Lamaran ke-18

Cerpen ini menyoroti perjuangan dua sarjana menghadapi sulitnya mencari kerja, penolakan berulang, dan tekad untuk terus mencari jalan.

Dua tahun setelah wisuda, Ahsan mulai curiga bahwa ijazah ternyata bukan tiket menuju masa depan. Ia masih menyimpan toga di lemari. Sesekali ia membukanya, memandangi selempang almamater kampus ternama yang dulu membuat orang tuanya menangis bahagia.

Lamaran ke-18

Hari itu, ia kembali membuka laptop. Satu email masuk. “Terima kasih telah mengikuti proses rekrutmen. Setelah mempertimbangkan seluruh kandidat, kami belum dapat melanjutkan aplikasi Anda ke tahap berikutnya.”

Ahsan menutup laptop. “Lamaran ke-18,” gumamnya.

Ia tertawa kecil. Bukan karena lucu.

Dua tahun lalu, ia dan Akram berdiri di panggung wisuda dengan keyakinan yang hampir sama: pendidikan akan membuka jalan.

Mereka salah. Atau mungkin jalan itu memang ada, tetapi pintunya terlalu sedikit.

***

“San!”

Ahsan menoleh.

Akram berdiri di lobi sebuah perusahaan tempat mereka sama-sama dipanggil untuk wawancara.

“Gila! Dua tahun!”

Mereka berpelukan.

“Masih hidup?” tanya Ahsan.

“Masih. Tapi rekening saya yang kritis. Butuh asupan gizi, hehehe.”

Mereka tertawa bersama. Kemudian saling bertanya kabar.

“Sudah berapa lamaran?” tanya Ahsan.

“Kalau dihitung, sembilan belas.”

“Dan?”

“Ditolak sebagian besar. Beberapa tidak pernah membalas.”

Ahsan mengangguk.

“Gue delapan belas.”

“Berarti hari ini…”

“Lamaran ke-18.”

“Semoga.”

Mereka duduk di ruang tunggu. Di dinding terpampang tulisan: OUR PEOPLE ARE OUR GREATEST ASSET.

Ahsan membaca tulisan itu beberapa detik.

“Lucu.”

“Apa?”

“Manusia disebut aset terbesar. Tapi untuk mendapatkan pekerjaan saja, kita harus punya pengalaman.”

Akram tersenyum.

“Ya memang begitu cara dunia bekerja.”

“Masalahnya, pengalaman didapat dari bekerja.”

“Betul.”

“Dan pekerjaan didapat kalau punya pengalaman.”

Akram mengangguk.

“Betul juga.”

Ahsan mulai kesal.

“Terus orang baru lulus harus bagaimana?”

“Berusaha.”

“Sudah.”

“Belajar lagi.”

“Sudah.”

“Bangun portofolio.”

“Sudah.”

“Magang.”

“Sudah.”

“Networking.”

“Sudah.”

Ahsan menatapnya. “Terus apa lagi?”

Akram diam sebentar. “Entahlah.”

Jawaban itu justru terasa paling jujur.

***

Dua tahun terakhir mereka jalani dengan cara berbeda.

Ahsan, mantan aktivis kampus, masih gemar mengkritik keadaan.

Ia tidak terima melihat keadaan dari berbagai berita tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, dan konon jutaan lapangan kerja baru.

“Kalau lapangan kerjanya jutaan,” katanya, “kenapa teman-teman kita masih sibuk mengirim lamaran dan CV setiap hari?”

Akram tidak menyangkal.

“Pemerintah memang punya tanggung jawab menciptakan iklim ekonomi yang menghasilkan pekerjaan layak.”

“Nah!”

“Tapi jangan semua kegagalan ini, kita timpakan kesalahan tersebut kepada pemerintah.”

Ahsan mengernyit.

“Maksudnya?”

“Kalau lowongan sedikit, itu masalah struktural. Kalau kompetensi kita belum cukup, itu masalah kita. Dua-duanya bisa benar sekaligus.”

Ahsan terdiam.

Akram melanjutkan, “Kita boleh marah pada keadaan. Tapi jangan sampai kemarahan membuat kita berhenti bergerak. Berhenti berusaha.”

Kalimat itu sering membuat Ahsan kesal. Karena ia tahu Akram benar.

Akram sendiri tidak jauh berbeda. Ia juga mengirim lamaran ke mana-mana. Ia pernah magang, aktif organisasi, memiliki portofolio, dan menguasai beberapa keterampilan yang menurut dosen-dosennya akan sangat berguna.

Tetapi dunia kerja tidak selalu membaca CV seperti dosen membaca tugas mahasiswa. Ada persaingan. Ada kebutuhan perusahaan. Ada pengalaman. Ada jaringan. Ada kondisi ekonomi. Dan kadang ada hal-hal yang bahkan tidak pernah mereka ketahui: faktor X.

Mereka mulai menyadari: menjadi sarjana hanya membuat seseorang memenuhi syarat untuk mencoba. Bukan jaminan untuk diterima kerja.

***

Nama mereka dipanggil. Akram masuk terlebih dahulu. Beberapa puluh menit kemudian ia keluar.

“Bagaimana?” tanya Ahsan.

“Lumayan,” jawab Akram.

“Diterima?”

“Belum.”

“Optimis?”

Akram tersenyum.

“Berharap.”

Kini giliran Ahsan. Ia masuk. Wawancara berlangsung hampir tiga puluh menit. Pewawancara bertanya tentang pengalaman organisasi, kepemimpinan, kemampuan bekerja dalam tim, dan alasan melamar.

