Pelukan Mantan

Cerpen ini mengisahkan luka putus cinta di bangku sekolah, saat kebenaran terungkap bahwa pengkhianatan hanyalah sandiwara perpisahan.

Oleh Arief Munandar

Bel berbunyi panjang, menggema di koridor sekolah yang mulai lengang. Sisa-sisa tawa dan langkah kaki berhamburan seperti daun kering yang terhempas angin sore. Di dekat tangga menuju lapangan, Raka berdiri dengan tas selempang yang tak pernah benar-benar ia isi penuh. Wajahnya pucat oleh sesuatu yang tak bisa disebutkan: bukan sakit, bukan pula lelah—melainkan campuran dari harap dan takut yang berdenyut di pelipis.

Cerpen Pelukan Mantan

Ia menunggu.

Sudah tiga hari ia menunggu di tempat yang sama, pada jam yang sama. Ia tahu kebiasaan orang: setelah putus, mantan pacar adalah wilayah yang sebaiknya dihindari. Tetapi Raka bukan orang kebanyakan. Ia masih mencintai Dina dengan cara yang sederhana dan menyakitkan: menunggu.

Dina muncul dari ujung koridor, berjalan bersama teman-temannya. Seragamnya rapi, rambutnya dikepang dua seperti dulu. Ia tertawa—tawa yang pernah membuat Raka merasa dunia berhenti sejenak. Namun tawa itu kini terdengar seperti milik orang lain.

Raka melangkah maju. “Din.”

Dina berhenti. Teman-temannya saling pandang, lalu pelan-pelan menjauh, meninggalkan keduanya dalam ruang yang tiba-tiba terasa sempit.

“Ada apa?” tanya Dina, suaranya datar.

Raka menelan ludah. “Aku… cuma mau ngomong sebentar.”

Dina menghela napas. “Kalau soal kita, sudah selesai, Rak.”

“Bukan itu,” katanya cepat, meski justru itu yang ingin ia katakan. “Aku cuma… kangen.”

Kata itu jatuh seperti batu kecil ke permukaan danau: sederhana, tapi beriak panjang.

Dina memalingkan wajah. “Jangan, Rak. Kita sudah putus. Kamu juga tahu kenapa.”

Ia tahu. Semua orang tahu. Raka pernah memergoki Dina di belakang perpustakaan, berpelukan dengan Ardi—ketua OSIS yang populer dan selalu dikelilingi sorak-sorai. Bukan sekadar berpelukan; ada ciuman singkat yang membuat dunia Raka runtuh seperti tembok rapuh. Hari itu juga mereka putus, tanpa banyak kata. Raka hanya pergi. Dina menangis. Ardi tak pernah menjelaskan.

Tapi cinta, pikir Raka, tidak mati hanya karena pengkhianatan. Ia hanya berubah bentuk—menjadi sesuatu yang lebih perih.

“Aku tahu,” kata Raka pelan. “Aku cuma mau tanya… kamu bahagia?”

Pertanyaan itu membuat Dina menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang berkilat—entah marah, entah sedih. “Kamu pikir aku harus jawab apa?”

“Jujur saja.”

“Kejujuran?” Dina tersenyum tipis, pahit. “Lucu kamu ngomong soal itu.”

Raka terdiam. Ia tak mengerti.

Dina melangkah mendekat. “Kamu yang mutusin aku tanpa mau dengar penjelasan. Kamu yang langsung pergi, seolah aku ini cuma kesalahan kecil yang bisa kamu hapus. Dan sekarang kamu tanya soal bahagia?”

“Aku lihat kamu sama Ardi,” bisik Raka. “Itu cukup jelas.”

Dina menutup mata sejenak. “Yang kamu lihat belum tentu yang sebenarnya.”

“Pelukan itu nyata.”

“Dan alasan di baliknya?” Dina membuka mata. “Kamu pernah tanya?”

Raka tak menjawab. Ia ingat hari itu: panas, debu lapangan beterbangan, suara anak-anak basket di kejauhan. Dina dan Ardi di balik dinding perpustakaan. Tangannya yang gemetar, jantungnya yang berdentum seperti ingin keluar. Ia tak ingin tahu alasan. Ia hanya ingin berhenti merasa hancur.

