Teman Kandung

Cerpen ini menggambarkan kisah penuh kerinduan tentang seorang mahasiswa perantau di Malang yang merindukan tiga sahabat pesantrennya.

Oleh Najwa Kamilah

Angin sore di Malang berhembus kencang, sangat sejuk rasanya mencium aroma tanah yang basah setelah hujan. Aku termenung di balkon asrama, menatap langit yang perlahan semakin gelap. Suara derap langkah mahasiswa pulang bercampur dengan suara rintik air hujan yang masih menetes dari atap genteng. Namun, di antara keramaian itu aku tetap merasa hampa.

Sudah hampir tiga tahun aku merantau tinggal di kota Malang untuk kuliah. Malang itu indah, udara yang sejuk, pepohonan rindang, kehidupan slow living yang membuat suasana belajar yang mendukung. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini semuanya terasa berat. Hari-hari yang terasa panjang, tugas kuliah numpuk, rapat organisasi, dan yang lebih parah lagi pikiran yang entah sedang kemana memikirkan apa.

“Duh pusing.” aku mengeluh.

Mataku terpejam. Diam. Hening. Dan seketika aku terdiam, dan teringat tiga temanku. 

“Apa kabar ya mereka?” batinku berkata.

***

Dulu, kami tinggal di satu pondok yang sama. Tujuh tahun kami bersama membuat kami mungkin lebih dari sekadar teman pada biasanya, kami keluarga. Hanya dari tatapan mata saja kami bisa saling paham apa yang sedang ada di pikiran kami masing-masing.

Namun, sekarang kami berada di tempat yang berbeda.

Cerpen Teman Kandung

Oke, mari kita kenalan sama teman-temanku. Ada Aqila, yang paling diam di antara kami, rumahku dan dia juga berdekatan di Jakarta, karena itu aku lebih sering mengunjungi rumah Aqila ketika aku pulang. Sekarang dia juga sedang merantau kuliah di Yogyakarta.

Kemudian ada Zika, ibu guru paling ceria yang selalu punya banyak cerita tentang murid-muridnya ke kami, dia satu-satunya dari kami yang masih tinggal di pesantren tapi untuk mengajar, karena itu dia kami panggil sebagai ibu guru.

Dan yang terakhir ada Nca, si periang yang selalu bersemangat setiap harinya, sekarang dia sedang menjalani Student Exchange di Malaysia. Suaranya yang nyaring membuat suasana ketika kami kumpul menjadi semakin seru.

“Jadi kangen mereka.” ucapku sambil tersenyum.

Kami mempunyai karakter yang berbeda-beda, namun dari perbedaan karakter kami inilah yang membuat suasana menjadi lebih berwarna sewaktu bersama.

Sekarang, hanya suara notifikasi grup chat yang menemani. Kadang kami hanya saling bertukar foto dan video kegiatan keseharian atau bahkan hanya sebuah foto, video random, dan juga hanya pesan singkat yang berbunyi “kangen kalian”.

Walaupun kami sering bertukar pesan dan kabar, namun waktu dan jarak membuat semuanya tak terasa sama, rasanya tetap berbeda.

***

Malam-malam di Malang sudah aku lewati, tentu aku sudah menemukan banyak teman baru di sini. Tapi tetap ada rasa yang berbeda. Terkadang aku menatap kembali foto-foto yang ada di galeri ponselku, melihat foto lama kami di pesantren dulu, atau bahkan membuka kembali arsip kiriman Instagram. Dan aku menemukan foto terakhir kami ketika libur semesteran.

“Ternyata sudah lama ya.” batinku.

Dan malam ini, sebelum tidur, di atas kasurku aku membuka kembali galeri ponselku. Ada foto kami berempat di hari perpisahan pesantren. Kami tertawa, tersenyum lebar tanpa tahu bagaimana kehidupan setelah lulus pesantren itu, tanpa tahu beratnya rasa rindu terhadap kehidupan pesantren yang pasti akan datang setelah itu.

Aku tersenyum sendu. Aku merindukan mereka. Rindu kehidupan bersama sewaktu di pesantren dulu, rindu duduk melingkar bersama sambil mengoreksi kosa kata di kamar, rindu saling bertukar cerita sebelum tidur, rindu bepergian bersama.

Aku menatap langit kamar yang mulai gelap, lampu sudah mulai dimatikan, anggota kamar sudah mulai terlelap, namun aku terjaga. Di bawah langit kamar yang berbeda, pasti masih ada langit yang sama yang menaungi langit-langit di Yogyakarta, Jakarta, juga Malaysia. Mungkin di sana, mereka juga sedang terjaga, sama sepertiku, sedang merindukan kebersamaan ini.

Aku tersenyum kecil. Rasa hampa itu tak sepenuhnya hilang, tapi rindu ini membuatku sadar bahwa aku pernah memiliki sesuatu yang begitu indah, pertemanan yang tulus. Dan malam itu, sebelum tidur aku mengirim pesan di grup kami.

“Nanti kalo udah liburan kami harus ketemu, cari kafe yang enak buat cerita-cerita di sana.” terkirim.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara notifikasi berbunyi.

“Harus main sih kita.”

“Ayo cepat pulang, see you di Jakarta.” 

