Hujan turun sejak sore, membasahi jalanan kota dengan suara gemericik yang menenangkan sekaligus menyedihkan. Dari balik jendela apartemennya yang kecil, Lisa memandang lampu-lampu kendaraan yang berkilauan di antara genangan air. Tangannya memegang secangkir teh hangat yang sudah lama dingin.
Di layar ponselnya masih terpampang satu nama yang sudah tiga bulan tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya. Dika. Mantan kekasihnya. Mereka telah berpisah. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada orang ketiga. Yang ada hanya dua orang yang saling mencintai tetapi berjalan ke arah yang berbeda. Namun, anehnya, rasa sayang itu belum pergi.
Lisa menghela napas panjang lalu mematikan layar ponselnya.
“Kenapa susah sekali melupakan seseorang yang sebenarnya tidak pernah menyakitimu?” gumamnya pelan.
Pertanyaan itu sudah berulang kali ia tanyakan pada dirinya sendiri, tetapi belum pernah menemukan jawaban yang memuaskan.
***
Tiga bulan sebelumnya.
“Aku dapat kesempatan kerja di Singapura.”
Kalimat itu masih teringat jelas di kepala Lisa.
Malam itu mereka duduk di sebuah kafe kecil yang menjadi tempat favorit mereka sejak kuliah. Dika tampak gugup. Lisa tersenyum.
“Serius? Itu kabar bagus, kan?”
“Iya.”
“Lalu kenapa wajahmu seperti orang habis kehilangan dompet?”
Dika tertawa kecil, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Karena aku harus berangkat bulan depan.”
Senyum Lisa perlahan memudar.
“Oh.”
Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.
Mereka sama-sama tahu apa arti kabar itu. Hubungan jarak jauh bukan sesuatu yang mereka inginkan.
Lisa baru saja mendapatkan posisi penting di perusahaan tempatnya bekerja. Ia tidak mungkin meninggalkan semuanya. Di sisi lain, kesempatan yang didapat Dika adalah impian yang selama ini diperjuangkannya.
Tidak ada yang salah. Namun tetap terasa menyakitkan.
“Lis,” kata Dika lirih, “aku tidak mau menahanmu.”
Lisa menatap meja.
“Aku juga tidak mau menahanmu.”
Malam itu mereka berbicara selama berjam-jam. Membahas berbagai kemungkinan. Mencari solusi. Mencari celah. Tetapi semakin lama mereka berbicara, semakin jelas bahwa kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Seminggu kemudian mereka sepakat mengakhiri hubungan. Tidak dengan air mata berlebihan. Tidak dengan saling menyalahkan. Mereka berpelukan cukup lama. Lalu melepaskan. Namun ternyata melepaskan secara fisik jauh lebih mudah daripada melepaskan di hati.
***
Tiga bulan berlalu. Lisa tetap bekerja. Tersenyum di kantor. Mengobrol dengan teman-temannya. Menghadiri rapat. Menonton film. Pergi ke pusat perbelanjaan. Melakukan semua hal yang biasa dilakukan manusia. Tetapi ada ruang kosong yang selalu ikut ke mana pun ia pergi.
Suatu malam, sahabatnya, Maya, mengajaknya makan malam.
“Kamu masih mikirin dia, ya?” tanya Maya.
Lisa memainkan sedotan minumannya.
“Kelihatan banget?”
“Banget.”
Lisa tertawa hambar.
“Aku capek sebenarnya.”
“Capek karena masih sayang?”
Lisa mengangguk.
“Kalau dia jahat mungkin lebih gampang.”
“Karena kamu bisa marah.”
“Nah itu.”
Maya tersenyum kecil.
“Tapi dia bukan orang jahat.”
“Justru itu masalahnya.”
Mereka terdiam beberapa saat.
“Aku takut,” lanjut Lisa.
“Takut apa?”
“Takut tidak bisa mencintai orang lain lagi.”
Maya menggeleng.
“Bukan begitu cara kerja hati.”
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin.”
