Liburan sekolah akhirnya tiba. Bagi Sisi, anak perempuan berusia sepuluh tahun, liburan adalah kesempatan untuk melakukan tiga hal penting: tidur lebih lama, makan tanpa terburu-buru, dan bermain gawai sampai Ibu berteriak dari dapur.
Namun, liburan kali ini berbeda. Ayah dan Ibu mengajaknya pulang ke desa untuk mengunjungi Nenek dan Kakek.
“Yah, di desa ada Wi-Fi, kan?” tanya Sisi sambil memasukkan pakaian ke dalam koper.
Ayah mengangkat alis. “Ada.”
“Benarkah?”
“Ada Wi-Fi alami.”
Sisi mengerutkan dahi. “Wi-Fi alami itu apa?”
“Angin yang berembus, suara burung, dan kicauan ayam tetangga. Gratis, tidak perlu kata sandi.”
Sisi mendengus. Ia curiga Ayah sedang mengarang sesuatu demi menghemat uang internet.
***
Perjalanan menuju desa memakan waktu beberapa jam. Sepanjang jalan, Sisi sibuk menatap layar ponselnya. Ia baru mengangkat kepala ketika mobil melewati jalan berlubang dan tubuhnya terlonjak seperti popcorn di dalam wajan.
“Aduh! Jalan macam apa ini, Yah? Mobil kita sedang ikut lomba lompat tinggi?”
Ayah tertawa. “Namanya juga jalan desa. Kalau terlalu mulus, nanti mobil Ayah kehilangan kesempatan berolahraga.”
Ibu menggeleng sambil tersenyum. Sisi kembali menatap layar, meskipun sinyal internet mulai menghilang satu demi satu. Baginya, itu pertanda buruk. Sepertinya desa sedang melakukan permusuhan pribadi dengannya.
Menjelang siang, mobil mereka memasuki halaman rumah bercat putih dengan pohon mangga besar di sampingnya. Nenek sudah berdiri di depan pintu, mengenakan daster bermotif bunga. Kakek duduk di kursi bambu sambil memegang kipas dari anyaman daun.
“Sisi datang!” seru Nenek.
Sisi berlari memeluk neneknya. Aroma minyak kayu putih dan masakan dari dapur langsung menyambut hidungnya. Nenek memeluknya erat, seolah-olah cucu satu-satunya itu baru pulang dari perjalanan mengelilingi dunia.
“Ya ampun, cucu Nenek sudah besar! Makin cantik, makin pintar, makin—”
“Makin lapar, Nek,” potong Sisi.
Semua orang tertawa.
Di rumah itu, Sisi memang cucu kesayangan Nenek. Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan Nenek setiap kali mereka bertemu. Sisi boleh memilih lauk terlebih dahulu, boleh tidur di kamar Nenek, bahkan boleh mengambil kerupuk dari stoples tanpa dimarahi.
Tetapi, ada satu kebiasaan Nenek yang membuat Sisi heran. Nenek selalu membagi makanan kepada tetangga. Ketika Nenek menggoreng pisang, beberapa potong pasti dimasukkan ke dalam piring untuk Bu Khadijah, tetangga sebelah. Ketika memasak sayur lodeh, Nenek menyisihkan semangkuk untuk Pak Jarwo yang tinggal sendirian sejak istrinya meninggal.
“Nek, kenapa makanan kita dibagikan terus?” tanya Sisi suatu sore. “Kalau semuanya diberikan kepada tetangga, nanti kita sendiri makan apa?”
Nenek terkekeh. “Tenang saja, Sayang. Perut kita tidak akan kosong hanya karena berbagi.”
“Memangnya perut bisa kenyang karena melihat orang lain makan?”
“Tidak. Tapi hati bisa terasa kenyang ketika tahu orang lain tidak kelaparan.”
Sisi mengangguk pelan. Ia belum sepenuhnya mengerti. Menurutnya, perut jauh lebih mudah dipahami daripada hati. Perut berbunyi kalau lapar, sedangkan hati tidak pernah mengeluarkan suara seperti klakson.
