Oleh Arief Munandar
Langit di atas taman kota itu selalu berbeda menjelang petang. Awan-awan berwarna tembaga mengalir pelan seperti sungai yang tak ingin sampai ke laut. Di bangku kayu yang menghadap kolam bundar, seorang remaja duduk dengan punggung tegak dan napas teratur, seolah ia takut jika satu helaan terlalu keras akan memecahkan kesunyian yang ia jaga.
Namanya Arka, tujuh belas tahun, usia ketika mimpi dan kenyataan masih sering bertabrakan seperti layang-layang di langit musim kemarau. Ia mengenakan jaket abu-abu yang sedikit kebesaran, tangan kanannya memegang buku catatan, tangan kirinya menggenggam sesuatu yang tak terlihat—atau setidaknya, bagi orang lain, tak ada apa-apa di sana.
“Lila,” bisiknya, menoleh ke sisi kosong bangku. “Hari ini langitnya lebih merah dari kemarin.”
Tak ada jawaban. Tapi Arka tersenyum, seolah baru saja mendengar balasan yang ia tunggu.
Di taman kota itu, Arka selalu datang menjelang senja. Bukan pagi, bukan siang. Senja adalah waktu pertemuan mereka—pertemuan antara yang nyata dan yang mungkin hanya ada di batas tipis antara kenangan dan harapan.
Orang-orang yang lewat hanya melihat seorang remaja berbicara sendiri. Beberapa memandang iba, beberapa tersenyum maklum. Penjaga taman bahkan pernah berkata pelan, “Kasihan anak itu. Sejak kecelakaan itu, dia sering begitu.”
Kecelakaan itu.
Arka tidak pernah lupa. Satu tahun lalu, tepat di jalan depan taman kota, sepeda yang ia kayuh beriringan dengan sepeda seorang gadis berambut panjang terjatuh. Sebuah mobil melaju terlalu cepat. Dunia berputar, suara rem, dan teriakan. Ketika Arka membuka mata di rumah sakit, dunia terasa lebih sunyi. Ia selamat. Gadis itu tidak.
Namanya Lila.
Sejak saat itu, senja di taman kota menjadi tempat di mana waktu seolah menolak bergerak maju. Arka datang setiap hari, duduk di bangku yang sama, dan di sana—di antara cahaya yang memudar dan bayangan yang memanjang—Lila selalu “ada”.
“Besok kita ujian matematika,” kata Arka pelan, membuka buku catatannya. “Aku masih benci integral. Kamu pasti sudah bisa, ya.”
Angin sore menggerakkan dedaunan, membuat bayangan bergetar di tanah. Arka menoleh lagi, matanya lembut, seolah memandang wajah yang hanya ia yang bisa lihat.
“Kamu selalu lebih cepat mengerti,” lanjutnya. “Ingat waktu kita belajar di sini? Kamu bilang angka-angka itu seperti bintang. Banyak, tapi kalau kita tahu polanya, semuanya jadi indah.”
Ia tertawa kecil. “Aku masih belum melihat bintang di angka.”
Di dalam benaknya, Lila duduk di sampingnya seperti dulu: mengenakan seragam sekolah dengan lengan digulung, rambut hitamnya tertiup angin, mata yang selalu tampak lebih dewasa dari usianya. Dalam dunia Arka, Lila tidak pernah berdarah di jalan itu. Ia tidak pernah berhenti bernapas. Ia hanya… tinggal sedikit lebih jauh dari jangkauan orang lain.
Senja semakin menurun. Cahaya oranye menempel di permukaan kolam, memantulkan bayangan pepohonan seperti lukisan hidup. Seorang anak kecil berlari mengejar gelembung sabun, sepasang lansia berjalan beriringan, tangan mereka saling bertaut. Kehangatan menyebar di udara, seperti selimut tipis yang membungkus taman itu setiap petang.
“Lila,” kata Arka tiba-tiba, suaranya lebih serius. “Kalau aku berhenti datang… kamu masih di sini?”
Ia menahan napas, seolah menunggu jawaban yang penting. Angin berhenti sesaat, atau mungkin hanya perasaannya saja yang menajam.
Dalam dunia Arka, Lila menoleh padanya. “Aku selalu di sini,” kata suara yang hanya ia dengar. “Kamu yang memilih datang.”
Arka menunduk. Jemarinya menelusuri serat kayu bangku. “Tapi semua orang bilang aku harus melanjutkan hidup. Mereka bilang aku harus berhenti… bicara denganmu.”
“Apakah kamu ingin berhenti?” tanya Lila dalam imajinasinya.
Arka menggeleng cepat. “Tidak. Karena kalau aku berhenti, rasanya seperti kamu benar-benar hilang.”
Ia mengangkat wajah, matanya memantulkan warna langit. “Aku takut, Li. Kalau aku hidup tanpa kamu, berarti aku menerima bahwa kamu sudah tidak ada. Dan kalau aku menerima itu… apa artinya semua yang kita punya?”
Keheningan jatuh seperti daun kering.
Dalam kenyataan, hanya ada seorang remaja berbicara sendiri di bangku taman. Namun dalam dunia Arka, Lila meraih tangannya—sentuhan yang tidak memiliki suhu, tapi terasa nyata di jantungnya.
“Cinta tidak hilang hanya karena seseorang tidak lagi di dunia yang sama,” kata suara itu lembut. “Cinta tinggal di orang yang masih hidup.”
Arka menutup mata. Kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar, mungkin dari ibunya, mungkin dari konselor sekolah, mungkin dari dirinya sendiri. Tapi ketika datang dari “Lila”, semuanya menjadi lebih mudah dipercaya.
“Kalau begitu,” bisiknya, “kenapa kamu masih di sini bersamaku?”
