Hujan turun dengan tenang pada sore yang nyaris tenggelam itu, membasahi kaca-kaca kafe sehingga membuat lampu jalan di luar tampak seperti garis-garis cahaya yang meleleh. Nana duduk di sudut dekat jendela.
Ia datang ke kafe itu hanya untuk menunggu hujan reda. Itu adalah alasan yang cukup masuk akal, meskipun sebenarnya, tanpa hujan pun ia cukup sering menyendiri di dekat jendela itu.
Semua terasa biasa saja, sampai seseorang membuka pintu kafe yang kebetulan ada di dekat tempat duduknya. Nana menoleh. Dan dunia, untuk sesaat, berhenti bergerak.
Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit basah, kemeja hitam, dan wajah yang jauh lebih dewasa daripada yang tersimpan dalam ingatan Nana.
Mata itu—Nana sangat mengenalnya.
"Nabil?"
Laki-laki itu terdiam. Kemudian tersenyum tipis.
"Nana."
Satu nama. Hanya satu nama. Namun nama itu membawa kembali ribuan kenangan yang telah berusaha dikubur Nana selama sepuluh tahun.
Taman sekolah. Bangku panjang di bawah pohon ketapang. Es krim cokelat yang selalu dibelikan Nabil meskipun Nana sebenarnya lebih suka vanila. Dan sebuah janji yang tidak pernah selesai.
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada yang langsung berbicara. Pelayan datang, meletakkan dua cangkir kopi, lalu pergi.
"Sudah lama," kata Nabil akhirnya.
Nana tersenyum. "Sepuluh tahun."
"Aku tahu."
"Kamu menghitung?"
Nabil menatap kopi di hadapannya.
"Setiap tahun."
Kalimat itu membuat dada Nana sesak. Ia memalingkan wajah ke jendela.
Dulu, ketika berusia tujuh belas tahun, Nabil pernah mengatakan bahwa ia akan mencintai Nana sampai ia lupa bagaimana caranya berhenti. Nana percaya. Dan itulah kesalahannya. Atau mungkin justru keberaniannya.
Mereka tumbuh bersama selama tiga tahun terakhir masa-masa sekolah. Nabil adalah orang pertama yang membuat Nana percaya bahwa cinta tidak harus datang dengan mawar atau puisi. Kadang cinta adalah seseorang yang menunggu di gerbang sekolah. Kadang cinta adalah tangan yang diam-diam menggenggam tanganmu ketika rasa takut membuat keputusanmu terasa goyah. Kadang cinta adalah seseorang yang mengingat bahwa kamu tidak suka bawang dalam mi ayam. Dan kadang, cinta adalah seseorang yang berkata, "Aku akan tetap di sini."
"Apa kabarmu?" tanya Nabil.
"Baik."
"Kamu sudah menikah?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun Nana merasa seolah-olah Nabil baru saja membuka pintu menuju ruangan yang selama ini ia kunci.
"Belum."
Nabil mengangguk.
"Kamu?"
"Belum."
Nana menatapnya. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang dulu begitu ia kenal.
"Kenapa?"
Nabil tersenyum samar.
"Pertanyaan yang sama untukmu."
"Aku yang duluan bertanya."
"Karena aku belum menemukan alasan."
Nana menelan ludah.
"Alasan untuk menikah?"
"Alasan untuk berhenti menunggu."
Jantung Nana berdegup keras. Ia ingin bertanya. 'Menunggu siapa?' Tetapi ia takut mendengar jawabannya.
Sepuluh tahun sebelumnya, Nana berdiri di stasiun dengan mata sembap. Nabil akan pergi ke kota lain karena ayahnya mendapatkan pekerjaan baru di luar pulau, dan seluruh keluarga Nabil akan pindah. Namun mereka masih terlalu muda untuk memahami bahwa hidup kadang memisahkan dua orang bukan karena mereka berhenti mencintai, melainkan karena keadaan tidak memberi mereka pilihan lain.
"Aku akan kembali," kata Nabil.
Nana menangis.
"Jangan janji kalau kamu nggak yakin."
"Aku yakin."
"Bagaimana kalau berubah?"
Nabil menggenggam tangannya.
"Kalau aku berubah, aku akan bilang."
Kereta datang. Nabil memeluk Nana begitu erat sampai gadis itu hampir tidak bisa bernapas.
Sebelum naik, Nabil berbisik,
"Tunggu aku."
Nana mengangguk.
Ia menunggu. Satu bulan. Dua bulan. Setengah tahun. Sampai pada suatu hari, seorang teman memberi tahu bahwa Nabil sudah memiliki pacar baru.
Nana tidak percaya. Sampai ia melihat foto itu. Foto Nabil berdiri di samping seorang perempuan. Tersenyum. Bahagia. Sangat bahagia.
Hari itulah, Nana memutuskan untuk berhenti menunggu. Dan selama bertahun-tahun ia membenci Nabil. Namun anehnya, kebencian itu adalah cara paling menyedihkan untuk tetap mencintai seseorang.
"Aku minta maaf."
Suara Nabil menarik Nana kembali ke kafe.
