Luka yang Tak Terlihat

Cerpen ini mengisahkan hubungan ibu dan anak yang penuh luka, rahasia, dan kenyataan pahit tentang masa lalu yang tersembunyi di balik dinding rumah.

Waktu aku masih kecil dan belum mengerti kenapa orang-orang dewasa di sekitarku gemar saling melukai dengan lidah dan tinju. Ibu dengan bibirnya yang lihai itu mampu menjelaskan seluruh busuk dan pengapnya dunia menjadi serangkaian lelucon yang lumayan menghibur, potret kemiskinan dan penderitaan yang menjalar di setiap kehidupan manusia. Kata ibu, itu hanyalah sebuah pentas sandiwara absurd yang sengaja diciptakan tuhan yang sedang kehabisan hiburan. Setiap ibu mulai menguraikan pikirannya, aku selalu merasa sedang mendengarkan seorang malaikat yang menuntunku kepada jalan kebenaran.

Luka yang Tak Terlihat
Sumber: Pinterest

“Negeri ini sangat mencintai anak-anak” kata ibu. “Selama anak-anak itu belum tumbuh menjadi manusia dewasa yang bisa protes dan menyadari betapa tololnya para pempin mereka.” Ia berhenti sejenak, dan beberapa saat kemudian ibu melanjutkan ucapannya.

“Begitu kau tumbuh dewasa, bertambah tinggi, dan mulai kelaparan sambil mempertanyakan nasib, kau cuma akan dianggap hama yang sok kritis oleh orang-orang tua bangka itu.” Aku terpaku pada perkataannya saat itu, lalu memeluk lutut ibu, ibu menoleh padaku melalui pantulan cermin, bibirnya kulihat merah menyala membentuk sebuah garis senyum tipis, amat halus yang tanpa aku tahu apakah ada makna lain di baliknya.

“Tapi jangan takut,” sambungnya dengan suara yang mendadak melunak, “Ibu akan selalu memastikan kau tidak pernah kelaparan.” 

Aku menelan mentah-mentah kalimat itu dan mempercayainya sebagai sebuah bentuk kasih sayang ibu. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut ibu memang selalu membuatku candu, di mataku ibu bukan sekedar seorang perempuan yang telah membesarkanku, ia adalah makhluk paling berpengetahuan sesudah guruku di sekolah.

Namun, ibu juga mempunyai sifat seperti ibu lainnya. Ia akan mengomel panjang lebar apabila aku pulang sekolah terlalu sore karena ikut anak-anak lain bermain layangan di lapangan. Ia akan berdiri tegak di pintu rumah dengan kedua lengannya bersilang di dada, memasang wajah tajam yang siap menghantamku bila kakiku melangkah melewati pintu.

“Kalau kau memang punya niat mau mati diculik atau tenggelam di rawa, jangan pilih waktu malam hari” katanya suatu hari.

Dengan polosnya aku menjawab “Kenapa, bu?”

“Karena aku terlalu lelah jika harus membukakan pintu untuk polisi saat jam tidur, mengganggu saja.”

Tepat sesudah kalimat getir itu keluar dari mulut ibu, jemarinya yang dingin tiba-tiba saja menarik pergelangan tanganku untuk masuk ke dalam ruang makan, ia mengambilkan piring dan memenuhinya dengan nasi hangat dengan asap yang masih mengepul, lalu meletakkan selembar telur dadar yang gurih di atasnya.

“Habiskan sampai tak tersisa, jangan tak habis!”

Pada saat-saat itulah, aku meromantisasikan segalanya, aku menganggap nada bicara ibu yang sinis dan kasar hanyalah semacam cangkang pelindung luar untukku, sebuah bentuk cinta yang terasing yang tak pernah diajari dengan ucapan kata-kata manis. Begitulah ibu memelihara keberadaanku, ia memang tak pernah mengucapkan “ibu sayang kamu” atau mencium keningku waktu hendak berangkat sekolah seperti ibu-ibu lain yang kulihat di televisi, atau merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya ketika aku menangis meraung-raung akibat lututku tergores batu jalanan. Namun, di sisi lain yang kontradiktif, ibu adalah sosok yang selalu hafal tanggal berapa uang SPP sekolahku disetorkan, ia juga tahu persis ukuran seragam yang cocok untuk ukuran badanku dan hafal detail kalau aku selalu muntah jika memakan bagian telur dadar yang gosong.