“Aku nggak mau denger pembenaran,” kata Raka, suaranya meninggi. “Kamu selingkuh, Din. Itu fakta.”

Beberapa siswa yang lewat menoleh. Dina memucat, tapi ia tak mundur.

“Baik,” katanya pelan. “Kalau itu yang kamu percaya.”

Mereka berdiri berhadapan, dua orang yang pernah saling mencintai dengan kepercayaan penuh, kini terpisah oleh satu peristiwa yang tak pernah benar-benar dibicarakan.

Angin sore masuk dari jendela koridor, membawa bau rumput lapangan. Raka merasa dadanya sesak.

“Aku masih sayang kamu,” katanya tiba-tiba. “Itu yang mau aku bilang dari kemarin-kemarin.”

Dina terdiam. Bahunya sedikit bergetar. “Jangan, Rak.”

“Kenapa?” suaranya retak. “Cinta nggak bisa langsung mati, kan? Aku nggak bisa pura-pura nggak peduli.”

Dina menunduk. “Aku juga nggak pernah pura-pura.”

Mereka sama-sama terdiam. Di kejauhan, bel kedua berbunyi, menandakan semua siswa harus pulang. Koridor semakin kosong.

Raka melangkah lebih dekat. “Din… boleh aku peluk kamu? Sekali saja. Buat perpisahan yang bener.”

Dina terkejut. “Peluk?”

“Iya. Biar aku bisa bener-bener selesai.”

Kata selesai terdengar seperti doa yang lelah.

Dina ragu. Wajahnya berubah-ubah: takut, rindu, marah, pasrah. “Nggak baik, Rak. Kita sudah bukan apa-apa.”

“Justru itu,” kata Raka. “Pelukan terakhir.”

Hening panjang. Akhirnya Dina mengangguk kecil.

Raka mendekat, perlahan, seolah takut gerakan cepat akan menghancurkan sesuatu yang rapuh di antara mereka. Ia merentangkan tangan. Dina maju setengah langkah.

Tubuh mereka bersentuhan.

Pelukan itu canggung di awal, seperti dua orang asing yang mencoba mengingat bentuk masa lalu. Lalu, pelan-pelan, sesuatu yang lama bangkit: hangat, familiar, menyakitkan. Raka memejamkan mata. Ia mencium bau sabun Dina yang sama seperti dulu. Dina menempelkan pipi di bahu Raka, napasnya tersengal.

“Aku kangen,” bisik Raka di rambutnya.

Dina gemetar. “Aku juga.”

Kata itu keluar seperti pengakuan dosa.

Pelukan mereka mengerat. Untuk sesaat, dunia berhenti: tak ada Ardi, tak ada pengkhianatan, tak ada putus. Hanya dua remaja yang pernah percaya bahwa cinta sudah cukup untuk menopang segalanya.

Lalu Dina menangis.

Tangisnya pecah, berat, seperti bendungan yang lama ditahan. Raka kaget. “Din?”

Dina menggenggam seragam Raka. “Maaf… maaf…”

“Sudah,” kata Raka, meski ia tak tahu harus memaafkan apa. “Sudah lewat.”

“Belum,” bisik Dina. “Buat aku belum.”

Raka melepaskan pelukan sedikit, menatap wajah Dina yang basah. “Kenapa?”

Dina menarik napas panjang, seolah akhirnya memutuskan sesuatu yang lama ia sembunyikan. “Yang kamu lihat waktu itu… aku sama Ardi…”

Raka menegang.

“Aku nggak selingkuh,” kata Dina. “Aku minta dia pura-pura jadi pacarku.”

Dunia Raka seakan berhenti lagi, tapi kali ini bukan karena rindu—melainkan kebingungan.

“Apa?”

“Aku tahu kamu bakal lihat,” lanjut Dina, suaranya pecah. “Aku sengaja di tempat itu. Sengaja dekat perpustakaan. Aku tahu kamu lewat situ tiap hari.”

“Kenapa?” Raka hampir berbisik.

Dina menatapnya lurus, mata merah. “Karena aku mau kamu benci aku.”

Raka merasa tanah di bawahnya goyah. “Apa?”

“Aku tahu kamu terlalu baik buat putus tanpa alasan,” kata Dina. “Kalau aku bilang aku harus pindah sekolah, kamu bakal nahan. Kamu bakal nunggu. Kamu bakal sakit lama.”

