Oleh Arief Munandar
Ruang ganti itu selalu terasa lebih sempit dari ukuran sebenarnya. Dinding keramiknya dingin, bau kapur barus bercampur parfum murah, dan deretan loker berderit seperti menyimpan napas yang tertahan. Bagi sebagian siswi, ruang ganti hanyalah tempat menukar seragam olahraga. Tapi bagi yang lain—terutama mereka yang duduk di bangku kelas sepuluh—ruang itu adalah panggung kecil tempat gosip bergaung dan rahasia tersebar melalui bisikan.
Siang itu, hujan tipis menggarisi jendela kaca buram di atas deretan pancuran. Lampu neon berkedip sekali, lalu terlihat stabil. Di sudut dekat loker nomor 27, seorang gadis berdiri memeluk tasnya, menunggu teman-temannya selesai mengganti baju.
Namanya Nara. Lima belas tahun. Rambutnya dikepang sederhana, seragamnya rapi, dan matanya sering tampak seperti sedang mendengar sesuatu yang orang lain tidak bisa dengar. Ia tidak populer, tidak pula diasingkan—posisinya biasa-biasa saja, tapi dekat dengan dua orang: Sinta dan Maya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP.
“Lo denger belum?” suara Sinta terdengar dari balik pintu loker yang terbuka setengah. “Katanya yang hilang itu bukan cuma sepatu.”
Maya mengancingkan kemeja olahraga, wajahnya tegang. “Terus apa lagi?”
“Katanya… ada yang liat bayangan di ruang ganti kemarin siang. Waktu semua udah pulang.” Sinta menurunkan suaranya, hampir berbisik. “Kayak ada yang masih di sini.”
Maya tertawa kecil, tapi tawa itu terlalu cepat berhenti. “Ah, lebay. Paling satpam.”
“Satpam cewek?” Sinta mengangkat alis. “Yang liat itu anak kelas sebelas. Dia bilang rambutnya panjang… dan basah.”
Nara menelan ludah. Ia tidak ikut tertawa. Sejak dua minggu lalu, ruang ganti memang terasa berbeda baginya. Bukan karena gosip, tapi karena sesuatu yang ia alami sendiri—sesuatu yang tidak ia ceritakan pada siapa pun, bahkan pada Sinta dan Maya.
Dua minggu lalu, sepatu olahraga Nara hilang. Bukan hilang seperti tertukar atau diambil orang. Sepatunya lenyap dari loker yang terkunci. Gemboknya masih utuh, nomor kombinasi tidak berubah. Tapi di dalam loker, hanya ada tasnya, botol minum, dan sebuah pita rambut yang bukan miliknya—pita putih dengan noda kecokelatan seperti bekas air yang lama mengering.
Ia melaporkan pada guru piket. Sekolah menganggapnya kasus pencurian biasa. Tapi malam setelah kejadian itu, Nara bermimpi.
Ia berdiri di ruang ganti yang gelap. Loker-loker terbuka sendiri satu per satu, mengeluarkan suara logam yang panjang. Dari dalam loker nomor 27—loker yang sekarang sering ia lewati—terdengar suara napas berat. Seperti seseorang yang baru selesai berlari jauh. Lalu suara itu memanggil namanya.
Nara.
Bukan dengan suara keras. Tapi seperti gema dari dalam air.
Ia terbangun dengan tubuh dingin dan telapak tangan basah. Sejak itu, setiap kali ia melewati ruang ganti sendirian, ia merasa ada yang mengawasinya dari celah loker yang sedikit terbuka.
“Nar?” Maya menepuk bahunya. “Lo kenapa diem aja?”
Nara tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Cuma capek.”
Sinta menutup lokernya keras. “Eh, tapi serius. Kata anak-anak, yang hilang sekarang bukan cuma barang. Kemarin gelangnya Rika juga ilang. Dan dia bilang dia denger suara cewek nangis di sini.”
Maya menggeleng. “Ih, jangan mulai deh. Nanti Nara takut.”
Sinta menoleh pada Nara. “Lo takut?”
Nara ingin bilang tidak. Tapi yang keluar hanya, “Nggak tahu.”
Lampu neon berkedip lagi. Kali ini lebih lama. Ruangan sejenak redup, lalu terang kembali. Dalam jeda gelap itu, Nara merasa melihat sesuatu di cermin panjang di dekat wastafel—semacam siluet berdiri di belakang mereka bertiga. Rambut panjang menutupi wajah. Seragamnya tampak seperti seragam lama, rok lebih panjang dari standar sekarang.
Ketika lampu stabil, cermin hanya memantulkan mereka bertiga. Tidak ada siapa pun lagi.
Nara memejamkan mata sebentar. Mungkin hanya bayangan. Atau sisa mimpi yang belum benar-benar hilang.
“Ayo pulang,” kata Maya. “Udah hampir magrib.”
Mereka keluar dari ruang ganti bersama. Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan di halaman belakang sekolah. Bau tanah basah mulai terasa. Nara berjalan di tengah, diapit Sinta dan Maya seperti biasa. Mereka berbicara tentang tugas matematika, tentang rencana ulang tahun Maya minggu depan, tentang hal-hal ringan yang menenangkan.
Tapi di benak Nara, cermin tadi masih terbayang.
