Oleh Arief Munandar
Di rumah dua lantai itu, dapur selalu sunyi sebelum subuh. Dulu, setiap pagi asap tipis dari wajan besi akan naik seperti doa yang hafal jalannya sendiri menuju langit-langit, menyisakan bau bawang putih yang menenangkan. Kini, kompor sering dibiarkan dingin. Gelas-gelas tetap kering. Panci-panci tak lagi bersuara. Seolah-olah dapur telah kehilangan haknya untuk bernapas.
Nadia berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan daster biru yang mulai pudar di siku. Ia menatap meja marmer yang mengilap seperti cermin yang tak mau memantulkan apa pun selain kehampaan. Di balik jendela, kota besar itu sudah bersiap untuk bising: deru kendaraan, klakson, dan orang-orang yang terburu-buru mengejar kehidupan yang tidak pernah menunggu. Tapi di dalam rumah, waktu berjalan seperti seseorang yang enggan pulang.
Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh. Nadia biasanya sudah menanak nasi, memotong cabai, dan menyiapkan bekal untuk suaminya, Raka, yang berangkat kerja sebelum matahari benar-benar bangun. Hari ini, seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya, ia hanya menyalakan lampu dapur, lalu mematikannya lagi.
Di kamar, Raka masih tidur dengan punggung membelakangi pintu. Napasnya teratur, seperti seseorang yang percaya bahwa dunia akan selalu memaafkannya. Nadia menatapnya dari kejauhan, berdiri di ambang pintu, tangan terlipat di dada, seperti guru yang mengawasi muridnya ujian. Ada waktu-waktu ketika ia ingin mendekat, menyentuh bahu suaminya, menanyakan hal-hal kecil—apakah ia masih menyukai kopi pahit tanpa gula, apakah ia ingat hari mereka pertama kali bertemu di halte bus dekat sekolah. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu kini terasa seperti bahasa yang tak lagi bisa dimengerti.
Nadia adalah guru bahasa Indonesia di sebuah SMA negeri di pusat kota. Di kelas, ia dikenal tegas tapi hangat. Ia mengajarkan puisi dengan cara yang membuat murid-muridnya percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan seseorang dari kesepian. Ia sering berkata bahwa kejujuran adalah bentuk tertinggi dari keberanian. Murid-murid mencatat kalimat itu di buku tulis mereka, sebagian tanpa benar-benar memahami. Nadia sendiri mulai ragu apakah ia masih memahami kalimat itu.
Sore hari sepulang sekolah, ia sering tidak langsung pulang. Kota menawarkan banyak tempat untuk bersembunyi: kafe-kafe sempit dengan lampu kuning, toko buku dengan lorong sunyi, taman kota yang pohonnya lebih tua dari gedung-gedung di sekitarnya. Di salah satu kafe di sudut jalan yang tak terlalu ramai, seorang lelaki biasanya sudah duduk menunggunya.
Arman.
Ia lebih muda dari Raka, tapi lebih tua dari Nadia beberapa tahun. Wajahnya tidak tampan dalam arti umum, namun ada sesuatu dalam cara ia mendengarkan yang membuat orang merasa pulang. Ia bekerja sebagai arsitek lepas, berpindah dari proyek ke proyek, dari kota ke kota. Ketika berbicara tentang bangunan, matanya bersinar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Ketika berbicara tentang kesepian, suaranya menjadi pelan, seolah takut membangunkan luka yang sedang tertidur.
Pertemuan mereka bermula dari kebetulan yang sederhana. Arman pernah diminta sekolah Nadia untuk menjadi narasumber dalam acara tentang desain ruang publik. Setelah acara, mereka berbincang di lorong, lalu bertukar nomor telepon karena alasan profesional. Obrolan berlanjut tentang kota, lalu tentang buku, lalu tentang hal-hal yang tak benar-benar memiliki nama. Suatu hari, tanpa direncanakan, mereka duduk berdua di kafe itu. Lalu hari-hari berikutnya terasa seperti kelanjutan yang tak terelakkan.
Nadia tahu batas. Ia tahu kata-kata seperti pernikahan, kesetiaan, keluarga. Ia tahu wajah ibunya yang selalu percaya bahwa anak perempuannya akan menjadi istri yang baik. Ia tahu Raka, lelaki yang pernah menunggunya hujan-hujanan di luar gerbang sekolah hanya untuk mengantarkan payung. Ia tahu semua itu seperti seseorang tahu jalan pulang di kota yang pernah ia cintai. Tapi pengetahuan tidak selalu cukup untuk menahan langkah.
“Rumah itu,” kata Arman suatu sore, menatap keluar jendela kafe, “kadang bukan soal tempat. Tapi orang yang ada di dalamnya.”
Nadia diam. Ia menatap uap kopi yang perlahan menghilang di udara. Kata-kata Arman masuk ke dalam dirinya seperti hujan yang menemukan retakan di atap. Ia ingin menyangkal, tapi justru merasa dikenali.
“Dan kalau orang itu tidak lagi melihat kita?” tanya Nadia pelan.
Arman tidak langsung menjawab. Ia memutar sendok di cangkir, suara kecil yang berulang. “Mungkin kita harus bertanya,” katanya akhirnya, “apakah kita masih ingin dilihat oleh orang yang sama.”
