Oleh Arief Munandar
Lampu-lampu neon kota menggigil di atas trotoar basah, seperti mata yang tak mau terpejam meski kelelahan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan genangan yang memantulkan wajah-wajah orang yang bergegas pulang—atau yang bergegas pergi dari sesuatu yang tak ingin mereka hadapi.
Dika termasuk yang pulang terlambat. Jasnya lembap, sepatu kulitnya memercikkan air ketika melangkah menuju apartemen di lantai dua belas. Di tangannya, tas kerja hitam yang tampak biasa saja. Tak ada yang istimewa dari dirinya di mata orang lain: seorang konsultan keuangan, suami, ayah dari satu anak perempuan berusia delapan tahun. Pria yang, di siang hari, bicara tentang investasi, dan di malam hari, pulang untuk makan malam bersama keluarga.
Namun malam itu, ia tidak pulang.
Ia berdiri di depan sebuah gang sempit di belakang pusat perbelanjaan tua—tempat yang bahkan peta digital pun seperti enggan menandainya. Lampu jalan mati, hanya ada papan neon kecil berwarna ungu yang berkedip: PASAR MALAM. Huruf “M” terakhir padam separuh, sehingga terbaca seperti: PASAR MALA.
Dika menarik napas panjang. Ia meraba saku dalam jasnya, memastikan amplop cokelat itu masih ada. Lalu ia melangkah masuk.
Gang itu berkelok seperti usus kota. Bau lembap bercampur asap rokok, minyak goreng, dan sesuatu yang lebih tua—seperti kertas usang atau kain yang lama disimpan di peti. Di ujung gang, ruang terbuka kecil muncul, diterangi lampu gantung rendah. Beberapa kios berdiri berderet, menjual barang-barang yang tak lazim: jam tangan tanpa jarum, foto keluarga dengan wajah terhapus, cincin kawin berkarat yang digantung seperti jimat.
Orang-orang bertransaksi dengan suara rendah. Tak ada tawa, tak ada tawar-menawar keras. Semuanya seperti sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tak mereka lakukan.
“Baru pertama kali?”
Suara perempuan itu datang dari kanan. Dika menoleh. Seorang perempuan setengah baya duduk di balik meja kayu, mengenakan kebaya hitam sederhana. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang seperti penjaga museum. Di depannya, etalase kaca berisi benda-benda kecil: kunci, liontin, potongan surat, dan… sesuatu yang membuat Dika menahan napas.
Cincin pernikahannya sendiri.
Ia refleks meraba jari manisnya. Kosong. Ia yakin tadi masih ada.
“Di sini,” kata perempuan itu pelan, mengangkat cincin emas itu dengan penjepit kecil. “Kesetiaan. Kondisi: mulai retak, tapi belum hancur.”
Dika menelan ludah. “Bagaimana…?”
“Pasar ini tidak menunggu Anda kehilangan sesuatu,” katanya. “Tapi menunggu Anda mulai menjualnya.”
Dika tak langsung menjawab. Ia menatap cincin itu, kilapnya redup di bawah lampu kuning. Dalam bayangannya, muncul wajah Mira—istrinya—dengan rambut terurai saat tertidur di sofa, buku yang jatuh di dadanya. Lalu wajah Nara, anak mereka, yang selalu memeluknya setiap pulang kerja.
“Berapa?” tanya Dika.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Bukan begitu cara kerjanya. Anda tidak bisa membeli kembali kesetiaan. Anda menjualnya. Lalu Anda mendapat sesuatu sebagai gantinya.”
“Seperti?”
“Waktu tanpa rasa bersalah. Ruang untuk menjadi orang lain. Kebebasan dari janji.”
Dika memejamkan mata sesaat. Di dalam kepalanya, suara lain muncul—suara yang sudah berbulan-bulan tinggal di sana. Suara yang berbisik saat ia duduk di mobil sebelum pulang, saat pesan masuk di ponselnya, saat parfum asing tertinggal di kerah kemejanya.
