Ridwan telah menjadi nelayan hampir sepanjang hidupnya. Laut adalah rumah keduanya. Ia mengenal suara ombak sebagaimana ia mengenal suara istrinya. Ia tahu kapan badai akan datang hanya dari perubahan arah angin. Ia tahu kapan ikan bergerombol hanya dari warna permukaan air. Namun malam itu, semua pengetahuan yang ia miliki terasa tidak berarti.
Langit di atas Laut Jawa menggantung hitam seperti kain duka. Angin menderu dari arah timur, menghantam perahu kecil Ridwan hingga berderit di setiap sambungannya. Kilat sesekali membelah langit dan memperlihatkan puncak-puncak ombak yang menjulang seperti gunung bergerak.
Ridwan seharusnya sudah pulang sejak sore. Tetapi hasil tangkapannya buruk. Ia memutuskan bertahan lebih lama, berharap jaring terakhir membawa keberuntungan.
Keputusan itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Saat sedang menarik jaring, ia melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah cahaya samar. Awalnya ia mengira itu kapal besar. Namun ketika kilat menyambar, ia menyadari bentuknya jauh lebih kecil. Sebuah perahu kayu.
Perahu itu terapung diam di tengah badai. Tidak bergerak. Tidak terombang-ambing. Seolah laut di sekelilingnya tidak mampu menyentuhnya. Bulu kuduk Ridwan langsung berdiri. Perahu nelayan yang kehilangan mesin biasanya akan hanyut. Tidak mungkin tetap diam seperti itu.
Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia mengarahkan perahu mendekat. Semakin dekat, semakin jelas terlihat bahwa perahu itu sangat tua. Kayunya hitam seperti terbakar. Tali-temalinya membusuk. Tiangnya miring. Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Tidak ada manusia.
"Assalamualaikum!" teriak Ridwan.
Hanya angin yang menjawab. Ia mengulangi panggilannya. Tetap tidak ada jawaban.
Dengan hati-hati ia merapat. Saat perahunya menyentuh lambung perahu tua itu, suara dentuman pelan terdengar dari dalam.
Tok.
Tok.
Tok.
Seperti seseorang mengetuk dari ruang tertutup. Ridwan menelan ludah.
"Siapa di sana?"
Sunyi.
Setelah beberapa detik, keberaniannya muncul. Ia melompat ke atas perahu tua tersebut. Deknya licin dan dingin. Anehnya, tidak ada air hujan yang menggenang di sana meski badai sedang mengamuk.
Perasaan tidak nyaman menjalari tubuhnya. Lalu matanya tertuju pada sebuah kompas kuno yang tergeletak di dekat kemudi. Kompas itu terbuat dari kuningan. Masih berkilau. Seolah baru dibuat kemarin. Ridwan memungutnya.
Saat jari-jarinya menyentuh logam dingin itu, suara ketukan berhenti. Mendadak seluruh laut menjadi sunyi. Angin lenyap. Ombak melemah. Bahkan hujan seperti berhenti jatuh.
Ridwan memandang sekeliling dengan napas tertahan. Lalu terdengar bisikan. Sangat dekat. Tepat di belakang telinganya.
"Kembalikan..."
Ia berbalik cepat. Tidak ada siapa-siapa. Jantungnya berdetak keras. Ridwan buru-buru turun kembali ke perahunya.
Begitu ia menjauh, badai kembali mengamuk seakan tidak pernah berhenti. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya halusinasi akibat kelelahan. Namun ketika tiba di rumah menjelang subuh, kejadian aneh mulai terjadi. Kompas yang ia bawa tidak menunjuk utara. Jarumnya selalu menunjuk ke sudut ruangan tempat kompas itu disimpan. Tidak peduli bagaimana posisinya. Utara. Selatan. Timur. Barat. Jarumnya tetap mengarah ke satu titik.
Malam berikutnya, Ridwan terbangun karena suara langkah kaki di ruang tamu.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia mengambil senter dan keluar kamar. Tidak ada siapa-siapa. Namun kompas itu kini berada di tengah lantai. Padahal sebelumnya ia menyimpannya di lemari. Ridwan mulai merasa tidak tenang.
Keesokan harinya ia kembali melaut. Entah mengapa, pikirannya terus tertarik pada perahu tua tersebut. Seolah ada sesuatu yang memanggilnya.
Menjelang malam ia menemukan perahu itu lagi. Di lokasi berbeda. Tetapi tetap diam. Tetap tanpa awak. Dan tetap menunggu.