“Pindah?” Raka tertegun.

Dina mengangguk pelan. “Ayahku dipindah tugas ke luar kota. Mendadak. Dua minggu setelah itu aku harus pergi. Aku nggak mau kamu terikat sama janji jarak jauh yang nggak pasti.”

Raka menatapnya kosong.

“Aku minta Ardi bantu,” lanjut Dina. “Dia cuma peluk aku. Itu saja. Aku tahu kamu bakal lihat, dan kamu bakal mutusin aku. Dan kamu benar-benar melakukannya.”

Suara Dina retak. “Aku pikir kalau kamu benci aku, kamu bakal lebih cepat sembuh.”

Sunyi menelan koridor.

Raka mundur setengah langkah, seolah butuh ruang untuk bernapas. Semua potongan ingatan berputar: pelukan di balik perpustakaan, wajah Dina yang menangis saat putus, Ardi yang tak pernah melawan tuduhan. Semua yang ia yakini sebagai pengkhianatan… ternyata pengorbanan.

“Kamu… pergi?” suaranya nyaris tak terdengar.

Dina tersenyum pahit. “Besok. Ini hari terakhirku di sekolah.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Raka merasa dada kosong, seperti lubang besar baru saja dibuka. “Kenapa… kenapa kamu nggak bilang?”

“Aku takut,” jawab Dina. “Takut kamu nahan. Takut aku lemah. Aku mau kamu punya alasan buat lepas.”

Air mata Raka akhirnya jatuh. “Kamu bodoh.”

Dina tertawa di antara tangis. “Iya.”

“Dan aku lebih bodoh,” katanya. “Aku benci kamu setengah mati.”

“Aku tahu.”

Mereka saling tatap, dua orang yang sama-sama terluka oleh cinta yang sama—satu karena dikhianati yang ia kira nyata, satu karena harus berpura-pura mengkhianati.

Raka mengusap wajah. “Jadi… pelukan tadi…”

“Pelukan mantan,” kata Dina pelan. “Yang sebenarnya belum pernah berhenti jadi pacar di hati.”

Kata-kata itu menggantung, indah sekaligus menyakitkan.

Raka menelan ludah. “Kamu mau… kita balikan? Sebelum kamu pergi?”

Dina menggeleng pelan, meski matanya penuh rindu. “Itu cuma bikin lebih susah. Cinta sejati kadang bukan soal memiliki, kan? Kadang soal melepas dengan jujur.”

Raka teringat kata-katanya sendiri tentang kejujuran. Ironi menampar pelan.

“Aku harus pulang,” kata Dina akhirnya. “Ibu nunggu.”

Ia melangkah mundur. Raka ingin menariknya kembali, memohon waktu berhenti, tapi tubuhnya kaku oleh kesadaran baru: cinta mereka nyata, tapi waktu mereka tidak.

“Rak,” panggil Dina.

“Iya?”

“Terima kasih… sudah pernah jadi rumah.”

Raka tak sanggup menjawab.

Dina berbalik, berjalan menyusuri koridor yang memanjang seperti lorong kenangan. Langkahnya pelan, tapi pasti. Setiap meter menjauhkan mereka dari masa lalu yang tak bisa diulang.

Di ujung koridor, Dina berhenti sebentar, menoleh. Mereka saling pandang terakhir kali. Lalu ia pergi.

Raka berdiri sendiri, memegang hangat yang masih tersisa di dadanya dari pelukan tadi. Pelukan mantan, pikirnya, yang ternyata bukan milik pengkhianatan—melainkan perpisahan paling jujur yang pernah ada.

Ia akhirnya mengerti: cinta sejati bukan selalu tentang bersama, dan kejujuran kadang datang terlambat—tapi tetap menyelamatkan makna.

Bel terakhir hari itu berbunyi, dan sekolah benar-benar kosong. Raka berjalan keluar gerbang dengan langkah ringan yang aneh: sedih, tapi juga lega. Ia kehilangan Dina—namun menemukan kebenaran yang membuat cintanya tidak sia-sia.

Di udara siang, ia berbisik pada dirinya sendiri, “Selamat jalan, Din.”

Dan untuk pertama kalinya sejak putus, ia benar-benar melepaskan.

© Sepenuhnya. All rights reserved.