Oleh Nauval Annafi
Asap kretek naik perlahan, menggulung tipis sebelum pecah di udara. Alam menarik napas dalam, “Srrtt…” Menahan sebentar di dada lalu menghembuskannya keras, “Pfff…” Asap keluar bersama napas beratnya, seolah ingin membawa suasana berat yang mengganjal di pikirannya.
Ia menatap ujung kretek yang menyala, memantulkan cahaya bara api kecil dari matanya. Suaranya nyaris menghilang.
“Seandainya hal itu tak terjadi…” Gumamnya pelan.
Sore itu, kos masih tampak ramai. Bau tanah lembap bercampur dengan sisa angin hujan. Dari kejauhan, suara azan terdengar samar, menggema di antara dinding-dinding gang yang basah. Tapi Alam tak bergerak. Ia hanya duduk di sana, menatap kepulan asap yang perlahan menghilang, seolah setiap kepulan membawa kenangan yang sudah lama ingin ia lupakan.
Padahal dulu, semua terasa lebih ringan.
“Tok… Tok… Tok…” Suara pintu kamar alam.
“Bangun woy, mau kopi kagak?” Teriak Fajar dari balik pintu sambil mengetuk pintu kamar Alam.
Alam Cuma menggeliat di bawah selimut.
“Sebentar lagi,” gumamnya.
Tapi Fajar tak pernah percaya kata “sebentar lagi.”
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Fajar masuk tanpa permisi, membawa dua gelas kopi sachet panas yang aromanya langsung memenuhi kamar. Salah satunya ia taruh di meja belajar yang penuh buku dan abu kretek.
“Minum dulu. Katanya mau berhenti ngopi, tapi kayaknya cuma hoaks,” katanya sambil nyengir.
Alam melirik malas, tapi bibirnya terangkat sedikit.
“Lu ngomongnya juga gitu,” balasnya.
“Beda, gw ngopi buat semangat, lu semangat buat ngopi,” Fajar menyalakan kreteknya sambil terkekeh kecil.
Aroma kopi bercampur asap kretek melayang di kamar sempit itu. Suara motor lalu-lalang, suara anak-anak kos yang tengah bersiap-siap untuk brangkat kuliah, suara ibu kos yang sedang menjemur pakaian. Namun dunia seakan tak berjalan di dalam ruangan sempit itu.
Beginilah rutinitas dua sahabat itu, sederhana memang, tapi penuh dengan warna. Hari-hari mereka dimulai dengan menikmati secangkir kopi jikalau kelas pagi tak menunggu. Jika ada, mereka akan terburu-buru menuju kampus dengan kemeja seadanya yang belum sempat disetrika karena tidur terlalu malam.
Siangnya diisi dengan makan dan nongkrong di warung dekat kampus, ngobrol soal apa saja. Dari hal-hal nggak penting sampai dosen killer yang bikin stres. Sore hari mereka balik ke kos, nyeduh kopi lagi, lalu naik ke atap sambil menikmati senja dan sebatang kretek. Aneh memang, tapi justru kesederhanaan seperti itulah yang bikin hidup mereka terasa ringan.
“Eh, Bro,” kata Fajar setelah menghisap kreteknya, “lu pernah mikir gak, kenapa hidup kita kayak gini aja terus?”
Alam menatap kosong ke arah langit-langit. “Maksud lu?”
“Ya gini. Bangun, ngopi, kuliah, ngerokok, ngeluh, terus ngulang lagi. Kayak kaset rusak.”
Alam terkekeh pelan. “Setidaknya kasetnya masih bisa muter.”
Fajar tersenyum kecil. “Iya, tapi siapa tahu nanti kasetnya patah.”
Ucapan itu seharusnya cuma lelucon. Tapi entah kenapa, ada sesuatu di balik tawa Fajar yang terasa berat pagi itu. Alam tak menanggapinya — hanya menyeruput kopi, pura-pura tak paham. Ia pikir, besok mereka masih akan tertawa seperti biasa. Ia pikir, tidak ada yang akan berubah.
Tapi ia salah.
Hari-hari setelah itu, ada saja hal kecil yang terasa ganjil dari Fajar.
Malam-malam yang biasanya mereka habiskan di atap kos sambil ngobrol, mendadak hilang begitu saja. Fajar sering pulang larut, pintu kamarnya baru terdengar dibuka saat jam hampir menunjukkan pukul sebelas. Itu pun dengan langkah pelan, seolah tak ingin ada yang tahu ia baru datang.