Aku menutup ponselku. Malam ini pikiranku terasa sedikit lebih ringan. Karena meski kami jauh, aku tahu pertemanan kami tidak akan pernah berhenti.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sampai akhirnya kabar yang ditunggu-tunggu datang, liburan tiba. Grup kami kembali ramai, memikirkan liburan nanti.

“Jadi kalian sampai Jakarta kapan?” ujar Zika dengan semangat.

“Pesawatku lusa zik.” jawab Nca.

“Aku sama Aqila besok pagi sudah sampai Jakarta.” jawabku.

Senang sekali rasanya, akhirnya liburan yang ditunggu telah tiba. Kami akan bertemu, sudah lama sekali rasanya tidak bertukar cerita secara langsung sama mereka. 

***

Hari itu akhirnya tiba. Setelah berbulan-bulan merencanakan liburan, akhirnya kami pulang dan berkumpul lagi di Jakarta. Kota yang sampai sekarang menjadi rumah kami, tempat pertama kali kami saling kenal di pesantren.

Aku turun dari ojek online yang baru saja aku naiki, tas selempang dan satu buah tas berisi oleh-oleh khas Malang untuk mereka. Udara Jakarta tetap terasa panas dan tentunya ramai, suara ramai kendaraan memenuhi padatnya jalan, sangat berbanding dengan sejuknya Malang.

Orang pertama yang aku lihat adalah Aqila, ternyata kami sampai bersama di tempat. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali kami bertemu, hanya sedikit terlihat lebih berisi di pipinya.

“Hai Qil, apa kabar?” sapaku sambil memeluknya. 

Kami berjalan bersama ke kafe itu, Bitter Sweet nama kafenya, salah satu kafe di Jakarta Selatan tempat kami dulu sering kumpul sewaktu libur pesantren.

“Guys!” sapa Zika sambil melambaikan tangan. 

Ternyata Zika yang pertama sampai di sana. 

Kami berpelukan sebentar sebelum mengambil posisi tempat duduk masing-masing dan memesan menu makanan sambil menunggu Nca yang belum tiba.

Setelah cukup lama kami mengobrol sambil menunggu pesanan datang, tidak lama kemudian terdengar suara pintu kafe terbuka pertanda ada orang yang masuk.

“Guys!” ucap Nca dengan suara nyaringnya sambil berjalan ke arah kami. Wajahnya yang memerah karena cuaca Jakarta yang panas menambah ekspresi yang sangat menggambarkan dirinya.

“Ada yang udah jadi warga Malaysia sekarang nih.” ucapku tertawa.

“Karena sudah lengkap ayo siapa yang mau mulai cerita duluan.” kata Aqila.

Cerita pun mulai mengalir dari diri kami masing-masing. Aku yang bercerita tentang kegiatan rutin terakhirku di Malang. Aqila bercerita tentang kuliahnya di Yogyakarta, tentang beberapa dosennya yang ketat, suasana asrama tempat dia tinggal selama di sana, dan pastinya juga teman-teman barunya.

“Lucu aja aku suka tiba-tiba ingat kalian gitu.” katanya sambil tertawa.

Tidak hanya Aqila yang bercerita, setelah itu ada Zika yang menceritakan kisah-kisah lucu anak muridnya, info-info terbaru di pesantren kami, dan juga tentang kuliahnya di semester yang baru ini.

“Tapi serius, sekarang itu rasanya kayak beda aja.” ucap zika mengakhiri ceritanya. 

Aku tersenyum mendengarnya. 

“Kamu sendiri gimana Ca selama di sana?” tanyaku kepada Nca.

“Tau sendiri lah kalian gimana di sana aku.” jawabnya terkekeh. Dan kami pun tertawa. 

Nca pun akhirnya juga bercerita tentang kehidupannya sebagai Student Exchange di Malaysia, tentang makanan berlemak yang paling dia hindari, teman-teman internasionalnya yang beragam, dan suka dukanya belajar tinggal di negara baru itu.

Kami duduk saling berhadapan di sudut ruang kafe itu, seperti dulu. Gelas kopi dan makanan yang sudah hampir habis itu menjadi teman kami di sela-sela cerita itu. Dan yang pastinya suara tawa kami yang terdengar seisi ruangan.

Kami terus bercerita, entah sudah berapa kali cerita itu kami dengar rasanya tetap sama. Senang sekali rasanya.

Hari itu, kami menghabiskan waktu yang panjang bersama. Saling menasehati satu sama lain, mendukung, memberikan semangat, dan pastinya berjanji untuk bisa menyelesaikan study kami dengan tepat waktu. Banyak mimpi-mimpi yang ingin kami capai di masa depan nanti. Di akhir obralan itu kami berdoa agar semua mimpi dan harapan yang selalu kami ceritakan itu akan menjadi nyata di beberapa tahun ke depan.

Aku tersenyum, sebelum akhirnya kami berfoto bersama dan kembali ke rumah kami masing-masing.

Najwa Kamilah

Biodata Penulis:

Najwa Kamilah saat ini aktif sebagai mahasiswa, prodi Bahasa dan Sastra Arab, di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Penulis bisa disapa di Instagram @najwakamilah_18

© Sepenuhnya. All rights reserved.