Siang itu, kantin SMA Unggul dipenuhi suara percakapan, derit kursi yang bergeser, dan tawa para siswa yang seolah tidak pernah kehabisan alasan untuk bersenang-senang. Aroma mi goreng, bakso, dan teh manis bercampur menjadi satu, memenuhi udara yang terasa panas meskipun beberapa kipas angin berputar tanpa henti di langit-langit.
Di salah satu meja dekat jendela, Farhan duduk bersama tiga orang temannya: Dimas, Dika, dan Fikri. Mereka baru saja menyelesaikan pelajaran matematika yang membuat kepala terasa penuh angka dan rumus. Kini, seperti kebanyakan anak SMA lainnya, mereka hanya ingin menikmati waktu istirahat tanpa memikirkan apa pun yang berhubungan dengan pelajaran.
Farhan sedang mengaduk es tehnya ketika Dimas tiba-tiba menyenggol lengannya.
“Han, lihat sana.”
“Apaan?” Farhan mengangkat kepala sekilas.
“Itu, dua cewek yang baru lewat.”
Farhan mengikuti arah telunjuk Dimas. Di dekat pintu kantin, dua gadis berseragam putih abu-abu sedang berjalan sambil mengobrol. Salah satunya berambut sebahu, dengan wajah tenang dan langkah santai. Gadis itu sesekali tersenyum mendengar sesuatu yang dikatakan temannya.
Namanya Noya. Namun, Farhan belum mengetahui hal itu. Baginya, kedua gadis tersebut hanyalah siswi dari kelas lain yang kebetulan melewati meja mereka.
“Yang rambut sebahu itu lumayan, kan?” Dika menyeringai.
“Lumayan apanya? Biasa saja,” jawab Farhan, kembali menatap gelasnya.
“Biasa saja, katanya.” Dimas tertawa kecil. “Kalau begitu, kita bikin taruhan.”
Fikri yang sejak tadi sibuk mengunyah gorengan langsung mengangkat wajah. “Taruhan apa?”
“Siapa yang paling cepat mendapatkan nomor HP cewek itu, dia menang. Yang kalah traktir bakso seminggu.”
Dika langsung menyambut ide tersebut. Fikri ikut tertawa, seolah taruhan kecil itu merupakan perkara paling penting yang pernah mereka bicarakan hari itu.
Farhan menggeleng.
“Buat apa begituan?”
“Ah, jangan sok dewasa. Cuma permainan.”
“Aku enggak tertarik.”
“Justru karena enggak tertarik, kamu harus ikut. Biar seru.” Dimas menepuk bahunya. “Lagian, siapa tahu kamu malah menang.”
Farhan mengembuskan napas panjang. Ia tidak benar-benar ingin ikut, tetapi tiga pasang mata di hadapannya terus menatap dengan senyum penuh tantangan. Akhirnya, demi menghentikan ocehan mereka, ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
“Iya, iya. Terserah kalian.”
“Bagus!” seru Dika.
Mereka segera menyepakati taruhan itu dengan penuh semangat, tanpa memikirkan bahwa seseorang yang tidak mereka kenal sedang dijadikan bagian dari taruhan.
Sementara itu, Farhan kembali meminum es tehnya. Ia bahkan tidak bertanya siapa nama gadis yang mereka incar.
Entah mengapa, saat kedua gadis itu menghilang di balik pintu kantin, ada sesuatu yang tertinggal di sudut ingatannya. Bukan wajah yang terasa asing itu, melainkan perasaan samar yang belum sempat ia pahami. Seperti pernah mengenal seseorang, tetapi lupa di mana.
***
Keesokan harinya, Dimas datang ke kelas dengan wajah penuh kemenangan.
“Aku sudah tahu namanya!”
Farhan yang sedang menyalin sesuatu di buku catatannya hanya melirik sekilas.
“Siapa?”
“Noya. Kelas sebelas IPA satu.”
“Oh.”
Dimas memandangnya tidak percaya. “Cuma oh?”
“Memangnya harus bagaimana?”
“Han, kamu itu peserta taruhan. Setidaknya, bersemangatlah sedikit.”
Farhan terkekeh. “Kalau begitu, silakan kamu saja yang menang.”
Sayangnya, teman-temannya tidak membiarkannya mundur semudah itu. Sepanjang hari, mereka terus mendorong Farhan agar mencoba mendekati Noya. Mereka menyuruhnya menyapa saat berpapasan, mencari alasan untuk meminjam buku, bahkan menawarkan diri untuk mengatur pertemuan yang sebenarnya tidak dibutuhkan siapa pun. Dan Farhan menolak hampir semuanya.
Namun, pada hari Kamis, keadaan berubah. Saat jam istirahat, ia pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku sejarah. Ketika keluar, ia melihat seorang gadis berdiri di depan papan pengumuman, semacam sibuk membaca daftar kegiatan sekolah. Noya. Gadis itu sedang sendirian.
Farhan sebenarnya bisa saja berjalan melewatinya. Ia juga bisa berpura-pura tidak melihat. Akan tetapi, entah karena dorongan teman-temannya atau sekadar rasa penasaran yang mulai tumbuh, ia akhirnya berhenti beberapa langkah darinya.
“Permisi.”
Noya menoleh.
“Iya?”
Farhan mendadak kehilangan kalimat yang sempat disusun di dalam ingatannya beberapa saat yang lalu. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada seorang gadis yang bahkan belum pernah benar-benar diajaknya bicara.
“Eh, kamu Noya, kan?”
Noya mengangguk pelan. “Iya. Kamu?”
“Farhan.”
“Farhan?” Gadis itu mengernyit sebentar, seolah sedang mencari sesuatu di dalam ingatannya. “Oh, iya. Farhan.”
Ada jeda singkat di antara mereka. Farhan tidak menyadari bahwa Noya mengenali namanya bukan dari perkenalan itu, melainkan dari sebuah ingatan lama yang sudah bertahun-tahun disimpannya.
“Ada apa?” tanya Noya.
