Sudah lama aku dan Nabila tidak benar-benar bertemu. Kami masih saling berkirim pesan sesekali. Kadang bertanya kabar, kadang membalas cerita, kadang hanya mengirim sesuatu yang menurut kami lucu. Tidak ada masalah di antara kami. Tidak pernah ada pertengkaran yang membuat kami berhenti berteman.
Hanya saja, entah sejak kapan, jarak itu tumbuh dengan sendirinya. Dulu, kami tidak perlu membuat janji untuk bisa bertemu. Ada saja alasan untuk bersama. Pulang sekolah, pergi ke tahfiz, membeli sesuatu, atau sekadar duduk dan bercerita tentang hal-hal kecil yang mungkin besok sudah kami lupakan.
Sampai akhirnya, pada suatu masa libur kuliah, kami sepakat untuk bertemu. Bukan untuk membicarakan sesuatu yang penting. Hanya ingin bertemu. Mungkin karena sudah terlalu lama, aku pikir kami akan kembali bercerita seperti dulu.
Beberapa menit setelah aku sampai di kafe, Nabila akhirnya datang. Dari kejauhan, aku masih mengenali senyumnya. Senyum yang dulu selalu membuatku tahu bahwa setelah ini akan ada banyak cerita.
“Maaf ya, lama nunggu?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Nggak kok.”
Kami duduk berhadapan dan saling tersenyum. Lalu hening. Aneh. Aku menunggu salah satu dari kami memulai percakapan seperti dulu. Tapi tidak ada.
Dulu kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Bahkan perjalanan dari sekolah menuju tahfiz yang hanya sekitar dua puluh menit terasa kurang. Kami bisa bercerita tentang sekolah, keluarga, hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, lalu tertawa sepanjang jalan.
Kami bahkan sering terlambat datang ke tahfiz bersama. Aku masih ingat suatu malam ketika kami pergi untuk kegiatan mabit (malam bina iman dan takwa) di tahfiz. Di perjalanan, sekawanan sapi tiba-tiba berhamburan setelah sebuah mobil membunyikan klakson. Nabila yang mengendarai motor refleks membelokkan setir. Setelah semuanya aman, kami malah tertawa.
Dulu, kejadian sederhana seperti itu bisa menjadi bahan cerita selama berhari-hari. Begitu juga dengan hal-hal kecil lainnya.
Kami pernah menghabiskan perjalanan hanya dengan bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah. Kadang salah satu dari kami mengeluh karena hari itu melelahkan, lalu yang lain mendengarkan. Tidak perlu meminta izin untuk bercerita. Tidak perlu berpikir apakah cerita itu penting atau tidak.
Semuanya mengalir begitu saja. Sekarang, di hadapanku, orang yang sama hanya duduk sambil memainkan sendok di atas meja. Aku memperhatikannya sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Sekarang kuliahnya gimana, Bil?” tanyaku akhirnya.
“Ya, gitu lah, Kak. Kuliah, tugas.”
“Ooh.”
Hening lagi.
Aku mencoba mencari cerita lain, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Dulu, rasanya begitu mudah bagi kami untuk saling bercerita. Sekarang, aku justru sibuk memikirkan harus memulai percakapan dari mana. Mungkin bukan karena kami sudah tidak punya cerita. Mungkin kami hanya sudah terlalu lama menjalani cerita masing-masing.
Semuanya mulai berubah setelah ia keluar dari tahfiz. Setelah itu, kami mulai jarang bertemu. Hari-hari yang dulu hampir selalu mempertemukan kami perlahan berubah. Ia punya kesibukannya, aku juga mulai menjalani kehidupan yang berbeda.
Suatu hari, ia pernah mengatakan bahwa ia merasa sungkan kepadaku karena kami sudah mulai berjarak dan jarang bertemu.
Aku hanya menjawab, “Jangan lupain aku ya. Kalau ada masalah, cerita saja. Aku selalu ada.”
Saat itu aku tidak tahu apakah kalimat sederhana itu bisa membuat kami kembali seperti dulu. Aku hanya ingin ia tahu bahwa bagiku, tidak ada yang berubah tentang bagaimana aku memandangnya.
