Oleh Galih Ernowo Widianto
Suatu sore di Wonorejo, Karta, yang bernama lengkap Kartasasmita itu, duduk di teras rumahnya yang dikelilingi sawah yang mulai menipis akibat pembangunan yang mengandalkan kemegahan fisik. Ia merenungi masalah yang hadir di keluarganya. Orang tuanya kerap bertengkar hampir setiap hari. Hal ini membuat Karta kerap meletakkan tangannya di atas dagu setiap kali suara ayahnya mulai meninggi. Di tengah lamunannya, Karta dipanggil ayahnya untuk membelikan rokok untuknya. Sebagai laki-laki yang tidak mau merokok dan sering dimintakan membeli rokok oleh ayahnya, sebenarnya Karta enggan membelikannya. Namun, ia terpaksa membelikannya hanya supaya ayahnya tidak menceramahinya tentang bakti kepada orang tua.
Ayahnya bisa merokok hampir sesering detak jam di rumahnya berbunyi. Ia kerap mengisap kretek di rumah, padahal sudah ditegur oleh ibunya. Kata ibunya, merokok membuat kehancuran dalam rumah tangga. Namun, telinga ayah Karta seperti hilang ditelan asap rokok. Ayahnya tidak bergeming dengan teguran istrinya. Karta tergolong anak yang tidak menyetujui kebiasaan ayahnya untuk merokok. Ia lelah menegur kebiasaan ayahnya merokok.
“Bapak tidak mau berhenti merokok? Merokok memicu keributan di rumah tangga lho, Pak,” tegur Karta.
“Merokok atau tidak, pada akhirnya, kita tetap akan menemui kematian. Lebih baik, merokok sampai mati. Aku laki-laki dewasa yang mengetahui apa yang terbaik buat diriku. Anak kecil tidak perlu ikut campur,” bantah ayahnya.
Karta sangat menyadari kebiasaan ayahnya merokok mengurangi jatah makan keluarganya. Sebagian penghasilan ayahnya dihabiskan untuk membeli rokok, alih-alih ditukar dengan sembako. Namun, Karta kehilangan daya menegur ayahnya.
Akhirnya, ia masuk ke kamar meninggalkan ayahnya seorang diri, kemudian mengambil buku dan membacanya. Akhir-akhir ini, ia sedang menyelesaikan buku yang mengisahkan penderitaan perempuan di Wonorejo. Tubuh dan mata perempuan di Wonorejo kerap dibuat biru oleh suaminya sendiri. Namun, tetangga di samping kanan-kiri rumah mereka menganggapnya sebagai percekcokan biasa dalam rumah tangga. Masyarakat melihat wajah istri yang diinjak kaki suaminya sebagai masalah kekeliruan mengelola rumah tangga, alih-alih sebagai kejahatan.
Memahami situasi yang membuat jantung Karta seperti direndam air dingin hingga membuatnya sesak napas, ia teringat dengan apa yang dilakukan ayahnya kepada ibunya. Ayahnya kerap memukuli wajah ibunya berkali-kali. Bahkan, ibunya tahun ini sudah lima kali masuk rumah sakit akibat hantaman tanpa ampun yang dilakukan ayahnya. Karta ingat bahwa ayahnya memukul ibunya karena masalah sepele. Suatu waktu ketika ayahnya pulang bekerja, ibunya tertidur karena lelah setelah bekerja seharian mengurus rumah tangga. Akibatnya, ia terlupa membuatkan suaminya kopi. Melihat ibunya tertidur, ayahnya langsung memukuli ibunya berkali-kali hingga darah ibunya yang keluar dari hidung menodai tikar yang mengalasi dipan yang sebentar lagi tidak kuat menahan bobot penggunanya. Tidak ada keributan. Tidak ada teriakan malam itu. Yang ada hanya penderitaan yang dipendam ibunya. Yang ada hanya keheningan yang mencekam.
Karta merasakan deras darah naik ke jantungnya melihat hal itu. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia berusaha membantu ibunya keluar ke teras rumah untuk mengobatinya. Keesokan harinya, ia menemani ibunya ke puskesmas untuk membeli obat. Di tengah perjalanan, ia menyimpan banyak pertanyaan kepada ibunya. Cukup lama Karta menahan untuk tidak bertanya. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya.