***

Belakangan ini ketika beranjak dewasa aku menyadari kenyataan pahit, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut ibu ternyata bukanlah hasil dari perenungan mendalam kepalanya sendiri, melainkan warisan ucapan ayah. 

Ayah adalah seorang penulis. Bukan penulis besar. Belum. Tapi sedang menuju ke sana waktu itu. Beberapa kenalannya atau orang yang tak sengaja membaca bukunya kemudian mengutip kalimatnya di media sosial sambil pura-pura paham maknanya. Ia suka berbicara tentang moral, cinta, manusia dan eksistensinya. Lelaki seperti itu biasanya disukai perempuan-perempuan yang terlalu lelah dengan hidup, dan ibu salah satunya. 

Sebelum bertemu ayah, ibu bekerja menemani para lelaki penting. “Petinggi,” begitu ibu menyebut mereka sambil tertawa pendek, seolah kata itu sendiri adalah lelucon. Dari mulut ibu aku belajar bahwa laki-laki berkuasa biasanya punya dua wajah. Pertama untuk di televisi, satu lagi untuk di ranjang hotel. 

Lalu ayah datang melangkah ke dalam hidup ibu persis seperti kemunculan tokoh utama dalam novel-novel picisan yang akhir-akhir ini aku baca. Ayah menyelamatkan ibu dari pusaran neraka itu, bukan dengan segepok uang tebusan, melainkan memborbardirnya menggunakan khotbah-khotbah moralitas, sebungkus rokok kretek di jari kanannya, dan rentetan kutipan filsafat barat yang berhasil ia hapal di luar kepalanya. Bagi seorang perempuan muda seperti ibu yang sudah terbiasa dilecehkan oleh laki-laki berjas, kebaikan ayah yang naif dan polos itu memang sering salah diartikan, salah satunya sebagai keselamatan. Atau, setidaknya, begitulah narasi romantis yang selalu dirangkai ibu setiap kali ia menceritakan masa lalunya kepadaku. 

***

Aku ingat ibu pernah bilang ayah sudah mati. Ayah mendadak lenyap begitu saja entah sedari aku umur berapa, aku juga tak tahu. Tidak ada upacara kematian atau pembacaan doa yang pernah aku ingat, atau selembar bendera kuning yang ditancapkan di depan rumah kami. Pernah suatu hari aku memberanikan diri bertanya, kenapa ayah lenyap. Ibu hanya berdiri diam di dekat ambang pintu kamar, lalu secara perlahan mengarahkan ujung telunjuknya yang kurus kearah dinding semen kusam tak bercat berada tepat di samping kiri pintu kamarku.

 “Ayahmu tinggal di dalam situ sekarang,” ujar ibu dengan nada suara yang begitu datar dan dingin.

Anehnya, sebagai anak berumur sepuluh tahun, waktu itu aku percaya begitu saja. Rumah kami memang sering menunjukkan bentuk-bentuk kegilaan kecil agar kami yang tinggal di dalamnya tidak mati kebosanan menatap nasib. Maka, sedari umur sepuluh tahun sampai sekarang tiap malam aku selalu menempelkan telingaku ke permukaan tembok dingin yang kasar itu. Dalam imajinasiku aku membayangkan napas ayah yang berat terperangkap di antara kerapatan batu bata dan adukan semen yang mengering, seolah-olah ayah tidak betul-betul hilang, melainkan hanya bersembunyi sebentar dari kegilaan hidup di dunia ini, sampai waktu yang tak pasti.

***

Pada suatu malam, aku bertengkar dengan egoku sendiri. Apa semua anak remaja laki-laki sering bertengkar dengan egonya sendiri? ucapku dalam hati. Aku bertanya kepada ibu yang sedang sibuk melipat tumpukkan pakaian kotor di ruang tengah, apakah Ayah kira-kira bisa membantuku dalam hal ini.

“Bisa,” jawabnya singkat. “Ucapkan saja dengan keras, ia akan dengar,” sambung ibu.

