Oleh Elza Ramadhani
Saat itu hari Sabtu. Jam 3 di sore hari. Aku berdiri di barisan paling depan regu melati. Panitia persami sudah berkumpul di depan barisan regu. Terhitung baru ada 9 anak laki-laki. Di hadapanku masih ada ruang kosong untuk satu panitia laki-laki yang belum hadir. Mungkin sebentar lagi. Benar saja.
Tiba-tiba, "cit..., cit..., cit... ". Bukan suara klakson atau pintu berdecit, tapi suara rep sepeda mini. Warnanya hijau tua, lengkap dengan keranjang depan dan boncengan di belakangnya. Tas warna hitam motif tali-lali putih menempel di punggungnya. Serta di kepala ada topi istimewa. Bukan topi pramuka, melainkan topi merah bertuliskan namanya. Dialah Mihsa si pemimpin panitia kelas 8.
Sepeda sudah terparkir di pinggir lapangan. Ransel sudah diturunkan. Mihsa langsung bergabung dalam barisan, tak lupa bersalaman dengan kakak pembina. "Kenapa telat? " Enggak usah ditanya, semua juga tahu rumah Mihsa yang paling jauh. Tidak ada candaan jahil. Semua peserta mendengarkan amanat pembina upacara dengan tenang.
"Dua kali tepuk Pramuka..." seru kakak pembina di akhir upacara.
Kami serempak menepuk tangan, tepuk pramuka.
Masing-masing pinru atau pimpinan regu dipanggil ke kantor panitia. Kami diberi arahan kegiatan sore ini, sampai esok hari.
"Melati, ini daftar kegiatan hari ini dan besok. Silahkan dipelajari dan didiskusikan dengan kelompok regu."
"Iya kak." jawabku singkat dengan menundukkan kepala karena tak berani menatap matanya.
"Kamu paham?" terangnya.
"Iya, saya paham."
Setiap pinru diminta membawa kayu obor dan setiap obor melantangkan teks Dasa Dharma secara urut.
Dasa Dharma pramuka, pramuka itu:
- Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
- Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
- Patuh dan suka bermusyawarah.
- Patriot yang sopan dan kesatria.
- Rela menolong dan tabah.
- Rajin terampil dan gembira.
- Hemat, cermat dan bersahaja.
- Disiplin, berani dan setia.
- Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
- Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Setelah api unggun menyala, kami menyanyikan lagu api unggun.
Bila senja kini t'lah tibaSenang di hari petangWaktu berapi unggun tibaSaat bersuka riaKita duduk berlingkar-lingkaranTak ada awal akhirnyaLingkaran persaudaraanKita kuat eratkanOai.... O oai..... O oai.... O oai... OApi unggun berkobar
Api kita sudah menyalaApi kita sudah menyalaApi, api, api, api, apiApi kita sudah menyala
2 kali tepuk pramuka
Upacara api unggun belum usai, waktunya pentas seni per regu.
Momen yang tak 'kan pernah terlupakan. Meski baru awalan. Tapi cerita ini membuka jalan menuju masa depan. Kisah remaja yang mulai mekar.
Api unggun semakin menyala. Kami tim penyala api unggun kembali ke tempat semula. Memulai kegiatan pentas seni setelah upacara. Ada menyanyi, menari, baca puisi sampai drama komedi.
Api unggun semakin meredup. Tanda pentas seni ditutup. Waktunya kita istirahat dan mengumpulkan energi untuk besok. Masih ada petualangan sederhana tapi istimewa yang akan menanti kita.
Penulis:
Elza Ramadhani, nama pena dari Zulfa. Kelahiran Blora, 24 Februari 1991. Suka menulis karena Hobi bukan profesi. Mulai menulis di usia 12 tahun kala menemukan getaran cinta pertama.
Pendidikan: Hanya tamatan SMA atau sederajat. Lulus dengan nilai standar. Tidak ada prestasi akademik atau non akademik. Cita-cita: Ingin didengar meski tak pernah bersuara.