Farhan menggaruk tengkuknya.
“Boleh minta nomor HP kamu?”
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat. Bahkan Farhan sendiri merasa kalimatnya terdengar aneh. Noya terdiam. Untuk sesaat, ia memandangi wajah laki-laki di hadapannya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan dari situasi itu. Seseorang yang pernah diam-diam ia perhatikan selama bertahun-tahun kini berdiri di depannya, meminta nomor telepon dengan kecanggungan seorang asing.
“Buat apa?” tanyanya akhirnya.
Farhan terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan sesuatu tentang taruhan konyol di kantin.
“Buat... komunikasi saja,” jawabnya.
Noya hampir tertawa, tetapi ia menahannya. Namun semacam tidak memiliki alasan untuk menolak, ia kemudian menyebutkan nomornya.
Farhan mencatat nomor tersebut dengan tangan yang terasa sedikit kaku.
“Terima kasih,” katanya.
“Iya.”
Mereka kemudian berpisah tanpa melanjutkan percakapan.
Dari kejauhan, Dimas yang mengintip di balik pintu perpustakaan mengacungkan kedua jempolnya. Farhan hanya memandangnya dengan kesal sembari terus berjalan. Ia berhasil mendapatkan nomor Noya. Akan tetapi, Farhan tidak merasa sedang memenangkan sesuatu.
***
Malam itu, Farhan duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi layar ponsel. Nomor Noya sudah tersimpan di daftar kontaknya, tetapi ruang percakapan mereka masih kosong.
Ia mengetik sebuah pesan.
Hai, ini Farhan yang tadi di perpustakaan.
Dibacanya kalimat itu berulang kali sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Beberapa menit berlalu. Farhan meletakkan ponselnya, mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka buku pelajaran. Namun, belum sempat membaca satu paragraf, ponselnya bergetar.
Noya: Iya. Ada apa?
Farhan tersenyum kecil. Ia tidak menyangka Noya akan membalas secepat itu.
Farhan: Enggak ada apa-apa. Cuma mau menyapa.
Noya: Oh, kukira ada sesuatu yang penting.
Farhan tertawa pelan membaca balasan itu. Entah mengapa, percakapan sederhana tersebut membuatnya merasa sedikit lebih ringan. Ia sempat berpikir untuk melanjutkan percakapan itu. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin terlihat terlalu bersemangat.
Padahal, jika ia mau jujur, bukan pesan tersebut yang membuatnya gelisah. Ada sesuatu pada mata Noya yang membuat ingatan lamanya bergerak perlahan, seperti pintu yang sudah lama tertutup dan kini diketuk dari sisi lain. Sebuah ruang kelas SMP. Bangku-bangku yang tersusun rapi. Jendela di sebelah kanan. Dan seorang gadis yang duduk dua baris di depannya. Noya.
***
Tiga tahun sebelumnya, Farhan dan Noya pernah berada di kelas yang sama selama dua tahun berturut-turut. Mereka bukan teman dekat. Bahkan, jika seseorang bertanya apakah mereka pernah mengobrol panjang, mungkin keduanya akan kesulitan mengingat satu percakapan yang benar-benar berarti.
Farhan bukan siswa populer. Ia juga bukan anak pendiam yang menghabiskan seluruh waktunya dengan buku. Ia bermain bersama teman-temannya, mengerjakan tugas seadanya, dan tertawa ketika ada sesuatu yang lucu. Kehadirannya biasa saja, seperti satu nama di antara puluhan nama lain dalam daftar absensi kelas.
Noya tidak jauh berbeda. Ia memiliki beberapa teman dekat, menyukai obrolan ringan, dan sesekali ikut tertawa di kelas. Namun, ia tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian. Ia juga tidak terlalu peduli pada siapa yang sedang disukai teman-temannya atau siapa yang sedang menjadi bahan pembicaraan.
Keduanya menjalani hari-hari sebagai siswa biasa. Namun justru karena itulah, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa di antara kesederhanaan tersebut, ada sesuatu yang perlahan dengan tumbuh.
Farhan mulai memperhatikan Noya ketika suatu pagi gadis itu meminjamkan penghapus kepada seorang siswa yang tidak terlalu disukainya. Noya melakukannya tanpa banyak bicara, lalu kembali mengerjakan tugasnya seolah tidak ada sesuatu yang istimewa. Tapi hal kecil itu melekat dalam ingatan Farhan.
Kemudian ada hari ketika Noya tertawa karena lelucon seorang teman, ada saat ia menggulung lengan seragamnya ketika cuaca panas, dan ada kebiasaan kecilnya mengetuk ujung pensil ke meja saat sedang berpikir.
Farhan tidak pernah menyebut semua itu sebagai cinta. Ia hanya merasa senang ketika melihat Noya hadir di kelas, dan sedikit kecewa ketika gadis itu tidak masuk sekolah.
Noya pun mengalami hal serupa. Ia mulai menyadari keberadaan Farhan ketika suatu hari laki-laki itu membela seorang teman yang diejek karena salah menjawab pertanyaan guru. Farhan tidak berpidato panjang. Ia hanya berkata bahwa setiap orang bisa salah dan tidak ada gunanya menertawakan seseorang yang sedang belajar.
Setelah itu, Noya memperhatikannya dengan cara yang tidak ia pahami. Ia tahu Farhan tidak selalu mendapatkan nilai tinggi. Ia tahu laki-laki itu terkadang terlambat mengumpulkan tugas. Ia juga tahu Farhan sering tertawa terlalu keras ketika berkumpul bersama teman-temannya.
Namun, di balik semua hal biasa itu, Noya melihat sesuatu yang membuatnya merasa nyaman. Sayangnya, rasa nyaman tidak selalu cukup untuk melahirkan keberanian.
Farhan pernah berniat menyapa Noya setelah pelajaran olahraga. Ia bahkan sudah berjalan mendekat ketika melihat gadis itu membereskan tasnya. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, seorang teman memanggilnya untuk bergerak ke arah lain.