***
Keesokan paginya, Nenek membangunkan Sisi sebelum matahari terbit.
“Sisi, ayo ikut Nenek ke pasar!”
Sisi menarik selimut sampai menutupi kepala. “Nek, ayam saja belum selesai mengantuk.”
“Justru itu. Kita harus mendahului ayam. Kalau tidak, nanti ayam yang mengantar kita ke pasar.”
Dengan mata setengah tertutup, Sisi akhirnya bangun. Ia ikut Nenek berjalan melewati jalan setapak, sawah hijau, dan rumah-rumah penduduk. Udara desa terasa sejuk. Di kejauhan, beberapa petani sudah bekerja di sawah.
Di pasar, Nenek menyapa hampir semua orang. Ada yang menjual sayur, ikan, buah-buahan, dan kue tradisional. Sisi terheran-heran karena Nenek mengenal banyak orang.
“Nenek kenal semua orang di sini?”
“Tidak semuanya. Tapi kalau sering menyapa, orang yang tadinya tidak kenal lama-lama terasa seperti saudara.”
***
Di perjalanan pulang, mereka bertemu seorang anak laki-laki bernama Bimo. Umurnya sebaya dengan Sisi. Ia sedang membantu ibunya membawa keranjang sayur yang besar.
“Bimo, mana teman-temanmu?” tanya Nenek.
“Sedang bermain bola, Nek. Saya harus membantu Ibu dulu.”
Sisi melirik keranjang itu. Ia ingin mengajak Bimo bermain, tetapi merasa malas menunggu. Lagi pula, permainan bola di lapangan desa mungkin tidak semenyenangkan permainan di ponselnya.
Namun, sebelum Sisi sempat berkata apa-apa, Nenek sudah mengambil sebagian barang bawaan Bimo.
“Biar Nenek bantu. Kasihan ibumu.”
Bimo tersenyum lega.
Sepanjang jalan, Sisi memperhatikan bagaimana orang-orang saling membantu. Seorang bapak memperbaiki pagar tetangganya. Dua orang ibu membawa makanan untuk seorang warga yang sedang sakit. Anak-anak kecil mengumpulkan daun kering di halaman rumah seorang nenek yang tinggal sendirian.
***
Hari ketiga, hujan turun deras sejak pagi. Angin menggoyangkan pohon mangga di halaman rumah. Sisi sedang bermain kartu bersama Kakek ketika terdengar suara benda jatuh dari arah dapur.
Ternyata, sebagian atap rumah Bu Khadijah yang tinggal di sebelah roboh diterpa angin. Air hujan masuk ke rumahnya. Bu Khadijah panik karena beberapa perabot mulai basah.
Nenek segera berdiri.
“Pak, kita bantu Bu Khadijah!”
Kakek mengambil jas hujan dan beberapa alat. Ayah menyusul mereka. Ibu membawa kain pel. Sisi ikut berlari, meskipun sandal jepitnya berkali-kali terlepas di jalan yang becek.
“Kenapa Sisi ikut?” tanya Ayah.
“Karena Sisi juga anggota keluarga!”
Ayah tersenyum. “Bagus. Kalau begitu, tugasmu mengangkat barang-barang kecil.”
Sisi membantu memindahkan buku, bantal, dan beberapa foto keluarga ke tempat yang kering. Bimo datang bersama ayahnya untuk membantu memperbaiki atap. Tak lama kemudian, beberapa tetangga berdatangan membawa peralatan dan terpal.
Tidak ada yang sibuk bertanya siapa yang akan membayar bantuan mereka. Tidak ada yang menunggu diminta dua kali. Semua bergerak sesuai kemampuan masing-masing.
Setelah beberapa jam, atap darurat berhasil dipasang. Rumah Bu Khadijah kembali aman.
Perempuan tua itu berkali-kali mengucapkan terima kasih. Matanya berkaca-kaca.
“Untung saya punya tetangga seperti kalian,” katanya.
