Sebelum Pukul Enam Petang

Cerpen ini menghadirkan pergulatan batin Loka antara rasa ingin menyerah pada takdir dan keberanian memaknai kembali perasaannya pada Nayara.

Oleh Saptianah Irmalita Wulandari

Konon katanya, jika orang meraba langit-langit mulut dengan lidah tetapi ia tak merasa geli adalah salah satu ciri ia akan meninggal dalam waktu dekat. Pernyataan itu terus terngiang-ngiang dalam otak Loka. Padahal ia baru saja mendengarnya hanya dari potongan reels media sosial. Sepersekian detik setelah menonton hingga tuntas, ia mencoba untuk membuktikan hal itu pada dirinya. Alhasil pikiran akan kematian itu melayang-layang di otaknya. Pasalnya, langit-langit mulutnya tak merasa geli ketika ia raba dengan lidahnya.

Cerpen Sebelum Pukul Enam Petang

Belum berhenti di situ, pagi harinya ketika ia baru saja bangun dari tidur singkatnya. Ia membuka media sosial dan mendengar berita tentang konflik Iran dengan AS. Sebagian besar berita menarasikan kondisi tersebut sebagai permulaan terjadinya Perang Dunia Ketiga. Mendengar hal tersebut, semakin berdetak hebat jantungnya. Mula-mula ia pikir hidupnya sudah tak panjang lagi, sekarang ditambah dengan berita mencekam itu. Habislah sudah pikirannya digerogoti rayap-rayap berita yang kian deras.

Mulanya, ia berpikir, menikah hanya sekadar status yang jika tidak dilakukan pun tidak masalah. Mengingat usianya yang tak lagi remaja membuat telinganya tak lagi tenteram dengan celetukan Mak, tetangga depan rumah ataupun sejawat. Tetapi kepercayaan itu terhenti oleh seseorang yang telah lama mengusik hatinya. Semua itu berubah menjadi ia tidak lagi takut menikah, ia hanya takut jika menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

Berita peperangan Iran-AS itu menjadi pembawa informasi bahwasanya ia tak perlu memikirkan angan-angan pernikahan itu lagi. Beberapa tahun dari sekarang, mungkin namanya sudah hilang terkena rudal Perang Dunia Ketiga, pikirnya. Sedikit bengis, tetapi melegakan. Selain takut ledakan di mana-mana seperti yang ia lihat di media sosial, ia merasa jika ini jawaban dari keresahannya. Bahwa ia akan ikut menjadi abu dalam waktu dekat.

Sayangnya, Loka bukan inti dunia. Semua yang terjadi bukan karena dia semata. Perang Iran-AS tak secepat itu melenyapkannya. Kembalilah ia terusik dengan pikiran tentang seorang wanita yang hidup di tengah bola matanya. Terhitung sudah seminggu lalu ia bertemu dengan wanita itu, dalam sebuah forum perbincangan buku. Sulit sekali baginya untuk mengalihkan pandangan, kecuali jika wanita itu tak sengaja menjatuhkan pandangannya tepat di raut wajahnya. Dengan gesit ia tarik menjauh ekor matanya sampai-sampai ia tak sadar ada yang melengkung di sudut bibirnya.

Sebut saja nama perempuan itu Nayara. Gayanya seperti perempuan pada umumnya. Berias secukupnya, terbiasa dengan kemeja kotak-kotak atau polos dan celana panjang menyentuh tumit andalannya. Semua tampak sederhana hingga ia tersenyum. Senyumannya adalah paragraf baru yang perlu ditulis lebih panjang. Tarikan pada sudut bibirnya terasa begitu rumit seperti pointilis Tuhan yang teramat sempurna. Sejak itu pula Loka mulai jatuh dan terluka oleh harapan dan ketidakberaniannya menafsirkan perasaan.

Nayara adalah seorang jurnalis yang ia temui lima tahun lalu di penghujung acara bedah buku Kuntowijoyo. Waktu itu, ia sedang duduk di kursi melingkar di tengah ruangan. Loka melihat masih ada ruang untuk duduk, tepat di sebelah Nayara. Loka mengeluarkan buku bersampul merah bertuliskan Para Pelacur dalam Perahu dari dalam tas selempangnya.

“Wah, ini bukunya Seno Gumirah, ya?” Suara itu tiba-tiba melesat menembus pendengarannya.

