Oleh Arief Munandar
Langit desa itu selalu terasa lebih dekat dengan doa-doa. Setiap subuh, suara azan dari surau kecil di ujung jalan memecah kabut yang menggantung di antara sawah dan kebun singkong. Di rumah panggung bercat hijau pucat, Salsabila—yang akrab dipanggil Salsi—sudah terjaga sebelum ayam berkokok.
Salsi adalah seorang guru sekolah dasar. Wajahnya lembut, tutur katanya pelan, dan langkahnya ringan seperti orang yang selalu berusaha tak menyakiti tanah yang dipijaknya. Anak-anak di kelasnya menyebutnya “Bu Guru Malaikat”, bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia terlihat begitu sabar.
Suaminya, Arman, dikenal sebagai lelaki saleh. Ia tak pernah absen berjamaah di surau, hafal beberapa juz Al-Qur’an, dan sering diminta warga menjadi imam salat Magrib atau Isya. Di desa itu, reputasi adalah segalanya. Dan Arman memiliki reputasi yang nyaris tanpa noda.
Setidaknya, begitulah yang orang-orang kira.
Salsi dan Arman telah menikah delapan tahun. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Naira, yang kini duduk di kelas dua SD tempat Salsi mengajar. Rumah mereka tak besar, tetapi cukup hangat. Di dinding ruang tamu tergantung foto keluarga dengan latar sawah menguning, senyum mereka tampak utuh dan tak retak.
Namun, belakangan, Salsi mulai merasakan sesuatu yang tak kasatmata. Arman mulai sering pulang lebih larut. Ponselnya tak lagi tergeletak sembarangan. Ia sering tersenyum sendiri ketika membaca pesan, lalu buru-buru menghapus notifikasi yang muncul.
Salsi bukan perempuan yang mudah curiga. Ia percaya pada doa dan pada kepercayaan itu sendiri. Baginya, rumah tangga adalah taman yang harus disirami dengan sabar, bukan dicabuti setiap kali terlihat satu dua daun yang menguning.
Tapi hati, betapapun dibungkam, punya suara.
Suatu malam, ketika Arman tertidur lebih dulu, ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat jantung Salsi seperti dijatuhkan dari ketinggian: “R”.
Pesan itu singkat: Aku kangen. Besok jadi, kan?
Tangan Salsi gemetar. Ia tahu membuka ponsel suami tanpa izin adalah pelanggaran. Tapi rasa ingin tahu dan rasa takut sering kali bersaudara.
Dengan jari yang terasa asing, ia membuka layar. Riwayat percakapan tak panjang, seolah sengaja dibersihkan. Namun cukup untuk membuat dunianya bergeser: panggilan sayang, janji bertemu di kota kecamatan, foto yang tak seharusnya dikirimkan oleh seorang perempuan pada lelaki yang telah beristri.
Malam itu, Salsi tak menangis. Ia hanya duduk lama di samping ranjang, memandang wajah suaminya yang tertidur pulas. Wajah yang setiap hari ia lihat saat sujud paling lama dalam salatnya. Wajah yang sama yang mengusap kepala Naira setiap pagi.
“Rajin salat,” gumamnya lirih dalam hati, “tapi selingkuh.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi dirinya sendiri. Apakah selama ini ia terlalu percaya? Atau justru ia yang kurang menjadi istri yang baik?
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa di permukaan. Salsi tetap mengajar, tersenyum pada murid-muridnya, membimbing mereka membaca dan menulis. Ia mengajarkan tentang kejujuran dengan suara yang sedikit bergetar.
“Kalau kita berbohong,” katanya suatu pagi di kelas, “yang pertama kali rusak bukan orang lain. Tapi hati kita sendiri.”
Seorang murid mengangkat tangan. “Kalau orangnya rajin ibadah, Bu, pasti jujur, kan?”
Salsi terdiam beberapa detik. Pertanyaan polos itu terasa seperti pisau kecil yang menyentuh luka yang sedang terbuka.
“Rajin ibadah itu baik,” jawabnya perlahan. “Tapi ibadah bukan hanya soal gerakan dan bacaan. Ibadah juga soal bagaimana kita memperlakukan orang yang kita cintai.”
Sepulang sekolah, ia memutuskan untuk mengikuti Arman. Bukan dengan amarah, melainkan dengan tekad untuk melihat kebenaran secara utuh. Ia meminta tolong pada tetangganya untuk menjaga Naira sebentar.
Arman mengatakan ia ada rapat di kecamatan. Namun Salsi melihatnya berhenti di sebuah warung kopi yang agak tersembunyi di pinggir jalan besar. Seorang perempuan muda sudah menunggu di sana.
