Andai Aku Bukan Anak Bungsu

Cerpen ini bercerita tentang pergulatan batin seorang gadis yang hidup di antara dua keluarga dan satu pertanyaan besar tentang asal-usulnya

Oleh Arief Munandar

Di kota yang tidak pernah benar-benar tidur, lampu-lampu jalan memantulkan warna kuning pucat di genangan hujan malam. Gedung-gedung menjulang seperti barisan saksi bisu yang terlalu lelah untuk peduli pada nasib manusia di bawah naungannya. Di antara hiruk-pikuk itu, berdiri sebuah rumah tua bercat hijau pudar di gang sempit dekat rel kereta—rumah yang menyimpan lebih banyak kesunyian daripada percakapan.

Cerpen Andai Aku Bukan Anak Bungsu

Di rumah itulah Laila tinggal.

Usianya lima belas tahun, siswi kelas sepuluh di sebuah SMA negeri di pusat kota. Tubuhnya ramping, wajahnya pucat, dan matanya—yang seharusnya masih menyimpan riang masa remaja—terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki.

Ia adalah anak bungsu.

Sejak kecil, Laila sering mendengar kalimat yang sama diulang-ulang seperti doa yang dipaksakan: “Kamu harus mengerti, kamu kan yang paling kecil.”

Kalimat itu diucapkan ibunya saat ia ingin ikut kursus seperti kakaknya.

Diucapkan ayahnya saat ia bertanya mengapa kamar paling sempit selalu menjadi miliknya.

Diucapkan kakak-kakaknya saat ia protes mengapa ia selalu disuruh mengalah.

Sebagai anak bungsu, Laila diajari satu hal: menerima.

Namun penerimaan tidak selalu berarti damai. Kadang hanya menumpuk diam, seperti tumpukan debu di lemari yang jarang dibuka.

Sekolah bagi Laila adalah tempat yang seharusnya menjadi pelarian, tetapi di sanalah kegelisahan itu justru mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak bisa lagi ia jelaskan dengan kata “perasaan.”

Beberapa bulan terakhir, ia mengalami kejadian-kejadian kecil yang aneh.

Namanya sering dipanggil guru untuk hal-hal yang tidak ia lakukan.

Buku catatannya tiba-tiba berpindah tempat.

Teman-temannya bersikap seolah-olah ia pernah mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.

Awalnya ia mengira itu sekadar kesalahpahaman biasa. Tetapi suatu siang di perpustakaan sekolah, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak.

Di rak paling belakang, terselip sebuah buku tahunan lama sekolahnya. Sampulnya kusam, bertuliskan tahun yang jauh sebelum ia lahir. Entah mengapa, tangannya tertarik membukanya.

Ia membalik halaman demi halaman wajah-wajah remaja yang telah menjadi orang dewasa di luar sana. Hingga tiba-tiba ia melihatnya.

Seorang siswi berambut lurus panjang, berdiri di barisan depan foto kelas. Wajahnya… wajah itu hampir sama dengannya.

Nama di bawah foto itu: Laila Rahmawati.

Laila menelan ludah.

Itu namanya. Nama lengkapnya.

Ia menutup buku itu dengan cepat, seolah sesuatu di dalamnya bisa meloncat keluar. Tetapi rasa ingin tahu lebih kuat daripada rasa takut. Ia membuka lagi, lebih pelan, menatap foto itu lebih lama.

Kesamaan itu terlalu jelas untuk disebut kebetulan.

Malamnya, di meja makan, Laila memandang keluarganya satu per satu. Ayahnya membaca koran, ibunya menata lauk, kakak laki-lakinya bermain ponsel, kakak perempuannya mengobrol tentang kuliah.

Mereka tampak seperti keluarga biasa. Terlalu biasa.

“Ayah,” katanya pelan, “di keluarga kita… ada yang namanya Laila juga, ya?”

Ayahnya tidak langsung menjawab. Halaman koran yang sedang ia pegang berhenti dibalik di udara.

“Kenapa tanya begitu?” suara ayahnya datar.

“Aku lihat di buku tahunan sekolah… ada siswi mirip aku. Namanya sama.”