Aku berjalan mendekati dinding tersebut, menempelkan bibirku hampir menyentuh semen yang berdebu. Tetapi dari arah belakang, suara ibu mengudara, memotong keseriusan pembicaraanku dengan ayah.

“Tidurlah. Jangan berdiri terlalu dekat dengan tembok itu.”

Aku memutar tubuhku. “Kenapa?”

Ibu kemudian menatap lurus kearah dinding itu dengan tatapan yang amat panjang dan sulit diterjemahkan, sebelum akhirnya menjawab dengan nada suara yang dingin “Karena sesuatu yang sudah membusuk dan mati sebaiknya tidak perlu dibangunkan kembali oleh harapan yang tolol.”

***

Semakin hari aku beranjak dewasa, kini usiaku telah menginjak 17 tahun. Kegilaan di dalam rumah kami makin mekar dengan begitu subur. Ibu secara terang-terangan memperlihatkan perkerjaan lamanya kepadaku, menemani lelaki asing yang berbau keringat dan alkohol. Rumah kami yang biasanya sepi, mendadak berubah menjadi tempat transit para lelaki yang datang serta pergi hingga menjelang subuh.

Lelaki yang paling sering aku lihat ke rumah kami bernama Karno, seorang yang aku ketahui akhir-akhir ini adalah mantan kekasih masa muda ibu sebelum kedatangan ayah. 

Aku benci semua perihal tentang Karno. Aku benci abu rokok murahnya yang berserakan di atas sofa kami yang sobek, aku membenci suara tawanya yang nyaring, aku membenci caranya memandang lekuk tubuh ibu dengan mata yang basah oleh napsu. Aku benci semuanya. Namun, setiap kali Karno melangkah masuk ke rumah, ibu dengan sigap mendorong bahuku dan menyuruhku masuk ke dalam kamar.

“Masuk. Belajar,” perintahnya.

“Kenapa aku harus mengurung diri terus setiap kali orang itu datang?” protesku.

Ibu memandangku dengan mata yang kaku. “Karena kau masih punya masa depan yang harus dibayar, sementara kami tidak.” 

Lagi-lagi, aku menelan bulat-bulat kalimat sinis itu dan mengolahnya di dalam kepala sebagai bentuk perlindungan seorang ibu.

Uang kertas yang diremas dari kantong lelaki-lelaki yang bertamu itu pada akhirnya memang menjelma menjadi biaya SPP sekolahku, membayar tagihan listrik bulanan, dan memastikan beras selalu tersedia di dalam penanak nasi kami. Memiliki status sebagai anak dari seorang perempuan yang pandai mengutip pandangan hidup membuatku memahami satu kebenaran pahit sejak usia muda. Bahwa rasa malu ejekan sebagai orang miskin lebih mudah ditanggung daripada rasa perih akibat perut yang kelaparan.

Tetapi, ada satu hal kecil yang selalu mengusik benakku selama bertahun-tahun, di mana ibu tidak pernah bisa menerima ucapan terima kasih dariku. Suatu kali, setelah ia meletakkan sepasang sepatu sekolah baru bertali hitam di atas mejaku, sepatu yang dibelinya setelah melayani Karno semalaman. Aku merasa sangat tersentuh hingga memberanikan diri untuk maju dan memeluk pinggangnya dari belakang.

“Terima kasih banyak ya, Bu,” bisikku di punggungnya.

Seketika itu juga, seluruh otot tubuh Ibu membeku kaku. Ia tidak membalas pelukanku. Keheningan yang menakutkan menggantung di antara kami selama beberapa detik sebelum jemarinya menepuk pundakku dengan ketukan kaku, memaksaku melepas pelukan tersebut.

“Jangan pernah berani-berani mengucapkan terima kasih kepadaku,” katanya tanpa menoleh sedikit pun.

“Kenapa, Bu? Aku cuma mau...”

“Karena semua ini memang sudah menjadi beban tugas yang harus kukerjakan.”

Aku menahan senyum saat itu, menganggap Ibu hanyalah seorang perempuan yang terlalu gengsi untuk mengakui kerendahan hatinya.