Salsi berdiri di balik pohon trembesi, menyaksikan suaminya tertawa—tawa yang belakangan jarang ia dengar di rumah. Perempuan itu menyentuh tangan Arman. Dan Arman tidak menepisnya.
Dunia Salsi tak runtuh dengan suara yang gaduh. Justru terasa sunyi. Sunyi yang menyesakkan.
Malam itu, ia menunggu Arman di ruang tamu. Lampu redup, hanya satu yang menyala. Ketika Arman masuk, wajahnya terkejut melihat istrinya belum tidur.
“Kita perlu bicara,” kata Salsi, suaranya tenang.
Arman terdiam. Mungkin ia sudah tahu apa yang akan datang.
“Aku tahu tentang dia.”
Tak ada bentakan. Tak ada piring yang pecah. Hanya dua manusia yang duduk berhadapan, dipisahkan oleh kebohongan yang sudah terlalu lama.
Arman menunduk. Ia tak menyangkal. Katanya, itu hanya kesalahan. Hanya pelarian. Ia merasa jenuh, merasa tak lagi diperhatikan.
Salsi tersenyum tipis. “Aku setiap hari ada di rumah ini. Mengurus anakmu. Mengajar anak-anak orang lain agar jujur. Kalau kamu merasa tak diperhatikan, kenapa tak pernah bicara?”
Arman tak punya jawaban yang utuh. Ia hanya mengulang kata maaf, seperti tasbih yang diputar tanpa penghayatan.
“Apa arti salatmu, Man,” bisik Salsi, “kalau kamu mengkhianati orang yang bersamamu sejak awal?”
Arman menangis malam itu. Ia bersumpah akan mengakhiri semuanya. Bersumpah demi Tuhan, demi anak mereka.
Salsi tak langsung memaafkan. Tapi ia memilih bertahan. Demi Naira. Demi delapan tahun yang telah mereka bangun. Ia percaya manusia bisa salah, dan mungkin juga bisa kembali.
Beberapa bulan berlalu. Arman tampak berubah. Ia lebih sering di rumah, lebih terbuka. Ponselnya tak lagi disembunyikan. Warga desa kembali melihat mereka sebagai keluarga harmonis.
Salsi perlahan menata ulang hatinya. Ia belajar bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang keberanian untuk jujur dan memperbaiki diri.
Namun suatu sore, ketika ia membersihkan lemari buku, sebuah amplop cokelat jatuh dari sela-sela kitab tafsir milik Arman. Di dalamnya ada hasil tes kehamilan. Dua garis merah. Dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang ia kenali:
Mas, aku nggak tahu harus bagaimana. Ini anakmu.
Tanggal di kertas itu adalah dua minggu sebelum Arman menangis dan bersumpah akan berubah.
Tangan Salsi dingin. Dunia yang ia kira mulai utuh kembali, retak untuk kedua kalinya—kali ini lebih dalam.
Di luar, azan Magrib berkumandang. Arman bersiap ke surau seperti biasa, mengenakan sarung dan peci hitamnya. Ia mencium kening Naira, lalu menatap Salsi.
“Aku ke surau dulu,” katanya lembut.
Salsi menggenggam amplop itu di balik punggungnya. Senyumnya tipis, sulit ditebak.
“Iya,” jawabnya pelan. “Jangan lupa… doakan keluarga kita.”
Arman mengangguk dan pergi.
Salsi berdiri sendiri di ruang tamu, memandangi pintu yang baru saja tertutup. Di tangannya, dua garis merah itu terasa seperti takdir yang menuntut keputusan.
Ia melangkah menuju meja, mengambil ponselnya. Jemarinya berhenti sejenak di atas layar, lalu mengetik sebuah nomor yang tak pernah ia hubungi sebelumnya—nomor yang ia temukan di percakapan lama Arman.
Ketika panggilan itu tersambung, suara perempuan di seberang terdengar ragu.
“Halo?”
Salsi menarik napas panjang. Suaranya tenang, tapi ada ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya.
“Kita perlu bicara. Tentang anak itu… dan tentang kebenaran.”
Di kejauhan, suara doa dari surau mengalun khusyuk. Desa tetap tampak damai seperti biasa. Tapi malam itu, sebuah keluarga berdiri di tepi jurang kejujuran.
Dan Salsi tahu, kali ini ia tak hanya akan menjadi istri yang sabar. Ia akan menjadi perempuan yang memilih harga dirinya sendiri—apa pun yang harus ia hadapi setelahnya.