“Oh, iya. Para Pelacur dalam Perahu”. Sahut Loka spontan sebelum ia melihat siapa yang bertanya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, perempuan di sebelahnya yang tidak lain adalah Nayara mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya. Begitu nampaknya kisah ini dimulai. Beberapa menit berlalu, dengan satu topik yang teramat membuat senyum Nayara tak kunjung luntur hingga membuat Loka tak sempat membaca paragraf selanjutnya.

“Eh, kamu suka karya-karya Seno?” Tanya Nayara dengan raut antusiasnya.

“Sebenernya aku jatuh cinta banget sama Sepotong Senja untuk Pacarku, diksi-diksinya bikin melayang, hahaha”. Jawabnya sambil masih memegang buku bersampul merah itu.

“Kalau kamu?” Timpal Loka sebelum Nayara kembali membuka suaranya.

“Oh, iya. Aku juga suka Sepotong Senja, apalagi bagian senja yang dibungkus jadi sepotong surat terus dimasukkin saku. Itu miracle sih asli. Kok bisa ya, imajinasinya tuh mind blowing banget”. Panjang celotehnya yang tak sempat memutus lengkung di sudut bibirnya.

Selepas obrolan perihal Seno Gumira dan karya-karyanya, di luar kebiasaannya yang cenderung pasif Loka menceritakan bagaimana ia bisa di acara ini. Ia memang suka datang ke acara bedah buku seperti ini. Namun, dalam lubuk hati Loka lebih sering tidak yakin dengan dirinya sendiri. Meski sering berada dalam keramaian, sepulang dari acara-acara seperti itu ia tak membawa pulang relasi karena keraguannya untuk berkenalan dengan orang baru. Untungnya, Nayara tertarik pada sampul buku merah di tangannya. Kalau tidak, mungkin ia akan kembali pulang dengan tangan kosong. 

“Kalau kamu? Kok bisa di sini? Panitia, ya?”

“Eh, bukan. Aku jurnalis lepas, jadi biasanya dateng ke acara-acara kayak gini”. 

Pertemuan pertama mereka menganyam kesan tersendiri bagi keduanya. Tidak seperti Jesse dan Celine dalam Before Sunrise yang menanyakan mau ke mana atau asalnya dari mana. Mereka justru membicarakan perihal Seno Gumira dan beragam diksi piawainya. Sejak saat itu mereka mengenal satu sama lain. Bertukar kabar dan cerita selayaknya teman dekat. Acap kali mendiskusikan sebuah tulisan seperti cerpen atau bahkan buku. Seperti waktu itu, saat mereka berbincang tentang novel Animal Farm karya George Orwell yang kembali muncul sebagai primadona di pasaran. Loka sering tidak familiar dengan metafora yang digunakan oleh Orwell lantas Nayara sigap menjelaskan untuknya.

Sewaktu Nayara punya buku baru atau usai berdiskusi dengan sebuah komunitas, sering kali ia bercerita kepada Loka. Entah sudah berapa alur yang ia hidupkan di benak Loka. Sayangnya, sejak tiga bulan lalu, Loka hanya bisa mendengar riuh suaranya lewat story WhatsApp. Nayara terlihat begitu sibuk dengan aktivitasnya. Sering ia datangi sebuah komunitas seni, komunitas sastra atau kegiatan-kegiatan berdurasi panjang seperti pameran seni.

Setelah itu, mereka jarang sekali berbincang. Hanya sesekali ketika ada keperluan atau tidak sengaja bertemu saja. Namun Nayara terlanjur menjadi penghuni tetap bola mata Loka. Selama itu mereka tak berinteraksi, Loka terus-menerus mendamba akan datang suatu keajaiban yang memaksa mereka untuk berbicara, lagi.

***

Sepekan ini pikirannya kacau, entah oleh apa. Namun yang jelas, Nayara adalah salah satunya. Ditambah lagi ia ingin pulang dari perantauan, memeluk Mak yang selalu ia rindukan. Dengan berbagai kesibukan yang harus ia tuntaskan, rasanya, pulang menjadi kata yang tidak memungkinkan untuk diwujudkan. Berbagai macam naskah yang harus ia edit sudah menunggu di meja kerjanya. Kalau sedang kalut seperti ini, pikirannya ke mana-mana, ditambah bodohnya ia membuka media sosial berlarut-larut. Terlalu banyak informasi yang harus ia cerna hingga membuatnya semakin tak karuan.