“Kalau boleh Karta tahu, kenapa Ibu masih bertahan dengan Ayah?” tanya Karta dengan sedikit menahan air matanya jatuh ke pipi.
“Ibu tidak bisa apa-apa, Karta. Ibu hanya bisa mencuci, memasak, dan bertani. Keterampilan bertani Ibu pun sedikit, karena dulu sewaktu Kakekmu melihat Ibu bertani, ia marah besar. Katanya, bertani adalah pekerjaan laki-laki. Perempuan tidak layak melakukan pekerjaan laki-laki,” jawab sang Ibu sembari menahan sakit pada hidungnya.
“Lalu apa hubungannya dengan Ayah, Bu?” tanya Karta masih menyelidik.
“Ayahmu memberi Ibu uang yang bisa dibelanjakan untuk keperluan rumah tangga kita. Ayah juga orang yang paling Ibu sayangi setelah Kakek dan Nenekmu meninggal lima tahun yang lalu,” jawab ibunya.
“Tapi itu tidak berarti Ayah berhak semena-mena pada Ibu ‘kan?”
“Benar, Sayang. Tapi, Ibu tidak mau kehilangan orang yang paling Ibu sayangi. Kita sudah lama hidup dengan susah-payah seperti ini. Setiap hari, kita harus bekerja belasan jam yang hasilnya belum tentu mencukupi kebutuhan di hari itu. Ibu harus bertumpu pada siapa lagi kalau Ayah tidak di samping Ibu?”
“Ibu bisa menjadi buruh tani. Karta juga bisa mencari kerja untuk menambah penghasilan kita,” jawab Karta dengan penuh keyakinan.
Ibunya terdiam sejenak. Ekspresinya menandakan ia setuju dengan pendapat anaknya. Namun, di sisi lain, ia merasa situasinya tidak semudah itu. Butuh waktu mengubah kesadaran laki-laki yang sudah terkontaminasi cara pandang yang merendahkan perempuan. Karta menyadari bahwa cara pandang macam itu sudah merasuk hingga ke tulang dan melebur bersama darah setiap orang. Darah dan daging setiap orang terdiri dari cara pandang yang melihat perempuan sebatas hanya seonggok daging yang dianggap pantas menjadi objek kontrol dan dominasi laki-laki.
Setelah selesai dari puskesmas, Karta sebenarnya enggan membiarkan ibunya balik ke rumah. Ia takut ibunya harus merasakan kesakitan yang menusuk hati itu kembali. Melihat ekspresi dan sikap ibunya pada ayahnya, Karta memahami bahwa ibunya sangat ketakutan melayani ayahnya. Namun, melihat keluasan hati ibunya terhadap pengalaman yang dirasakannya itu, Karta menguatkan tekad untuk mengajak ibunya keluar dari rumah dan mencari bantuan kepada orang-orang yang menolak cara pandang yang menempatkan seorang istri ‘di bawah’ suaminya.
Sudah banyak cara dilakukan Karta untuk mengajak ibunya keluar. Namun, semua itu tidak berhasil, karena ayahnya mencegah Karta membawa kabur ibunya. Suatu malam, setelah Karta mengetahui ibunya sepakat menemaninya menemui seorang teman dengan alasan berkonsultasi perihal cara membuka bisnis warung jajanan, ia langsung mengajak ibunya keluar. Karta menggunakan cara yang memungkinkan ayahnya tidak mencurigai gerak-gerik mereka. Namun, ayahnya kebetulan memergoki mereka yang sudah berada di ujung pintu keluar rumah. Ayahnya segera melarang mereka pergi tanpa alasan yang jelas. Ayahnya memang melarang anggota perempuan dalam keluarga, terutama ibunya, pergi dari rumah pada malam hari. Baginya, keluar pada malam hari bagi perempuan merupakan sesuatu yang dilarang agama.
