Wanita dari Desa Sebelah

Cerpen ini mengisahkan guru desa misterius yang menyimpan rahasia masa lalu, hingga cinta dan kenangan membawanya pada kenyataan yang menyakitkan.

Oleh Arief Munandar

Di desa itu, setiap orang tahu siapa yang lahir dan siapa yang mati, siapa yang menikah dan siapa yang pulang tanpa kabar. Tetapi tidak seorang pun benar-benar tahu dari mana asal guru baru di sekolah dasar negeri yang berdiri di ujung jalan tanah merah itu.

Cerpen Wanita dari Desa Sebelah

Namanya Sari.

Ia datang tiga tahun lalu, membawa satu koper tua dan sepeda hitam dengan keranjang anyaman di depan. Kepala sekolah mengatakan ia pindahan dari desa sebelah, meski tak pernah disebut desa sebelah yang mana. Orang-orang menerima saja. Desa itu tidak punya banyak pilihan untuk menolak seorang guru.

Sari mengajar kelas tiga. Anak-anak menyukainya karena ia tidak pernah memukul tangan dengan penggaris seperti guru sebelumnya. Ia juga hafal nama orang tua mereka, bahkan sebelum mereka sempat menyebutkan. “Ibumu yang jualan tempe di pasar, ya?” atau “Ayahmu yang sering ke hutan cari damar?” Anak-anak terkesima dengan ketepatan itu.

Di rumah kontrakan kecil dekat sawah, Sari tinggal sendiri. Setiap sore, ia menyiram tanaman di halaman: melati, kenanga, dan satu pohon mangga muda yang belum pernah berbuah. Ia jarang terlihat di keramaian. Tidak ke arisan, tidak ke pengajian ibu-ibu, tidak pula ke pesta panen. Jika ditanya, ia tersenyum sopan dan berkata, “Masih banyak yang harus diperiksa.”

Namun yang paling membuat orang-orang bertanya-tanya adalah kebiasaannya setiap Jumat sore. Saat matahari mulai condong dan bayang-bayang padi memanjang seperti jarum, Sari akan mengunci pintu rumahnya, menuntun sepeda, dan menyusuri jalan setapak menuju perbukitan di batas desa. Jalan itu jarang dilalui. Di sana hanya ada semak, pohon-pohon tua, dan sebuah rumah kayu kosong yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang dilakukan Sari di sana.

Arman adalah satu-satunya orang dewasa yang berani bertanya langsung.

Ia guru olahraga di sekolah yang sama. Pria berusia tiga puluh dua itu telah lama tinggal di desa, merawat ibunya yang sakit-sakitan. Arman bukan tipe yang banyak bicara, tetapi matanya selalu penuh perhatian—terutama setiap kali Sari lewat di koridor sekolah.

Sore itu, setelah rapat guru, mereka berjalan bersama sampai gerbang.

“Bu Sari,” kata Arman hati-hati, “boleh saya tanya sesuatu?”

Sari menoleh, senyumnya tipis. “Tentu, Pak Arman.”

“Setiap Jumat… Ibu selalu ke arah bukit. Saya pernah lihat. Di sana kan tidak ada apa-apa.”

Sari terdiam beberapa detik, seolah menimbang apakah jawaban itu akan menyakiti atau justru menyelamatkan sesuatu di dalam dirinya.

“Kadang,” katanya pelan, “orang perlu tempat untuk berbicara dengan kenangan.”

Arman mengernyit. “Kenangan?”

“Orang-orang yang sudah tidak ada,” lanjut Sari, “tetap membutuhkan alamat.”

Jawaban itu membuat Arman tidak melanjutkan pertanyaan. Ada kesedihan yang begitu padat di balik suara Sari, seperti awan gelap yang menahan hujan bertahun-tahun.

Sejak hari itu, Arman tidak lagi bertanya. Tetapi rasa ingin tahunya berubah menjadi kepedulian. Ia mulai memperhatikan Sari lebih dalam: caranya memegang kapur yang sedikit gemetar saat pelajaran terakhir, caranya menatap jauh ke sawah saat anak-anak pulang, caranya berhenti sejenak setiap kali mendengar kata “ibu”.

Dan entah kapan, perhatian itu menjelma sesuatu yang lebih halus, lebih berbahaya: cinta yang diam-diam.

Musim kemarau tahun itu panjang. Sawah retak, sumur menyusut, dan angin membawa debu sampai ke jendela kelas. Pada suatu Jumat sore, Arman memutuskan mengikuti Sari.

Ia tahu itu salah. Tetapi ada bagian dalam dirinya yang percaya bahwa memahami seseorang adalah bentuk tertinggi dari kepedulian. Ia menjaga jarak, berjalan di balik pepohonan, menyusuri jalan yang sama yang dilalui Sari setiap pekan.

Rumah kayu tua itu berdiri miring di lereng bukit, papan-papannya lapuk dan sebagian atapnya runtuh. Rumput liar tumbuh sampai lutut. Tidak ada tanda kehidupan—kecuali jejak kaki baru di tanah kering.

Sari menuntun sepeda sampai halaman, menyandarkannya di pohon asam. Lalu ia membuka pintu rumah yang berderit panjang.

Arman mendekat pelan, jantungnya berdentum. Ia berdiri di samping jendela tanpa kaca dan mengintip ke dalam.

Ruangan itu kosong, kecuali satu meja kayu dan beberapa benda kecil di atasnya: lilin, bunga melati kering, dan… sebuah foto.

Sari berdiri di depan meja itu. Ia menyalakan lilin, lalu duduk di lantai.

“Bu,” katanya pelan sekali. “Aku datang lagi.”

Arman menahan napas.

“Maaf aku lama,” lanjut Sari. “Sekolah banyak tugas. Anak-anak baik-baik. Mereka suka membaca puisi yang Ibu ajarkan dulu.”