Farhan pergi. Noya melihatnya dari sudut mata. Ia menunggu beberapa detik, berharap Farhan menoleh kembali. Laki-laki itu tidak melakukannya.
Di lain waktu, Noya pernah menulis nama Farhan di halaman belakang buku catatannya. Ia kemudian mencoretnya karena merasa malu kepada dirinya sendiri, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.
Mereka terus menjalani hari-hari seperti itu: saling memperhatikan dari kejauhan, saling menunggu tanpa pernah membuat janji, dan diam-diam berharap seseorang akan memulai sesuatu yang bahkan belum memiliki nama. Ada banyak hal yang terjadi. Dan, tanpa mereka sadari, hari kelulusan SMP pun akhirnya tiba.
Pada hari perpisahan, Farhan berdiri bersama teman-temannya di halaman sekolah. Noya berada tidak jauh darinya, berfoto dengan beberapa teman sekelas. Sesekali pandangan mereka bertemu, tetapi selalu berakhir dengan cara yang sama: salah satu dari mereka berpaling lebih dulu.
Farhan sempat berpikir untuk menghampiri Noya sebelum pulang. Ia tidak jadi melakukannya. Noya pun sempat menunggu Farhan menyapanya. Laki-laki itu tidak datang. Pada akhirnya, mereka meninggalkan sekolah membawa kenangan yang sama sekali tidak diketahui satu sama lain.
Waktu berjalan, dan perasaan yang tidak pernah diucapkan itu perlahan kehilangan bentuknya. Ketika memasuki SMA yang sama, mereka berada di kelas berbeda. Pertemuan mereka semakin jarang, percakapan tidak pernah terjadi, dan keduanya mulai memperlakukan satu sama lain seperti orang yang tidak memiliki masa lalu bersama. Bukan karena mereka membenci kenangan tersebut. Mereka hanya lelah menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.
Lama-kelamaan, Farhan mulai menganggap cinta sebagai sesuatu yang tidak perlu menjadi kenyataan. Noya juga mulai percaya bahwa perasaan yang tidak diperjuangkan mungkin memang tidak ditakdirkan untuk tumbuh.
***
Ketika Farhan memutuskan untuk tidur, ponselnya kembali bergetar.
Noya: Kamu teman SMP-ku, kan?
Farhan langsung bangkit dari tempat tidur lagi.
Ia membaca pesan itu sekali, dua kali, lalu tiga kali. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya. Ia tidak menyangka Noya masih mengingatnya dengan cukup jelas untuk menanyakan hal itu.
Farhan: Iya. Kita sekelas waktu kelas delapan dan sembilan.
Balasan Noya datang beberapa saat kemudian.
Noya: Aku ingat. Dulu kamu duduk dekat jendela, kan?
Farhan tersenyum kecil.
Farhan: Iya. Kamu duduk dua baris di depanku.
Noya: Ternyata kamu masih ingat juga.
Farhan terdiam sesaat. Bagaimana mungkin ia tidak ingat? Ia masih ingat hal-hal kecil yang bahkan mungkin tidak pernah disadari Noya. Namun, ia tidak sanggup menuliskannya. Ia takut kalimat yang terlalu jujur akan membuat percakapan mereka berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Farhan: Kamu juga masih ingat aku.
Noya: Ya, masa lupa sama teman sekelas sendiri?
Farhan terkekeh membaca balasan itu. Teman sekelas. Dua kata sederhana yang terdengar biasa, tetapi menyimpan jarak yang selama ini mereka bangun dengan susah payah.
Malam itu, mereka mengobrol cukup lama. Awalnya tentang sekolah, guru-guru SMP, dan teman-teman lama yang sekarang bersekolah di tempat berbeda. Kemudian percakapan mereka bergerak ke hal-hal sederhana: pelajaran yang menyebalkan, makanan favorit, dan kebiasaan tidur terlalu larut.
Mereka menemukan bahwa berbicara satu sama lain ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Ada kecanggungan, tentu saja. Sesekali salah satu dari mereka membalas terlalu singkat atau membutuhkan waktu lama untuk mengetik. Namun, selalu ada alasan untuk melanjutkan percakapan.
Ketika akhirnya Noya mengirim pesan terakhir, Farhan membaca kalimat itu dengan senyum yang tidak dapat disembunyikannya.
Noya: Ternyata kamu asyik juga diajak ngobrol.
Farhan menatap layar beberapa detik.
Farhan: Kamu juga.
Ia meletakkan ponselnya, kemudian menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali memikirkan kemungkinan bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan kekecewaan.
Namun, di tengah perasaan hangat itu, ia kembali teringat taruhan yang dibuat teman-temannya. Senyumnya perlahan menghilang. Ia mendapatkan nomor Noya bukan karena keberanian untuk mengenalnya, melainkan karena sebuah taruhan yang bahkan tidak ia anggap penting.
***
Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang berbeda. Farhan mulai memperhatikan kehadiran Noya di sekolah. Ia mengetahui bahwa gadis itu biasa membeli roti cokelat di kantin, bahwa ia tidak menyukai pelajaran biologi, dan bahwa ia sering menghabiskan waktu istirahat bersama seorang teman bernama Sasa.
Noya pun mulai mengenal Farhan lebih dekat. Ia mengetahui bahwa laki-laki itu suka mendengarkan musik ketika mengerjakan tugas, sering membantu teman-temannya memahami pelajaran matematika, dan ternyata memiliki selera humor yang jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan.
Mereka mulai saling menyapa ketika berpapasan di koridor. Awalnya hanya semacam anggukan kecil. Kemudian senyum. Lalu percakapan singkat yang semakin lama semakin panjang.
Suatu siang, mereka bertemu di perpustakaan. Noya sedang mencari buku untuk tugas bahasa Indonesia ketika Farhan datang membawa dua buku di tangannya.
“Kamu lagi cari apa?” tanya Farhan.
“Buku tentang cerpen. Ada tugas.”
“Rak sebelah sana. Aku tadi lihat beberapa.”
Noya mengikutinya.