Pertanyaan terakhir, “Jika diterima, kapan Anda bisa mulai?”

Ahsan tersenyum, “Besok.” Jawabnya mantap.

Pewawancara tertawa. “Secepat itu?”

“Saya sudah menunggu dua tahun.”

Untuk sesaat ruangan hening. Pewawancara tersenyum tipis.

“Baik. Terima kasih.”

***

Mereka keluar gedung. Tidak ada yang berani mengatakan, “Kita pasti diterima.” Mereka sudah terlalu sering berharap. Dan kadang ekspektasi yang terlalu tinggi sering membuat frustasi bahkan bisa stres dan depresi.

Di sebuah kedai kopi, Ahsan membuka ponselnya.

“Ram.”

“Hm?”

“Kadang gue capek.”

“Gue juga.”

“Kadang gue mangkel sama pemerintah.”

“Gue juga.”

“Janji lapangan kerja banyak. Tapi mencari satu pekerjaan saja susahnya minta ampun.”

Akram mengaduk kopinya.

“Ya, kita kritik.”

“Terus?”

“Kita tetap cari.”

“Kalau ditolak?”

“Cari lagi.”

“Kalau ditolak lagi?”

“Cari lagi.”

“Kalau sampai seratus?”

Akram tersenyum.

“Berarti CV kita perlu diperiksa.”

Ahsan tertawa.

“Serius?”

“Serius.”

“Lo nggak pernah putus asa?”

“Pernah.”

“Terus?”

“Putus asa boleh. Berhenti jangan.”

Ahsan terdiam.

Akram melanjutkan, “San, kita tidak bisa mengendalikan berapa banyak lapangan kerja yang diciptakan negara. Kita juga tidak bisa memaksa perusahaan menerima kita.”

“Lalu yang bisa kita kendalikan?”

“Usaha kita.”

***

Malam itu mereka membuat keputusan sederhana. Mereka tidak akan hanya menunggu lowongan. Mereka akan terus melamar pekerjaan formal.

Tetapi sambil itu, mereka akan mengambil pekerjaan lepas, mengajar, mengerjakan proyek, membangun portofolio, membuat usaha kecil, dan belajar keterampilan baru.

Bukan karena mereka menyerah pada cita-cita. Justru karena mereka ingin bertahan sampai cita-cita itu memiliki kesempatan untuk diwujudkan.

Akram menulis rencana dia selama 90 hari ke depan: Kirim lamaran setiap hari, perbaiki portofolio, bangun keterampilan baru, ambil pekerjaan yang tersedia secara layak, dan ciptakan peluang ketika peluang tidak datang.

Ahsan membaca daftar itu. “Ini bukan rencana mencari kerja.”

Akram tersenyum. “Memang. Ini rencana mencari jalan.”

***

Beberapa bulan kemudian, mereka belum menjadi orang sukses. Mereka masih menerima penolakan. Masih ada wawancara yang berakhir tanpa kabar. Masih ada pekerjaan yang gajinya tidak sesuai harapan. Tetapi sesuatu berubah.

Ahsan memperoleh pekerjaan kontrak sebagai peneliti. Akram mendapatkan proyek profesional yang kemudian berkembang menjadi pekerjaan tetap.

Tidak spektakuler. Tidak seperti kisah sukses di media sosial. Namun cukup untuk membuat mereka kembali berdiri.

Suatu pagi mereka bertemu sebelum masuk kantor.

“Ram.”

“Hm?”

“Lo ingat dulu kita kira ijazah adalah tiket?”

“Sekarang?”

Ahsan tersenyum.

“Sekarang gue tahu.”

“Apa?”

“Ijazah bukan tiket.”

“Lalu?”

Ahsan menatap jalan di depan mereka.

“Cuma bekal.”

Akram mengangguk.

“Dan perjalanan tetap panjang.”

Mereka berjalan. Ahsan kemudian berhenti.

“Ram.”

“Ya?”

“Kalau suatu hari kita punya kekuasaan untuk membuat kebijakan…”

Akram menoleh.

“Jangan cuma menghitung berapa juta lapangan kerja yang dijanjikan.”

“Terus?”

“Hitung berapa orang yang benar-benar bisa masuk ke dalamnya.”

Ahsan tersenyum.

“Setuju.”

Mereka melanjutkan langkah. Kota tetap sibuk. Lowongan pekerjaan tetap terbatas. Persaingan tetap keras. Tidak semua masalah selesai hari itu.

Tetapi mereka telah belajar satu hal: Kita boleh kecewa pada keadaan tanpa menyerahkan masa depan kepada keadaan.

Pemerintah harus terus ditagih untuk menciptakan pekerjaan yang layak. Perusahaan harus memberi kesempatan yang masuk akal bagi mereka yang belum memiliki pengalaman.

Kampus harus menyiapkan lulusan bukan hanya untuk mendapatkan ijazah, tetapi untuk menghadapi dunia kerja yang nyata.

Dan anak muda? Mereka harus terus bergerak. Menciptakan pekerjaan. Mencari pekerjaan. Belajar. Gagal. Bangkit. Mencoba lagi.

Sebab kadang masa depan tidak datang sebagai sebuah pintu yang terbuka. Kadang ia hanya berupa dinding tinggi.

Dan satu-satunya cara untuk melewatinya adalah terus mencari celah, sambil suatu hari ikut membangun pintu bagi orang-orang yang datang setelah kita.

Achmad Diny Hidayatullah

Penulis:

Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.

Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur'an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat.

© Sepenuhnya. All rights reserved.