Namanya Livia.
“Kalau saya jual,” kata Dika akhirnya, “apa yang terjadi?”
“Tidak ada yang dramatis,” jawab perempuan itu. “Anda hanya… berhenti merasa terikat. Istri Anda tetap ada. Anak Anda tetap ada. Rumah Anda tetap berdiri. Hanya makna di baliknya yang berubah.”
“Dan kalau saya tidak jual?”
Perempuan itu mengangkat bahu. “Retakan itu membesar. Suatu hari, kesetiaan itu pecah sendiri. Biasanya dengan suara yang lebih keras.”
Dika mengeluarkan amplop cokelat dari jasnya. Ia membukanya sedikit. Di dalamnya ada foto: dirinya dan Livia di sebuah hotel bisnis, terlalu dekat untuk disebut rekan kerja. Foto itu dikirim anonim ke emailnya tiga hari lalu. Subjeknya: Kita perlu bicara.
“Ini…” Dika mendorong amplop itu ke meja. “Apa bisa dibeli kembali?”
Perempuan itu melirik sekilas. “Bukti. Rasa takut. Ancaman. Semua itu bukan barang langka di sini.”
Ia membuka laci, mengeluarkan timbangan kecil seperti milik tukang emas. Di satu sisi, ia meletakkan cincin pernikahan Dika. Di sisi lain, ia meletakkan amplop berisi foto.
Timbangan itu bergetar, lalu berhenti. Seimbang.
“Menarik,” katanya. “Kesetiaan Anda dan rasa takut Anda punya berat yang sama malam ini.”
“Jadi?”
“Jadi Anda bisa menukar. Anda menyerahkan kesetiaan, dan rasa takut Anda hilang. Tidak ada lagi email anonim, tidak ada lagi ancaman. Anda bebas.”
Dika menatap timbangan itu lama. Ia merasa seperti melihat hidupnya sendiri diukur dengan alat pasar malam murahan. Ia membayangkan Mira membuka email itu. Membayangkan Nara mendengar pertengkaran. Membayangkan rumah mereka yang selama ini terasa kokoh, retak seperti cincin di etalase.
“Kalau saya ambil kembali cincin itu?” tanyanya pelan.
Perempuan itu menatapnya lebih dalam sekarang. “Maka Anda harus membayar dengan sesuatu yang lebih mahal dari kesetiaan.”
“Apa?”
“Kejujuran.”
Kata itu jatuh seperti batu ke dalam air. Gelombangnya menjalar ke mana-mana. Dika tiba-tiba merasa sesak. Kejujuran berarti pengakuan. Pengakuan berarti luka. Luka berarti kemungkinan kehilangan segalanya.
“Berapa harganya?” bisiknya.
Perempuan itu tak menjawab dengan angka. Ia hanya mendorong sebuah cermin kecil ke arah Dika. “Lihat.”
Di permukaan cermin itu, bukan wajahnya yang muncul. Ia melihat ruang tamu apartemennya. Mira duduk di sofa, ponsel di tangan. Layar email terbuka. Foto dirinya dan Livia memenuhi layar. Wajah Mira tak menangis. Tak berteriak. Hanya diam—diam yang lebih menakutkan dari amarah.
Nara berdiri di pintu kamar, memegang boneka. “Mama?”
Mira menoleh. Senyum dipaksakan. “Tidur lagi, sayang.”
Cermin itu bergetar, lalu gambar berubah. Kini Dika melihat dirinya sendiri, berdiri di ambang pintu rumah. Mira di depannya, mata merah. Nara memeluk kaki ibunya. Dika berbicara—ia tahu itu dirinya—mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Lalu ia berlutut. Menangis. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal.
Gambar memudar.
Dika tersentak mundur. Dadanya naik turun. “Itu… masa depan?”
