Besok Kita Jadi Pergi

Cerpen ini mengisahkan persahabatan tujuh sahabat yang merencanakan perjalanan bersama, hingga sebuah kabar duka mengubah segalanya selamanya.

“Besok kita jadi pergi, kan?”

Pesan Naira muncul di grup kami.

“Jadi,” jawabku. “Kali ini harus jadi.”

Pesan-pesan berikutnya langsung bermunculan. Membicarakan baju, foto studio, jam berangkat, sampai rencana kecil yang sudah lama ingin kami lakukan bersama.

Besok Kita Jadi Pergi

Kami memang sudah lama punya rencana itu. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya. Waktu kelas dua belas dulu, kami pernah ingin pergi ke bioskop. Saat akhir pekan, aku membawa mobil dan menjemput mereka di tempat yang sudah kami sepakati.

Kami sampai di mal, lalu melihat film-film yang sedang tayang. Tidak ada yang benar-benar menarik. Akhirnya kami tidak jadi menonton. Tapi kami tetap masuk ke area bioskop. Kami duduk-duduk, berfoto, bercanda, ada yang pergi ke kamar mandi, lalu kembali lagi. Tidak ada film yang kami tonton hari itu, tetapi kami tetap pulang dengan perasaan senang.

Mungkin karena sejak dulu, berkumpul bersama memang sudah cukup bagi kami. Kami bertujuh memang tidak pernah benar-benar sama. Ada yang pintar dan sering berada di peringkat atas. Ada juga yang kadang lebih mengandalkan teman di sebelah ketika pelajaran terasa sulit.

Di sekolah, kami bisa makan bekal bersama, pergi ke kantin bersama, bahkan salat berjamaah bersama. Rumah kami pun tidak semuanya berdekatan, tetapi entah bagaimana selalu ada cara untuk berkumpul. Kami menjalani semuanya bersama sampai akhirnya hari kelulusan datang. Tahun-tahun setelah itu membuat kami tidak lagi mudah berkumpul.

Kami sudah lulus SMA. Tiga dari kami melanjutkan kuliah, sementara yang lain menjalani jalan masing-masing. Ada yang bekerja, ada yang masih mencari pekerjaan. Jarak juga semakin jauh. Tapi grup kami masih ada. Sesekali ramai, sesekali sepi. Kadang video call, kadang hanya saling membalas pesan. Tidak selalu bertemu, tetapi kami masih tetap dekat.

Sampai akhirnya aku pulang saat liburan kuliah. Rencana bioskop yang dulu tidak jadi itu kembali dibicarakan. Kali ini kami ingin benar-benar menonton.

Aku juga sudah menyiapkan tujuh tas yang sama untuk kami. Kukirim ke rumah salah satu teman agar nanti bisa dibagikan saat kami berkumpul.

Semuanya terasa sederhana. Kami hanya sedang menunggu tanggal satu. Tidak ada yang berpikir bahwa ternyata tidak semua dari kami akan sampai pada hari itu dengan cara yang sama.

***

Tanggal 31 Desember, kabar itu datang.

“Naira masuk rumah sakit.”

Aku membaca pesan itu dan langsung merasa tidak tenang.

Kemarin kami masih membicarakan rencana pergi. Sekarang, kami justru menunggu kabar tentang Naira.

Kami akhirnya sepakat membatalkan rencana tanggal satu.

“Nanti aja. Tunggu Naira dulu.”

Tidak ada yang keberatan. Bioskop bisa ditunda. Kami hanya ingin Naira baik-baik saja.

Grup yang beberapa hari sebelumnya ramai membicarakan baju dan rencana pergi, mendadak berubah menjadi tempat kami saling bertanya.

“Gimana Naira?”

“Udah ada kabar?”

“Dibawa ke rumah sakit mana?”

Satu pesan muncul, lalu pesan lainnya. Tidak ada yang benar-benar tahu harus berkata apa. Kami hanya menunggu.

Aku sempat mencari tiket kereta agar bisa pergi menjenguk Naira, tetapi tidak ada perjalanan yang sesuai karena libur tahun baru.

Aku kembali melihat grup. Tidak ada kabar baru. Aku meletakkan ponsel, lalu mengambilnya lagi beberapa menit kemudian. Masih tidak ada.

