Pagi Kering di Kaki Gunung
Pagi itu udara di sebuah desa di kaki gunung terasa panas dan kering. Sudah berminggu-minggu hujan tidak turun karena musim kemarau sedang berlangsung. Tanah retak, daun-daun menguning, dan sungai kecil di ujung desa hampir tidak berair.
Di sebuah rumah sederhana tinggal Dina, seorang siswi SMP yang rajin dan pantang menyerah. Ia tinggal bersama neneknya, seorang perempuan tua yang bijak dan penyabar. Hari itu Nenek sedang sakit dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dina sangat khawatir karena Nenek perlu minum air hangat dan dibersihkan badannya. Sayangnya, sumur di belakang rumah mereka mengering.
Dina harus segera mencari air bersih. Ia tidak sendirian, sebab ada Raka, teman setianya, dan Pak Tito, tetangga yang memiliki sumur dalam. Namun, Pak Tito dikenal pelit dan jarang mau berbagi dengan orang lain.
Cerita ini mengisahkan bagaimana Dina berusaha mendapatkan air demi neneknya, dibantu temannya, dan bagaimana seorang tetangga akhirnya sadar akan kesalahannya.
Sumur yang Tidak Lagi Berair
Setelah merapikan selimut Nenek, Dina bergegas ke belakang rumah membawa timba. Ia menurunkan tali perlahan sambil berharap masih ada sedikit air di dasar sumur. Namun, ketika timba ditarik kembali, isinya hanya lumpur kering dan beberapa kerikil. Dina mencoba sekali lagi, lalu sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
Bahunya terasa lemas dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia kembali ke kamar dengan langkah pelan dan menceritakan kejadian itu kepada Nenek. Alih-alih marah atau panik, Nenek tersenyum dan menggenggam tangan cucunya. Beliau berkata bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan kita mau bersabar dan terus berusaha.
Kata-kata itu membuat hati Dina sedikit tenang. Ia mengusap air matanya dan berjanji dalam hati akan mencari air sampai dapat.
Nenek meminta Dina tidak terlalu cemas karena tubuhnya masih kuat. Meski begitu, Dina tahu bahwa Nenek tetap membutuhkan air bersih secepatnya. Karena itu, ia segera memikirkan siapa yang bisa dimintai tolong.
Permintaan yang Ditolak
Dina teringat bahwa Pak Tito, tetangga sebelah rumah, memiliki sumur yang dalam dan tidak pernah kering. Dengan harapan besar, ia berjalan ke rumah Pak Tito dan mengetuk pintu dengan sopan.
Setelah menyapa, Dina menjelaskan bahwa sumurnya kering dan Nenek sedang sakit. Ia memohon agar boleh mengambil air satu ember saja. Sayangnya, Pak Tito menggelengkan kepala dan berkata bahwa air miliknya juga mulai berkurang. Ia khawatir persediaannya habis kalau dibagi kepada orang lain. Dina mencoba membujuk sekali lagi, tetapi jawabannya tetap tidak. Pintu pun ditutup perlahan. Dina berdiri terdiam di depan rumah itu, merasa sedih dan kecewa.
Di tengah kebingungannya, Raka datang sambil membawa dua jerigen kosong. Raka sudah mendengar kabar bahwa sumur Dina kering dan langsung mencari sahabatnya itu. Ia menawarkan diri untuk membantu mencari mata air di lereng gunung. Tanpa ragu, Dina menerima tawaran tersebut dan mengucapkan terima kasih dari lubuk hatinya.
Mendaki Lereng Mencari Mata Air
Setelah berpamitan kepada Nenek, Dina dan Raka berangkat menuju lereng gunung. Matahari mulai naik dan jalan setapak yang mereka lalui menanjak cukup curam. Keringat membasahi dahi mereka, tetapi keduanya terus melangkah sambil saling menyemangati. Beberapa kali mereka berhenti sebentar untuk minum sisa air di botol dan mengatur napas.
Setelah hampir dua jam berjalan, mereka mendengar suara gemericik air dari balik pepohonan. Mata air itu ternyata masih mengalir jernih meskipun kemarau panjang. Dina dan Raka bersorak gembira lalu mengisi jerigen satu per satu.