Nenek menggenggam tangannya. “Kita ini keluarga, Bu. Hanya saja, rumah kita berbeda.”
Kalimat itu membuat Sisi terdiam.
***
Malamnya, setelah makan bersama, Sisi duduk di teras dengan Nenek. Hujan telah reda. Aroma tanah basah memenuhi udara, sementara kunang-kunang mulai terlihat di antara pepohonan.
“Nek,” kata Sisi, “tadi semua orang datang membantu Bu Khadijah. Padahal mereka tidak mendapat apa-apa.”
Nenek mengusap rambut cucunya.
“Tidak semua hal harus dibayar dengan uang, Sayang. Ada yang dibalas dengan rasa terima kasih, ada yang dibalas dengan pertolongan di kemudian hari. Tetapi yang paling penting, kita tahu bahwa seseorang tidak harus menghadapi kesulitannya sendirian.”
Sisi menatap halaman yang masih basah.
“Berarti keluarga itu bukan cuma Ayah, Ibu, Nenek, dan Kakek?”
“Betul. Keluarga adalah orang-orang yang saling menjaga. Keluarga di rumah mengajarkan kita untuk menyayangi. Keluarga di lingkungan mengajarkan kita untuk peduli.”
Sisi bersandar di bahu Nenek. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa desa bukan tempat yang membosankan. Ada banyak cerita yang tidak bisa ditemukan dalam permainan atau video.
***
Keesokan harinya, Sisi mengajak Bimo bermain bola di lapangan. Ia berlari mengejar bola sampai rambutnya berantakan dan bajunya terkena lumpur. Ketika pulang, ia langsung disambut Nenek yang tertawa melihat penampilannya.
“Wah, cucu kesayangan Nenek sekarang mirip anak kerbau!”
Sisi tertawa sambil mencium pipi Nenek. “Tidak apa-apa, Nek. Yang penting kerbaunya disayang.”
***
Hari-hari liburan berlalu begitu cepat. Ketika tiba waktunya kembali ke kota, Sisi membantu Ibu membereskan barang-barang. Ia juga memasukkan beberapa pisang goreng buatan Nenek ke dalam kotak untuk dibawa pulang.
“Nenek, nanti kalau kita pulang lagi, Sisi mau belajar memasak,” katanya.
Nenek tersenyum lebar. “Wah, akhirnya cucu Nenek mau belajar!”
“Tapi Sisi punya syarat.”
“Apa itu?”
“Kalau Sisi memasak, Nenek harus menghabiskan semuanya. Tidak boleh dibagikan kepada tetangga!”
Nenek tertawa sampai bahunya berguncang. “Baiklah. Tapi kalau masakanmu enak, Nenek tidak berani berjanji.”
Sisi memeluk Nenek sekali lagi sebelum masuk ke mobil. Kakek melambaikan tangan dari teras, sementara Nenek berdiri di sampingnya dengan senyum yang hangat.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Sisi tidak langsung membuka ponselnya. Ia memandangi sawah, pepohonan, dan rumah-rumah yang perlahan menjauh dari pandangan. Ia teringat atap rumah Bu Khadijah, keranjang sayur Bimo, dan tangan Nenek yang selalu menyisihkan makanan untuk orang lain.
Kini Sisi mengerti mengapa Nenek sering berkata bahwa keluarga adalah harta yang tidak bisa dibeli. Uang dapat membeli rumah, mainan, dan makanan. Namun, uang tidak selalu bisa membeli seseorang yang rela datang ketika kita kesusahan, mendengarkan ketika kita bersedih, atau memeluk kita ketika dunia terasa melelahkan.
Di dalam hati, Sisi berjanji akan lebih sering mengunjungi Nenek dan Kakek. Ia juga ingin belajar menjadi anak yang tidak hanya pandai meminta, tetapi juga mau membantu dan berbagi. Sebab, menjadi cucu kesayangan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Menjadi cucu kesayangan berarti belajar meneruskan kasih sayang yang telah diberikan kepadanya.