Setelah menemukan buku yang dicari, mereka duduk di meja dekat jendela. Hujan turun di luar, membasahi lapangan sekolah dan membuat udara menjadi lebih sejuk.
“Kamu suka membaca?” tanya Noya.
“Kadang-kadang.”
“Jawaban orang yang enggak terlalu suka membaca.”
Farhan tertawa. “Kamu sendiri?”
“Aku suka baca cerita-cerita yang endingnya bahagia.”
“Kenapa?”
Noya menutup bukunya sebentar.
“Karena kehidupan nyata cukup sering bikin sedih. Setidaknya, dalam cerita, kita bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.”
Farhan memandang hujan di luar jendela.
“Kalau menurutku, ending bahagia itu enggak selalu berarti dua orang akhirnya bersama.”
Noya menoleh.
“Terus?”
“Mungkin seseorang bisa bahagia karena akhirnya berani mengatakan sesuatu yang selama ini dia pendam. Walaupun jawabannya enggak sesuai harapan.”
Noya terdiam. Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan sesuatu yang pernah ia alami, sesuatu yang selama ini ia simpan di bagian paling sunyi dalam dirinya.
“Berarti kamu percaya cinta?” tanyanya pelan.
Farhan tidak segera menjawab.
“Aku enggak tahu,” katanya akhirnya. “Kadang aku pikir cinta itu cuma perasaan yang bikin orang berharap terlalu banyak. Tapi kadang aku juga berpikir, mungkin yang bikin semuanya berakhir buruk bukan cintanya. Mungkin karena orang-orang terlalu takut untuk jujur.”
Noya menunduk, menyembunyikan senyum tipis di bibirnya. Ia ingin bertanya apakah Farhan pernah merasakan hal seperti itu. Ia ingin bertanya apakah laki-laki itu pernah menyukai seseorang tanpa berani mengatakannya. Namun, seperti bertahun-tahun sebelumnya, ia kembali membiarkan pertanyaan itu tinggal di dalam hati. Mereka lanjut membaca sampai hujan mereda.
Ketika pulang, Noya menyadari sesuatu yang membuatnya takut sekaligus bahagia. Perasaan yang selama ini ia yakini telah hilang ternyata hanya tertidur. Dan Farhan, tanpa mengetahui apa pun, sedang membangunkannya kembali.
***
Dua minggu kemudian, Dika menagih kabar taruhan.
“Jadi, gimana? Kamu sudah dapat nomor Noya, kan?” tanyanya saat mereka duduk di kantin.
Farhan mengangguk.
Dimas langsung bersorak. “Wah, jangan-jangan kamu yang menang!”
“Belum tentu,” sahut Fikri. “Aku juga sudah punya nomornya.”
“Serius?” Dika menepuk meja.
Percakapan mereka berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang lebih dulu mendapatkan nomor tersebut. Mereka tertawa, saling mengejek, dan membicarakan Noya seolah-olah ia hanya hadiah dalam sebuah permainan.
Farhan awalnya diam. Namun, ketika Dimas mulai menyebutkan beberapa hal tentang Noya yang tidak seharusnya menjadi bahan lelucon, ia akhirnya meletakkan gelasnya dengan sedikit keras.
“Sudahlah. Berhenti membicarakan dia seperti itu.”
Ketiga temannya terdiam.
Dimas mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu serius sama dia?”
Farhan tidak menjawab.
“Han, ini cuma taruhan,” lanjut Dika. “Jangan dibawa perasaan.”
Kalimat itu membuat Farhan merasa seolah seseorang baru saja menampar wajahnya.
Jangan dibawa perasaan. Mereka mengucapkannya dengan mudah karena bagi mereka, semua ini hanyalah permainan. Mereka tidak mengetahui percakapan panjang yang terjadi setiap malam, senyum yang muncul tanpa alasan, atau bagaimana satu pesan sederhana dari Noya dapat mengubah suasana hati Farhan sepanjang hari.
“Aku keluar dari taruhan ini,” kata Farhan.
Dimas tertawa kecil, mengira temannya sedang bercanda. Namun, Farhan berdiri dan mengambil tasnya.
“Aku serius. Kalian boleh melakukan apa saja, tapi jangan libatkan aku lagi.”
Ia meninggalkan kantin sebelum mereka sempat mengatakan sesuatu.
Hari itu, Farhan memutuskan bahwa ia tidak ingin mengenal Noya sebagai bagian dari sebuah taruhan. Jika ia ingin mendekati gadis itu, ia ingin melakukannya karena dirinya sendiri. Bukan karena kemenangan, bukan karena tantangan, dan bukan karena keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada teman-temannya.
***
Masalahnya, rahasia tidak selalu bisa disimpan selamanya.
Dua hari kemudian, Sasa mendengar cerita tentang taruhan tersebut dari seorang siswa kelas lain. Ia tidak mengetahui semua detailnya, tetapi cukup banyak untuk membuatnya khawatir.
Siang itu, ia duduk bersama Noya di taman kecil belakang sekolah.
“No, aku mau tanya sesuatu.”
Noya yang sedang merapikan buku di tasnya menoleh. “Apa?”
“Kamu dekat sama Farhan, ya?”
Noya terdiam sesaat. “Kenapa?”
Sasa ragu sebelum menjawab.
“Aku dengar dia taruhan sama teman-temannya untuk mendapatkan nomor kamu.”
Wajah Noya berubah.
Angin bertiup melewati pepohonan, menggerakkan ujung kerudung beberapa siswi yang berjalan di kejauhan. Namun, bagi Noya, suasana mendadak terasa begitu sunyi.
“Taruhan?” ulangnya.
Sasa mengangguk pelan.
“Aku enggak tahu apakah itu benar atau salah. Aku cuma enggak mau kamu terluka.”
Noya tidak menjawab.
Ia berusaha mengingat setiap percakapan mereka, setiap senyum Farhan, setiap kali laki-laki itu menyapanya di koridor. Tiba-tiba, semua kenangan itu terasa memiliki arti yang berbeda. Apakah Farhan benar-benar ingin mengenalnya? Ataukah ia hanya menjalankan permainan yang dibuat bersama teman-temannya?
