Fariz tidak pernah menyangka bahwa sebuah hujan sore akan membawanya kembali pada seseorang yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam kenangan. Ia baru saja keluar dari sebuah toko buku kecil di pusat kota ketika langit mendadak menumpahkan hujan deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Fariz ikut menepi ke bawah kanopi sebuah kafe.
Saat sedang sibuk merapikan tasnya, matanya menangkap sosok yang terasa begitu akrab. Seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya, memegang payung yang tertutup. Rambut panjangnya sedikit basah. Ia tampak sedang menatap jalan dengan senyum tipis.
Fariz membeku.
"Syifa?"
Perempuan itu menoleh. Untuk sesaat, keduanya hanya saling memandang. Lalu mata Syifa membesar.
"Fariz?"
Nama itu terdengar sama seperti belasan tahun lalu, ketika mereka masih berlari-larian di jalan kampung sepulang sekolah. Mereka tertawa hampir bersamaan.
"Ya ampun, aku sampai nggak percaya," kata Syifa.
"Aku juga."
Mereka akhirnya masuk ke kafe untuk menghindari hujan yang semakin deras. Di meja dekat jendela, percakapan yang awalnya canggung perlahan mengalir begitu saja.
Mereka berbicara tentang pekerjaan, keluarga, dan kota-kota yang pernah mereka tinggali. Fariz mengetahui bahwa Syifa kini bekerja sebagai arsitek. Sementara Syifa mendengar cerita tentang kehidupan Fariz sebagai editor penerbitan.
Namun di balik semua cerita itu, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar hilang. Kenangan. Mereka pernah menjadi sahabat yang tidak terpisahkan. Setiap sore bermain sepeda bersama. Belajar menjelang ujian di rumah Syifa. Bertukar buku cerita. Bahkan pernah berjanji akan tetap berteman selamanya.
Lalu kehidupan bergerak terlalu cepat. Keluarga Syifa pindah ke kota lain ketika mereka berusia empat belas tahun.
Awalnya mereka masih sering berkirim pesan dan surat. Kemudian kesibukan sekolah datang. Kuliah menyusul. Pekerjaan mengambil alih. Dan tanpa mereka sadari, komunikasi itu perlahan menghilang.
"Ternyata kita sudah hampir lima belas tahun nggak ketemu," kata Syifa sambil menatap hujan di luar.
Fariz mengangguk.
"Aneh ya. Rasanya lama sekali, tapi sekarang ngobrol sama kamu tetap terasa gampang."
Syifa tersenyum.
"Aku juga merasakannya."
Ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Seolah waktu memang telah berlalu, tetapi tidak berhasil menghapus semua hal yang pernah mereka bangun bersama.
***
Setelah pertemuan itu, mereka mulai sering berkomunikasi. Awalnya hanya saling mengirim pesan. Kemudian makan siang bersama. Sesekali menghadiri acara buku atau pameran seni.
Fariz menikmati setiap percakapan mereka. Syifa selalu menjadi pendengar yang baik. Sementara Syifa merasa nyaman karena Fariz tidak pernah memaksanya menjadi orang lain.
Meski demikian, keduanya sama-sama berhati-hati. Mereka bukan lagi remaja yang mudah terbawa perasaan. Mereka telah mengalami kegagalan, kehilangan, dan berbagai kekecewaan dalam hidup. Karena itu, tak ada yang terburu-buru memberi nama pada hubungan mereka. Namun perasaan sering tumbuh diam-diam. Seperti hujan yang perlahan memenuhi tanah kering.
Fariz menyadarinya suatu malam ketika ia menerima pesan dari Syifa setelah hari yang sangat melelahkan.
"Terima kasih sudah mendengarkan keluhanku hari ini."
Pesan sederhana itu membuatnya tersenyum selama beberapa menit.
Sementara Syifa mulai menyadari sesuatu ketika ia tanpa sadar selalu ingin menjadi orang pertama yang berbagi kabar baik kepada Fariz.
Mereka saling berarti lebih dari yang ingin mereka akui.
***
Beberapa bulan kemudian, mereka berjalan di sebuah taman kota pada akhir pekan. Langit sore berwarna keemasan. Angin berembus lembut di antara pepohonan.
Mereka duduk di bangku kayu sambil menikmati suasana. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Fariz menatap jalan setapak di depan mereka. Lalu menarik napas panjang.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan."
Syifa menoleh. Nada suara Fariz terdengar berbeda. Lebih serius.
"Aku takut kalau mengatakannya akan mengubah banyak hal."
Syifa tersenyum kecil.
"Aku dengarkan."
Fariz terdiam sejenak.
"Kamu selalu menjadi orang yang penting buat aku. Dulu, sekarang, dan mungkin nanti."
Jantung Syifa berdegup lebih cepat.
"Aku nggak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Aku juga nggak ingin merusak persahabatan yang sudah kita punya."
Ia menatap Syifa dengan jujur.
"Tapi aku merasa bahagia setiap kali bersamamu. Dan aku ingin melihat apakah hubungan ini bisa menjadi sesuatu yang lebih."
Syifa tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu. Melainkan karena ia ingin merasakan setiap detik dari momen itu.
Akhirnya ia tertawa pelan.
"Kamu tahu?"
"Hm?"
"Aku sempat berharap kamu yang mengatakannya lebih dulu."
Fariz memandangnya, tidak yakin apakah ia mendengar dengan benar.
Syifa melanjutkan.
"Aku juga merasakan hal yang sama."
Keheningan yang muncul setelahnya terasa hangat. Tidak dramatis. Tidak seperti adegan film romantis. Hanya dua orang yang telah mengenal satu sama lain selama sebagian besar hidup mereka. Dua sahabat yang akhirnya jujur tentang perasaan masing-masing.
Fariz tersenyum lega. Senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
"Jadi?"
Syifa mengangkat bahu.
"Jadi kita jalan pelan-pelan saja."
"Pelan-pelan?"
"Iya. Kita sudah kehilangan lima belas tahun. Aku nggak mau terburu-buru merusak sesuatu yang berharga."
Fariz mengangguk.
"Itu terdengar masuk akal."
Mereka saling menatap lalu tertawa. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Masa depan mereka masih penuh ketidakpastian. Tidak ada janji berlebihan. Tidak ada keyakinan bahwa semuanya akan selalu mudah. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berjalan ke arah yang sama.
Dan bagi Fariz maupun Syifa, itu sudah lebih dari cukup. Karena terkadang kisah cinta terbaik bukanlah yang dimulai dengan sempurna, melainkan yang tumbuh dari persahabatan yang berhasil bertahan melawan waktu.