurnal kecil yang diterbitkan pusat studi tersebut. Sesuatu yang jauh melampaui apa yang bisa diberikan beasiswa yang dulu begitu ia idam-idamkan.
Bulan-bulan berikutnya menjadi masa yang penuh pembelajaran baru. Ainia belajar cara membaca yang sudah lapuk dimakan usia, belajar berdiskusi dengan penelitian senior tanpa merasa minder, bahkan mulai dipercaya menangani proyek kecil secara mandiri. Ia menemukan versi dirinya yang lebih percaya diri, lebih dalam memahami bidang yang ia cintai, dibanding versi dirinya yang dulu hanya berharap pada satu jalan sempit bernama beasiswa.
***
Setahun berselang, Ainia duduk lagi di anak tangga yang sama, tempat ia dulu menangisi kegagalannya. Kali ini ia tersenyum sendiri, mengingat betapa dulu ia begitu yakin bahwa penolakan itu adalah akhir dari segalanya, seolah tidak ada jalan lain yang tersisa untuknya.
“Kalau dulu aku lulus beasiswa itu,” pikirnya, “mungkin aku enggak pernah kenal Bu Wulan lebih dekat. Mungkin aku enggak pernah masuk ke dunia riset ini. Mungkin aku masih sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya bukan jalan yang paling cocok buat aku.”
Ia teringat pesan neneknya dulu, yang selalu ia anggap sekadar penghibur di masa-masa sulit: “Kadang Tuhan menutup satu pintu bukan karena membencimu, tapi karena ada pintu lain yang lebih pas buat kamu yang belum kamu lihat saat itu.”
Kini, kalimat itu terasa nyata. Bukan sekadar hiburan basa-basi dari orang tua yang ingin menghibur cucunya, tapi kebenaran yang baru bisa ia pahami setelah benar-benar dijalani sendiri.
Ainia belajar bahwa kegagalan yang dulu terasa seperti pukulan telak, yang membuatnya menangis semalaman di kamar kos yang sempit, ternyata menjadi persimpangan menuju jalan yang jauh lebih cocok untuknya, jalan yang tidak pernah ia rencanakan, tidak pernah ia cari, tapi justru paling menemukan dirinya sendiri yang sesungguhnya.
Ada satu momen lagi yang tak pernah ia lupakan masa-masa awal bergabung di pusat studi itu. Suatu sore, saat sedang menyalin ulang catatan pinggir dari sebuah manuskrip tua, seorang peneliti senior bernama Pak Hadi menghampirinya dan bertanya bagaimana ia bisa begitu telaten membaca tulisan tangan yang nyaris tak terbaca itu.
“Saya cuma kebiasaan saja, Pak, dari dulu suka baca naskah-naskah lama pelan-pelan,” jawab Ainia sambil tersenyum kikuk.
“Kebiasaan seperti itu langka, lho,” kata Pak Hadi. “Banyak yang pintar secara teori, tapi jarang yang sabar begini. Kamu punya bakat yang enggak semua orang punya.”
Kalimat itu menempel lama di kepala Ainia. Ia baru sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengukur dirinya dari standar orang lain, dari siapa yang dapat beasiswa, siapa yang magang di perusahaan besar, sampai lupa melihat kelebihan kecil yang justru menjadi jalan hidupnya sendiri.
Tak lama setelah itu, Ainia mulai diminta membantu menyusun katalog naskah untuk pameran kecil yang diadakan pusat studi tersebut. Ia harus bolak-balik ke ruang arsip, memeriksa kondisi fisik setiap manuskrip, mencatat tahun penulisan yang diperkirakan, dan menerjemahkan potongan-potongan teks yang akan dipajang sebagai keterangan. Pekerjaan itu melelahkan, tapi setiap kali ia menemukan satu baris kalimat kuno yang maknanya begitu dalam, ia merasa seperti menemukan harta karun kecil yang hanya bisa dinikmati oleh orang yang mau bersabar menggalinya.
Pada hari pembukaan pameran, ia berdiri di sudut ruangan, memperhatikan pengunjung yang silih berganti membaca label-label yang ia susun sendiri. Seorang mahasiswa baru yang masih semester satu mendekatinya, bertanya dengan mata berbinar, “Kak, gimana caranya biar bisa kayak kakak, paham naskah-naskah kayak begini?”
Ainia tersenyum, teringat dirinya setahun lalu yang masih menangis di anak tangga kos, merasa tidak ada satu pun jalan yang terbuka untuknya. “Rajin saja dulu sama hal kecil yang kamu suka,” jawabnya. “Kadang jalannya baru kelihatan belakangan, bukan di awal.”
***
Ia tidak lagi bertanya, “Kenapa harus aku?” Pertanyaan itu sudah berganti menjadi rasa syukur yang tenang, yang tumbuh perlahan setiap kali ia mengingat proses panjang yang telah dilaluinya. Siapa sangka, penolakan yang dulu membuatnya menangis di anak tangga itu, justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kadang, pikirnya sambil menatap langit sore yang mulai berwarna jingga, kita hanya perlu percaya bahwa setiap pintu yang tertutup selalu menyisakan celah lain yang belum sempat kita lihat dan celah itu, jika kita cukup sabar menunggunya, bisa jadi jauh lebih luas daripada pintu yang dulu kita kejar mati-matian.
Penulis:
Eka Nur Safitri | Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.