Kali ini Ridwan naik dengan lebih berani. Ia mencari-cari ke seluruh bagian perahu. Di dalam sebuah peti tua, ia menemukan sebuah pipa rokok ukiran gading. Indah dan bernilai mahal. Ia mengambilnya.
Begitu benda itu masuk ke sakunya, terdengar suara napas berat dari bawah dek. Seperti seseorang yang sedang sekarat. Ridwan membeku. Suara itu bergerak. Mendekat. Semakin dekat. Semakin keras. Lalu berhenti tepat di bawah kakinya.
Dua detik kemudian...
BRAK!
Sesuatu menghantam lantai dari bawah. Ridwan melompat ketakutan. Ia segera melarikan diri kembali ke perahunya.
Malam itu teror bertambah. Saat tidur, ia bermimpi melihat seorang lelaki tua tanpa mata duduk di sudut kamar sambil mengisap pipa tersebut. Asap hitam keluar dari rongga matanya.
"Kembalikan..." katanya.
Ridwan terbangun sambil menjerit. Tetapi mimpinya belum berakhir. Karena pipa itu kini berada di atas dadanya. Padahal sebelum tidur ia menguncinya dalam laci.
Ia mulai mempertimbangkan membuang benda-benda tersebut ke laut. Namun setiap kali mencoba, rasa takut luar biasa muncul. Seolah ada kekuatan yang melarangnya.
Seminggu berlalu. Ridwan semakin kurus. Ia sering mendengar bisikan. Kadang melihat bayangan berdiri di tepi pantai saat senja. Kadang mendengar suara orang berjalan di atap rumah. Tetapi saat diperiksa, tidak pernah ada siapa pun.
Lalu ia kembali menemukan perahu itu untuk ketiga kalinya. Seolah benda tersebut selalu tahu ke mana ia pergi. Kali ini ia menemukan sebuah buku catatan tua. Halamannya penuh tulisan tangan yang hampir pudar.
Pada halaman pertama tertulis:
"Kami tidak boleh mengambil apa pun."
Ridwan mengernyit. Ia membalik halaman berikutnya.
"Kami melanggar peringatan itu."
Halaman berikutnya.
"Satu demi satu mereka datang saat malam."
Berikutnya lagi.
"Jika kau membaca ini, jangan sentuh apa pun."
Angin dingin tiba-tiba berembus. Ridwan menoleh. Di ujung dek berdiri sesosok pria. Tubuhnya basah kuyup. Wajahnya pucat. Matanya hitam seluruhnya. Ridwan berkedip. Sosok itu menghilang. Ia gemetar. Tetapi karena panik, buku itu justru ia bawa pulang.
Malam tersebut menjadi malam paling mengerikan. Semua lampu rumah mati pukul dua belas tepat. Dalam kegelapan, suara banyak orang terdengar berbisik. Puluhan. Mungkin ratusan. Mereka mengelilingi rumah. Menyebut namanya.
"Ridwan..."
"Ridwan..."
"Ridwan..."
Ia mengintip dari jendela. Tubuhnya langsung lemas. Di luar rumah berdiri puluhan sosok basah. Mereka mengenakan pakaian nelayan tua. Kulit mereka membusuk. Air laut menetes dari tubuh mereka. Mata mereka kosong. Dan semuanya menatap ke arah rumahnya. Ridwan menutup tirai sambil gemetar. Bisikan itu berlangsung sampai fajar.
Setelah kejadian itu, ia tidak berani menceritakannya kepada siapa pun. Karena siapa pun yang mendengar pasti menganggapnya gila.
Namun teror belum mencapai puncaknya. Suatu malam, anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun berkata,
"Ayah, kenapa ada banyak orang berdiri di belakang rumah?"
Darah Ridwan serasa berhenti mengalir.
"Apa maksudmu?"
"Mereka basah semua."
Ridwan segera berlari keluar. Tidak ada siapa-siapa. Tetapi jejak kaki berlumpur memenuhi halaman. Jejak itu mengarah ke kamar tempat kompas, pipa, dan buku disimpan.
Malam berikutnya, suara ketukan kembali terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Kini berasal dari bawah ranjang. Ridwan memberanikan diri melihat ke bawah. Ia berharap tidak menemukan apa pun. Namun yang ia lihat membuatnya hampir pingsan. Seorang lelaki tua tanpa mata sedang berbaring di sana. Tersenyum. Mulutnya penuh air laut.
"Kembalikan..." bisiknya.
Ridwan berteriak dan jatuh mundur. Saat ia melihat lagi, sosok itu sudah lenyap.
