Aku sebuah Buku

Cerpen ini menghadirkan sudut pandang unik dari sebuah novel yang mengalami rasa harap, iri, dan kehilangan saat hadir buku-buku baru.

Oleh Wulan Darma Putri

Aku adalah buku novel yang diberi judul “Hello Cello”, cetakan kedua dari penulis dengan nama pena ijoscript, sampulku berwarna biru, sederhana, tidak terlalu mencolok dibanding buku lain, serta memiliki dua latar, kini aku ada di gudang, cukup luas dan penuh dengan tumpukan buku, aku berada di antara banyak buku yang sama sepertiku, barangkali mereka kembar denganku. Kami ditumpuk rapi pada sebuah ruangan yang tidak ramai orang, hanya sesekali ada pekerja yang datang, memindahkan kardus, atau mengecek jumlah buku.

Cerpen Aku sebuah Buku

Setelah beberapa waktu, aku dibungkus plastik yang ketat, rasanya seperti dilapisi sesuatu yang membuatku terlihat lebih rapi, tapi juga terasa tertutup. Aku dimasukkan ke dalam sebuah kardus bersama buku-buku lain yang sama, kami disusun rapat di dalamnya, perjalanan di dalam kardus terasa lama, meskipun aku tidak tahu berapa lama sebenarnya, yang jelas, suasananya gelap dan sempit, sampai akhirnya kardus itu dibuka.

Cahaya masuk dan aku dipindahkan keluar, untuk pertama kalinya aku melihat tempat baru, aku diletakkan di sebuah rak bersama buku-buku lain yang judulnya berbeda denganku. Dari suasana sekitar, terlihat ramai orang, lampu terang, dan banyak toko lain di luar. Hari pertama di rak, aku merasa cukup berharap, banyak orang lewat, melihat-lihat buku di sekitar rakku, bahkan ada yang memegang beberapa buku di dekatku, tapi tidak ada yang mengambilku.

Hari kedua dan ketiga, keadaannya masih sama, orang-orang lebih tertarik dengan buku di sebelahku, buku itu sering diambil, dibolak-balik, lalu dibawa ke kasir, aku sempat mendengar mereka bilang buku itu sedang tren dan ceritanya menarik, sedangkan aku hanya tetap di tempatku. Hari keempat dan kelima juga tidak jauh berbeda, belum ada yang membeliku, kadang ada yang melihat ke arahku, tapi tidak sampai mengambil.

Sampai akhirnya pada suatu hari, seseorang datang dan mengambilku, ia juga mengambil satu buku lain, aku dipegang, diperhatikan, lalu dibandingkan dengan buku di tangan sebelahnya. Beberapa saat ia menimbang pilihannya, akhirnya, ia memilihku, aku dibawa ke kasir, lalu dibayar, setelah itu aku dimasukkan ke dalam tas belanja. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar dipilih.

Kini aku berada di dalam mobil, tas belanja dan plastik yang membungkusku langsung dibuka, udara luar kembali terasa, ia membuka halaman pertamaku dan mulai membaca, ia membaca tiga halaman pertama, setelah itu aku ditutup, selama tiga hari berikutnya, aku tidak disentuh sama sekali, aku hanya diletakkan begitu saja, aku sempat berpikir mungkin aku tidak cukup menarik untuk dilanjutkan.

Namun di hari keempat, ia kembali membuka aku, kali ini ia membaca lebih lama, halaman demi halaman dibuka dan dibaca, sejak saat itu, ia mulai sering membacaku, tidak hanya sekali, tapi berulang-ulang, ada beberapa bagian yang ia baca lebih dari satu kali, aku juga mulai diberi tanda dengan sticky notes kecil yang ditempel di beberapa halaman, itu membuatku merasa diperhatikan.

Aku mulai merasa bahwa aku penting baginya, saat hari-hari dibaca, aku disusun rapi di atas meja belajar yang berdampingan dengan laptop, namun beberapa waktu kemudian, aku dipindahkan ke posisi semula, aku ditumpuk bersama beberapa buku lain di rak. Di antara tumpukan itu, ada buku baru, buku itu masih dibungkus plastik, terlihat baru dan bersih, tetapi selama tiga hari, buku baru itu tidak disentuh.

Ia justru tetap membaca aku, aku merasa masih menjadi pilihan utama. Setelah itu, ia mulai membuka buku baru tersebut dengan perlahan, aku melihat wajahnya lebih berseri saat membaca buku itu dibandingkan aku. Aku mulai jarang dibuka, keadaan semakin berubah ketika ia membeli dua buku lagi, rak tempat kami disimpan menjadi semakin penuh, aku semakin jarang disentuh dibanding sebelumnya.

Padahal aku pernah mendengarnya mengatakan bahwa aku adalah buku terbaik yang pernah ia baca, ia bahkan mengganti nama hotspot di ponselnya menggunakan nama tokoh utama dalam ceritaku, hal-hal itu masih kuingat. Tetapi meski begitu, aku tetap tidak dibaca lagi, hari demi hari berlalu, aku lebih sering dibiarkan di rak, kadang tertutup buku lain, kadang berdebu lalu dibersihkan asal.

Aku tidak lagi menjadi buku yang sering dibuka, beberapa bulan kemudian, datang buku baru lagi, warnanya pink tua, terlihat tipis dan memiliki sampul keras serta tebal. Dari judulnya, aku tahu buku itu masih berhubungan denganku, judulnya “Hello (Again), Cello”, mungkin adikku, dibandingkan denganku, tampilannya lebih menarik.

Saat buku itu datang ia mulai kembali membaca aku, setelah itu, ia juga membaca buku baru tersebut, ia membaca kami secara bergantian, aku merasa senang karena kembali dibaca, tapi di saat yang sama aku juga merasa sedikit iri, buku baru itu terlihat lebih menarik dari segi tampilan, sekarang kami selalu diletakkan berdampingan di rak.

Adikku masih terlihat bersih tanpa tanda apa pun, aku tidak lagi sering dibaca seperti dulu, tapi aku tahu aku pernah menjadi buku yang sangat berarti, dan itu cukup membuatku merasa masih punya tempat.

Wulan Darma Putri

Biodata Penulis:

Wulan Darma Putri, perempuan kelahiran Padang, 14 Februari 2006. Penulis merupakan seorang mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas yang kini bergiat aktif dalam UKM Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas. Dapat disapa lebih lanjut di akun Instagramnya @wulandarmaaa_

© Sepenuhnya. All rights reserved.