Luka yang Tak Pernah Sembuh

Cerpen ini mengangkat cerita suka duka Hari Raya Iduladha. Di balik suasana meriah, Ella menyimpan kerinduan yang tak pernah padam kepada keluarganya.

Oleh Paijaa

Subuh menjelang pagi itu terdengar suara kicauan burung sehingga menggangu tidur seorang gadis cantik yang tengah pulas itu.

Luka yang Tak Pernah Sembuh

“Ella... BANGUN APA KAU TIDAK AKAN SALAT SUBUH...” teriak seorang nenek yang tengah sibuk dengan kegiatan dapurnya, karna rencananya hari ini akan membuat rendang. Beliau menyiapkan mulai dari bumbu masaknya, santannya, dan hal yang diperlukan.

Gadis cantik yang bernama Ella itu terbangun, lalu duduk dan membuka matanya perlahan-lahan, karena terasa seperti ada pasir yang mengganjal di mata cantiknya itu.

Ella pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, setelah selesai Ella kembali ke kamar mandi, sekarang ia melaksanakan sunah Rasul yaitu mandi sebelum melaksanakan salat Iduladha. Tak lama setelah itu Ella bersiap-siap seperti wanita pada umumnya.

“Nek... lagi ngapain? udah mandi belum?” tanya Ella bertubi-tubi pada neneknya yang tengah sibuk memeras santan.

“Daripada ngoceh nggak jelas mending bantu Nenek sebelum berangkat salat id” jawab nenek dengan sarkas.

“Hehehe iya, Nek...”

Selang beberapa lama Ella, Nenek, Kakek, Adek, keponakan dan keluarga lainnya bersiap-siap menuju musala untuk melaksanakan salat Id.

Setelah melaksanakan salat Id dan bersalam-salaman, saling bermaaf-maafan, Ella pergi lebih dulu karena merasa terlalu lama jika bersalaman dengan semua orang yang ada di musala itu.

Sesampainya Ella di rumah, dia langsung membatalkan puasa sebelum salat id tadi, namun baru minum seteguk tiba-tiba teman Ella memanggil untuk mengajak foto-foto.

“Ella...!” teriak Muti sekuat tenaga.

“Tunggu Mut... minum bentar!” teriak Ella yang posisinya tengah berada di dapur.

Ella bergegas keluar karena ia tahu kalau Muti ini bawaannya marah-marah kalau lama menunggu, tapi hal ini yang membuat Ella suka dengan Muti, karena menurutnya memanfaatkan sifat Muti yang sensian ini adalah puncak komedi baginya.

Ella dan Muti yang tengah sibuk berfoto-foto, tiba-tiba ada hal yang tidak terduga yang menurut Ella ini gila banget.

Orang sebelah rumah Ella akan kurban pada hari ini, namun wallahu a'lam sapinya lepas sehingga membuat Ella dan Muti berhamburan dan bergegas pergi dari tempat mereka foto-foto, karena posisinya Muti dan Ella ini berfoto di tengah-tengah jalan.

Kepo dengan kejadian barusan Ella dan Muti pergi melihat sapi yang terlepas tapi akhirnya tertangkap. Ella menyaksikan sapi itu disembelih, Ella menatap iba kepada sapi tersebut karena tanpa disadari sapi itu mengeluarkan sebuah tetesan dari pelupuk matanya.

Kini sapi itu sudah selesai disembelih, Ella segera pergi dan kembali ke rumahnya.

Setelah selesai segala aktivitas Ella pada pagi Raya Adha ini, Ella memutuskan untuk duduk sambil bermenung di kursi depan rumahnya.

Sembari termenung netra Ella tak sengaja melihat keluarga lengkap sambil ketawa-ketawa dan saling bercanda, sungguh pemandangan yang sangat indah, momen yang selalu ingin dirasakan oleh anak seperti Ella. Melihat momen itu Ella tersenyum dan sedih. Ella berpikir jika saat itu tidak ada pertikaian antara orang tuanya mungkin Ella akan merasakan posisi yang tengah ia lihat sekarang ini.

Ella sudah 9 tahun tidak bersama kedua orang tuanya, setiap hari Ella merindukan momen-momen ini, momen di mana setiap setelah salat Iduladha ataupun Idulfitri pasti ada kehangatan, candaan, tawa dan kejadian lucu lainnya.

Namun Ella hanya bisa tersenyum tanpa adanya harapan untuk merasakan kehangatan itu kembali.

Ella gadis yang batinnya, lukanya, tak akan pernah sembuh sampai kapan pun. Ia akan selalu sakit ketika melihat momen-momen seperti ini.

Faiza Nilma Nengsi

Biodata Penulis:

Faiza Nilma Nengsi (Paijaa) lahir pada tanggal 2 Mei 2007. Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Penulis bisa disapa di Instagram @paija02_

© Sepenuhnya. All rights reserved.