***

Puncak dari keganjilan rumah kami akhirnya pecah. Di suatu malam aku terbangun dari tidur nyenyakku. Bukan karena mendengar suara desahan dari ruang tengah seperti biasanya kudengar. Melainkan karena suara ketukan pelan dari dinding di luar kamarku. Dengan sangat perlahan, aku menggeser pintu kamarku beberapa milimeter, mengintip melalui celah sempit yang tercipta.

Kulihat Ibu berdiri di depan dinding tempat foto ayah tergantung. Karno memeluk pinggangnya dari belakang. Lalu ibu mencium foto ayah dengan pelan. Setelahnya ia berbalik dan mencium Karno dengan bibir yang sama.

Aku terpaku. Untuk pertama kalinya aku merasa orang dewasa jauh lebih menakutkan daripada hantu. 

Setelah malam yang mengerikan itu berlalu, aku tetap memaksakan diriku untuk percaya bahwa ibu mencintaiku dengan caranya yang terdistorsi. 

***

Besok paginya, Karno datang masuk ke dalam rumah kami sambil membawa martil bersi berukuran besar. Ibu hanya duduk bersandar di sofa robek kami, mengenakan daster tipis berwana kelabu kusam, dan menyesap kopi hitamnya yang pekat sambil memperhatikan Karno yang mulai mengayunkan martil dengan otot-otot tangannya yang mengencang.

Brak!

Pukulan pertama menghantam permukaan tembok, membuat plesteran semen rontok berhamburan di atas lantai.

Namun, tepat pada hantaman yang kelima, bukan sekadar pecahan batako yang terlempar ke udara. Sebuah retakan besar yang memanjang tiba-tiba menjalar dengan cepat ke arah atas. 

Dari dalam rongga tembok yang baru saja terbuka lebar, meluncur jatuh sebuah gumpalan kain kusam yang telah membusuk, melekat erat pada struktur benda keras yang mendadak menguapkan bau tengik luar biasa tajam. Karno serta-merta terbatuk-batuk hebat. Kemudian menutup hidungnya dengan kaos kotor yang ia kenakan.

Dengan tangan gemetar, Karno menyalakan lampu dari ponselnya dan mengarahkannya lurus ke dalam lubang gelap itu. Terlihat serangkain tulang rusuk manusia yang menghitam kaku dan kering. Sebagian dari tengkorak kepalanya masih melekat erat pada sisa-sisa adukan semen kering yang memerasnya selama bertahun-tahun.

Karno seketika melemparkan martil besarnya ke lantai hingga menimbulkan suara dentang yang kencang. Wajahnya yang gempal mendadak pucat.

“Setan alas!” teriaknya histeris. Ia memutar tubuhnya, menatap Ibu dengan mata yang hampir melompat keluar dari kelopaknya. “Kau... kau menanam bangkai suamimu sendiri di dalam dinding rumah ini, Lis?!”

Aku berdiri mematung di samping meja makan, seluruh persendian tubuhku terasa melorot seketika. Mataku yang membesar menatap lurus ke arah rongga hitam di dinding tersebut menatap sisa-sisa kerangka manusia yang selama bertahun-tahun kutempelkan telingaku padanya setiap malam.

Lalu, secara perlahan, pandanganku berpindah menatap Ibu. Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun hidupku, aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengenal perempuan yang berdiri di depanku ini. Matanya benar-benar dingin dan hampa. Itu bukan pasang mata dari seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya, bukan pula mata dari seorang kriminal yang ketakutan karena kejahatan besarnya akhirnya terbongkar. Matanya adalah mata dari seseorang yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya hanya untuk menunggu saat yang paling tepat untuk memuntahkan sebuah kenyataan.

“Ayahmu itu adalah seorang penipu besar yang menjijikkan,” kata Ibu, suaranya mengalun sangat datar tanpa ada sedikit pun riak emosi di dalamnya. “Waktu dia membawaku keluar dari neraka itu, kami membuat satu kesepakatan yang mengikat. Dia boleh memiliki tubuhku sepenuhnya, tetapi aku tidak boleh dibuat hamil.

Aku menelan ludahku yang terasa sepahit racun.