Suatu malam, Alam mendengar pintu depan kos berderit. Ia mengintip lewat lubang pintu kamarnya. Fajar masuk dengan kaus yang basah oleh keringat dan tas kecil yang tampak penuh kertas. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan napasnya sedikit terengah, seperti habis berlari.
Fajar tersentak kecil, tapi langsung tersenyum.“Dari mana lu?” Tanya Alam pelan dari balik pintu, tak tahan menahan rasa ingin tahu.
“Dari kios teman. Ngebantuin bentar,” katanya ringan, padahal tangannya gemetar saat memasukkan kunci kamar.
“Jam segini?”
“Iya, barusan kelar. Santai aja.”
Ia menjawab seolah itu hal biasa, lalu buru-buru masuk ke kamarnya tanpa menyalakan lampu lorong seperti biasanya.
Tidak ada cerita. Tidak ada candaan. Tidak ada kopi sachet besok paginya.
Alam ingin bertanya lebih jauh, tapi lidahnya tak kuasa.
Fajar terkenal cerewet. Tapi malam itu, keheningannya terasa jauh lebih mengganggu daripada teriakannya tiap pagi.
Di kamar gelapnya, Alam berbaring menatap langit-langit. Ia mencoba berpikir positif.
“Mungkin Fajar cuma capek. Mungkin ada kerja kelompok. Mungkin cuma kebetulan.” Batinnya.
Tapi jauh di dalam hati Alam tahu. Ada sesuatu dalam hidup Fajar yang berubah dan ia tidak tahu apa.
Sejak malam itu, banyak hal yang janggal terjadi, tapi Alam membiarkannya lewat begitu saja.
Hari-hari berikutnya Fajar tidak lagi membawa dua gelas kopi, tidak lagi mengetuk pintu kamar Alam, seolah sosok Fajar yang selama ini ia kenal telah pergi.
Hingga suatu hari saat Alam melewati kamar Fajar yang tak tertutup ia melihat kertas berserakan berwarna coklat. Ada tulisan dengan tinta merah di pojok “tagihan bulan ini”. Alam hanya memandangnya berapa detik.
“Ah paling urusan keluarga.” Pikirnya
Mungkin saat itu Alam berpikir hal itu sepele, akan tetapi hal kecil ini yang akan ia sesali sepanjang hidupnya.
Malam itu hujan turun lagi.
Hujan yang biasanya membuat Fajar keluar kamar untuk memandangi atap kos bersama Alam, kini turun sendirian—tanpa siapa pun yang memperhatikannya.
Alam baru kembali dari minimarket ketika melihat pintu kamar Fajar terbuka sedikit. Biasanya Fajar selalu menutupnya rapat. Ada cahaya redup dari lampu kamar, tapi tidak ada suara sama sekali.
“Jar?” panggil Alam, mengetuk pelan. Tidak ada jawaban.
Ia mendorong pintu lebih lebar.
Dan di sanalah Fajar, duduk bersandar di tepi kasur dengan tubuh sedikit terbungkuk, kepalanya menunduk. Bukan pingsan hanya benar-benar kelelahan, seperti orang yang sudah menyerah pada hari itu.
Di meja, ada buku kuliah yang terbuka, beberapa kertas tagihan, dan satu mangkuk mie instan yang bahkan belum disentuh.
Alam mendekat.
“Lu nggak apa-apa?” Katanya dengan pelan dan merasa prihatin.
Fajar mengangkat wajahnya pelan. Matanya sembab, bukan karena menangis, tapi karena letih yang terlalu panjang dan terlalu berat.
“Gue cuma capek,” jawabnya pelan.
Alam duduk di lantai, di sampingnya. Hening. Hanya terdengar suara hujan menetes di luar.
“Jar…”
“Hmm?”
“Lu kerja ya, akhir-akhir ini?” Alam bertanya baik-baik.
Fajar tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, seolah sudah terlalu sering menyimpan semuanya sendiri.
“Iya,” kata fajar akhirnya.
Suara itu terdengar seperti sesuatu yang patah.
“Gue harus bantu Ibu. Ayah belum dapat kerja lagi.”
Alam menelan ludah. Wajahnya menegang.
“Terus… lu sendirian? Lu nggak bilang apa-apa?” Alam bertanya.
Fajar tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka.
“Lu udah cukup pusing sama hidup lu sendiri, Lam. Gue nggak mau nambahin.”
Alam tertunduk. Seketika, hatinya seperti diremas.
Fajar melanjutkan, pelan, hampir seperti bisikan,
“Kadang gue pulang jam dua, kadang jam tiga. Kios gorengan itu cuma bayar sedikit. Tapi ya itu aja yang ada. Gue… gue cuma takut nggak bisa kirim uang bulan ini.”
