Hentakan Maut “NIIITTT…..” “NIIITTT…..” “NIIITTT…..” Pada pukul 4.30 alarm di ponselku berbunyi dengan menampilkan catatan kecil yang telah ku- setting . Catatan i…
Di Balik Diam Panik Menggenang Oleh Rinjani Kumala Selama kurang lebih tujuh hari penuh hujan terus-menerus mengguyur kota, namun malam yang sesudah itu terasa lain dari biasanya. …
Luka di Bukit Gundul Oleh Febby Gusmelyyana Gerimis mulai turun ketika Nek Marni keluar dari rumahnya yang miring. Langit sore itu berwarna kelabu pekat, seperti kain kaf…
Pelukan Mantan Oleh Arief Munandar Bel berbunyi panjang, menggema di koridor sekolah yang mulai lengang. Sisa-sisa tawa dan langkah kaki berhamburan seperti daun ke…
Senja Terindah Oleh Arief Munandar Langit di atas taman kota itu selalu berbeda menjelang petang. Awan-awan berwarna tembaga mengalir pelan seperti sungai yang tak …
Anak Desa yang Pintar Oleh Arief Munandar Di lorong sekolah yang panjang dan berbau kapur, Naya berjalan dengan langkah yang selalu sama: terukur, cepat, dan menunduk. Tas…
Gosip di Ruang Ganti Oleh Arief Munandar Ruang ganti itu selalu terasa lebih sempit dari ukuran sebenarnya. Dinding keramiknya dingin, bau kapur barus bercampur parfum mu…
Wanita dari Desa Sebelah Oleh Arief Munandar Di desa itu, setiap orang tahu siapa yang lahir dan siapa yang mati, siapa yang menikah dan siapa yang pulang tanpa kabar. Tetapi…