Hidup di pedesaan dengan suasana yang jauh dari kebisingan kota adalah hal yang sangat Ria syukuri. Laut dan pantai yang begitu dekat, tetangga yang saling berbagi, serta keharmonisan keluarga yang selalu dijaga.
Ria adalah anak tunggal dari sepasang suami istri. Ibunya bernama Alma dan ayahnya Abdul. Ia merupakan seorang anak yang tengah duduk di bangku SMP. Dia tinggal berdua dengan ibunya karena ayahnya adalah seorang polisi yang bekerja di luar kota. Ayahnya hanya pulang beberapa kali saat cuti, biasanya ketika Ria liburan semester.
Ria sangat dekat dengan ibunya. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, waktunya banyak dihabiskan bersama dengan ibunya. Mereka selalu sarapan pagi bersama.
“Bu, aku berangkat, ya,” pamit Ria.
“Iya, hati-hati, ya, sayang,” pinta sang ibu.
Bu Alma hanyalah seorang ibu rumah tangga. Waktunya banyak dihabiskan di rumah saja. Sesekali keluar ke pasar untuk membeli perlengkapan bulanan keluarga dan mungkin sekalian jalan-jalan.
“Sudah pulang, Nak?” tanya sang ibu kepada Ria.
“Sudah, Bu, baru saja. Panas sekali hari ini, Bu. Matahari rasanya ingin selalu dekat denganku,” gumam Ria.
“Hahaha, bisa saja dirimu,” tawa sang ibu.
“Ayo, ganti seragammu dan segera makan siang.”
“Siap, Ibu cantik,” goda Ria.
Mentari sudah mulai ke barat. Tak pernah lupa, Ria dan Bu Alma selalu menyempatkan untuk berbagi cerita di teras rumah dan akan selalu memberikan pelukan hangat tiap harinya.
Menjadi anak satu-satunya tentu menyenangkan, semua yang Ria inginkan pasti selalu diusahakan oleh ibu dan ayahnya. Tapi terkadang Ria merasa kesepian. Ia memang punya banyak teman dan selalu meluangkan waktu untuk bermain dengan mereka agar tidak jenuh di rumah. Suatu ketika, Ria berpikir untuk berbicara dengan ibunya tentang rasa sepinya itu.
“Bu, aku ingin punya teman di rumah ini,” ucap Ria sambil duduk di sofa.
“Kan ada Ibu,” sahut ibunya sambil tersenyum di hadapan Ria.
“Sebenarnya aku ingin punya adik, Bu,” jelas Ria.
Ibunya kembali tersenyum mendengar perkataan anak satu-satunya itu.
“Doakan saja, minta sama Allah jika kamu begitu menginginkan itu, Ria.”
Setelah liburan semester, Ria mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan memiliki seorang adik. Impian tentang adik kecilnya itu tak lama lagi akan terwujud. Ya, ibunya tengah mengandung. Ria mulai sering menghabiskan waktu di rumah untuk menjaga ibunya dan memastikan keadaannya. Sesekali ia berbincang dengan adik kecilnya. Dia terlihat begitu bahagia. Ria tak sabar menanti hari dia resmi dipanggil dengan sebutan “kakak”.
Beberapa bulan kemudian, di sudut ruangan rumah sakit, terdengar tangisan bayi yang sangat jelas, tangis yang membawa kebahagiaan bagi Ria dan keluarganya. Adik kecil Ria kini hadir di bumi, dan ibunya pun berada dalam keadaan baik usai melahirkan.
“Ayah, sekarang aku sudah resmi menjadi kakak,” ucap Ria dengan senyuman yang terukir di wajah manisnya.
“Tentu, Kakak Ria,” jawab ayahnya dengan antusias sambil memeluk anak pertamanya itu.
Ayahnya kembali masuk untuk menemui ibunya usai persalinan. Namun, beberapa saat kemudian, ibu Ria mengalami pendarahan hebat dan terlihat begitu pucat. Kebahagiaan yang tengah dirasakan Ria dan keluarganya kala itu mendadak berubah menjadi ketegangan dan kegelisahan. Kini, ibu Ria berada dalam keadaan kritis dan membutuhkan transfusi darah secepatnya. Dokter dan tenaga medis lainnya berusaha sebaik mungkin menangani Ibu Ria.
Doa tulus dan penuh harap terus dipanjatkan oleh Ria dan keluarganya, berharap masa kritis yang dialami ibunya segera usai.
Biiiiippppppp....
Suara itu terdengar jelas oleh Ria dan keluarganya yang berada tepat di depan ruangan. Dokter kemudian keluar dan menyatakan bahwa ibu Ria sudah menghembuskan napas terakhirnya. Tangis Ria pecah seketika sambil memeluk ayahnya. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia justru berubah menjadi luka yang sangat amat menyakitkan. Ya, hari kelahiran adik kecilnya itu sekaligus menjadi penutup usia sang ibu tercinta.
“Ya Allah, aku memang sangat mengharapkan adik kecilku, tapi kenapa harus ibu yang jadi gantinya?” teriak Ria dalam tangisnya.
“Ya, Allah.” hanya itu yang digumamkan ayah Ria. Tatapan kosong dengan kaki yang gemetar. Berharap yang sedang dihadapinya hari itu hanya sebatas mimpi buruk di malam hari.
Suasana rumah sakit yang lengang kala itu seketika dipenuhi tangis dan air mata. Kebahagiaan keluarga kecil yang bercampur dengan kesedihan saat itu menjadi peristiwa yang akan terus membekas dalam ingatan Ria. Rumah sakit tersebut menjadi saksi bisu tentang perjuangan menikmati kebahagiaan yang seketika dilanda duka.
Begitulah hidup, tak ada yang pernah tahu kapan akhir dari sebuah cerita, semua hanya tinggal menunggu gilirannya. Selamanya, akan terus menjadi misteri yang tak pernah bisa dipecahkan oleh hamba-hamba-Nya.
Penulis:
Firda Yanti Alin, kerap disapa Firda, adalah seorang penulis pemula yang sedang jatuh cinta pada seni merangkai cerita pendek. Ia berasal dari Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Ende, kota kecil yang disebut kota pancasila itu.
Firda merupakan seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab di UIN Malang. Ia suka menulis cerpen bertema keluarga, persahabatan, dan romance remaja. Menulis cerpen adalah caranya membagikan isi kepala dan imajinasi kepada dunia. Ia merasa minat yang dimiliki ini masih terus dan perlu diasah.