Perempuan Bermata Teduh Oleh Firman Fadilah Siti mengernyitkan dahi ketika kuungkapkan perasaan yang sesungguhnya. Apa salahnya? Siti terpaku sesaat. Lalu, tawanya meledak. …
Senandung Senja di Bukit Bintang Oleh Tara Agustina Angin dingin bulan September merayapi punggung Bima, menusuk lewat celah-celah jaket tebalnya. Ia berdiri di ketinggian, di ambang…
Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air Oleh Putri Rahma Yanti Aku bukan anak Sumatera Barat. Aku datang ke tanah ini membawa koper, ransel berisi pakaian, dan mimpi yang sederhana: menjadi…
Barang yang Tak Pernah Sampai Oleh Nia Rahmayuni Pagi di kota Padang selalu ramai oleh riuh kendaraan dan aroma nasi goreng pinggir jalan. Rafa, seorang mahasiswa semester lima di…
Tresna Sing Ora Rampung Oleh Afny Dwi Sahira Desa Kalimulyo, Jawa Tengah, tahun 1971, sore-sore di bulan September selalu berbau tanah basah dan kayu bakar. Burung-burung pr…
Tangisan Api Oleh Delivia Nazwa Syafiariza Ketenangan kota ini sudah lenyap sejak kedatangan mereka kembali. Hari-hari yang dulu diwarnai oleh tawa anak-anak berm…
Ketika Hati Belajar Pulang Oleh Shevinda Hujan turun deras malam itu. Dari balik jendela kamar kecilku, cahaya lampu jalan menembus tirai tipis dan membentuk bayangan samar di …
Tidak Ada Tempat Pulang Selain Diri Sendiri Oleh Ema Ramadhani Hujan rintik-rintik menggantung di langit Kota Laverra, kota yang selalu padat oleh mahasiswa perantauan. Di sinilah Aruna memulai…