Malamnya, Nara tidak bisa tidur. Rumahnya sunyi. Ibunya lembur di rumah sakit, ayahnya sudah lama tidak tinggal bersama mereka. Sejak kecil, Nara terbiasa dengan kesepian yang tidak dramatis—tidak ada pertengkaran besar, hanya jarak yang melebar perlahan. Sinta dan Maya adalah keluarga pilihannya, tempat ia merasa utuh.
Sekitar pukul dua dini hari, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
Kamu masih pakai loker itu?
Nara mengerutkan kening. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Siapa ini? balasnya.
Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu muncul lagi:
Nomor 27. Itu dulu punyaku.
Nara duduk tegak di tempat tidur. Tangannya gemetar.
Maaf, ini siapa?
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Lalu:
Kamu nemu pitaku, kan?
Nara merasa udara kamar menipis. Ia teringat pita putih di lokernya dua minggu lalu. Pita yang sekarang ia simpan di laci meja, entah kenapa tidak pernah ia buang.
Iya… tulisnya pelan. Kamu siapa?
Balasan datang hampir seketika.
Aku belum selesai.
Layar ponsel Nara mendadak mati. Bukan seperti baterai habis—masih 60%—tapi seperti dipadamkan dari dalam. Ia menekan tombol berkali-kali. Tidak ada respons. Dalam kegelapan kamar, hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.
Lalu, dari arah lemari pakaiannya, terdengar suara gesekan halus. Seperti kain basah yang diseret pelan.
“Nara…”
Suara itu tidak keras. Tidak jelas dari mana datangnya. Tapi ia mengenali gema yang sama seperti dalam mimpi.
Nara tidak menoleh. Tubuhnya kaku. Dalam dadanya, kenangan tentang kehilangan—ayah yang pergi, ibu yang jarang di rumah, sepatu yang lenyap, rasa aman yang retak—semuanya bercampur dengan rasa takut yang baru.
“Nara…”
Kali ini lebih dekat. Seperti di samping telinganya.
Ia memejamkan mata kuat-kuat.
“Besok…” bisik suara itu. “Di ruang ganti.”
Keesokan harinya, Nara hampir tidak berbicara di kelas. Sinta dan Maya memperhatikan, tapi ia hanya bilang kurang tidur. Sepanjang pelajaran, pikirannya kembali pada pesan semalam. Ia mencoba menyalakan ponselnya di sekolah—hidup normal, tanpa pesan, tanpa nomor asing. Seolah semuanya hanya mimpi.
Tapi ketika jam olahraga tiba, dan mereka bertiga berjalan menuju ruang ganti, langkah Nara melambat.
Lorong belakang gedung olahraga sepi. Suara sepatu mereka memantul di lantai keramik. Pintu ruang ganti terbuka setengah, seperti biasanya.
“Kita bareng aja ya,” kata Maya, mungkin merasakan kegelisahan Nara.
“Iya,” sahut Sinta.
Mereka masuk.
Ruangan tampak sama: loker-loker, bangku kayu, cermin panjang. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Udara lebih dingin. Bau kapur barus lebih tajam. Dan di lantai dekat loker nomor 27, ada genangan kecil air—seperti tetesan dari rambut basah seseorang.
Sinta dan Maya menuju loker mereka. Nara berdiri di depan nomor 27. Tangannya gemetar saat memutar kombinasi. Klik. Pintu loker terbuka.
Di dalamnya, sepatu olahraga Nara yang hilang dua minggu lalu tergeletak rapi. Bersih. Tidak berdebu. Seolah baru saja diletakkan.
Di atasnya, pita putih itu—yang ia yakin masih di laci kamarnya—terlipat pelan.
“Nar?” Maya memanggil. “Lo udah ganti belum?”
Nara tidak menjawab. Ia hanya menatap isi lokernya. Dingin menjalar dari ujung jari ke bahu.
Di cermin panjang di depannya, ia melihat dirinya sendiri—dan di belakangnya, berdiri seorang gadis lain. Rambut panjang menutupi sebagian wajah. Seragam lama. Rok lebih panjang. Basah.
Gadis itu tidak menyentuh Nara. Hanya berdiri sangat dekat. Bibirnya bergerak pelan.
Kamu ingat aku?
Nara ingin berteriak. Tapi suaranya tidak keluar.
Di cermin, gadis itu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Sinta dan Maya yang masih sibuk di loker mereka, tidak menyadari apa pun.
Lalu bisikan itu terdengar lagi, tepat di telinga Nara:
“Mereka dulu juga bilang temanku.”
Nara merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan tangannya. Ketika ia menoleh, tidak ada siapa pun di sampingnya. Tapi di cermin, tangan pucat itu jelas menggenggamnya.
“Sekarang… kamu pilih siapa?”
Di belakang, Sinta tertawa pada sesuatu yang dikatakan Maya. Suara mereka terdengar jauh, seperti dari balik air.
Pegangan di pergelangan Nara mengencang.
Lampu neon berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu padam.
Dalam gelap yang tiba-tiba, hanya ada napas—dua napas—dan satu pertanyaan yang menggantung di udara lembap ruang ganti sekolah itu.
Dan ketika lampu menyala kembali, Sinta dan Maya menoleh bersamaan ke arah loker nomor 27.
“Nara?” panggil mereka.
Loker itu terbuka.
Sepatu di dalamnya masih ada.
Pita putih masih terlipat.
Tapi Nara tidak.