Lila tersenyum dalam bayangannya. “Karena kamu belum selesai melepaskan.”
Langit semakin gelap. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, lingkaran cahaya kuning di antara pohon-pohon. Suara jangkrik muncul dari semak, menggantikan kicau burung sore. Senja hampir habis.
Arka menarik napas panjang. “Aku ingin kamu bahagia,” katanya. “Di mana pun kamu sekarang.”
Dalam imajinasinya, Lila menatapnya lama. “Aku bahagia kalau kamu juga bahagia.”
“Tapi bahagiaku… selalu ada kamu.”
“Tidak,” jawab suara itu pelan. “Bahagiamu adalah kamu sendiri. Aku hanya bagian dari perjalananmu.”
Arka membuka mata. Ada rasa hangat yang aneh di dadanya—hangat seperti pelukan, tapi juga seperti sesuatu yang perlahan mencair. Ia menatap bangku di sampingnya. Kosong. Selalu kosong bagi mata orang lain.
“Kalau suatu hari aku datang ke sini,” katanya lirih, “dan kamu tidak ada… apa itu berarti aku sudah melupakanmu?”
Angin berembus lebih kuat, menggugurkan beberapa daun yang berputar di udara sebelum jatuh di kakinya.
“Tidak,” jawab suara itu. “Itu berarti kamu sudah membawa aku di tempat yang lebih dalam.”
Arka menatap daun-daun itu. Hatinya berdebar, seperti berdiri di tepi sesuatu yang besar: mungkin kedewasaan, mungkin kehilangan kedua, mungkin kebebasan. Ia takut melangkah, tapi juga lelah bertahan di tempat yang sama.
“Lila,” katanya, suaranya hampir pecah. “Kalau aku benar-benar melepaskan… apakah kita masih bisa bertemu lagi?”
Untuk pertama kalinya, dalam dunia Arka, Lila tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, mata yang dulu selalu penuh kepastian kini seperti menyimpan rahasia.
“Mungkin,” katanya akhirnya. “Di senja yang lain.”
Arka tersenyum pahit. “Kamu selalu misterius.”
“Masa depan memang begitu.”
Mereka duduk dalam diam—seorang remaja dan bayangan yang ia cintai. Senja benar-benar berakhir. Langit berubah menjadi ungu tua, lalu biru malam. Lampu taman memantul di kolam seperti bintang yang jatuh ke bumi.
Arka perlahan membuka tangannya yang sejak tadi seolah menggenggam sesuatu. Telapak itu kosong. Ia menatapnya lama, lalu menutupnya lagi, kali ini dengan kesadaran yang berbeda: bukan untuk menahan, tapi untuk merasakan.
“Aku akan mencoba,” katanya pelan. “Hidup… tanpa harus melihatmu di sini.”
Dalam imajinasinya, Lila mengangguk. “Aku tahu kamu bisa.”
Arka berdiri. Lututnya sedikit gemetar, seperti seseorang yang baru belajar berjalan lagi. Ia menatap bangku itu—tempat yang selama setahun menjadi perbatasan antara masa lalu dan masa depan.
“Besok,” katanya, “mungkin aku tidak datang.”
Ia menunggu. Biasanya, di titik seperti ini, Lila akan mengatakan sesuatu yang manis, sesuatu yang membuatnya ingin kembali lagi. Tapi kali ini, dalam dunia Arka, Lila hanya tersenyum—senyum yang tenang, hampir seperti perpisahan.
Arka menelan ludah. “Kalau aku tidak datang… kamu tetap baik-baik saja?”
“Selalu,” jawab suara itu.
Ia mengangguk, lalu berbalik meninggalkan bangku. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus. Taman di malam hari berbeda: lebih dingin, lebih nyata, lebih jauh dari kenangan yang berpendar di cahaya senja.
Beberapa meter kemudian, ia berhenti. Sesuatu menariknya untuk menoleh.
Bangku itu terlihat seperti biasa: kayu tua, lampu di atasnya, bayangan daun di tanah. Kosong.
Arka mengamati lama. Tidak ada sosok, tidak ada gerakan, tidak ada apa pun—bahkan dalam bayangannya. Untuk pertama kalinya sejak setahun lalu, ia mencoba memanggil.
Lila.
Tidak ada jawaban.
Jantungnya berdetak cepat. Antara takut dan harap. Ia melangkah satu langkah kembali, matanya terpaku pada bangku itu.
“Lila?” bisiknya.
Angin berembus pelan, menggerakkan daun-daun di sekitar bangku. Cahaya lampu bergetar. Sekilas—sangat sekilas—Arka merasa melihat sesuatu: seperti siluet duduk, seperti rambut tertiup, seperti senyum yang ia kenal lebih dari apa pun.
Ia menahan napas.
Siluet itu… ada? Atau hanya sisa imajinasi yang belum benar-benar pergi?
“Arka,” terdengar suara sangat samar—atau mungkin hanya gema di pikirannya.
Ia melangkah lebih dekat, jantungnya nyaris pecah oleh kemungkinan yang terlalu besar.
Di bangku itu, dalam cahaya lampu taman, sesuatu tampak berubah—antara kehadiran dan kekosongan, antara kenyataan dan kenangan.
Arka mengulurkan tangan.
Dan tepat sebelum jemarinya menyentuh ruang di samping bangku—
ia melihat sosok itu menoleh.
Senja telah lama pergi, tapi di matanya, warna oranye kembali menyala.
Apakah itu Lila… yang masih menunggunya?
Atau Lila… yang baru saja datang dari tempat yang tak pernah ia pahami?
Arka berdiri terpaku, di ambang dua dunia, dengan satu pertanyaan yang belum terjawab—dan cinta yang masih hangat di dadanya.