Nana menatapnya.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
"Aku nggak tahu apakah permintaan maaf setelah sepuluh tahun masih ada gunanya."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa minta maaf?"
Nabil menarik napas sedikit lebih panjang.
"Karena aku tidak pernah berhenti menyesal."
Nana tertawa hambar.
"Menyesal tidak mengubah apa pun."
"Aku tahu."
"Jadi jangan bilang kamu masih—"
Nana berhenti.
Nabil menunggu.
"Masih apa?" tanyanya.
Nana menggeleng.
"Tidak ada."
Nabil menatapnya lama.
Kemudian berkata pelan, "Aku tidak pernah punya pacar baru."
Nana membeku.
"Apa?"
"Perempuan dalam foto itu bukan pacarku."
"Jangan."
"Aku tahu kamu melihat foto itu."
"Nabil..."
"Itu sepupuku."
Dunia Nana seolah kehilangan suara.
"Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan?"
"Aku sudah mencobanya, Na."
"Berapa kali?"
"Entahlah."
"Berapa kali, Bil?"
"Puluhan."
Nana mengerutkan kening.
"Aku tidak pernah menerima surat darimu."
"Aku tahu."
"Bagaimana kamu tahu?"
Nabil terdiam. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wajahnya berubah. Ada kesedihan yang begitu dalam di sana.
"Karena ayahmu membalas surat dariku."
Nana mengernyit.
"Ayah?"
Nabil mengangguk.
"Beliau bilang aku harus menjauh darimu."
Nana merasa napasnya berhenti.
"Kenapa?"
"Karena menurutnya, aku akan menghancurkan masa depanmu."
"Omong kosong."
"Aku juga berpikir begitu."
"Jadi kamu menyerah?"
"Aku tidak menyerah."
Nabil menatapnya.
"Aku tetapi mengirim surat setiap minggu."
Nana tidak bisa berkata apa-apa.
"Ayahmu membalas semuanya. Beliau bilang kamu sudah melupakanku. Katanya kamu tidak ingin aku menghubungimu lagi."
Air mata Nana jatuh.
"Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Aku tahu."
"Bagaimana?"
Nabil memasukkan tangan ke dalam tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tua yang berisi salinan surat yang ia tulis dan selalu ada di dalam tas itu. Warnanya sudah menguning. Ia meletakkannya di atas meja.
"Aku menyimpan semuanya."
Nana membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Surat pertama. Surat kedua. Ketiga. Keempat. Puluhan surat. Semua ditulis dengan tulisan tangan Nabil. Semua ditujukan kepadanya.
Tidak pernah sampai.
Nana membaca satu kalimat dari surat paling atas.
Hari ini hujan. Aku ingat kamu selalu takut petir. Kalau aku ada di sana, aku ingin duduk di sampingmu.
Air matanya semakin deras.
Surat berikutnya.
Aku memutuskan untuk lanjut kuliah, Na. Aku ingin memberitahumu lebih dulu, tapi mungkin kamu sudah tidak peduli.
Surat lainnya.
Aku masih menunggumu.
Dan surat terakhir.
Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku tidak akan bertanya mengapa kamu pergi. Aku hanya ingin tahu apakah kamu pernah mencintaiku seperti aku mencintaimu.
Nana menutup surat itu. Dadanya bergetar.
"Ayah meninggal tiga tahun lalu," katanya pelan.
Nabil mengangguk.
"Aku tahu."
"Kamu tahu?"
"Aku datang ke pemakamannya."
Nana menatapnya dengan mata basah.
"Kenapa aku tidak melihatmu?"
"Aku berdiri di kejauhan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin membuat harimu lebih berat."
Nana menundukkan kepala. Tiba-tiba semua kemarahan yang ia pelihara selama sepuluh tahun terasa seperti rumah yang ternyata dibangun di atas tanah kosong.
"Aku membencimu," bisiknya.
"Aku tahu."
"Aku benar-benar membencimu."
"Aku tahu."
"Aku menunggumu."
Nabil menatapnya.
"Aku juga."
"Aku menangis hampir setiap malam."
"Aku juga."
Nana tertawa sambil menangis.
"Kenapa kita sebodoh ini?"
Nabil ikut tersenyum.
"Mungkin karena kita terlalu percaya pada diam."
Kalimat itu menghantam sesuatu di dalam diri Nana. Cinta mereka ternyata tidak mati, tetapi hanya terkubur di antara timbunan kesalahpahaman, kesombongan, dan kalimat-kalimat yang tidak pernah sampai.
Hujan mulai reda. Namun tidak satu pun dari mereka punya keinginan untuk beranjak.
"Kalau waktu bisa diulang," kata Nana, "apa yang akan kamu lakukan?"
Nabil berpikir sejenak.
"Aku akan datang ke rumahmu."
"Walaupun ayah melarang?"
"Ya."
"Kenapa tidak kamu lakukan dulu?"
"Karena aku takut."
Nana menatapnya.
"Takut apa?"
"Takut kehilanganmu."
Nana tersenyum getir.
"Kamu justru kehilangan."