Lisa menatap sahabatnya.
“Lalu kenapa sampai sekarang masih sakit?”
Maya tersenyum lembut.
“Karena move on bukan berarti berhenti menyayangi seseorang dalam semalam.”
Lisa terdiam.
Kalimat itu terasa menenangkan.
“Lalu?”
“Move on adalah menerima bahwa rasa sayang itu ada, tetapi tidak lagi mengendalikan hidupmu.”
***
Malam itu Lisa pulang dengan pikiran yang penuh. Untuk pertama kalinya ia tidak memaksa dirinya melupakan Dika.
Selama ini ia selalu berusaha menghapus semua kenangan. Menghindari lagu tertentu. Menghindari tempat tertentu. Menghindari pembicaraan tentangnya. Namun semakin ia menghindar, semakin kuat kenangan itu mengejarnya.
Mungkin Maya benar. Mungkin ia tidak perlu membenci masa lalu. Ia hanya perlu berdamai dengannya.
***
Beberapa minggu kemudian, Lisa memutuskan melakukan sesuatu yang sudah lama ia tunda. Ia membuka kembali kotak kenangan yang disimpannya di lemari. Di dalamnya ada foto-foto lama. Tiket bioskop. Surat kecil. Dan berbagai benda sederhana yang pernah berarti besar.
Jantungnya berdebar. Namun kali ini ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum. Ada foto ketika mereka kehujanan sepulang kuliah. Ada foto saat mereka tersesat ketika liburan. Ada foto ketika mereka tertawa sampai wajah mereka terlihat aneh. Kenangan itu masih indah. Dan tidak apa-apa jika tetap indah.
“Terima kasih,” bisiknya.
Bukan kepada benda-benda itu. Tetapi kepada masa lalu.
***
Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Bukan karena rasa sayangnya hilang. Melainkan karena rasa sakitnya mulai berkurang. Lisa mulai mencoba hal-hal baru. Ia mengikuti kelas melukis. Bergabung dengan komunitas lari. Membaca buku yang selama ini hanya menumpuk di rak. Ia mulai menemukan bagian-bagian dirinya yang dulu terlupakan.
Suatu pagi Minggu, setelah menyelesaikan lari lima kilometer, Lisa duduk di taman kota. Wajahnya memerah karena lelah. Saat itulah seseorang duduk di bangku sebelah.
“Kalau duduk di sini tidak keberatan, kan?”
Lisa menoleh.
Seorang pria tersenyum ramah.
“Silakan.”
“Terima kasih.”
Pria itu mengenalkan dirinya.
“Namaku Aditya.”
“Lisa.”
Mereka mengobrol sebentar. Tentang cuaca. Tentang olahraga. Tentang pekerjaan. Percakapan yang sederhana. Tetapi terasa menyenangkan.
Saat pulang, Lisa tersadar bahwa selama satu jam penuh ia tidak memikirkan Dika. Dan itu adalah kemajuan besar.
***
Waktu terus berjalan. Lisa dan Aditya beberapa kali bertemu di komunitas lari. Mereka mulai berteman.
Aditya adalah tipe orang yang mudah membuat orang lain nyaman. Ia tidak banyak bicara tentang dirinya sendiri. Tetapi selalu mendengarkan dengan tulus.
Suatu sore mereka duduk di sebuah kedai kopi.
“Aku boleh tanya sesuatu?” kata Aditya.
“Tanya saja.”
“Kamu pernah patah hati, ya?”
Lisa hampir tersedak.
“Kelihatan banget?”
“Sedikit.”
Lisa tertawa.
“Mantan analis kriminal rupanya.”
Aditya ikut tertawa.
“Bukan. Aku cuma melihat ada kesedihan yang belum sepenuhnya pergi.”
Untuk beberapa saat Lisa terdiam.
Lalu ia mengangguk.
“Iya.”
“Masih sayang?”
“Iya.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Aditya tidak terlihat terkejut.
“Dan itu tidak apa-apa.”
Lisa menatapnya.