“Aku tidak pernah sudi punya anak,” lanjut Ibu, matanya menatap lurus ke dalam mataku. “Ayahmu yang penakut itu menghentikan pemakaian alat kontrasepsi secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuanku,” kata Ibu lagi, langkah kakinya mulai maju satu demi satu mendekatiku. “Dia mendadak ingin menjadi seorang bapak yang utuh. Katanya, kehadiran seorang anak akan menyempurnakan eksistensi dirinya sebagai laki-laki. Malam ketika kau baru berumur dua tahun, kami bertengkar hebat di ruang tengah ini. Dialah yang mulai memukulku duluan menggunakan sabuk kulitnya, sambil berbicara tentang dosa, tentang kewajiban seorang istri, dan tentang takdir Tuhan yang harus kuterima.” Ibu memalingkan pandangannya sebentar ke arah sudut meja makan yang berdebu. “Aku tidak tahan lagi. Aku mendorong tubuhnya dengan seluruh tenagaku.”

Ia menghentikan kalimatnya sejenak.

“Kepalanya membentur sudut meja itu dengan sangat keras. Sejak kau terlahir dari rahimku, semua sampah yang sangat ingin kutinggalkan di masa lalu mendadak kembali melekat erat pada kulitku.” Ia menunjuk ke arah rongga dinding semen. “Ayahmu.” Lalu jemarinya yang dingin berputar, menunjuk tepat ke arah mukaku. “Dan kau.” Ibu tersenyum tipis, sebuah senyuman satir yang teramat pahit. “Bukankah selama ini Ibu sudah berkali-kali mengatakannya kepadamu? Begitu kau dewasa dan mulai kelaparan, kau cuma sisa makanan yang lupa dibuang ke tong sampah.”

Dulu, dengan naifnya aku mengira semua perkataan ibu untuk menghiburku. Sekarang aku menyadari kebenaran ia sedang berbicara tentang anak yang tak pernah ia inginkan. Dan tiba-tiba, ingatan-ingatan kecil lainnya yang selama ini luput dari perhatianku mendadak terkumpul menjadi teka-teki yang utuh. Setiap kali aku menangis meraung-raung karena jatuh dari sepeda, ia tidak pernah memeluk tubuhku untuk menenangnkannya. Ia hanya menyodorkan segelas air putih dengan nada memerintah “Minum. Tangisanmu membuat kepalaku mau pecah.” Dan setiap kali aku pulang sekolah terlalu sore, ia tak pernah memelukku dan bilang bahwa ia cemas. Ia selalu mendesis di ambang pintu “Ibu tidak sudi membuang uang hanya untuk mengurus mayat anak tolol.”

Air mataku akhirnya menetes jatuh membasahi pipi. Satu titik, lalu disusul titik lainnya. Ibu menyaksikan tetesan air mata itu tanpa sedikit pun merubah garis wajahnya. Matanya tetap kaku dan hampa. Aku membuka mata, berpaling menatap lubang besar di dinding semen itu. Dari balik kegelapan bata yang retak, serangkaian tulang rusuk dan tengkorak Ayah seolah-olah sedang menyeringai menatap nasibku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku betul-betul memahami sejak hari pertama aku dilahirkan ke dunia, ada seorang perempuan di dalam rumah ini yang tidak pernah sudi memberiku sepetak kecil ruang pun di dalam hatinya.

Dengan jemari yang gemetar, aku melangkah menuju sudut ruangan, mengambil sebuah sapu dan serokan sampah yang bersandar di tembok. Kemudian, aku mulai mengayunkan sapu itu, menyapu rontokan debu semen, pecahan batako, dan kotoran tanah yang berserakan di atas lantai. Ibu masih tetap berdiri diam di dekat lubang dinding, menyaksikan setiap gerakan tanganku tanpa mengucapkan satu kata pun.

Yessi Alma’wa

Penulis:

Yessi Alma’wa, asal dari Jambi. Beberapa tulisannya dimuat di platform online hingga cetak. Kini sibuk merenungi eksistensinya “Aku ini siapa, sih?” Jika ingin menyapa bisa mampir di Instagram @sii_almawa

© Sepenuhnya. All rights reserved.