Tugas Sekolah

Cerpen ini mengisahkan perjuangan batin seorang anak pemulung yang memilih berkata jujur, dan menemukan dukungan yang tak terduga dari teman-temannya.

Oleh Arief Munandar

Bel istirahat baru saja berbunyi, Siska masih duduk terpaku di bangkunya. Kelas 2B SMP Harapan Bangsa mulai terdengar riuh karena suara kursi yang digeser dan langkah kaki yang berlarian menuju kantin. Di atas mejanya, selembar kertas tugas Bahasa Indonesia tampak seperti beban yang tak terlihat, tetapi terasa berat sekali.

Cerpen Tugas Sekolah

Tugas itu sederhana: membuat laporan hasil wawancara tentang pekerjaan orang tua. Dikumpulkan besok pagi.

Sederhana bagi sebagian anak.

Tidak bagi Siska.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, ibunya bekerja sebagai pemulung. Setiap subuh, sebelum langit benar-benar terang, ibunya sudah mendorong gerobak tua menyusuri jalanan perumahan. Kadang Siska ikut membantu memilah botol plastik dan kardus sepulang sekolah. Namun di kelas, ia selalu mengatakan bahwa ibunya “berjualan barang bekas.” Ia tidak pernah sanggup menyebut kata pemulung dengan suara lantang.

Di papan tulis, Bu Ratna menuliskan pesan sebelum keluar kelas, “Ingat, anak-anak. Kerjakan dengan jujur. Tulis apa adanya.”

Kata-kata itu seperti gema yang berulang di kepala Siska.

Siang itu, sepulang sekolah, Siska duduk di teras rumah kontrakannya yang sempit. Di hadapannya, ibunya sedang memisahkan plastik berdasarkan warna. Tangan ibunya kasar, kukunya menghitam karena sisa kotoran yang sulit hilang meski sudah dicuci berulang kali.

“Ibu, besok harus kumpul tugas wawancara tentang pekerjaan orang tua,” kata Siska pelan.

Ibunya tersenyum, walau lelah jelas tergambar di wajahnya. “Ya sudah, wawancarai saja Ibu. Tanya apa yang perlu kamu tulis.”

Siska menggigit bibir. Ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan, tetapi ia tak tahu bagaimana caranya.

“Kalau Siska bilang Ibu bekerja apa…?” tanyanya ragu.

Ibunya berhenti sejenak. Angin tiba-tiba membuat rambutnya yang mulai beruban terlihat berkibar. “Tulis saja yang sebenarnya. Ibu pemulung. Kenapa?”

Siska menunduk. Ia membayangkan wajah-wajah teman sekelasnya: Rani yang ayahnya dokter, Bima yang orang tuanya punya toko besar, dan Andra yang sering pamer sepatu mahal. Ia takut tatapan iba. Lebih takut lagi pada tawa mengejek.

“Ibu tidak malu?” bisiknya.

Ibunya tersenyum lagi, kali ini lebih dalam. “Malu itu kalau kita mencuri atau berbohong, Nak. Ibu bekerja. Ibu tidak mengambil hak orang lain.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke danau hatinya. Beriak, tak segera tenang.

Di sekolah keesokan harinya, suasana kelas terasa berbeda. Satu per satu anak maju membacakan hasil wawancaranya. Ada yang penuh percaya diri, ada yang terbata-bata. Tawa kecil sesekali terdengar, terutama ketika ada cerita lucu tentang orang tua mereka.

Siska duduk di bangku ketiga dari depan, menggenggam kertasnya erat-erat. Semalam ia menulis dua versi. Satu versi jujur. Satu versi yang “lebih aman”—menyebut ibunya sebagai pedagang barang bekas di kios kecil.

Kedua kertas itu kini ada di dalam tasnya.

“Selanjutnya, Siska,” panggil Bu Ratna.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Langkahnya terasa berat saat menuju depan kelas. Tangannya gemetar ketika membuka tas. Ia ragu sejenak, lalu tanpa benar-benar berpikir, ia menarik satu lembar kertas.

Yang “lebih aman.”

Ia mulai membaca. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

“Ibu saya bekerja sebagai pedagang barang bekas. Setiap hari beliau mengumpulkan barang-barang yang masih bisa dijual kembali…”

Beberapa teman mengangguk. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang berbisik. Semua tampak biasa saja.

Namun semakin lama Siska membaca, dadanya terasa sesak. Kata-kata itu seperti tidak mau keluar dari mulutnya. Ia tahu, kalimat-kalimat itu bukan sepenuhnya bohong. Tetapi bukan juga sepenuhnya jujur.

Tiba-tiba, dari bangku belakang, terdengar suara pelan, “Siska…”

Itu Rani.

Siska menoleh sedikit. Rani menatapnya dengan mata yang aneh—bukan mengejek, bukan iba. Seperti ingin mengatakan sesuatu.

Siska terdiam. Hening menyelimuti kelas.