Namun, perjalanan pulang tidak mudah karena jalan menjadi licin akibat lumut dan tanah basah. Di satu tikungan, kaki Dina terpeleset dan ia hampir jatuh ke jurang kecil. Raka dengan sigap menarik tangannya hingga Dina selamat. Mereka terdiam sejenak karena kaget, lalu tertawa lega.
Dengan lebih hati-hati, mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di desa membawa air yang sangat berharga itu.
Pak Tito Meminta Maaf
Ketika Dina dan Raka melewati halaman rumah Pak Tito, tetangga itu kebetulan sedang duduk di teras. Ia melihat dua anak itu berjalan lelah dengan baju basah oleh keringat dan jerigen berat di tangan mereka. Pak Tito juga melihat lutut Dina yang lecet akibat terpeleset tadi. Hatinya tersentuh dan tiba-tiba ia merasa sangat malu. Ia sadar bahwa dirinya yang punya sumur dalam justru menolak membantu, padahal dua anak ini rela mendaki gunung demi seorang nenek yang sakit. Pak Tito lalu menghampiri Dina dan meminta maaf dengan tulus. Ia mengakui bahwa sikapnya tadi pagi tidak baik.
Sejak saat itu, ia mengizinkan seluruh warga memakai sumurnya selama kemarau. Dina menerima permintaan maaf itu dengan senyum. Air dari mata air dipakai untuk merawat Nenek, dan dalam beberapa hari kesehatan Nenek membaik. Sore itu semua orang berkumpul di rumah Dina, makan bersama sambil bercerita dan tertawa gembira.
Pelajaran dari Sebuah Perjuangan
Cerita ini bermula dari sumur yang kering dan seorang nenek yang sakit. Dina tidak menyerah meski sempat ditolak oleh tetangganya. Bersama Raka, ia mendaki gunung dan membawa pulang air dengan selamat. Perjuangan mereka membuat Pak Tito sadar dan mau berbagi dengan warga.
Menurut saya, cerita ini mengajarkan bahwa kerja keras, kesetiakawanan, dan sikap saling berbagi dapat mengatasi kesulitan. Kita belajar dari Dina bahwa rasa sayang kepada keluarga bisa membuat seseorang menjadi berani. Dari Raka, kita belajar bahwa teman yang baik hadir saat kita membutuhkan. Dari Nenek, kita belajar untuk tetap sabar dan tenang. Pak Tito juga memberi pelajaran bahwa kita boleh berubah menjadi lebih baik kapan saja.
Semoga kita semua dapat meneladani sikap Dina dan tidak kikir terhadap sesama. Mari kita biasakan membantu orang yang kesulitan, sekecil apa pun bantuan itu. Dengan begitu, lingkungan tempat tinggal kita akan terasa lebih hangat, rukun, dan nyaman.
Glosarium:
| No. | Kata | Arti (Indonesia) | English |
|---|---|---|---|
| 1 | Kemarau | Musim yang hujannya sangat jarang atau tidak turun | Dry season / drought |
| 2 | Timba | Wadah untuk mengambil air dari sumur | Bucket (for drawing water from a well) |
| 3 | Pantang menyerah | Tidak mudah putus asa | Never giving up / persistent |
| 4 | Pelit | Tidak mau memberi atau berbagi | Stingy |
| 5 | Mata air | Tempat air keluar dari dalam tanah | Spring (water source) |
| 6 | Lereng | Sisi miring sebuah gunung atau bukit | Slope / mountainside |
| 7 | Jerigen | Wadah plastik besar untuk menyimpan air | Jerrycan |
| 8 | Kikir | Terlalu hemat sampai tidak mau membantu orang lain | Miserly / tightfisted |
| 9 | Meneladani | Mencontoh sikap atau perbuatan yang baik | To follow as an example / to emulate |
| 10 | Kesetiakawanan | Rasa setia dan peduli terhadap teman | Solidarity / loyalty to friends |
Penulis:
- Orsevia Orchida merupakan mahasiswa IKIP Widya Darma, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Pembimbing:
- Assoc. Prof. Dr. Edy Suseno, S.Pd., M.Pd. merupakan Dosen dan Dekan di IKIP Widya Darma.