Hujan turun sejak sore di pinggiran kota besar itu. Air mengalir di selokan yang penuh sampah, bercampur dengan lumpur dari jalanan tanah yang belum tersentuh aspal. Di kejauhan, gedung-gedung tinggi tampak seperti bayangan raksasa yang berdiri di balik kabut.
Di salah satu gang sempit, sebuah rumah berdinding papan berdiri miring. Catnya mengelupas, atap sengnya berlubang di beberapa bagian, dan lampu terasnya sudah lama mati.
Di sanalah keluarga Syarwan tinggal.
Dulu, rumah itu sering dipenuhi suara tawa anak-anak, suara piring beradu, suara televisi yang terlalu keras, atau suara istrinya, Sari, yang memanggil anak-anak agar segera makan.
Kini, yang terdengar hanya suara hujan.
Syarwan duduk sendirian di ruang tengah. Sebotol kopi murah terletak di atas meja. Matanya menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Dalam foto itu, mereka berempat tersenyum.
Syarwan, Sari, Yusri, dan Dini.
Foto itu diambil tujuh tahun lalu, ketika kehidupan masih terasa sederhana.
"Kalau saja waktu bisa diulang," gumam Syarwan.
Namun waktu tidak pernah berkompromi dengan penyesalan.
Pintu depan tiba-tiba terbuka.
Yusri masuk dengan jaket basah. Anak laki-laki itu—yang kini berusia dua puluh tahun—melempar tasnya ke kursi.
"Ayah belum tidur?"
Syarwan menggeleng.
"Kerja malam lagi?"
"Besok."
Yusri diam. Ia mengambil gelas dari dapur dan menuangkan air.
"Kak Dini belum pulang?" tanya Syarwan.
Yusri berhenti.
"Entahlah."
Jawaban itu terdengar pendek, tetapi menyimpan sesuatu yang lebih panjang.
Syarwan menatap anaknya.
"Kalian bertengkar lagi?"
Yusri tersenyum hambar.
"Keluarga ini memang masih keluarga, Yah?"
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Syarwan tidak menjawab.
Yusri kemudian masuk ke kamar.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu dibanting.
Syarwan tetap duduk.
Ia tahu, pertengkaran anak-anaknya bukanlah awal kehancuran keluarga itu.
Kehancuran sudah dimulai jauh sebelumnya.
Ketika perusahaan tempat Syarwan bekerja bangkrut, penghasilannya hilang. Utang mulai menumpuk. Sari kemudian bekerja di sebuah warung makan dari pagi hingga malam.
Pada awalnya mereka saling menguatkan.
Lama-kelamaan, kemiskinan mengubah cara mereka menghadapi kehidupan.
Pembicaraan tentang uang menjadi pertengkaran.
Pertengkaran menjadi tuduhan.
Tuduhan menjadi kebencian.
Sari pernah berkata bahwa Syarwan tidak berusaha cukup keras. Syarwan membalas bahwa Sari tidak pernah memahami tekanan sebagai kepala keluarga.
Anak-anak mendengar semuanya.
Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah adalah tempat untuk menghindari, bukan tempat untuk pulang.
Tiga tahun lalu, Sari pergi.
Tidak ada surat.
Tidak ada pesan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya sebuah tas pakaian yang hilang dari lemari.
Sejak saat itu, Syarwan tidak pernah benar-benar menjadi ayah bagi kedua anaknya. Ia hanya menjadi lelaki yang tinggal serumah dengan mereka.
Malam semakin larut.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh.
Tiba-tiba terdengar ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Syarwan bangkit.
Ia berjalan menuju pintu.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ketukan terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Dengan hati berdebar, Syarwan membuka pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah amplop cokelat tergeletak di lantai.
Syarwan mengambilnya.
Namanya tertulis di bagian depan.
Untuk Syarwan. Jangan berikan kepada siapa pun sebelum kau siap mengetahui kebenarannya.
Tangannya gemetar.
Ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah foto.
Syarwan membaca surat itu perlahan.