Sendok di tangan ibunya jatuh mengenai piring. Bunyi logamnya terdengar lebih keras dari seharusnya.

Suasana makan berubah dingin.

“Itu cuma kebetulan,” kata kakak perempuannya cepat. “Nama Laila kan banyak.”

“Tapi wajahnya—”

“Sudah,” potong ayahnya, kali ini lebih tegas. “Tidak semua hal perlu kamu pikirkan.”

Kalimat itu familiar.

Kalimat yang sama seperti saat ia kecil: kamu harus mengerti, kamu kan yang paling kecil.

Laila menunduk. Tetapi di dalam dirinya, sesuatu mulai retak.

Hari-hari berikutnya, rasa asing itu semakin tebal. Laila merasa seperti hidup di rumah yang bukan miliknya. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia pikirkan.

Tidak ada foto bayi dirinya di album keluarga.

Foto masa kecilnya baru ada saat ia terlihat berusia sekitar tiga tahun.

Ibunya selalu menghindari cerita tentang kelahirannya.

Ayahnya selalu mengatakan, “Kamu tidak perlu tahu semua hal.”

Pada suatu sore hujan, saat rumah kosong, Laila membuka lemari kayu tua di kamar orang tuanya—lemari yang biasanya terkunci tetapi kali ini lupa ditutup rapat.

Di dalamnya ada kotak sepatu berisi dokumen-dokumen lama.

Ia menemukan akta kelahiran.

Nama: Laila Rahmawati.
Tanggal lahir: sesuai miliknya.
Tempat lahir: kota ini.

Namun ada satu detail yang membuat napasnya tercekat: tanggal penerbitan akta itu dibuat tiga tahun setelah tanggal lahirnya.

Tiga tahun.

Seolah-olah ia baru “resmi ada” setelah itu.

Tangannya gemetar saat membuka map lain. Di dalamnya ada lembaran koran lama yang telah menguning.

Judulnya kecil di sudut halaman: Anak Perempuan Hilang di Sekitar Stasiun Timur.

Foto buram di bawahnya: seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun. Rambut lurus. Mata besar. Wajah… wajah itu adalah dirinya.

Atau seseorang yang dulu adalah dirinya.

Laila terduduk di lantai kamar orang tuanya, koran itu jatuh di pangkuannya. Hujan di luar semakin deras, seperti kota sedang berusaha menghapus sesuatu dari ingatan.

Ia bukan sekadar anak bungsu.

Ia adalah anak yang ditemukan.

Malam itu, saat orang tuanya pulang, Laila menunggu di ruang tamu dengan koran dan akta di tangannya.

“Ayah,” katanya, suaranya bergetar tetapi tegas, “aku siapa?”

Ibunya langsung pucat. Ayahnya menatap dokumen di tangan Laila, lalu menutup mata sebentar, seolah keputusan yang ditunda bertahun-tahun akhirnya menuntut jawaban.

“Kami menemukanmu,” kata ayahnya pelan. “Di dekat stasiun. Kamu sendirian. Menangis.”

“Kalian… menculikku?” suara Laila pecah.

“Tidak!” ibunya menangis. “Kami lapor polisi. Kami tunggu. Tidak ada yang datang menjemputmu. Bertahun-tahun.”

“Kami… ingin menyelamatkanmu. Memberi keluarga.” lanjut ayahnya.

Laila tertawa pendek, pahit. “Keluarga?”

Kata itu terasa asing di lidahnya.

“Kenapa tidak pernah bilang?” matanya penuh air. “Kenapa aku selalu… berbeda?”

Ibunya terisak. “Kami takut kehilanganmu lagi.”

Ayahnya berkata lirih, “Kami pikir… kalau kamu tidak tahu, kamu akan merasa benar-benar milik kami.”

Sunyi jatuh di ruang tamu seperti debu.

Laila berdiri, mundur beberapa langkah. Dunia yang ia kenal runtuh tanpa suara.

“Jadi… aku bukan anak bungsu kalian.”

“Kamu anak kami,” kata ibunya cepat.

“Tapi bukan dari kalian,” bisik Laila.

Hari-hari setelah itu terasa seperti berjalan di kota berkabut. Sekolah menjadi tempat asing. Rumah menjadi ruang tunggu. Ia melihat keluarganya dengan jarak yang tidak kasat mata tetapi nyata.