Entah kenapa hari itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Aku mencoba menenangkan diri. Mungkin Naira hanya perlu dirawat sebentar. Mungkin nanti malam ada kabar bahwa keadaannya membaik dan kami bisa kembali membicarakan rencana pergi.

Toh, kami hanya membatalkan satu hari. Kami masih punya banyak waktu untuk pergi bersama. Setidaknya, begitulah yang kupikirkan.

Sampai akhirnya aku tertidur di siang hari. Sekitar pukul empat sore, ponselku berdering. Nama Naira muncul di layar.

Aku langsung mengangkatnya.

“Iya?”

Tidak ada suara Naira.

Yang terdengar justru suara ibunya.

“Ini Ibu…”

Aku langsung terdiam.

“Naira sudah nggak ada, Iza.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seolah-olah kalimat itu terlalu berat untuk dipahami dalam sekali dengar.

“Bu…”

Hanya itu yang keluar.

Ibunya meminta aku mengabari teman-teman yang lain. Setelah itu telepon berakhir.

Aku menatap layar ponsel beberapa saat. Nama Naira masih ada di sana. Nomornya masih sama. Padahal beberapa hari sebelumnya, nama itu masih muncul di grup bersama pesan-pesan tentang baju, foto, dan rencana kami. Sekarang, justru dari nomor itu aku mendapat kabar bahwa dia sudah tidak ada.

Aku membuka grup kami. Aku mengetik sebuah pesan.

“Naira sudah nggak ada.”

Setelah pesan itu terkirim, grup kami langsung dipenuhi pertanyaan.

“Apa?”

“Serius?”

“Za, maksudnya?”

Aku ingin sekali salah. Tapi kabar itu benar. Naira benar-benar pergi.

***

Sore itu kami datang ke rumah Naira. Satu per satu kami datang. Begitu melihat kami, ibunya langsung menangis dan memeluk kami semua.

Kami tidak tahu harus berkata apa. Kami hanya menangis. Kemudian ibunya berkata,

“Padahal kalian besok mau pergi, kan…”

Kami terdiam. Lalu ibunya bercerita,

“Naira sudah bilang sama Ibu, ‘Mak, aku pergi ya sama orang Iza.’”

Aku menunduk. Besok. Tanggal satu. Hari yang sejak beberapa hari lalu kami tunggu-tunggu. Hari yang seharusnya kami isi dengan tertawa, pergi bersama, mengambil foto, dan akhirnya menonton bioskop setelah sekian lama tidak bertemu. Tapi malam itu, kami justru duduk di rumah Naira. Bukan untuk membuat rencana. Bukan untuk menentukan jam berangkat. Melainkan untuk menerima kenyataan bahwa Naira tidak akan pernah ikut dalam rencana-rencana kami lagi.

Malam itu kami mendengar cerita tentang Naira dari ibunya. Tentang keinginannya untuk bekerja, tentang keinginannya membahagiakan orang tua dan adik-adiknya, tentang bagaimana ia tidak ingin menjadi beban bagi keluarganya.

Kami berenam hanya duduk dan mendengarkan. Tidak ada yang sibuk memotong cerita. Tidak ada yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Untuk pertama kalinya, satu orang punya begitu banyak cerita tentang Naira, sementara enam orang lainnya hanya bisa mendengarkan.

Dan semakin lama ibunya bercerita, semakin kami sadar bahwa ternyata masih begitu banyak hal tentang Naira yang belum kami ketahui. Tentang rencana-rencana kecilnya. Tentang keinginannya untuk bekerja. Tentang keluarganya yang begitu ia pikirkan.

Aku hanya diam mendengarkan. Naira yang kami kenal memang baik. Dia pintar. Dia selalu masuk peringkat atas. Dia juga tidak banyak menuntut. Dan sekarang, begitu banyak keinginan yang pernah ia ceritakan hanya bisa kami dengarkan sebagai sesuatu yang tidak sempat ia selesaikan.

Malam semakin larut. Kami tetap bersama. Mungkin karena tidak ada satu pun dari kami yang siap pulang dan kembali menghadapi kenyataan bahwa besok pagi kami akan bangun tanpa Naira.

***

Tanggal satu datang. Tanggal yang seharusnya menjadi hari kami pergi bersama. Tetapi pagi itu, kami kembali ke rumah Naira. Kami menemani sampai perjalanan terakhirnya.