Tangannya tanpa sadar merogoh tas lagi dan menyentuh lembar kertas satunya. Kertas yang semalam sempat basah oleh air matanya.

Ia berhenti membaca. Suasana menjadi tegang.

“Bu… saya mau ulang,” katanya tiba-tiba.

Beberapa teman mengernyit.

Siska menarik napas panjang, lalu mengganti kertasnya.

“Ibu saya bekerja sebagai pemulung,” suaranya bergetar, tetapi kali ini jelas. “Setiap hari beliau mengumpulkan sampah yang masih bisa didaur ulang. Dari situlah beliau membiayai sekolah saya.”

Kelas mendadak sunyi.

Siska melanjutkan, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan. “Ibu bilang, malu itu kalau kita mencuri atau berbohong. Jadi saya ingin menulis yang sebenarnya.”

Ia menunduk setelah selesai membaca. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan—tawa, bisikan, bahkan ejekan.

Namun yang terdengar justru tepuk tangan.

Pelan. Lalu semakin ramai.

Siska mengangkat kepala. Bu Ratna berdiri dengan mata berkaca-kaca. Beberapa teman terlihat tersenyum. Bahkan Andra yang biasanya paling usil tampak terdiam.

Rani berdiri dan berjalan ke depan kelas. “Ayahku juga dulu pemulung sebelum bisa buka bengkel sendiri,” katanya lirih. “Aku bangga sama orang tuaku.”

Kata-kata itu seperti pelukan yang tak terlihat. Hangat. Menenangkan.

Siska merasa lututnya lemas, tetapi bukan karena takut. Ada beban yang seolah terangkat dari pundaknya.

Sepulang sekolah, Rani berjalan di samping Siska. Mereka jarang pulang bersama sebelumnya.

“Kamu berani sekali tadi,” kata Rani.

Siska tersenyum kecil. “Aku hampir bohong.”

“Tapi kamu tidak jadi.”

Siska menatap langit seolah membayangkan sesuatu. “Aku takut ditertawakan.”

Rani tertawa pelan. “Kita ini kelas dua SMP. Kadang memang suka menertawakan hal yang tidak kita pahami.”

Angin kembali berembus lembut. Untuk pertama kalinya, Siska merasa sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran, tetapi juga tempat belajar tentang diri sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Bu Ratna mengumumkan bahwa laporan terbaik akan dipajang di majalah dinding sekolah. Anak-anak bersorak, penasaran siapa yang terpilih.

“Siska,” panggil Bu Ratna sambil tersenyum.

Siska tertegun. Ia tidak menyangka.

“Tulisanmu bukan yang paling panjang,” lanjut Bu Ratna, “tapi yang paling jujur. Dan kejujuran itu berharga.”

Tepuk tangan kembali memenuhi kelas. Kali ini, Siska tidak lagi merasa ingin bersembunyi.

Namun siang itu, ketika Siska pulang dengan langkah ringan, ia mendapati gerobak ibunya terparkir di depan rumah dengan posisi yang tidak biasa. Beberapa tetangga berdiri berkerumun.

Jantungnya kembali berdebar, kali ini karena ketakutan yang berbeda.

Ia berlari mendekat.

Ibunya duduk di kursi bambu, tangan dibalut perban. Wajahnya pucat.

“Tadi Ibu terserempet motor,” kata seorang tetangga. “Sudah dibawa ke puskesmas. Tidak apa-apa, cuma luka ringan.”

Siska berlutut di samping ibunya. Air mata kembali mengalir.

“Ibu tidak apa-apa, Nak,” kata ibunya lembut. “Ibu masih bisa kerja.”

Siska menggenggam tangan ibunya yang kasar itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa malu. Ia merasa takut kehilangan.

Malam itu, Siska duduk di samping ibunya yang tertidur lebih cepat dari biasanya. Di meja kecil, terpajang fotokopi laporan yang tadi dipuji Bu Ratna.

Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun dalam: tugas sekolah itu ternyata bukan hanya tentang nilai. Tapi seperti cermin, memperlihatkan siapa dirinya dan siapa yang ia cintai.

Yang tak pernah ia duga adalah ini—yang paling ia takuti bukanlah ejekan teman, melainkan kehilangan keberanian untuk jujur dan kehilangan orang yang selama ini berjuang diam-diam untuknya.

Di ruang kelas, ia belajar tentang kejujuran.

Di rumah kecilnya, ia belajar tentang arti sahabat—karena ternyata, sahabat bukan hanya teman sebangku, tetapi juga orang yang berdiri di samping kita saat kita memilih untuk berkata benar.

Dan sejak hari itu, setiap kali namanya dipanggil di kelas, Siska tidak lagi menunduk. Ia berdiri tegak, membawa serta kisah ibunya—bukan sebagai beban, melainkan sebagai cahaya kecil yang menuntunnya untuk terus berani.

© Sepenuhnya. All rights reserved.