Oleh Elza Ramadhani
Namaku Fadhilah. Biasa dipanggil Fafa. Aku anak kelas 7 MTs. Kami sedang berada dalam ruangan MOS. Sementara di hadapan kami ada kakak Osis yang sedang memperkenalkan diri dan memperkenalkan guru serta materi yang akan diajarkan nantinya. Dari 10 kakak Osis, ada satu yang menurutku sempurna. Kalau nggak salah, namanya Mihsa.
"Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah."
Potongan lirik lagu "Sempurna" dapat mewakili apa yang ingin kukatakan. Terkadang, mulut ingin berucap namun otak tak bisa menangkap, kalimat apa yang cocok untuk menggambarkan apa yang sedang kita lihat dan kita rasakan.
Sempurna bukan hanya dari segi fisik. Bisa jadi ada sesuatu yang membuatnya lebih indah dari sebuah bentuk tubuh. Sempurna itu, mempunyai nilai tersendiri. Sempurna itu, bisa dilihat dan dirasakan, tapi tidak bisa diungkapkan. Sempurna itu, menarik dan unik.
Topi merah, memang hanya sebuah benda dipakai di kepala. Tapi topi merah bisa membuat seseorang terlihat berbeda dari biasanya.
"Ah, cuma topi merah." kata Dita.
"Memang hanya topi." jawabku.
"Jika tidak merah apa hasilnya tidak sempurna?" sambung Dita, sambil ikut melihat ke arah apa yang aku maksud. "Belum tentu." tambahnya.
"Bisa jadi, yang membuat sempurna bukan topinya ataupun warnanya. Coba kita ganti tema. Helm ungu misalnya. Banyak yang memakainya, tapi kenapa berbeda? Di situ, baru ketemu. Bukan karena bendanya, tapi orangnya. Itu tandanya kamu ada rasa sama dia." jelas Dita lagi.
Aku manggut-manggut, tapi tidak membenarkan perkataan Dita. Anak 12 tahun, tahu apa tentang rasa, apalagi cinta.
"Kalau menurut aku, biasa aja. Karena aku nggak ada rasa sama itu cowok. Mau pakai topi pink sekalipun, aku biasa aja." sepertinya Dita benar. Ada yang berbeda dengan pandangan aku tentang dia. Apakah aku sedang jatuh cinta?
Berawal dari topi merah, rasa itupun menyala. Inikah pertanda aku jatuh cinta? Cintaku yang pertama?
"Hai kak Mihsa, kenalin aku Dara. Anak kelas 7 A. Boleh minta no HP-nya kak?"
Mihsa diam seribu bahasa. Tidak menanggapi sapaan Dara.
"Maaf, aku lagi sibuk."
Dari kejauhan, aku memandanginya ikut tersenyum.
"Yes, Dara dicuekin." batinku.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Dita. Ternyata Dita dari tadi memperhatikan tingkahku. Aku tak menjawab.
"Ah, ketahuan kamu memperhatikan topi merah ya? Tenang, topi merah nggak akan ilang kok. Dia aman kok." Dita terdiam sebentar. "Tapi kalau kamu mau jujur. " sambungnya.
"Maksudnya?"
"Ngapain pura-pura bodoh sih? Kamu suka kan sama topi merah?" bisik Dita.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu suka topinya aja kan, tenang nanti tak carikan di pasar. Kamu mau motif apa? Tinggal pilih nanti." gurau Dita.
Hari ini, penutupan MOS. Kami diminta memberikan hadiah untuk kakak-kakak OSIS. Kami bebas mau memberikan kepada siapa dan dalam bentuk apa pun? Aku memberikan topi kertas berbentuk seperti topi anak laki-laki berwarna pelangi untuk kak Mihsa.
"Semoga ukurannya pas di kepala Kak Mihsa." kataku gugup. Ada getaran aneh, ketika kaki mau melangkah maju. Apa jantungku baik-baik saja?
Aku tetap melangkah, meski harus berpegangan pada lengan Dita.
"Kasih aja...!" bisik Dita, memberikan sinyal memaksa. Terpaksa, aku menurut. Topi kertas diterima, tapi tidak langsung dipakai, Mihsa memandangi topi kertasku.
"Bagus." Tanggapnya singkat. "Aku coba ya?"
Seketika topi merahnya dilepas, diganti topi pelangi pemberianku.
"Gimana? Cocok nggak sama aku?" candanya disambut beragan reaksi dari temannya.
"Ah, topi kertas doang, keren punyaku topi jerami." tawapun meledak dalam ruangan. Yang mereka tidak tahu ada anak gadis yang hatinya berbunga-bunga.
Setiap hari, Fafa tak pernah absen memandangi ruang kelas Mihsa, berharap Mihsa ada. Mihsa menyapa. Mihsa mengatakan cinta. Mihsa jadi pacarnya. Namun, tak ada yang akan menanggapi diamnya air. Tak ada yang tahu dalamnya sumur. Tak ada yang tahu tingginya gunung. Dan tak ada yang tahu tenangnya ombak.
Sama-sama diam berarti tak bersuara. Harapan sudah setinggi gunung tapi kenyataan sedingin air sumur. Karena tak ada kata yang terucap, menjadikan hati terasa tersayat.
Penulis:
Elza Ramadhani, nama pena dari Zulfa. Kelahiran Blora, 24 Februari 1991. Suka menulis karena Hobi bukan profesi. Mulai menulis di usia 12 tahun kala menemukan getaran cinta pertama.
Pendidikan: Hanya tamatan SMA atau sederajat. Lulus dengan nilai standar. Tidak ada prestasi akademik atau non akademik. Cita-cita: Ingin didengar meski tak pernah bersuara.