Kata-kata itu jatuh ke lantai seperti batu. Membuat dada Alam makin sakit.
“Sialan lu, Jar…” Suara Alam pecah. “Kenapa Lu pikir gue nggak mau denger? Kenapa Lu pikir gue nggak peduli?!” Kata Alam dengan tegas.
Fajar terdiam. Ia memejamkan mata sebentar.
“Karena gue tahu… Gue nggak bakal kuat kalau Lu ngeliat gue gini.” Jawabnya
Hujan di luar mendadak terasa lebih keras. Dalam ruangan kecil itu, tidak ada teriakan, tidak ada drama besar. Hanya dua sahabat yang akhirnya bertemu pada titik kejujuran dan keduanya sama-sama terluka karena hal yang tidak pernah mereka bicarakan.
Alam memandang sosok Fajar yang semakin kurus, semakin pucat, semakin jauh dari dirinya yang dulu sering tertawa di depan pintu kamar.
Sejak malam itu, hubungan Alam dan Fajar berubah. Mereka masih ngobrol, masih ngopi kadang-kadang, tapi Fajar tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu. Ia tetap lelah, tetap banyak pikiran, dan tetap harus bekerja sambil kuliah.
Saat libur semester datang, Fajar pamit pulang kampung lebih cepat.
“Tunggu gue balik minggu depan,” katanya.
Alam hanya mengangguk.
Tapi minggu pertama lewat, lalu minggu kedua. Telepon tidak diangkat. Pesan tidak dibalas. Pengurus kos hanya bilang Fajar memutuskan tidak kembali semester ini. Ia harus membantu keluarganya. Tidak tahu sampai kapan.
Kamar Fajar dikosongkan, nama di pintunya dilepas. Dan hari-hari di kos berjalan lagi seperti biasa. Kecuali bagi Alam. Baginya, lorong kos terasa lebih sunyi, meski tetap ramai suara orang.
Bulan berganti, kehidupan terus berjalan, tapi sesuatu di dalam dirinya seperti tidak ikut bergerak. Ada ruang yang dulu diisi Fajar, dan kini tetap kosong.
Suatu sore, hujan baru saja reda.
Sisa tetesannya turun pelan dari ujung genteng, memantulkan cahaya sore yang hampir padam. Udara lembap memenuhi halaman kos, membawa aroma tanah basah yang mengingatkan Alam pada sore-sore yang dulu selalu ia habiskan bersama Fajar.
Alam duduk di beranda, memegang sebatang kretek yang hampir habis. Ia menatap asap tipis yang naik ke udara, perlahan hilang seperti sesuatu yang sudah lama ia coba lepaskan.
Sudah berbulan-bulan sejak Fajar tidak kembali. Kamar barunya sudah ditempati orang lain. Lorong kos tetap ramai, tapi bagi Alam ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar tertutup.
“Seandainya hal itu tak terjadi…”
Ia menghembuskan asap pelan, lebih sebagai desahan yang tertahan sejak lama.
Saat itulah ponselnya bergetar. Bukan nada panjang, hanya satu getaran pendek. Alam mengeluarkannya dengan malas mengira hanya pesan tugas kelompok.
Tapi ketika nama di layar muncul, jantungnya seperti ditarik ke atas.
“Fajar.” Gumamnya.
Alam terpaku sesaat sebelum membuka pesannya. Isinya hanya satu kalimat.
“Bro… doain gue terus ya. Kalau kita ketemu lagi nanti, kopi pertama gue yang bayar.”
Tidak ada penjelasan kemana ia pergi, tidak ada kata “maaf”, tidak ada janji kapan kembali. Hanya kalimat pendek yang terasa akrab dan hangat.
Alam menatapnya lama, sebelum senyum kecil muncul tanpa ia sadari.
Tidak penuh, tidak benar-benar bahagia tapi cukup untuk membuat dada yang lama sesak itu sedikit lega. Ia mematikan ponsel, menatap sisa hujan yang menetes pelan dari atap kos.
Kretek di jarinya hampir padam. Ia menghisap sekali lagi, mengembuskan asap ke udara sore yang mulai terang.
“Gue tunggu, Jar…” Bisiknya.
“Gue tunggu lu balik.”
Asapnya naik perlahan lalu hilang dibawa angin lembap.
Sore itu, meski hujan telah berhenti, Alam merasa sesuatu di dalam dirinya baru saja mulai mereda juga.
Biodata Penulis:
Nauval Annafi, lahir di Blitar pada 26 Mei 2005 dan tumbuh besar di Pamekasan, Madura. Saat ini ia menempuh studi Sastra Arab di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.