Aku ingin mengatakan banyak hal. Maaf karena belum sempat membawanya pergi. Maaf karena rencana sederhana itu tidak pernah sampai kami lakukan bersamanya. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari hidup kami. Tapi tidak semua hal harus diucapkan untuk bisa menjadi doa.

Jadi hari itu aku hanya mendoakannya. Semoga Allah menerima semua kebaikannya. Semoga Allah menempatkannya di tempat terbaik. Dan semoga semua yang pernah ia inginkan untuk keluarganya menjadi kebaikan yang terus mengalir untuk mereka.

***

Beberapa waktu kemudian, kami berenam akhirnya pergi ke bioskop. Kali ini kami benar-benar menonton. Tidak seperti dulu. Filmnya ada. Kami punya waktu. Tidak ada alasan untuk membatalkan. Kami masuk, duduk bersama, menonton, lalu berfoto. Sesekali kami masih tertawa seperti dulu. Tapi rasanya berbeda. Karena setiap kali kami melihat sesuatu yang lucu, ada satu orang yang biasanya ingin kami lihat reaksinya.

Setelah dari bioskop, kami pergi ke rumah Naira. Kami bertemu ibunya. Kami bercerita bahwa akhirnya kami jadi pergi. Ibu Naira tersenyum mendengarnya.

Aku menyerahkan tas yang dulu kami siapkan untuk Naira.

“Ini buat Naira, Bu.”

Ibunya menerimanya.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Dulu kami menyiapkan tas itu karena ingin memberikannya langsung kepada Naira. Sekarang, tas itu hanya bisa kami titipkan kepada ibunya.

Sebelum pulang, kami duduk sebentar. Tidak banyak yang dibicarakan. Mungkin karena kami semua sedang mengingat hal yang sama. Tentang seorang teman yang seharusnya ada bersama kami hari itu. Tentang pesan yang dulu terasa begitu biasa.

“Besok kita jadi pergi, kan?”

Aku masih bisa membayangkan Naira menanyakannya.

Dulu aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, aku akan membaca pesan itu dengan perasaan yang berbeda. Besok yang ia maksud akhirnya datang. Kami benar-benar pergi. Hanya saja, Naira tidak sampai ke sana. Dan mungkin, itulah yang paling sulit dari kehilangan seseorang. Bukan hanya karena kita tidak bisa melihatnya lagi. Tetapi karena dunia tetap berjalan.

Kami masih bisa berkumpul. Masih bisa tertawa. Masih bisa pergi ke tempat yang dulu kami rencanakan. Hanya saja, di tengah semua itu, ada satu orang yang tidak akan pernah bisa kami tunggu lagi.

Dulu kami pernah tidak jadi menonton bioskop karena tidak ada film yang menarik. Kami tetap pulang dengan bahagia karena kami masih bertujuh.

Sekarang, filmnya ada. Waktunya ada. Kami berenam akhirnya benar-benar menonton. Tapi untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa lengkap bukan tentang berapa orang yang duduk bersama kita.

Kadang, kita baru tahu arti lengkap setelah seseorang tidak lagi ada di sana. Dan mungkin, suatu hari nanti kami akan bisa pergi tanpa menangis. Bisa menyebut nama Naira tanpa merasa sesak. Bisa melihat foto kami bertujuh dan tersenyum seperti dulu.

Tapi untuk sekarang, biarlah rasa rindu itu tetap ada. Karena Naira mungkin sudah tidak bisa ikut dalam perjalanan kami lagi.

Namun setiap kali kami pergi bersama, akan selalu ada sedikit bagian dari perjalanan itu yang mengingatkan kami pada seseorang yang dulu pernah berjalan bersama kami. Seseorang yang pernah bertanya,

“Besok kita jadi pergi, kan?”

Dan akhirnya kami memang jadi pergi.

Hanya saja, kali ini kami harus belajar menerima bahwa ada satu orang yang akan selalu kami tunggu, meskipun kami tahu dia tidak akan pernah datang.

Penulis:

Muthia Hafidzah Syahzanan Matondang, biasa disapa Fiza, merupakan mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia berasal dari Sumatera Utara. Ia memiliki minat pada bidang bahasa, sastra, penulisan, dan desain. Di luar kegiatan perkuliahan, Fiza senang mencoba berbagai hal kreatif, terutama menulis dan membuat karya visual. Saat ini, ia terus belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang yang diminatinya.

© Sepenuhnya. All rights reserved.