Kalimat itu terus mengikuti Nadia pulang, masuk ke dalam rumah, menyelinap ke dapur yang terasa gelap. Raka sudah di rumah lebih dulu malam itu. Ia duduk di ruang tamu, menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Ada kelelahan di wajahnya, tapi juga jarak yang tidak bisa dijembatani hanya dengan niat baik.
“Kamu sudah makan?” tanya Raka tanpa menoleh.
“Sudah,” jawab Nadia, meski belum.
Raka mengangguk kecil. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada cerita tentang hari masing-masing. Mereka hidup berdampingan seperti dua orang asing yang kebetulan menyewa kamar yang sama.
Malam-malam berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Nadia semakin sering bertemu Arman. Percakapan mereka menjadi lebih pribadi, lebih dekat, lebih berbahaya. Suatu malam, di bawah lampu jalan yang temaram, Arman menyentuh tangan Nadia untuk pertama kalinya. Sentuhan itu tidak lama, tapi cukup untuk menggeser dunia beberapa derajat. Nadia tidak menarik tangannya.
Di rumah, dapur tetap dingin. Bekal Raka sering dibeli di luar. Mereka hampir tidak makan bersama. Nadia kadang berdiri di depan kompor, menyalakan api sebentar, lalu mematikannya lagi, seperti seseorang yang ragu untuk berdoa.
Suatu pagi Minggu, ketika kota masih malas, Nadia terbangun lebih awal. Ada keinginan aneh untuk memasak. Ia mencuci beras, memotong bawang, menumis sayur. Asap tipis kembali naik, menari pelan di bawah lampu dapur. Bau masakan memenuhi ruang, mengingatkan pada masa-masa ketika mereka baru menikah, ketika dapur adalah pusat kehidupan, bukan ruang kosong yang dihindari.
Raka keluar kamar, terkejut melihat meja makan sudah terisi. Ia berdiri beberapa detik, seolah tak yakin apakah ini mimpi.
“Kamu masak?” tanyanya.
“Iya,” jawab Nadia, tanpa menatap.
Mereka duduk berhadapan. Sendok dan piring bersentuhan pelan. Tidak ada kata-kata besar, hanya suara makan yang canggung. Tapi di sela-sela keheningan itu, ada sesuatu yang bergerak, seperti bara kecil yang lama terkubur.
“Kita… sudah lama tidak begini,” kata Raka akhirnya.
Nadia mengangguk. “Iya.”
Raka menarik napas panjang. “Nad,” katanya, menggunakan panggilan lama yang jarang terdengar, “kamu… bahagia?”
Pertanyaan itu jatuh di meja seperti benda rapuh. Nadia merasakan dadanya mengencang. Ia ingin menjawab dengan mudah, dengan aman, dengan cara yang tidak merusak apa pun. Tapi kata-kata Arman tentang kejujuran berputar di kepalanya. Dan kalimat yang sering ia ajarkan di kelas: kejujuran adalah bentuk tertinggi dari keberanian.
Nadia mengangkat wajah. Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia melihat Raka benar-benar menatapnya, bukan sekadar melihat.
“Aku…” suaranya bergetar, “tidak tahu.”
Raka menunduk, lalu mengangguk kecil, seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu sejak lama. Mereka menyelesaikan makan tanpa banyak bicara. Setelah itu, Raka masuk kamar lagi. Nadia membereskan dapur sendirian. Asap sudah tak ada, tapi baunya masih tertinggal.
Siang harinya, ponsel Nadia bergetar. Pesan dari Arman: Aku di kafe biasa. Kalau kamu bisa datang.
Nadia menatap layar cukup lama. Jantungnya berdetak seperti seseorang yang berlari. Ia tahu persimpangan ini sudah lama mendekat. Ia bisa pergi, duduk di depan Arman, mungkin akhirnya melewati batas yang selama ini hanya mereka kelilingi. Atau ia bisa tinggal, menunggu Raka keluar kamar, mencoba berbicara tentang hal-hal yang selama ini mereka kubur.
Ia berjalan ke dapur. Menyentuh kompor yang sudah dingin. Membuka jendela, membiarkan udara kota masuk. Di luar, jalanan mulai ramai. Hidup bergerak tanpa peduli pada keraguan satu orang perempuan.
Dari kamar, terdengar suara Raka bergerak. Pintu terbuka. Langkahnya mendekat.
“Nad,” panggilnya pelan.
Nadia menoleh. Di tangannya, ponsel masih menyala dengan pesan Arman. Di depan matanya, Raka berdiri dengan wajah yang belum pernah ia lihat sebelumnya: rapuh, takut, tapi juga berharap.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” kata Raka.
Pada saat yang sama, ponsel Nadia kembali bergetar. Nama Arman muncul lagi di layar.
Nadia berdiri di antara dua dunia: dapur yang baru saja kembali mengepulkan asap, dan kota di luar jendela yang menawarkan pelarian tanpa akhir. Ia menarik napas, merasakan seluruh hidupnya seperti menggantung di ujung keputusan yang belum terucap.
“Raka…” katanya pelan.
Kalimat itu belum selesai ketika ponselnya kembali bergetar di tangannya. Nadia menatap suaminya, lalu layar, lalu dapur yang masih menyimpan hangat. Dan ia harus memilih—atau kehilangan keduanya.