“Kamu tidak menganggap itu aneh?”
“Kenapa harus aneh?”
“Karena hubungan itu sudah selesai.”
Aditya tersenyum.
“Perasaan tidak punya tombol on-off.”
Kalimat itu membuat Lisa tertawa.
“Benar juga.”
“Yang penting bukan apakah kamu masih sayang atau tidak.”
“Lalu?”
“Apakah kamu masih hidup untuk masa lalu atau sudah mulai hidup untuk dirimu sendiri.”
Lisa terdiam cukup lama. Kemudian tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar mengerti.
***
Malam itu, ketika pulang ke rumah, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Pesan dari Dika. Jantung Lisa langsung berdegup kencang. Sudah berbulan-bulan mereka tidak berkomunikasi.
Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.
"Hai, Lis. Aku cuma ingin bilang terima kasih untuk semua yang pernah kita jalani. Aku harap kamu bahagia."
Sederhana. Tidak lebih. Tidak kurang.
Lisa menatap layar cukup lama. Dulu pesan seperti itu mungkin akan membuatnya menangis semalaman. Namun malam ini berbeda. Ia tersenyum. Lalu membalas.
"Hai, Dik. Terima kasih juga. Aku harap kamu bahagia dan sukses di sana."
Setelah menekan tombol kirim, Lisa memejamkan mata. Tidak ada rasa hancur. Tidak ada sesak. Hanya ketenangan. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa benar-benar selesai.
***
Beberapa bulan kemudian. Musim hujan kembali datang. Hampir setahun sejak perpisahan itu. Lisa berjalan menyusuri taman kota sambil membawa payung. Di kejauhan, ia melihat Aditya melambaikan tangan.
“Maaf telat!” seru Aditya.
“Kamu telat dua belas menit.”
“Aku hitung sebagai sepuluh.”
“Tidak bisa.”
Mereka tertawa bersama.
Hubungan mereka tumbuh perlahan. Tanpa paksaan. Tanpa terburu-buru. Dimulai dari persahabatan. Lalu kepercayaan. Lalu rasa nyaman. Dan akhirnya sesuatu yang lebih dalam.
Mereka berjalan berdampingan di bawah rintik hujan.
“Lisa,” kata Aditya.
“Hm?”
“Aku mau bilang sesuatu.”
Lisa menatapnya.
“Apa?”
“Aku senang bertemu kamu.”
Lisa tersenyum.
“Aku juga.”
“Dan aku berharap bisa terus berjalan bersamamu.”
Jantung Lisa berdebar. Bukan karena kesedihan. Bukan karena kehilangan. Tetapi karena harapan. Ia memandang langit yang mendung. Setahun lalu, hujan terasa seperti teman bagi kesedihannya. Hari ini, hujan terasa seperti awal yang baru.
“Aku juga berharap begitu,” jawabnya.
Aditya tersenyum lebar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lisa merasa hatinya benar-benar ringan. Ia akhirnya memahami sesuatu yang dulu sulit diterima. Move on bukan berarti melupakan seseorang yang pernah dicintai. Bukan berarti menghapus kenangan. Bukan berarti berpura-pura bahwa semuanya tidak pernah terjadi. Move on adalah membawa kenangan itu dengan damai. Menyimpan rasa terima kasih atas masa lalu. Lalu tetap melangkah menuju masa depan.
Dika akan selalu menjadi bagian dari cerita hidupnya. Tetapi bukan lagi seluruh ceritanya. Kini ada halaman-halaman baru yang menunggu untuk ditulis. Dan untuk pertama kalinya, Lisa tidak takut membukanya.
Di bawah hujan yang turun perlahan, ia berjalan bersama Aditya menuju masa depan yang belum ia ketahui. Namun kali ini, ia melangkah dengan senyum. Karena hatinya tidak lagi terjebak di masa lalu. Karena ia sudah belajar melepaskan tanpa harus membenci.
Dan karena akhirnya ia menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari. Bukan pada orang lain. Melainkan pada dirinya sendiri.