Kisah Milo

Cerpen ini bercerita tentang boneka lama yang tersisih setelah hadirnya boneka-boneka baru, menghadirkan kisah penuh nostalgia, cemburu, dan kenangan.

Oleh Aisyah Nabilla

Halo, aku Milo, boneka berbentuk cacing. Sebenarnya aku bukan cacing, hanya karena bentuk tubuhku yang panjang saja makanya tuanku sering menyebutku boneka cacing dengan warna coklat muda dan tua. Aku sudah ada sejak tuanku masih kecil, aku diletakkan di kasurnya sebagai teman tidur dengan guling. Saat aku dibeli tuanku masih TK jadi dia hanyalah anak polos yang cuma tahu bermain dan merusak barang. Dulu aku mempunyai poni tapi karena tuanku tidak suka dengan poniku itu alhasil dipotong olehnya, benar-benar perusak, padahal aku suka dengan poniku itu. Tapi mau bagaimana lagi aku ini hanyalah benda mati, aku hanyalah bonekanya.

Kisah Milo

Seiring bertambahnya usia, tuanku pun menjadi gadis remaja dan kini di kasurnya sudah bukan hanya ada aku, tuanku membeli beberapa boneka lagi bahkan ada boneka yang diberikan oleh seseorang sebagai hadiah ulang tahunnya, tentu saja tuanku sangat sayang pada pendatang baru yang diberi nama Pinu, si boneka berbentuk stroberi, lalu ketika dibuka akan muncul kelinci putih. Tuanku sangat menyayangi Pinu sehingga aku pun terpinggirkan, aku sering ditaruh di bawah kakinya, ugh! serendah itukah harga diriku sekarang? sampai ditaruh di bawah kakimu yang kadang tidak dibersihkan dulu sebelum tidur ini? Sangat menyebalkan. Aku berharap si Pinu juga akan merasakan hal yang sama denganku.

Bukan hanya ada Pinu dan aku, tapi ada juga boneka berbentuk dinosaurus kecil yang berwarna biru, itu pemberian dari mantannya yang sering dia edit pakai template Capcut, lalu belum juga satu tahun sudah putus, hahaha! Entah kenapa aku senang rasanya karena tuanku melampiaskan semua amarahnya kepada boneka dinosaurus itu, tapi aku juga kasihan melihatnya, karena dia hanyalah boneka sama sepertiku dan Pinu, dia tidak tahu apa-apa soal tuan yang baru saja putus itu, kan? Aku merasa ini tidak adil. Kenapa sih harus dilampiaskan kepada benda mati seperti kami yang hanya bisa diam saja tanpa perlawanan sedikit pun ini. Wahai para manusia, perlakukanlah kami sebaik-baiknya, perlakukanlah kami sama seperti saat pertama kali kalian membeli kami karena bagaimanapun, kita pernah mempunyai kenangan indah nan manis bersama. Kami ada di setiap kenangan walaupun kamu tidak mengingatnya.

Aisyah Nabilla

Biodata Penulis:

Aisyah Nabilla atau kerap dipanggil Abel, perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat. Penulis merupakan seorang mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas yang aktif bergiat dalam UKMF Labor Kepenulisan Kreatif Universitas Andalas. Abel bisa disapa Instagram @eitsbagi_dua

© Sepenuhnya. All rights reserved.