"Aku tahu."
Sunyi kembali menyeruak di atas meja. Kemudian Nabil berkata,
"Na, aku tidak datang ke kota ini untuk mencarimu."
Nana menatapnya.
"Aku datang karena ada urusan pekerjaan."
"Oh."
"Aku akan pergi besok pagi."
Sesuatu di dada Nana runtuh.
"Besok?"
"Ya."
"Ke mana?"
"Melbourne."
Nana diam.
Sepuluh tahun. Mereka baru saja bertemu kembali, dan besok dunia kembali hendak memisahkan mereka.
Namun kali ini berbeda. Kali ini Nana tidak ingin diam.
"Bil."
"Ya?"
"Jangan pergi."
Nabil menatapnya.
Nana menggenggam tangannya.
"Aku tidak tahu apakah kita bisa mengembalikan sepuluh tahun yang hilang."
Nabil diam.
"Tapi aku tidak mau kehilangan sepuluh tahun lagi."
Mata Nabil berkaca-kaca.
"Bagaimana dengan hidupmu?"
"Aku akan mengaturnya."
"Bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Kita cari cara."
"Bagaimana kalau kita gagal?"
Nana tersenyum.
"Setidaknya kali ini kita gagal setelah mencoba."
Nabil tertawa kecil. Kemudian air matanya jatuh.
"Aku mencintaimu, Na."
Sepuluh tahun. Kalimat itu terlambat sepuluh tahun. Namun ketika akhirnya sampai, rasanya seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Nana mengusap air matanya.
"Aku juga."
Di luar, hujan telah berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu kota seperti ribuan kenangan yang berhamburan. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan kafe itu.
Keesokan hari, Nana kembali duduk sendiri di kafe itu, di kursi yang sama, di dekat jendela yang sama. Di atas meja ada sebuah kotak kecil. Nabil belum datang. Sudah tiga puluh menit. Nana tersenyum sendiri.
"Masih suka terlambat," gumamnya.
Pintu kafe terbuka. Seorang pelayan masuk membawa sebuah amplop.
"Untuk Anda, Nona."
Nana mengerutkan kening.
"Dari siapa?"
Pelayan menunjuk ke pintu. Di sana tidak ada siapa-siapa. Nana membuka amplop itu. Hanya ada selembar kertas. Tulisan tangan Nabil.
Ada beberapa hal dalam hidup yang memang harus menunggu. Bukan karena cinta itu lemah, melainkan karena cinta terkadang memerlukan waktu untuk menemukan jalan pulang.
Nana membaca sampai selesai. Lalu tersenyum. Di bagian bawah surat tertulis:
Jangan menungguku di kafe. Datanglah ke stasiun.
Jantung Nana berdebar. Ia berlari keluar. Stasiun itu ramai. Nana berdiri di antara manusia yang berlalu-lalang, memandang setiap wajah dengan harapan yang nyaris membuatnya takut.
Lalu seseorang memeluknya dari belakang.
"Na."
Ia mengenal suara itu. Ia berbalik. Nabil berdiri di sana. Namun kali ini ia tidak membawa koper. Ia membawa sebuah kotak kecil.
"Aku batal kembali ke Melbourne," katanya.
"Kenapa?"
"Aku mendapat pekerjaan di sini."
Nana menatapnya tidak percaya.
"Serius?"
Nabil mengangguk.
"Lalu kenapa tidak bilang?"
"Karena aku ingin memberikan sesuatu."
Ia membuka kotak itu. Sebuah cincin sederhana. Tidak mewah. Tidak berkilauan. Namun bagi Nana, benda itu terasa lebih berharga daripada sepuluh tahun yang ia habiskan dengan kehilangan.
Nabil menggenggam tangannya.
"Aku pernah memintamu menunggu."
Nana tersenyum sambil menangis.
"Dan aku pernah menunggumu."
"Kali ini," kata Nabil, "aku tidak ingin kamu menunggu."
Ia berlutut.
"Aku ingin berjalan bersamamu."
Nana menutup mulutnya, menahan tangis.
"Menikahlah denganku."
Kereta melintas di belakang mereka, mengeluarkan suara panjang yang memenuhi udara.
Nana mengangguk.
"Iya."
Nabil tersenyum. Mereka berpelukan. Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, Nana merasa bahwa waktu bukanlah sesuatu yang telah merampas hidupnya. Waktu ternyata hanya sedang mengajarinya satu hal:
Bahwa cinta yang benar-benar tinggal di hati tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk bertahan. Tetapi pada akhirnya, cinta tetap membutuhkan keberanian untuk menemukan kata-kata. Karena meskipun ada perasaan yang bisa bertahan dalam diam. Namun tidak seharusnya ia hidup selamanya di sana.
Dan hari itu, di tengah riuh stasiun dan gemertak langkah orang-orang yang jauh dari rumah, Nana dan Nabil akhirnya menemukan jalan pulang. Bukan ke masa lalu. Melainkan kepada masa depan yang dulu mereka kira telah hilang.
Sepuluh tahun terlambat. Namun tepat pada waktunya.