Noya merasa bodoh karena telah membiarkan dirinya berharap. Ia pernah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum pasti. Namun, kini ia kembali melakukan kesalahan yang sama.
Malam itu, pesan Farhan masuk seperti biasa.
Farhan: Hari ini capek banget. Tadi guru matematika kasih tugas lagi.
Noya membaca pesan tersebut lama sekali. Ia ingin membalas seperti biasanya. Ia ingin mengeluh tentang tugas biologi, menceritakan kejadian lucu di kelas, dan menanyakan bagaimana hari Farhan. Namun, jarinya semacam tidak mau bergerak.
Akhirnya, ia hanya membalas singkat.
Noya: Oh.
Farhan langsung menyadari perubahan itu.
Farhan: Kamu kenapa?
Noya: Enggak apa-apa.
Farhan: Kamu marah sama aku?
Tidak ada jawaban.
Farhan menunggu selama beberapa menit, kemudian mengirim pesan lagi.
Farhan: No, kalau aku salah, bilang saja. Aku enggak mau kita jadi begini.
Noya memandangi layar dengan mata yang mulai terasa panas.
Justru itulah masalahnya. Ia tidak ingin hubungan mereka menjadi seperti ini. Ia tidak ingin kembali kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi miliknya. Namun, ia lebih takut jika semua yang ia rasakan ternyata hanyalah sesuatu berdiri di atas kebohongan.
Noya: Kamu minta nomor aku karena taruhan, ya?
Farhan membeku. Ia membaca kalimat itu berulang kali, berharap ada cara untuk mengubah kenyataan. Ia bisa berbohong. Ia bisa mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Namun, ia tahu bahwa kebohongan hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
Farhan: Awalnya, iya.
Pesan itu terkirim. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka mulai dekat, Farhan berharap ia bisa menarik kembali sebuah kalimat.
Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Kemudian ponselnya bergetar.
Noya: Berarti aku cuma bagian dari permainan.
Farhan: Bukan begitu, No. Awalnya memang karena taruhan, tapi sekarang bukan itu lagi.
Noya: Terus aku harus percaya begitu saja?
Farhan tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin menjelaskan bahwa taruhan itu sudah ia tinggalkan. Ia ingin mengatakan bahwa ia menyesali semuanya. Ia bahkan ingin mengaku bahwa Noya bukan sekadar gadis yang ingin ia dekati, melainkan seseorang yang diam-diam telah ia sukai sejak mereka masih mengenakan seragam putih biru.
Namun, bagaimana ia bisa meminta Noya mempercayai perasaan yang selama bertahun-tahun bahkan tidak berani ia akui sendiri?
Farhan: Aku minta maaf.
Balasan Noya datang setelah jeda panjang.
Noya: Aku tidak suka dijadikan bahan taruhan, Han.
Setelah itu, percakapan mereka berhenti.
Farhan duduk diam di tepi tempat tidur. Ponsel masih berada di tangannya, tetapi layar yang menyala tidak lagi memberikan kehangatan seperti malam-malam sebelumnya. Ia baru menyadari bahwa terkadang, sesuatu yang dimulai dengan cara yang salah dapat melukai seseorang bahkan ketika niat di belakangnya telah berubah. Dan penyesalan, betapapun tulusnya, tidak selalu cukup untuk memperbaiki luka yang terlanjur memiliki bekas.
***
Hari-hari berikutnya terasa panjang.
Di sekolah, Farhan dan Noya kembali menjadi dua orang yang hampir tidak saling mengenal. Mereka tidak lagi menyapa ketika berpapasan. Jika kebetulan berada di kantin pada waktu yang sama, salah satu akan mencari tempat duduk lain.
Keadaan itu mengingatkan mereka pada masa SMP, ketika mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam jarak beberapa meter tanpa pernah benar-benar mendekat. Bedanya, dahulu mereka diam karena takut memulai. Sekarang, mereka diam karena takut terluka.
Farhan tidak berusaha memaksa Noya untuk memaafkannya. Ia tahu permintaan maaf tidak memberinya hak untuk kembali memasuki kehidupan seseorang. Jika Noya membutuhkan jarak, ia akan menghormatinya. Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Setiap kali melihat Noya tertawa bersama Sasa, ia merasa lega sekaligus sedih. Ia lega karena gadis itu masih bisa tersenyum, tetapi sedih karena ia bukan lagi bagian dari alasan di balik senyum itu.
Sementara itu, Noya berusaha meyakinkan dirinya bahwa menjauh adalah keputusan yang tepat. Ia kembali melakukan hal-hal seperti biasa. Mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, mengobrol dengan teman-temannya, dan menghabiskan waktu istirahat di kantin. Tetapi ada saat-saat ketika ia secara tidak sengaja mencari sosok Farhan di antara kerumunan siswa. Ada pula malam ketika ia membuka ruang percakapan mereka, membaca kembali pesan-pesan lama, lalu menutupnya dengan mata berkaca-kaca. Ia marah kepada Farhan. Namun, ia juga marah kepada dirinya sendiri karena masih merindukannya.
Bukankah seharusnya seseorang berhenti menyukai orang yang telah membuatnya kecewa? Sayangnya, hati tidak selalu bekerja berdasarkan apa yang dianggap masuk akal. Perasaan bisa bertahan bahkan ketika kepercayaan mulai retak. Kenangan bisa tetap menghangatkan meskipun orang yang menciptakannya telah menjadi sumber kesedihan.
Noya mulai memahami bahwa melupakan seseorang tidak semudah memutuskan untuk berhenti mengingatnya. Terlebih jika orang itu telah hadir dalam hidupnya jauh sebelum mereka berani menyebut perasaan tersebut sebagai cinta.
***
Sebulan kemudian, sekolah mengadakan kegiatan pentas seni sekaligus penggalangan dana untuk membantu seorang siswa yang sedang menjalani pengobatan. Setiap kelas diminta menyiapkan penampilan atau menjual makanan, dan seluruh siswa diperbolehkan ikut menjadi sukarelawan.