Semakin lama, wajahnya semakin pucat.
Ia membaca ulang.
Kemudian sekali lagi.
Seolah kata-kata di atas kertas itu dapat berubah jika dibaca berkali-kali.
"Mustahil..."
Foto yang ada di tangannya memperlihatkan Sari berdiri di depan sebuah rumah sakit. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang tidak dikenalnya.
Di belakang foto tertulis sebuah tanggal.
Tanggal yang sama dengan hari ketika Sari meninggalkan rumah.
Syarwan mundur beberapa langkah.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Ayah sudah membacanya?"
Syarwan menoleh.
Yusri berdiri di ambang pintu kamar.
Wajahnya pucat.
"Kamu tahu soal ini?"
Yusri tidak menjawab.
"Yusri!"
Anak itu menarik napas panjang.
"Sudah lama."
"Siapa laki-laki itu?"
Yusri menunduk.
"Aku tidak boleh mengatakannya."
Syarwan mendekat.
"Kenapa?"
"Karena Ibu memintaku merahasiakannya."
Ruangan mendadak sunyi.
Syarwan merasa dadanya sesak.
"Ibumu masih menghubungimu?"
Yusri mengangguk.
"Sesekali."
"Di mana dia?"
Yusri menatap ayahnya lama.
"Lima kilometer dari sini."
Syarwan terdiam.
"Tapi kenapa dia tidak pernah pulang?"
Yusri mengeluarkan ponselnya.
"Karena dia takut."
"Takut pada siapa?"
Yusri tidak menjawab.
Tiba-tiba suara motor berhenti di depan rumah.
Lampu kendaraan menembus celah dinding papan.
Seseorang turun.
Kemudian terdengar suara pintu pagar dibuka.
Yusri melihat ke arah jendela.
Wajahnya berubah.
"Dia datang."
Syarwan menatap anaknya.
"Siapa?"
Yusri tidak menjawab.
Ketukan terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Kali ini lebih keras.
Syarwan berjalan perlahan menuju pintu. Tangannya menggenggam surat itu erat-erat.
Di balik pintu, terdengar suara perempuan.
Suara yang selama tiga tahun hanya hidup dalam ingatan.
"Syarwan..."
Tubuh Syarwan membeku.
Ia sangat mengenal suara itu.
Sari.
Istrinya.
Perempuan yang selama ini ia kira telah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Syarwan memandang Yusri.
"Kenapa sekarang?"
Yusri hanya berkata pelan, "Karena waktunya sudah habis."
Syarwan membuka pintu.
Sari berdiri di sana.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua. Rambutnya basah oleh hujan. Matanya merah seperti seseorang yang telah terlalu lama menangis.
Namun bukan Sari yang membuat Syarwan kehilangan kata-kata.
Di belakangnya berdiri seorang gadis kecil.
Gadis itu memegang tangan Sari erat-erat.
Dan ketika mata gadis itu bertemu dengan mata Syarwan, ia berkata pelan,
"Ayah..."
Syarwan terdiam.
Dunia seolah berhenti berputar.
Sari menundukkan kepala.
"Maaf."
Syarwan memandang gadis kecil itu, kemudian Yusri, lalu kembali kepada Sari.
"Siapa anak ini?"
Sari menangis.
Sebelum ia sempat menjawab, suara sirene terdengar dari kejauhan.
Yusri berbisik, "Ayah, kita harus pergi sekarang."
Syarwan menatapnya penuh kebingungan.
"Pergi ke mana?"
Yusri mengambil tasnya.
"Karena orang yang mengejar Ibu sudah menemukan kita."
Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar mendekati rumah.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keluarga yang telah hancur itu kembali berdiri di bawah satu atap.
Bukan karena mereka telah menemukan kedamaian.
Melainkan karena malam itu, mereka semua harus menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada luka masa lalu.
Sesuatu yang selama ini disembunyikan Sari.
Dan Syarwan belum tahu bahwa rahasia terbesar keluarganya baru saja dimulai.