Sore yang cukup cerah, dengan semburat Cirrus yang tidak terlalu pekat, pukul empat sore lebih seperempat. Loka mengenakan setelan kemeja putih lengan pendek dengan celana bahan. Ia keluar dan berjalan menghampiri motornya dan pergi ke sebuah pantai, melepas pikirannya yang tak karuan. Di jalan, ia termenung sambil masih memikirkan hubungannya akhir-akhir ini dengan Nayara. Ia menyadari, di antara mereka memang hanya sebatas teman, namun ia selalu terganggu dengan isi kepalanya tentang Nayara.

Sesampainya di pantai, ia duduk di pasir yang agak jauh dari deburan ombak. Ia menikmati angin pantai yang teramat kencang sambil berusaha mengesampingkan isi kepala yang tawuran. Merebah ia pada hamparan pasir hitam yang sedikit basah. Kepalanya bertumpu pada kedua telapak tangannya. Ia benar-benar menikmati pantai di sore hari yang tidak terlalu ramai kala itu.

Tak lama ia terlelap, derap suara langkah kaki yang berlarian disertai suara obrolan ramai orang-orang mulai terdengar. Ia bangun dari tidurnya, melihat orang-orang berkumpul di jarak 50 meter darinya. Sejenak ia terdiam hingga beberapa orang membawa banyak tukik menggerakkan rasa penasarannya untuk mendekat. Ratusan tukik dibawa ke tepi pantai untuk dilepaskan ke laut. Ia merasa sejenak ia dapat membuang semua kekalutan dalam pikirannya.

Setelah melihat tukik-tukik itu menyebar menuju pantai, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya.

“Loka, kamu kok di sini?” Tanya wanita itu, yang tak lain adalah Nayara.

“Eh, kamu kok di sini?” Sahut Loka dengan kegugupannya.

Nayara hanya mengangkat id card yang menggantung di lehernya.

“Aku lagi main aja, Ra”.

“Kalo gitu aku temenin deh, biar nggak kaya jomblo, kasian. Hahaha”. Sahutnya sambil masih memegang pundak Loka.

“Eh, emang nggak papa? Kan kamu lagi tugas?”.

“Sebenernya tadi aku lagi tugas di sini. Tapi semuanya udah ada di sini. Lagian, ini bukan tugas tim. Aku sengaja ikut biar ada bahan buat nulis aja”. Celoteh Nayara sambil memegang buku catatannya.

“Lihat deh, Ka. Dua tukik yang ketinggalan itu. Kira-kira kalo jalannya bareng gitu mereka lagi ngomongin apa ya?”.

Sambil mengedikkan bahu Loka menjawab pertanyaan Nayara.

“Paling mereka lagi ngomongin suara ombak favorit mereka atau bisa jadi mereka ngomongin koleksi action figure terbaru, atau mereka lagi menerka-nerka apa yang bakal mereka temui di dalam sana”.

“Mulai nih mulai. Kamu tuh sebenarnya ada bakat loh jadi penulis. Pinter mengkhayal soalnya”.

Akhirnya Loka melihat senyum itu lagi. Seketika itu, rasa ingin mati di tengah perang Iran-AS, imajinasi tentang kematian karena langit-langit mulutnya tak kunjung geli lenyap dari pikirannya. Rasanya, ingin lama-lama menatap seseorang yang telah lama meninggalkan rumah di matanya. Namun satu hal yang ia sadari, semuanya butuh waktu. Ia mengerti bahwasanya Nayara masih perlu banyak waktu untuk mendalami profesinya sebagai jurnalis lepas agar nantinya bisa menyentuh gelar jurnalis ulung. Dirinya sendiri? Dia juga belum cukup dewasa untuk mengartikan suka, cinta dan semacamnya dalam hidupnya.

Sore itu, sebelum langit kian gelap dan waktu bergerak ke kanan menuju angka enam. Sebelum orang-orang beranjak meninggalkan pantai. Loka tak menyatakan apapun. Memilih jatuh hati pada Nayara bukanlah hal yang sederhana. Ia merasa cukup hanya dengan melihatnya mekar bersama kelopak-kelopaknya yang utuh. Perihal perasaannya, ia hanya butuh waktu untuk meredamnya. Mungkin dengan menjadi pecinta alam? Atau dengan membaca buku stoicism? Haha.

Saptianah Irmalita Wulandari

Biodata Penulis:

Saptianah Irmalita Wulandari saat ini aktif sebagai mahasiswa. Ia suka menulis, berdiskusi, nonton, mendengarkan musik dan bercita-cita hidup nomaden.

© Sepenuhnya. All rights reserved.