Noya bertugas di meja penjualan makanan bersama Sasa. Farhan membantu bagian perlengkapan di aula.
Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi siswa. Musik terdengar dari pengeras suara, sementara para guru mengawasi jalannya kegiatan dari berbagai sudut.
Menjelang siang, hujan turun tiba-tiba. Para siswa berlarian menyelamatkan barang-barang yang diletakkan di halaman. Meja penjualan Noya berada cukup dekat dengan sisi lapangan, sehingga beberapa kardus makanan mulai terkena percikan air.
Sasa sedang mencari terpal ketika sebuah tangan muncul membantu mengangkat kardus paling besar. Farhan. Tanpa mengatakan apa-apa, ia memindahkan kardus itu ke tempat yang lebih aman, lalu membantu mengangkat meja ke bawah atap koridor.
Noya berdiri mematung selama beberapa detik.
“Yang ini juga,” kata Farhan, menunjuk kardus lain.
Noya segera bergerak membantunya.
Mereka bekerja dalam diam. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada senyum canggung, hanya dua orang yang berusaha menyelamatkan barang-barang dari hujan.
Setelah semuanya aman, Farhan hendak pergi.
“Han.”
Ia berhenti.
Noya berdiri di dekat meja, menggenggam ujung lengan seragamnya.
“Makasih.”
Farhan mengangguk. “Sama-sama.”
Ia kembali berbalik, tetapi suara Noya menahannya sekali lagi.
“Kamu enggak harus melakukan semua itu.”
Farhan memandangnya.
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu tetap bantu?”
Farhan terdiam sebentar, kemudian menjawab dengan tenang.
“Karena kamu butuh bantuan.”
Jawaban itu sederhana. Tidak ada rayuan, tidak ada usaha untuk terlihat hebat, dan tidak ada permintaan agar Noya mengubah pandangannya terhadap dirinya. Farhan hanya mengatakan sesuatu yang menurutnya benar.
Noya menatapnya lama-lama. Di antara suara hujan dan keramaian siswa, ia mulai memahami bahwa mungkin ada perbedaan antara seseorang yang berusaha mendapatkan hati orang lain dan seseorang yang benar-benar peduli kepada orang tersebut. Namun, memahami bukan berarti langsung memaafkan.
“Han,” katanya pelan, “aku masih kecewa sama kamu.”
Farhan mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku enggak suka dijadikan taruhan.”
“Aku juga enggak seharusnya ikut.”
Noya menunduk. Ia tidak menyangka Farhan akan mengakui kesalahannya tanpa berusaha membela diri.
“Aku enggak percaya lagi sama kamu,” lanjutnya.
“Enggak apa-apa.”
Farhan menarik napas.
“Aku enggak minta kamu percaya. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku benar-benar menyesal.”
Hujan mulai mereda. Beberapa siswa kembali berlarian ke halaman, tetapi Farhan dan Noya masih berdiri di bawah atap koridor.
“Aku dulu juga pernah salah,” kata Farhan tiba-tiba.
Noya mengangkat wajahnya.
“Dulu, waktu SMP, aku pernah ingin bicara sama kamu. Berkali-kali. Tapi aku selalu mengurungkan niat.”
Noya terdiam.
“Aku enggak tahu kenapa aku bilang ini sekarang. Mungkin karena aku capek terus berpura-pura enggak peduli.”
Farhan tersenyum tipis, meskipun matanya menyimpan kesedihan.
“Dulu aku pikir, kalau memang seseorang ditakdirkan untuk kita, pasti akan ada kesempatan. Jadi aku cuma menunggu. Ternyata waktu tetap berjalan, meskipun kita enggak melakukan apa-apa.”
Jantung Noya berdegup lebih cepat. Ia ingin bertanya apa maksud perkataan Farhan. Namun, ada sesuatu yang membuatnya takut mendengar jawaban yang mungkin selama ini ia tunggu. Farhan tidak melanjutkan pembicaraan itu. Ia hanya berpamitan untuk kembali membantu persiapan acara.
Noya memperhatikannya berjalan menjauh. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia tidak melihat Farhan sebagai seseorang yang telah menghancurkan harapannya. Ia melihat seorang laki-laki yang juga pernah takut, pernah salah mengambil keputusan, dan kini sedang belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Barangkali, pikir Noya, cinta yang tulus tidak selalu datang melalui tindakan besar. Terkadang, justru hadir melalui kesediaan seseorang untuk mengakui kesalahan tanpa menuntut pengampunan.
***
Siang harinya, setelah kegiatan sekolah selesai, Noya menemukan sebuah buku catatan kecil di meja penjualan makanan. Buku itu milik Farhan, tertinggal ketika ia membantu memindahkan perlengkapan.
Noya berniat menyerahkannya ke ruang guru. Namun, ketika hendak memasukkannya ke dalam tas, selembar kertas kecil terjatuh dari sela-sela halaman.
Ia memungutnya. Di sana terdapat beberapa baris tulisan tangan.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tetapi aku hanyalah pengecut yang takut menghadapi kenyataan. Aku pikir diam adalah keputusan terbaik, tapi justru membuatku kehilangan kesempatan.
Noya membaca tulisan itu dengan dada terasa sesak. Ia tidak tahu kapan Farhan menuliskannya. Ia juga tidak tahu apakah tulisan itu ditujukan kepada seseorang. Namun, tanpa alasan yang jelas, ia teringat kembali pada masa SMP, pada dua orang yang duduk dalam satu kelas tetapi tidak pernah benar-benar saling menyapa.
Noya menutup buku tersebut. Ia tidak ingin membaca sesuatu yang bukan miliknya. Kertas itu ia selipkan kembali ke halaman tempatnya ditemukan, lalu ia membawa buku tersebut ke ruang kelas Farhan.
Ketika sampai, ia melihat Farhan sedang membereskan beberapa kursi.
“Han.”
