Perjalanan Pagi Hari Minggu ke Kebun Jagung Manis di Lereng Bukit

Cerpen ini mengisahkan kebersamaan sebuah keluarga dalam mengolah kebun jagung di lereng bukit, menanamkan nilai kerja keras, dan rasa syukur.
Perjalanan Pagi Hari Minggu

​Persiapan di Rumah pada Pagi Hari Minggu yang Segar

​Pada suatu hari Minggu pagi yang cerah, udara di lereng bukit terasa sangat segar dan sejuk. Pak Rahmat dan istrinya, Bu Dewi, bangun lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan perjalanan keluarga mereka ke kebun. Bu Dewi sibuk di dapur menyiapkan makanan yang lezat dan mengisi termos dengan teh hangat. Anak sulung mereka, Rizky, yang berusia delapan belas tahun, membantu ayahnya mengumpulkan peralatan berkebun di halaman belakang. Pada saat yang sama, adiknya yang berusia empat belas tahun, Alya, memeriksa benih untuk memastikan semuanya siap ditanam. Mereka menyiapkan cangkul, sabit, ember, dan bibit jagung manis berkualitas unggul. Keluarga ini bekerja sama dengan lancar karena setiap orang memiliki tugas yang jelas. Bekerja bersama di pagi hari selalu membuat tugas berat mereka terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan. Mereka dapat menyelesaikan banyak hal ketika saling mendukung di setiap langkah. Pak Rahmat mengingatkan anak-anaknya untuk memakai pakaian yang nyaman dan sepatu yang tebal untuk berjalan kaki.

Persiapan di Rumah pada Pagi Hari Minggu

Setelah memeriksa semua perlengkapan dua kali, mereka siap meninggalkan rumah dengan senyum lebar di wajah mereka.

​Berjalan Menuju Kebun Lereng Bukit dan Menanam Jagung

​Keluarga tersebut berjalan hati-hati menyusuri jalan setapak yang sempit di dekat bukit-bukit hijau untuk mencapai satu-satunya kebun milik mereka. Pemandangan di sekitar mereka sangat indah, dengan pepohonan hijau dan angin pagi yang sejuk menyentuh pipi mereka.

Berjalan Menuju Kebun Lereng Bukit

Ketika tiba di kebun lereng bukit, mereka duduk di dalam saung kayu kecil untuk beristirahat sejenak dan membagi tugas. Pak Rahmat dan Rizky mengambil cangkul yang berat untuk menggemburkan tanah yang keras dan membuat lubang tanam yang rapi di sepanjang ladang. Sementara itu, Bu Dewi dan Alya mengikuti dari belakang untuk memasukkan benih jagung manis secara hati-hati ke dalam setiap lubang. Setelah menanam benih, mereka menyiram tanah menggunakan air segar dari sumber mata air alami kecil yang mengalir di dekat kebun.

Matahari perlahan naik semakin tinggi, tetapi angin sejuk menjaga semangat mereka saat bekerja. Semua orang bekerja keras karena mereka ingin tanaman jagung manis mereka tumbuh sehat dan kuat. Mereka harus merawat lahan ini dengan baik agar menghasilkan panen yang berlimpah di bulan-bulan mendatang. Mereka terus menanam hingga setiap bagian lahan selesai dikerjakan.

​Beristirahat di Saung Kayu dan Salat Dzuhur

​Menjelang pukul sebelas lewat tiga puluh menit di siang hari, terik matahari siang mulai terasa cukup hangat di kulit mereka. Keluarga tersebut memutuskan untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan ladang dan berkumpul di dalam saung kayu yang sejuk.

Beristirahat di Saung Kayu

Mereka duduk bersama di atas lantai kayu, menikmati makan siang yang segar dan teh hangat yang telah disiapkan Bu Dewi sebelumnya. Sambil menyantap makanan, mereka tertawa, berbagi cerita lucu, dan mendengarkan dengan saksama nasihat bijak dari ayah mereka tentang kehidupan dan kerja keras.

Pak Rahmat menjelaskan bahwa kerja keras yang jujur selalu membawa ketenangan pikiran dan kebahagiaan sejati bagi keluarga.

Tidak lama setelah menyelesaikan makan siang, azan terdengar dari masjid desa terdekat. Mereka segera berjalan bersama menuju masjid untuk menunaikan salat Dzuhur secara berjamaah dengan warga desa lainnya. Menunaikan ibadah kepada Tuhan tetap menjadi prioritas utama mereka tidak peduli seberapa sibuk pekerjaan kebun harian mereka. Rutinitas kerohanian ini menjaga hati mereka tetap tenang dan bersyukur sepanjang hari kerja yang sibuk.

​Merapikan Peralatan dan Perjalanan Pulang ke Rumah

​Pada pukul dua lewat tiga puluh menit siang, keluarga tersebut kembali ke ladang untuk menyelesaikan tugas akhir mereka sebelum pulang ke rumah. Mereka memeriksa area yang baru ditanam untuk memastikan bahwa semua benih telah tertutup dengan benar oleh tanah yang lembap. Alya dan Rizky membantu ibu mereka mengumpulkan wadah air yang tersisa dan membersihkan peralatan yang kotor di dekat aliran air. Mereka menempatkan semua cangkul, sabit, dan ember tambahan dengan rapi di dalam ruang penyimpanan saung kayu agar semuanya tetap aman hingga kunjungan berikutnya.

Perjalanan Pulang ke Rumah

Setelah memastikan seluruh kebun sudah rapi dan bersih, mereka mengambil tas dan mulai berjalan kembali turun bukit menuju rumah.

Meskipun tubuh mereka terasa lelah setelah seharian melakukan kerja fisik, hati mereka penuh dengan rasa bahagia dan kepuasan. Mereka dapat beristirahat dengan nyaman di rumah malam ini, mengetahui bahwa mereka telah bekerja keras bersama sebagai satu kesatuan. Rutinitas sederhana ini mempererat hubungan mereka sebagai keluarga sekaligus membangun masa depan yang lebih baik bagi semua orang.

Penulis:

  • Karimatun Nisa' merupakan mahasiswa IKIP Widya Darma, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Pembimbing:

  • Assoc. Prof. Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd. merupakan Dosen dan Dekan di IKIP Widya Darma.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.