Aku masih menganggapnya sebagai teman. Teman yang dulu selalu ada dalam perjalanan pulang. Teman yang pernah membuat perjalanan dua puluh menit terasa terlalu singkat. Teman yang dulu bisa bercerita apa saja kepadaku tanpa merasa perlu menyembunyikan sesuatu.
Aku masih ingin menjadi tempatnya bercerita. Namun mungkin, kedekatan tidak selalu bisa dipertahankan hanya karena salah satu dari kita menginginkannya. Aku menatapnya sekali lagi.
Dulu dia memanggilku “Uty”.
Panggilan yang pertama kali ia berikan dan kemudian melekat begitu lama, sampai orang lain pun ikut memanggilku begitu. Aku sudah terbiasa mendengarnya.
“Uty.”
Hanya satu panggilan sederhana. Tapi di dalamnya ada begitu banyak kenangan. Sekarang tidak lagi.
Sekarang aku hanya “Kak”.
Hanya sebuah panggilan. Tapi entah mengapa, perubahan kecil itu membuatku sadar bahwa banyak hal memang telah berubah. Mungkin bagi orang lain, perubahan panggilan bukan sesuatu yang berarti. Tapi bagiku, itu seperti tanda kecil bahwa waktu benar-benar telah membawa kami jauh dari tempat kami dulu berdiri.
Kami masih berteman. Masih sesekali berkirim pesan. Tidak ada pertengkaran di antara kami. Hanya saja, kami tidak lagi seperti dulu. Setelah cukup lama duduk, kami memutuskan untuk pulang.
Di perjalanan, aku memikirkan pertemuan kami tadi. Tentang banyaknya hening yang dulu tidak pernah ada. Tentang percakapan yang terasa harus dicari. Tentang panggilan “Uty” yang kini berubah menjadi “Kak”.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu. Mungkin selama ini aku bukan sedang menunggu Nabila kembali. Aku sedang menunggu kami yang dulu kembali. Padahal, waktu tidak pernah membawa kita ke tempat yang sama dua kali. Kami sudah tumbuh. Kami punya kesibukan masing-masing, menjalani hari dengan cerita yang mungkin tidak lagi saling kami ketahui. Bukan karena kami berhenti peduli.
Mungkin hanya karena hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Dan mungkin, tidak semua yang berubah harus diperbaiki. Ada beberapa hal yang cukup dikenang tanpa harus dipaksa kembali.
Nabila pernah menjadi bagian yang begitu dekat dalam hidupku. Kami pernah tertawa di perjalanan, terlambat datang ke tahfiz, berbagi cerita tentang hal-hal kecil, bahkan menemukan sesuatu untuk ditertawakan dari kejadian yang hampir membuat kami panik. Semua itu pernah menjadi bagian dari kami. Sekarang mungkin kami tidak lagi sedekat itu. Tapi bukan berarti masa itu hilang.
Ia tetap tinggal sebagai salah satu bagian paling hangat dari masa yang pernah kami lewati. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kami akan kembali sedekat dulu. Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak apa-apa dengan kemungkinan itu. Karena ada hubungan yang tidak harus kembali seperti semula untuk tetap berarti.
Pernah ada kami. Dan mungkin, untuk sebuah persahabatan, bukan tentang seberapa lama kita bisa tetap bersama, tetapi tentang bagaimana kita tetap bisa bersyukur karena pernah dipertemukan dan pernah sedekat itu.
Mungkin benar, setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Dan jika suatu hari nanti kami kembali bertemu, aku tidak ingin memaksa semuanya menjadi seperti dulu. Tidak perlu mengembalikan semua cerita. Tidak perlu mengulang semua kebiasaan. Tidak perlu memanggil dengan panggilan yang sama.
Cukup saling tersenyum. Seperti dua orang yang pernah begitu dekat, lalu sama-sama tahu bahwa pernah ada masa ketika kami tidak pernah kehabisan cerita.
Penulis:
Muthia Hafidzah Syahzanan Matondang, biasa disapa Fiza, merupakan mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia berasal dari Sumatera Utara. Ia memiliki minat pada bidang bahasa, sastra, penulisan, dan desain. Di luar kegiatan perkuliahan, Fiza senang mencoba berbagai hal kreatif, terutama menulis dan membuat karya visual. Saat ini, ia terus belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang yang diminatinya.