Farhan menoleh, tampak terkejut.
“Kamu ketinggalan ini.”
Noya menyerahkan buku catatan itu.
“Oh, iya. Makasih.”
Mereka terdiam beberapa saat.
Kemudian Noya mengumpulkan keberanian yang selama ini selalu gagal ia temukan.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Farhan menunggu.
“Waktu SMP, kamu pernah suka sama seseorang?”
Pertanyaan itu membuat Farhan membeku. Ia menatap Noya, mencoba memahami mengapa gadis itu menanyakannya. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mencari alasan untuk menghindari jawaban.
“Pernah,” katanya.
Noya menggenggam tali tasnya lebih erat.
“Orang itu... aku kenal?”
Farhan mengangguk pelan.
“Iya.”
Jantung Noya terasa berdegup hingga ke telinganya.
“Siapa?”
Farhan menatapnya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, begitu banyak kenangan yang selama ini hanya hidup di dalam pikirannya. Namun, kali ini ia tidak ingin bersembunyi di balik alasan bahwa waktu belum tepat.
“Namanya Noya.”
Dunia seakan berhenti bergerak. Noya memandang Farhan tanpa berkedip. Ia menunggu laki-laki itu tertawa dan mengatakan bahwa semua itu hanya lelucon, tetapi Farhan tidak melakukannya.
“Aku suka kamu sejak SMP,” lanjut Farhan. “Tapi aku enggak pernah punya keberanian untuk bilang. Waktu masuk SMA, aku pikir perasaan itu sudah hilang. Aku pikir aku sudah melupakannya.”
Ia berhenti sebentar.
“Lalu aku mulai bicara sama kamu lagi, dan ternyata aku salah.”
Mata Noya mulai berkaca-kaca.
“Kenapa kamu enggak pernah bilang?”
Farhan tersenyum hambar.
“Karena aku pengecut.”
“Jangan bilang begitu.”
“Tapi itu kenyataannya. Aku terlalu takut ditolak sampai akhirnya memilih enggak melakukan apa-apa. Aku bahkan membiarkan kamu mengira aku cuma mendekat karena taruhan.”
Noya menunduk. Air matanya jatuh sebelum sempat ia tahan.
“Aku juga suka kamu waktu SMP,” katanya lirih.
Farhan terdiam.
“Aku juga pernah menunggu kamu bicara. Aku pikir suatu hari kamu akan datang dan mengatakan sesuatu. Tapi kamu enggak pernah datang.”
Ia mengusap pipinya.
“Lama-lama aku capek nunggu. Aku pikir mungkin perasaan itu cuma milikku sendiri. Jadi aku berusaha melupakannya.”
Farhan merasa dadanya sesak.
Selama bertahun-tahun, mereka ternyata menyimpan harapan yang sama. Mereka menunggu hal yang sama, menginginkan hal yang sama, tetapi membiarkan ketakutan menentukan arah hidup mereka.
“Aku minta maaf, No,” kata Farhan. “Bukan cuma soal taruhan. Aku juga minta maaf karena dulu enggak pernah berani bicara.”
Noya menggeleng pelan.
“Kita sama-sama salah, Han.”
“Enggak. Soal taruhan itu salahku.”
Noya tidak membantah. Ia tahu Farhan benar. Perasaan lama mereka tidak menghapus kenyataan bahwa Farhan pernah membiarkannya menjadi bagian dari permainan yang merendahkan harga dirinya.
“Aku masih suka sama kamu,” kata Noya akhirnya. “Dan mungkin itu yang paling bikin aku marah pada diriku sendiri.”
Farhan memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku enggak minta kamu memaafkan aku. Aku juga enggak mau kamu menerima perasaanku cuma karena kamu pernah menyukaiku dulu.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku cuma ingin jujur. Aku suka kamu, No. Bukan karena taruhan, bukan karena teman-temanku, dan bukan karena aku ingin menang. Aku suka kamu karena kamu adalah kamu.”
Noya kembali menangis. Bukan karena semua masalah mereka tiba-tiba menghilang, melainkan karena untuk pertama kalinya, perasaan yang selama ini ia simpan akhirnya mendapatkan jawaban. Namun, jawaban itu datang bersama kenyataan bahwa cinta tidak bisa menghapus kesalahan, dan kejujuran tidak dapat memutar kembali waktu.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa percaya lagi sama kamu,” katanya.
Farhan mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Tapi aku juga enggak mau terus berpura-pura kalau aku enggak punya perasaan sama kamu.”
Senyum kecil muncul di wajah Farhan.
Noya mengusap air matanya, lalu menatapnya dengan lebih tenang.
“Kalau kita mau mencoba, aku mau kita mulai dari awal. Pelan-pelan. Tanpa taruhan, tanpa permainan, dan tanpa saling menebak.”
Farhan mengangguk mantap.
“Ya.”
“Dan kalau ada masalah, kita harus bicara. Jangan menghilang, jangan berpura-pura enggak peduli.”
“Ya.”
Noya mengulurkan tangannya.
“Teman dulu?”
Farhan memandang tangan itu sebelum menyambutnya.
“Teman dulu.”
Mereka tertawa kecil di antara air mata yang belum sepenuhnya kering. Tidak ada pelukan dramatis, tidak ada janji bahwa mereka akan bersama selamanya, dan tidak ada kata-kata indah tentang takdir yang akhirnya mempertemukan dua hati.
Hanya dua remaja berusia enam belas tahun yang sedang belajar bahwa menyukai seseorang tidak otomatis membuat mereka tahu cara mencintainya dengan benar.
***
Sejak hari itu, Farhan dan Noya mulai membangun hubungan mereka kembali. Mereka tidak langsung menjadi pasangan. Mereka masih duduk di kelas yang berbeda, masih memiliki kesibukan masing-masing, dan terkadang masih merasa canggung. Namun, mereka mulai melakukan sesuatu yang dahulu tidak pernah mereka lakukan: berbicara dengan jujur.
