Oleh Anggun Nirmala
Luka masa kecil mungkin membentuk karakter seseorang, tetapi kasih sayang, perhatian, dan kesempatan dapat mengubah arah hidup seseorang.
Aku Bumi Moza Alverik, seorang anak yang dianggap berandalan, nakal, sering membuat onar, namun itu hanya alibiku untuk membuat orang tuaku peduli padaku. Namun sayangnya, semua yang aku lakukan tidak pernah ternilai oleh orang tuaku.
Di sekolah, semua orang mengenalku sebagai anak bandel, dengan seragam yang selalu berantakan, dasi yang tak pernah aku pakai, layaknya preman pasar yang sedang malak uang. Dan aku adalah murid kesayangan guru BK, karena setiap minggu namaku selalu dipanggil ke ruang BK.
“Jangan dekat-dekat sama Bumi, nanti ikut kena masalah”, Ucap para siswa di sekolah.
Tak ada yang benar-benar mengenalku.
Setiap pagi aku datang paling awal, bukan karena rajin, tetapi karena tak betah berada di rumah. Rumah yang dulu penuh tawa kini dipenuhi suara pertengkaran. Ayah dan ibuku telah bercerai sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Ayahku pergi membangun keluarga baru, sementara ibuku harus bekerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Aku tinggal bersama nenek, hanya ia yang benar-benar perhatian denganku. Tapi itu masih kurang untuk memenuhi tangki cinta di hatiku, aku butuh ayah dan ibuku untuk terus mendukung semua prosesku.
Kini aku tumbuh tanpa perhatian yang cukup, tidak ada yang menanyakan apakah ia sudah makan, sudah belajar, atau sedang sedih, dan bagaimana sekolahmu hari ini? Itu terasa asing bagiku. Dan aku pun percaya bahwa diriku memang tidak penting bagi siapa pun.
Menurut Maslow, setiap manusia memiliki kebutuhan yang tersusun secara bertingkat, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, hingga aktualisasi diri.
Suatu hari aku dipanggil guru BK.
“Bumi, sebenarnya apa yang kamu cari?”tanya Bu Rina.
Aku hanya mengangkat bahu. “Bukan apa-apa, Bu”.
Padahal aku ingin menjawab, “Aku cuma ingin ada seseorang yang bertanya apakah aku baik-baik saja.”
Namun, kata-kata itu hanya kusimpan di dalam hati. Meski sering membuat masalah, aku tidak pernah tega melihat orang lain kesusahan.
Suatu sore saat hujan deras, aku melihat seorang siswa sedang menangis di halte. Uang siswa itu hilang sehingga ia tidak memiliki ongkos untuk pulang.
Aku menghampirinya.
“Rumahmu jauh?”
“Lumayan, Kak” Ucap siswa tersebut.
“Ini untuk ongkos pulang”, aku pun langsung pergi, dan aku melihat siswa itu sempat mengucapkan terima kasih.
Menurutku hidup mungkin memaksa kita menjadi keras, tetapi jangan pernah biarkan hati kita berhenti baik.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan seekor anak kucing terluka di belakang sekolah. Banyak yang melihat lalu pergi. Aku mengambil kardus bekas, membungkus tubuh kecilnya dengan jaketku, lalu meminta obat merah kepada penjaga sekolah.
“Kamu sayang sama hewan?” tanya beliau.
Aku tersenyum kecil.
“Aku cuma tahu rasanya ditinggal sendirian.”
Suatu hari Bu Rina memanggilku lagi, aku tidak tahu kesalahan apa lagi yang aku buat.
“Bumi, sebentar lagi kamu lulus? Yakin kamu mau seperti ini terus? Bagaimana dengan masa depan kamu?”
“Maaf, Bu. Saya tidak peduli”
Bu Rina pun hanya menghela nafas, “Ya sudah, jika kamu ingin bercerita, ruangan ini selalu terbuka.”
Aku hanya mengangguk.
Aku ingin bercerita, tentang betapa sepinya rumahku, tentang betapa rindunya dipanggil “Nak”, tentang betapa aku iri melihat teman-temanku dijemput orang tua mereka.
Tetapi air mata rasanya lebih mudah keluar dari pada kata-kata yang ingin aku ucapkan.
Suatu hari, aku membuat kesalahan yang membuat aku dikeluarkan dari sekolah. Nenekku menyuruhku mencari sekolah baru, namun aku lebih memilih putus sekolah, akhirnya aku mencari kerja untuk kebutuhan sehari-hariku.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku bisa kembali. Yang kutahu, hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua kepada setiap orang. Mungkin namaku akan tetap dikenang sebagai anak berandal. Dan mungkin hanya segelintir orang yang tahu bahwa di balik kenakalanku, ada seorang anak yang sejak lama ingin dipeluk, didengar, dan dianggap berharga.
Karena terkadang, anak yang paling sering membuat masalah bukanlah anak yang paling jahat. Ia hanyalah anak yang paling lama menanggung luka seorang diri.
Penulis:
Anggun Nirmala lahir pada tanggal 26 Juni 2006.