“Bukan,” kata perempuan itu lembut. “Itu kemungkinan. Harga kejujuran: rasa sakit, rasa malu, kemungkinan ditolak. Tapi juga… kemungkinan diperbaiki.”
“Dan kalau saya jual kesetiaan?” suara Dika hampir tak terdengar.
Perempuan itu memutar cermin lagi.
Kali ini, Dika melihat apartemen yang sama, tapi lebih sunyi. Mira di meja makan, sendirian. Cincin di jarinya tak ada. Nara yang lebih besar duduk di depannya, wajah tertutup headphone. Pintu terbuka. Dika masuk—lebih tua, lebih rapi, tapi asing. Ia mencium pipi Nara canggung. Mira hanya mengangguk. Mereka hidup… berdampingan, bukan bersama.
Gambar hilang.
Dika menutup wajah dengan kedua tangan. Ia merasa seperti berdiri di persimpangan dua jurang. Di satu sisi, jatuh dengan suara keras. Di sisi lain, jatuh tanpa suara.
“Kenapa ada pasar seperti ini?” tanyanya serak.
Perempuan itu tersenyum sedih. “Karena manusia sering ingin menghindari harga sebenarnya dari pilihan mereka. Jadi kami menawarkan harga lain. Yang tampak lebih mudah.”
Hening sejenak. Di kejauhan, seseorang menawar sesuatu dengan suara bergetar. Lampu gantung bergoyang pelan.
Akhirnya, Dika mengangkat kepala. Matanya basah, tapi fokus.
“Saya… ingin cincin itu kembali.”
Perempuan itu tak tampak terkejut. Ia mengangkat cincin dari timbangan, lalu menahannya di udara. “Anda paham konsekuensinya?”
Dika mengangguk. “Saya akan jujur.”
“Pada istri Anda?”
“Ya.”
“Pada diri Anda?”
Dika ragu sepersekian detik. Lalu: “Ya.”
Perempuan itu menurunkan cincin itu ke telapak tangan Dika. Logamnya terasa hangat, seolah baru dilepas dari kulit seseorang.
“Transaksi selesai,” katanya.
Dika memandang cincin itu lama. Lalu ia memasangnya kembali di jari manisnya. Rasanya lebih berat dari sebelumnya.
Ia menoleh untuk berterima kasih.
Perempuan itu sudah tak ada.
Meja kayu, etalase, lampu—semuanya lenyap. Dika berdiri sendirian di gang sempit, di belakang pusat perbelanjaan tua. Tak ada papan neon. Tak ada kios. Hanya tembok lembap dan suara tetesan air.
Di tangannya, tak ada cincin.
Dika membeku. Ia menatap jari manisnya—kosong. Ia meraba saku jas—tak ada. Jantungnya berdentum keras.
Lalu ponselnya bergetar.
Satu pesan baru. Dari Mira.
“Kita perlu bicara. Aku sudah tahu semuanya.”
Di bawahnya, satu foto terlampir.
Dika membuka dengan tangan gemetar.
Bukan foto dirinya dan Livia.
Foto sebuah cincin emas—cincin pernikahannya—terletak di atas meja makan apartemen mereka. Di sampingnya, secarik kertas dengan tulisan tangan Mira:
Kesetiaan tidak pernah hilang di pasar gelap, Dika. Tapi hilang saat kau lepaskan sendiri.
Di latar belakang foto, samar terlihat bayangan seseorang berdiri di dapur. Perempuan berambut disanggul.
Dika menoleh cepat ke belakang gang.
Kosong.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan kedua, dari nomor tak dikenal:
Transaksi belum selesai. Kejujuran selalu dibayar di rumah, bukan di pasar.
Lampu jalan di ujung gang tiba-tiba mati. Kota besar itu kembali menelan malamnya sendiri.
Dan Dika tahu—apa pun yang terjadi setelah ini—harga sebenarnya baru akan dimulai saat ia membuka pintu apartemen dan melihat mata istrinya.