Farhan tidak lagi menyembunyikan perasaannya di balik lelucon. Jika ia ingin bertemu Noya saat istirahat, ia akan mengatakannya. Jika ia merasa khawatir, ia akan bertanya. Ia belajar bahwa perhatian tidak harus selalu berbentuk tindakan besar; terkadang, mendengarkan dengan sungguh-sungguh jauh lebih berarti.
Noya pun mulai belajar memberi ruang bagi kepercayaan untuk tumbuh kembali. Ia tidak memaksa dirinya melupakan kekecewaan dalam semalam, tetapi ia juga tidak menjadikan kesalahan Farhan sebagai alasan untuk menghukum mereka berdua selamanya.
Mereka berteman. Mereka mengobrol sepulang sekolah, mengerjakan tugas bersama di perpustakaan, dan sesekali duduk di kantin sambil membicarakan hal-hal yang tidak penting.
Dimas, Dika, dan Fikri akhirnya mengetahui bahwa Farhan memiliki perasaan terhadap Noya. Setelah beberapa kali merasa canggung, mereka meminta maaf karena telah memperlakukan Noya seperti objek permainan. Farhan tidak menjadikan permintaan maaf itu alasan untuk membenci mereka, tetapi ia juga memastikan bahwa mereka memahami mengapa lelucon semacam itu tidak selalu lucu bagi orang yang menjadi sasarannya.
***
Waktu berjalan. Suatu siang, beberapa bulan setelah kejadian itu, Farhan dan Noya duduk di bangku taman sekolah. Dari lapangan terdengar suara siswa yang sedang berlatih untuk pertandingan antarkelas.
Noya memandangi langit.
“Han, menurutmu cinta itu sebenarnya apa?”
Farhan berpikir sebentar.
“Dulu aku kira cinta itu soal menemukan seseorang yang tepat.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku pikir, cinta juga soal belajar menjadi seseorang yang tepat untuk orang lain. Bukan dengan mengubah diri kita menjadi orang yang berbeda, tapi dengan belajar menghargai, mendengarkan, dan bertanggung jawab.”
Noya tersenyum tipis.
“Jawabanmu terlalu serius.”
“Karena pertanyaannya juga serius.”
Noya tertawa pelan, lalu kembali menatap langit.
“Aku dulu percaya kalau dua orang memang saling suka, mereka pasti akan berakhir bersama.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku enggak tahu. Mungkin enggak semua cerita harus berakhir bahagia. Mungkin ada yang harus berpisah, ada yang harus belajar melepaskan.”
Farhan mengangguk.
“Tapi setidaknya, kita enggak harus membiarkan ketakutan memutuskan semuanya sebelum kita mencoba.”
Noya menoleh kepadanya.
“Kalau suatu hari kita ternyata enggak bisa bersama, kamu bakal menyesal?”
Farhan terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Mungkin aku akan sedih. Tapi aku enggak mau menyesal karena enggak pernah mencoba. Aku lebih memilih pernah jujur dan menerima kenyataan daripada menghabiskan bertahun-tahun bertanya-tanya tentang sesuatu yang bahkan enggak pernah kuperjuangkan.”
Noya memandangnya dengan mata yang lembut. Lalu, perlahan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Farhan.
Farhan tidak bergerak selama beberapa detik. Ia hanya ingin membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang sederhana itu, sesuatu yang dahulu bahkan tidak berani ia bayangkan.
“Aku juga enggak mau terus menunggu,” bisik Noya.
Farhan menoleh sedikit.
“Menunggu apa?”
Noya mengangkat kepala dan menatapnya.
“Menunggu kamu menyatakan perasaanmu.”
Farhan tersenyum, kali ini tanpa keraguan yang selama bertahun-tahun menghantuinya.
“Kalau begitu, boleh aku mengatakan sesuatu sekarang?”
Noya mengangguk.
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Bukan cuma sebagai teman SMP yang pernah kusukai, bukan juga sebagai gadis yang kudekati karena taruhan. Aku ingin mengenalmu sebagai dirimu yang sekarang, dengan segala kelebihan, kekurangan, dan hal-hal yang mungkin belum kuketahui.”
Ia menarik napas.
“Aku ingin mencoba mencintaimu dengan cara yang benar. Kalau kamu bersedia, kita jalani ini bersama-sama.”
Noya tersenyum. Air mata tipis kembali menggenang di sudut matanya, tetapi kali ini ia tidak berusaha untuk menyembunyikannya.
“Aku mau, Han.”
Farhan mengulurkan tangannya, dan Noya menyambutnya.
Di bawah langit siang yang perlahan berubah menjadi sedikit gelap karena cuaca yang sedikit mendung, mereka duduk berdampingan, menggenggam tangan satu sama lain.
Mereka tidak tahu apakah kisah ini akan berakhir dengan pernikahan, perpisahan, atau jalan lain yang belum bisa mereka bayangkan. Mereka hanya tahu bahwa hari ini, mereka memilih untuk mencoba. Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang paling tulus.
Mereka pernah kehilangan kesempatan karena terlalu lama diam. Mereka pernah hampir kehilangan satu sama lain karena sebuah kesalahan. Namun, pada akhirnya, mereka memilih untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Sebab cinta yang tulus bukan sekadar tentang siapa yang datang lebih dahulu atau siapa yang paling lama bertahan. Cinta yang tulus adalah tentang bagaimana seseorang memperlakukan hati yang dipercayakan kepadanya.
Di antara derap langkah siswa yang mulai meninggalkan sekolah, Farhan dan Noya tetap duduk di bangku taman, menikmati beberapa menit terakhir sebelum pulang.
Tidak ada janji untuk selamanya. Hanya sebuah keputusan untuk tidak lagi bersembunyi di balik ketakutan, dan sebuah harapan sederhana bahwa selama mereka terus belajar memahami satu sama lain, mereka akan memiliki kesempatan untuk menulis kisah yang lebih baik.
Kali ini, bukan sebagai dua orang yang saling menunggu. Melainkan sebagai dua hati yang berani berjalan berdampingan.