Namun satu hal terus mengganggunya: buku tahunan itu.

Siswi bernama Laila Rahmawati.

Ia kembali ke perpustakaan, mencari buku itu lagi. Kali ini ia menelusuri halaman-halaman setelah foto kelas. Di bagian profil siswa, ia menemukan nama itu lagi.

Laila Rahmawati – alamat: Jalan Melati 14.

Alamat itu berada di kota yang sama. Tidak terlalu jauh.

Rasa takut dan harapan bercampur seperti listrik di kulitnya. Apakah itu kebetulan? Atau… petunjuk?

Suatu sore sepulang sekolah, Laila berdiri di depan rumah bernomor 14 di Jalan Melati. Rumahnya kecil, terawat, dengan pot bunga di teras. Tirai jendela bergerak sedikit, seolah ada yang mengintip.

Ia mengangkat tangan, hendak mengetuk.

Pintu terbuka lebih dulu.

Seorang perempuan paruh baya berdiri di sana. Wajahnya pucat saat melihat Laila. Matanya membesar—mata yang bentuknya sama dengan mata Laila.

Bibir perempuan itu bergetar. “Laila?”

Nama itu diucapkan seperti doa yang akhirnya dijawab.

Jantung Laila berhenti sejenak. “Ibu…?”

Perempuan itu menangis, menutup mulutnya sendiri. “Ya Tuhan… kamu hidup.”

Dunia seolah berhenti.

Dua kehidupan saling menatap di ambang pintu.

Perempuan itu menariknya ke dalam pelukan yang asing tetapi entah mengapa terasa dikenal oleh tubuhnya sendiri. Pelukan itu hangat, penuh rindu yang telah menua bertahun-tahun.

“Kami mencarimu,” bisik perempuan itu di rambutnya. “Kami tidak pernah berhenti.”

Air mata Laila jatuh tanpa suara. Di pelukan itu, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan di rumahnya: rumah.

Namun di tengah pelukan itu, matanya menangkap sesuatu di ruang tamu rumah itu.

Di dinding tergantung foto keluarga lama.

Seorang pria, perempuan itu… dan seorang anak perempuan kecil.

Anak itu tersenyum lebar. Rambut lurus. Mata besar.

Wajahnya persis seperti Laila—tetapi di foto itu, anak itu tampak lebih tua dari usia tiga tahun saat ia hilang.

Dan di sudut bingkai foto, ada pita hitam kecil—tanda berkabung.

Laila menegang dalam pelukan perempuan itu.

“Bu…” suaranya gemetar. “Anak di foto itu… siapa?”

Perempuan itu membeku. Tangisnya berhenti.

Perlahan, ia melepaskan pelukan. Wajahnya berubah—dari harapan menjadi sesuatu yang lebih rumit: takut.

“Itu… kamu,” katanya pelan.

“Tapi… dia lebih besar dari aku saat hilang.”

Sunyi turun seperti tirai yang berat.

Perempuan itu menatap Laila lama sekali, seolah sedang melihat hantu yang kembali dari masa lalu.

“Tidak,” bisiknya akhirnya. “Kamu… bukan yang hilang.”

Darah Laila terasa dingin.

“Apa maksudnya?”

Perempuan itu mundur satu langkah. Tangannya gemetar. “Anak kami yang hilang… ditemukan meninggal setahun setelahnya.”

Dunia Laila retak lagi.

“Lalu… aku siapa?”

Perempuan itu menatapnya dengan mata penuh air—mata yang memantulkan ketakutan yang sama yang selama ini hidup di dalam diri Laila.

“Aku tidak tahu,” bisiknya.

Di luar, kereta lewat di kejauhan, gemuruhnya seperti sesuatu yang datang dari masa lalu yang tak selesai.

Laila berdiri di ruang tamu itu, di antara dua keluarga yang bukan sepenuhnya miliknya, dengan satu pertanyaan yang kini lebih besar dari sebelumnya:

Jika ia bukan anak bungsu…

bukan anak yang hilang…

lalu ia anak siapa?

© Sepenuhnya. All rights reserved.