Oleh Raihanah Amilsa Rosalmi
Sudah tiga bulan kakek menghilang. Warga kampung mengatakan kemungkinan lelaki tua itu tersesat jauh ke dalam hutan atau mengalami hal buruk seperti kecelakaan. Sebagian bahkan menyuruh Fatih berhenti berharap.
| Ilustrasi: Pixabay/Dietmar Ematinger |
"Kalau memang belum ketemu sampai sekarang, mungkin sudah takdir," kata seseorang.
Namun Fatih tidak pernah menyerah hanya karena orang lain memilih berhenti mencari.
Meski begitu, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada malam-malam ketika ia duduk sendirian di beranda rumah sambil memandangi sebuah cincin perak, salah satu peninggalan paling berharga yang tersisa dari sang kakek. Pada saat-saat seperti itu, keraguan datang perlahan seperti kabut. Bagaimana jika semua orang benar? Bagaimana jika kakeknya memang tidak akan pernah kembali?
Tak terasa sudah genap tiga bulan, pagi itu terasa sangat hampa dan Fatih akhirnya kembali menyusuri hutan. Ransel hitam yang dibawanya sudah mulai kusam karena terlalu sering dipakai mencari jejak kakeknya. Udara terasa kering. Setiap kali melangkah, daun-daun rapuh di tanah mengeluarkan bunyi berderak seperti kerupuk yang diremas.
Langkahnya terhenti ketika seekor burung bangau putih hinggap di batang pohon tumbang. Burung itu menatapnya lama, seolah menyampaikan pesan yang tak utuh.
"Aneh," gumam Fatih.
Bangau itu mengepakkan sayap lalu terbang rendah. Entah mengapa, Fatih mengikuti arah terbangnya. Burung itu berhenti di dekat sebuah mata air kecil yang tersembunyi di balik semak belukar.
Mata air tersebut nyaris tertutup lumut dan akar-akar menjuntai. Dari kejauhan terdengar suara gemericik yang lirih, nyaris tenggelam oleh desir angin di antara pepohonan.
Di dekat mata air, Fatih menemukan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Sebatang tongkat kayu tergeletak di antara akar pohon.
Fatih mengenali goresan kecil pada gagangnya. Goresan itu dibuatnya sendiri saat masih kecil ketika bermain ukir bersama kakeknya.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan mencari, ia merasa berada sangat dekat dengan jawaban.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia menyusuri jalur sempit di samping mata air hingga terlihat sebuah gubuk tua yang hampir menyatu dengan rimbunnya hutan. Dindingnya lapuk dimakan usia.
Dengan hati-hati Fatih membuka pintunya.
Di dalam sana, duduk seorang lelaki tua berambut putih. Tubuhnya kurus, tetapi matanya masih memancarkan keteduhan yang sama.
"Kakek!" suara Fatih pecah.
Lelaki tua itu menoleh perlahan.
Dahinya berkerut beberapa saat, seolah sedang mencari sesuatu dalam ingatannya yang berdebu.
"Fatih?"
Mendengar namanya disebut, dada Fatih terasa sesak. Selama tiga bulan ia membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Namun kini orang yang dicarinya benar-benar berada di hadapannya.
Ternyata selama ini sang kakek mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Ia dirawat oleh seorang pencari madu yang tinggal jauh dari perkampungan. Baru beberapa minggu terakhir ingatannya mulai kembali.
Fatih tidak langsung memeluk kakeknya. Ia hanya berdiri mematung beberapa detik. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan sampai akhirnya tidak ada satu pun yang keluar dari mulutnya.
Sebelum meninggalkan gubuk itu, sang kakek merogoh saku bajunya yang lusuh, lalu mengeluarkan sesuatu yang selama ini ia simpan baik-baik.
Sebuah cincin perak yang serupa dengan milik Fatih.
"Cincin ini memang dibuat berpasangan," ucap sang Kakek. "Yang satu menyimpan kenangan, yang satu lagi mengingatkan bahwa sejauh apapun seseorang melangkah, selalu ada jalan untuk pulang."
Fatih tersenyum. Ia memandangi kedua cincin itu yang berkilau diterpa cahaya senja.
Di luar, bangau putih kembali terbang melintasi langit yang mulai berwarna jingga. Burung itu menjauh hingga hanya tampak sebagai titik kecil di cakrawala. Fatih tidak tahu apakah ia akan melihatnya lagi. Namun tanpa burung itu, mungkin pencariannya belum berakhir hari ini.
Dan sore itu, di antara desir daun dan angin kemarau yang mulai melembut, Fatih memahami satu hal: jalan pulang tidak selalu tentang tempat, melainkan tentang menemukan kembali orang-orang yang kita sayangi.
Biodata Penulis:
Raihanah Amilsa Rosalmi adalah seorang pelajar dan penulis remaja yang memiliki kecintaan mendalam terhadap keindahan alam. Ketertarikannya pada dunia literasi berawal dari kegemarannya merangkai kata-kata kiasan yang penuh estetika, hingga ia pernah aktif berpartisipasi dalam ajang perlombaan kepenulisan puisi. Melalui karya fiksi, ia berusaha memadukan bahasa puitis dengan kisah yang menyentuh, berharap ceritanya dapat memberikan kehangatan dan inspirasi bagi setiap pembaca.