Keesokan paginya ia memutuskan mengembalikan semua benda tersebut. Apa pun yang terjadi. Ia membawa kompas. Pipa. Dan buku. Lalu berlayar menuju lokasi terakhir. Perahu tua itu sudah menunggu. Seolah mengetahui kedatangannya.
Langit kembali gelap. Badai kembali muncul. Ridwan naik ke atas perahu. Dengan tangan gemetar ia meletakkan kompas di dekat kemudi. Pipa di atas peti. Dan buku di tempat semula.
Begitu benda terakhir diletakkan, seluruh perahu bergetar. Suara rintihan terdengar dari segala arah. Lalu muncul sosok-sosok manusia. Puluhan. Kemudian ratusan. Mereka berdiri di atas dek. Basah. Pucat. Diam. Semua memandang Ridwan. Ia hampir kehilangan kesadaran.
Seorang lelaki tua melangkah maju. Wajahnya sama seperti sosok yang sering muncul dalam mimpi.
"Kau mengembalikannya," katanya.
Ridwan mengangguk.
"Aku minta maaf."
Lelaki itu menatapnya lama. Kemudian tersenyum tipis.
"Kau terlambat."
Jantung Ridwan mencelos.
"Maksudmu?"
Lelaki tua menunjuk ke arah laut. Ridwan mengikuti arah telunjuknya. Lalu dunia terasa runtuh. Di kejauhan, ia melihat sebuah perahu kecil. Perahunya sendiri. Terapung kosong. Tanpa awak.
Ridwan menoleh bingung.
"Aku di sini."
"Tidak," kata lelaki tua itu pelan.
"Kau sudah berada di sini sejak malam pertama."
Ridwan merasa tubuhnya membeku. Ingatan yang selama ini kabur mendadak kembali. Malam badai pertama. Saat ia melompat ke atas perahu tua. Saat ombak raksasa menghantam dari samping. Saat kepalanya terbentur keras. Saat tubuhnya terjatuh ke laut. Ia mengingat semuanya. Ia mengingat bagaimana air memenuhi paru-parunya. Bagaimana ia tenggelam. Bagaimana kesadarannya menghilang.
Ridwan mundur perlahan.
"Tidak..."
Namun jauh di dasar hatinya, ia tahu itu benar. Ia menatap tangannya. Kulitnya mulai berubah pucat. Basah. Air laut menetes dari ujung jarinya.
"Keluargaku..." bisiknya.
"Mereka tidak pernah melihatmu pulang," jawab lelaki tua itu.
"Apa yang mereka lihat hanyalah bayanganmu."
Air mata mengalir di wajah Ridwan. Tetapi air mata itu bercampur air laut.
"Aku sudah mati?"
Lelaki tua mengangguk.
"Seperti kami semua."
Ridwan memandang ratusan sosok di sekelilingnya. Kini ia mengerti. Mereka bukan menghantuinya. Mereka mencoba memperingatkannya. Mereka adalah para korban yang pernah menemukan perahu ini. Para nelayan. Pelaut. Penumpang kapal. Semua yang mati setelah mengambil sesuatu dari dalamnya. Perahu tua itu bukan sumber kutukan. Melainkan perangkap bagi jiwa-jiwa yang menolak menerima kematian.
Langit tiba-tiba menjadi tenang. Badai menghilang. Laut berubah datar seperti kaca. Di kejauhan, cahaya keemasan muncul di cakrawala. Para sosok mulai berjalan menuju cahaya tersebut. Satu per satu. Lelaki tua menoleh kepada Ridwan.
"Saatnya pulang."
Ridwan menatap ke arah rumah yang tidak bisa lagi ia capai. Ia membayangkan istrinya. Anaknya. Kehidupan yang sudah tidak menjadi miliknya. Lalu perlahan ia mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak malam badai itu, rasa takut menghilang. Ia melangkah mengikuti rombongan arwah menuju cahaya.
Dan ketika sosok terakhir menghilang, perahu tua itu mulai lapuk dalam hitungan detik. Kayunya hancur. Tiangnya roboh. Lalu seluruh perahu tenggelam ke dasar laut.
Keesokan paginya, para nelayan menemukan bangkai perahu Ridwan yang hanyut jauh dari pantai. Di dalamnya tidak ada seorang pun. Hanya sebuah kompas kuno yang terletak di tengah dek. Jarumnya bergerak perlahan. Berputar. Lalu berhenti. Menunjuk ke arah laut lepas. Seolah sedang menunggu korban berikutnya.