Ia berhenti, menunduk. “Aku masih tidak tahu harus memanggil siapa selain Ibu.”

Sunyi menebal di ruangan itu.

“Aku ingat malam itu,” bisiknya. “Hujan deras. Lampu mati. Ibu bilang jangan takut. Tapi aku tetap takut. Aku selalu takut, Bu.”

Tangannya gemetar saat menyentuh foto di meja.

“Kalau saja aku tidak pulang terlambat… mungkin Ibu tidak akan sendirian.”

Arman merasakan sesuatu pecah pelan di dadanya.

Jadi rumah ini… bukan sekadar rumah kosong.

Ini makam kenangan.

Keesokan harinya di sekolah, Arman bersikap seolah tidak tahu apa pun. Namun tatapannya pada Sari berubah: lebih lembut, lebih hati-hati, seakan ia memegang gelas retak yang bisa pecah kapan saja.

Sari tampak biasa saja. Ia mengajar, tertawa kecil bersama murid, bahkan ikut makan siang di ruang guru—sesuatu yang jarang ia lakukan. Tetapi ada kelelahan samar di matanya.

Beberapa minggu kemudian, kabar datang dari kecamatan: akan ada penataan ulang batas wilayah desa. Tim pemerintah akan memetakan ulang tanah-tanah lama, termasuk bangunan terbengkalai di bukit.

Saat mendengar itu, wajah Sari memucat.

“Rumah di bukit?” ulangnya pada kepala sekolah. “Yang lama itu?”

“Ya,” jawab kepala sekolah. “Katanya akan dibongkar. Tanahnya mau dijadikan kebun rakyat.”

Sari tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi hari itu ia pulang lebih cepat dari biasanya.

Jumat sore, Arman kembali mengikuti.

Kali ini, ia tidak bersembunyi. Ia berjalan langsung ke halaman rumah kayu.

Sari sudah di dalam. Ketika ia melihat Arman di pintu, tubuhnya kaku.

“Pak Arman?” suaranya bergetar. “Kenapa ke sini?”

Arman menunduk. “Maaf. Saya… sudah pernah datang sebelumnya.”

Wajah Sari memucat, lalu mengeras. “Jadi Bapak mengintip saya?”

“Tidak bermaksud melanggar,” kata Arman cepat. “Saya hanya—khawatir.”

“Hawatir?” Sari tertawa pahit. “Orang-orang selalu bilang begitu sebelum mencampuri hidup orang lain.”

Arman menelan ludah. “Saya tahu rumah ini penting bagi Ibu.”

“Bapak tidak tahu apa-apa.”

“Ini rumah ibu Ibu,” kata Arman pelan.

Sari terdiam.

“Beliau meninggal saat Ibu masih muda,” lanjut Arman. “Dan Ibu merasa bersalah karena tidak ada di sini malam itu.”

Lilin di meja bergetar oleh angin.

“Cukup,” bisik Sari. “Bapak tidak berhak—”

“Kalau rumah ini dibongkar,” kata Arman, “Ibu tidak kehilangan kenangan. Kenangan tidak tinggal di kayu lapuk. Ia tinggal di orang yang masih hidup.”

Sari menatapnya lama. Matanya basah, tetapi bukan hanya karena sedih.

“Bapak pikir ini hanya tentang ibu saya?” tanyanya pelan.

Arman terdiam.

Sari menarik napas dalam. “Baik. Biar sekalian jelas.”

Ia mengambil foto di meja, menyerahkannya pada Arman.

Arman melihat gambar itu—dan dunia seakan bergeser.

Di foto itu ada seorang perempuan muda berdiri di depan rumah yang sama. Di sampingnya seorang wanita lebih tua, mungkin ibunya. Keduanya tersenyum.

Tetapi perempuan muda itu… bukan Sari.

Wajahnya mirip—sangat mirip—tetapi jelas bukan.

Arman mengangkat kepala perlahan. “Ini… bukan Ibu.”

Sari menutup mata sejenak, lalu berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Namanya Rina.”

Sunyi menelan ruangan.

“Dia kakak saya,” lanjut Sari. “Kakak kembar.”

Arman merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya.

“Rina yang seharusnya jadi guru,” kata Sari. “Dia yang pintar. Dia yang dicintai murid. Dia yang Ibu banggakan.”

Tangannya gemetar. “Malam itu… saya pulang terlambat karena bertengkar dengannya. Dia marah. Dia bilang ingin pergi dari rumah ini. Saat hujan, atap runtuh. Ibu dan Rina tertimpa.”

Napasnya patah.

“Orang-orang desa menyelamatkan satu orang saja. Saya.”

Arman tidak bergerak.

“Sejak itu,” bisik Sari, “tidak ada lagi Rina. Tapi juga… tidak ada lagi saya.”

Ia menatap Arman dengan mata kosong yang dalam.

“Guru yang Bapak kenal… bukan Sari. Saya mengambil nama dan hidupnya. Pindah ke desa ini. Mengajar. Menjadi dia.”

Angin masuk lewat celah papan, memadamkan lilin.

Dalam gelap yang tiba-tiba, suara Sari terdengar seperti dari tempat yang sangat jauh:

“Saya hanya wanita dari desa sebelah… yang tidak pernah benar-benar hidup.”

Arman membuka mulut, tetapi kata-kata tidak datang.

Di luar, langit mulai runtuh oleh petir pertama musim hujan.

Dan di dalam rumah kayu yang hampir roboh itu, dua orang berdiri di antara identitas yang patah—sementara suara papan atap berderak pelan, seolah waktu sendiri sedang memutuskan: siapa yang akan tetap ada ketika semuanya runtuh.

© Sepenuhnya. All rights reserved.