Konser untuk Karang Mati

Cerpen ini mengangkat isu kerusakan ekosistem laut melalui perjuangan Banyu yang memainkan selo di bawah air, di tengah karang yang memutih.

Oleh Dwi Scativana Isnaeni

Laut di sekitar Pulau Pari tidak lagi memantulkan warna biru toska seperti yang disimpan Banyu di dalam ingatan masa kecilnya. Dari atas perahu jukung yang mesinnya telah dimatikan, dasar perairan tampak memutih pucat, seolah seseorang telah menyiramkan seember kapur cair untuk menghapus seluruh warna yang pernah hidup di sana. Sesekali, riak gelombang pasang mengangkat serpihan kalsium karang yang telah rapuh ke permukaan, lalu membawanya kembali tenggelam ke dalam palung tanpa suara.

Cerpen Konser untuk Karang Mati

Banyu mengenakan masker selam karetnya yang sudah melar, membetulkan letak pemberat timah di pinggang, lalu memeluk tabung kayu selo yang permukaannya telah dilapisi resin antiair. Ia menyelam perlahan, merasakan tekanan air hangat yang langsung menyergap pori-pori kulitnya dengan hawa pengap yang tak alami.

Pada kedalaman empat meter, Banyu menghentikan kepakan kaki kataknya tepat di depan sebuah koloni karang otak yang telah memucat total menjadi sewarna gading kering. Dulu, ceruk-ceruk di sela batuan kalsium ini dipenuhi gerombolan ikan betok dan udang karang kecil yang bersembunyi dari arus kuat. Ayahnya pernah menunjuk karang itu saat mereka mencari teripang bersama, mengatakan bahwa jika rumah-rumah batu itu sehat, maka isi laut akan tetap sehat.

Kini, struktur itu hanya tinggal kerangka kapur mati yang menanti waktu untuk runtuh tergerus jangkar kapal. Banyu memasang earphone hidrofon bawah air ke telinga kirinya. Bunyi pertama yang tertangkap membran penangkap suara bukanlah keheningan bawah laut yang damai, melainkan sebaris desis gesekan pasir halus yang panjang, samar, dan kaku, mirip suara napas seseorang yang tersumbat lendir.

Banyu memejamkan mata, memosisikan tabung selo di antara kedua lututnya. Busur gesek digerakkannya perlahan di atas senar logam. Nada pertama meluncur membelah densitas air yang pekat—sebuah nada rendah yang panjang dan bergetar berat. Gelombang suara selo itu merambat di antara celah-celah karang mati, menyentuh dasar pasir yang berdebu, lalu menghilang ke arah laut lepas. Ia terus menggesek senarnya, membiarkan vibrasi mekanis instrumennya memotong arus dingin bawah air.

Di dalam rongga kepalanya yang tersumbat tekanan hidrostatik, bayangan visual masa lalu mendadak muncul bergantian secara buram: jalinan karang merah jambu, kuning belerang, dan ungu anemon tempat ikan kepe-kepe menari. Semua memori itu terdengar jauh lebih bising daripada realitas sunyi yang sedang ia hadapi di bawah sini.

Tanpa peringatan, air di sekeliling tubuh Banyu bergetar hebat secara radikal. Mula-mula berupa guncangan halus yang membuat lamunan batinnya patah, namun dalam hitungan detik berubah menjadi gemuruh gelombang tekanan udara yang kaku. Banyu membuka sepasang matanya yang perih. Bayangan gelap lambung besi sebuah kapal pesiar wisata berukuran raksasa melintas lambat tepat di atas kepalanya, menutup pendar cahaya matahari sore yang tadinya menembus permukaan air.

Melalui earphone hidrofonnya, deru mesin diesel berkekuatan ribuan tenaga kuda mendadak menyengat gendang telinganya dengan bising frekuensi rendah yang brutal. Suara mesin itu menelan habis setiap nada rendah selo yang baru saja ia mainkan, mengubah ruang akustik bawah air menjadi ruang mesin yang pekat oleh bising logam.

Banyu tidak menurunkan busur geseknya. Ia tetap menggerakkan jemarinya di atas senar, membiarkan tubuhnya ikut bergetar mengikuti arus hidrolik yang ditimbulkan oleh putaran baling-baling kapal pesiar di atas sana. Di atas geladak kapal yang mewah dan ber-AC sentral, puluhan wisatawan kota berdiri berjejer memegang gawai pintar mereka, mengambil gambar permukaan laut yang memutih jernih dari balik pagar pembatas baja. Beberapa orang menunjuk ke bawah air dengan senyum profesional, mengagumi lanskap memutih yang disebut oleh pemandu wisata lewat pelantang suara sebagai "pemandangan karang putih eksotis yang unik". Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya mengapa warna-warni karang itu bisa lumat menghilang dari peta bumi.

Kapal pesiar itu akhirnya berlalu membelah jalur selat, menyisakan kepulan uap bahan bakar yang samar di permukaan air. Arus bawah kembali tenang, namun desis panjang yang tadi didengar Banyu lewat hidrofon telah hilang sepenuhnya, berganti menjadi sunyi yang kesat.

Keesokan paginya, Banyu kembali menyelam ke koordinat yang sama. Namun, koloni karang otak tempat ia menyandarkan selonya kemarin kini telah runtuh total, patah menjadi serpihan kapur kasar yang berserakan di atas pasir dasar laut seperti pecahan mangkuk porselen yang jatuh dari ketinggian. Struktur fondasinya amblas dihajar hempasan gelombang buritan kapal pesiar semalam.

Banyu duduk bersila di samping puing-puing kapur tersebut, memasang kembali kabel hidrofonnya ke telinga. Ia menunggu lama di dalam air yang kian menghangat, namun tidak ada lagi bunyi desir kehidupan kecil yang tertangkap oleh alat perekamnya. Hanya sesekali terdengar bunyi ketukan tumpul antar-serpihan karang mati yang digulung arus bawah.

Banyu mengangkat busur selo peraknya, bersiap menggesek senar untuk memainkan lagu yang sama. Namun, tangannya mendadak berhenti menggantung di tengah air. Ia menatap hamparan kerangka karang yang memutih meluas hingga batas pandangan matanya yang buram di dalam masker selam. Di permukaan air atas kepala, deru mesin dari sebuah kapal wisata komersial baru kembali terdengar merayap turun ke dasar laut, memuntahkan bising frekuensi rendah yang kaku, bersiap mengunyah sisa-sisa keheningan terakhir yang tersisa di balik celah batu. Banyu menurunkan kembali busur geseknya tanpa sempat menyentuh senar, melepaskan earphone hidrofon dari telinganya, lalu mulai menggerakkan kaki kataknya untuk berenang naik menuju permukaan air yang silau oleh cahaya matahari pagi.

Banjarnegara, Juli 2026

Dwi Scativana Isnaeni

Penulis:

Dwi Scativana Isnaeni adalah asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul "Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik". Buku novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Penulis bisa disapa di Instagram @scativana

© Sepenuhnya. All rights reserved.