Menjaga Bumi

Cerpen ini mengisahkan seorang pria yang terus kembali ke tempat masa kecilnya. Apa yang sebenarnya ia cari di antara arus sungai yang tak berhenti?

Setiap orang memiliki tempat yang diam-diam menyimpan dirinya. Bagi Yusri, tempat itu adalah tepi sungai di ujung kampung, tempat air mengalir perlahan di antara batu-batu tua dan akar pohon yang menggenggam tanah seperti tangan seorang ibu yang tak pernah rela melepaskan anaknya.

Pagi Berkabut di Tepi Sungai

Bertahun-tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan desa itu. Kota telah mengubah banyak hal dalam hidupnya. Rambutnya mulai dipenuhi helaian perak. Langkahnya tak lagi ringan seperti dulu. Namun ada satu kebiasaan yang tak pernah benar-benar hilang: setiap kali hidup terasa terlalu ramai, ia selalu kembali ke sungai itu.

Seakan-akan air yang mengalir di sana mengenal namanya. Pagi itu kabut tipis masih bergantung di atas permukaan sungai ketika Yusri tiba. Ia duduk di batu besar yang sejak kecil menjadi singgasananya. Batu itu kini tampak lebih kecil, atau mungkin dirinya yang telah tumbuh terlalu jauh dari masa lalu.

Angin menggerakkan dedaunan bambu di seberang sungai. Suara gemerisiknya menyerupai bisikan. Dan seperti biasa, kenangan datang satu per satu.

Ia melihat dirinya yang berusia sepuluh tahun berlari tanpa alas kaki di sepanjang tepian. Tawa teman-temannya memantul di antara pepohonan. Mereka membuat perahu dari daun pisang dan berlomba menghanyutkannya mengikuti arus.

Di antara wajah-wajah itu ada satu yang paling jelas. Rina. Gadis kecil dengan mata yang selalu penuh cahaya. Mereka tumbuh bersama seperti dua ranting yang berasal dari pohon yang sama. Bermain bersama, belajar bersama, bermimpi bersama.

Di bawah pohon beringin dekat sungai, mereka pernah berjanji bahwa suatu hari akan melihat dunia yang lebih luas dari desa kecil mereka. Namun hidup adalah sungai yang memiliki arah sendiri.

Ketika usia mereka menginjak remaja, penyakit datang seperti hujan yang turun tanpa tanda. Rina jatuh sakit. Pada awalnya semua orang mengira ia hanya kelelahan. Tetapi waktu menunjukkan kenyataan yang berbeda. Tubuhnya semakin lemah, sementara senyumnya tetap berusaha menyala.

Yusri masih mengingat hari terakhir mereka duduk di tepi sungai ini. Air sedang surut. Langit berwarna jingga. Rina memandangi arus yang bergerak perlahan.

"Apa menurutmu sungai pernah sedih?" tanyanya.

Yusri tertawa kecil.

"Tentu tidak."

Rina menggeleng.

"Mungkin sungai sedih setiap kali kehilangan air yang mengalir pergi. Tapi ia tetap berjalan."

Saat itu Yusri tidak memahami maksudnya. Ia hanya seorang anak yang percaya semua orang akan selalu ada. Bahwa dunia tidak mungkin mengambil sesuatu yang begitu berharga.

Beberapa minggu kemudian, Rina pergi. Untuk selamanya.

Sejak hari itu, sungai berubah. Atau mungkin dirinya yang berubah. Air yang dulu terdengar seperti nyanyian kini terdengar seperti cerita yang tak pernah selesai. Pohon-pohon yang dulu menjadi tempat bermain kini tampak seperti penjaga kesunyian.

Tahun demi tahun berlalu. Ayahnya meninggal. Ibunya menyusul beberapa tahun kemudian. Rumah masa kecil dijual. Teman-teman berpencar ke berbagai kota. Satu per satu hal yang pernah membentuk hidupnya menghilang seperti daun-daun yang hanyut mengikuti arus.

Dan setiap kali kehilangan datang, Yusri selalu kembali ke sungai. Seolah-olah ia sedang menghitung siapa saja yang telah dibawa waktu pergi.

Hari itu, setelah sekian lama, ia kembali duduk di batu yang sama. Matahari mulai meninggi. Air sungai berkilauan seperti serpihan kaca yang ditebar cahaya. Ia memandang arus yang bergerak tanpa tergesa. Tidak melawan batu. Tidak memaksa tikungan. Tidak menolak perjalanan

Tiba-tiba ia teringat pada kalimat Rina. Mungkin sungai sedih setiap kali kehilangan air yang mengalir pergi. Tapi ia tetap berjalan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memahami. Kehilangan bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan. Bukan pula luka yang wajib dilupakan. Beberapa hal memang tidak pernah sembuh sepenuhnya. Mereka hanya berubah bentuk. Menjadi ruang yang lebih tenang di dalam hati. Menjadi doa. Menjadi syukur. Menjadi kenangan yang tidak lagi menyakitkan setiap kali disentuh.

Yusri menarik napas panjang. Udara pagi membawa aroma tanah basah dan daun-daun muda. Di hadapannya, sungai terus mengalir menuju tempat yang tidak dapat dilihat mata. Sama seperti hidup. Sama seperti waktu. Sama seperti semua orang yang pernah dicintainya.

Ia tersenyum kecil. Bukan karena ia telah melupakan. Melainkan karena akhirnya ia menerima. Bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Bahwa kehilangan tidak selalu berarti berakhir. Dan bahwa kenangan tidak harus dipenjara di masa lalu. Kenangan dapat hidup seperti sungai itu sendiri: mengalir, bergerak, dan memberi kehidupan.

Yusri berdiri. Sebelum pergi, ia menunduk dan menyentuh tanah di tepi sungai. Tanah yang pernah menampung langkah masa kecilnya. Tanah yang menyimpan suara tawa, air mata, perpisahan, dan harapan. Tanah yang selama ini diam-diam menjaga seluruh kisahnya.

Barangkali itulah alasan ia selalu kembali. Bukan untuk mencari masa lalu. Bukan untuk menghidupkan kembali mereka yang telah pergi. Melainkan untuk menjaga bumi yang pernah menjaga dirinya.

Dan ketika ia melangkah meninggalkan sungai, angin berembus lembut di antara pepohonan. Seolah ada suara yang ikut berjalan bersamanya. Bukan suara kesedihan. Bukan pula suara kehilangan. Melainkan suara penerimaan yang tenang. Suara kehidupan. Yang, seperti sungai, akan terus mengalir.

© Sepenuhnya. All rights reserved.