Karta yang merasa denyut jantungnya hampir berhenti akibat terpergok ayahnya itu lalu mengajak ibunya kabur. Ia meyakinkan diri untuk tidak terlarut dalam kekecewaan. Ia justru semakin mengencangkan pikiran menyusun cara alternatif yang dapat dilakukan untuk mengajak ibunya terlepas dari iblis berwujud laki-laki ini. Ia sudah memutuskan hidupnya tidak akan pernah dihabiskan untuk apapun, kecuali mengajak ibunya menginjakkan tanah di luar tanah yang mengalasi lantai rumahnya saat ini.
***
Keesokan harinya, Karta berkuliah seperti biasa. Ia tidak akan menyia-nyiakan kuliahnya di tengah kesulitan keluarganya mencari sekadar sesuap nasi. Ia berjanji akan membawa ibunya menuju jalan hidup yang lebih membebaskan. Tentu bukan jalan hidup bersama laki-laki yang menempatkan istrinya di bawah ketiaknya, di bawah kekuasaannya. Tentu juga bukan jalan hidup bersama laki-laki yang kerap memaksa istrinya berhubungan seksual sekalipun istrinya menolak ajakannya. Ia tidak sudi kalau ibunya akan seterusnya hidup bersama laki-laki yang gemar memukul dan memperkosa. Karenanya, Karta tergolong mahasiswa berprestasi yang berharap dengan prestasinya, ia dapat membawa ibunya menuju kebahagiaan sesungguhnya.
Kehidupan kuliah Karta tergolong luar biasa. Sekalipun berasal dari keluarga ekonomi menengah bawah, ia memiliki semangat juang yang tinggi untuk menyelesaikan kuliahnya tanpa menyusahkan kedua orang tua, khususnya ibunya. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya yang turut mendoakannya setiap hari di atas sajadah yang tidak pernah diganti sejak ibunya menikah dengan laki-laki kurang ajar itu. Karta memahami bahwa biaya kuliahnya selama ini dibayarkan sebagian oleh ayahnya. Namun, Karta tidak melihat itu sebagai pintu masuk bagi ayahnya untuk melakukan kekerasan pada ibunya. Bagi Karta, kehidupan rumah tangga harus dibangun di atas pondasi komunikasi yang kuat dan cara pandang yang saling memahami.
Suatu waktu, di tengah kelas yang sedang dipandu seorang dosen yang banyak bergerak di masalah keadilan gender, ia teringat pada janjinya untuk membawa ibunya menuju ‘surga’ dunia, tempat ketika ibunya tidak perlu merasa dikekang ayahnya. Kemudian, ia merencanakan kembali cara-cara kabur dari rumah dalam rangka menjemput pertolongan untuk ibunya. Ia terpikir mengajak ibunya pergi mengaji di kota sebelah. Karta melihat cara itu dapat mengecoh ayahnya yang kebetulan hanya memperbolehkan ibunya keluar tanpa ayahnya ketika urusannya berkenaan dengan mengaji. Bagi ayahnya, perempuan harus mengaji agar dapat berbakti pada suaminya secara sempurna.
Suatu malam, Karta mengatakan pada ayahnya bahwa ia dan ibunya akan pergi mengaji ke kota lain. Katanya, ia kemungkinan pulang esok harinya. Sebab, pengajian yang diselenggarakan tidak hanya mengundang tokoh masyarakat setempat, tetapi juga tokoh keagamaan yang banyak berkelana di panggung nasional. Karena itu, mereka perlu menginap semalam di rumah teman ibunya dan akan segera kembali keesokan harinya. Karta sangat gugup setelah mengatakan hal itu mengingat raut wajah laki-laki yang tidak dapat mengontrol emosinya ketika menghadapi masalah ini tampak curiga dengan keterangan Karta. Namun, Karta tetap harus menjaga sikapnya agar skenario yang sudah direncanakan tidak mengalami kegagalan seperti cara pertama.
“Mau ke mana?” tanya ayahnya curiga.
“Kita mau ke Wonosari, Pak. Mau ikut mengaji sebentar di sana. Kemungkinan akan pulang esok hari,” jawab Karta sambil khawatir keterangannya diselidiki lebih jauh.
“Jangan coba-coba kelabui Ayah, Karta! Ayah tidak ingin terjadi apa-apa karena kalian kelabui Ayah,” ancam ayahnya.
“Tidak, kok! Aku sama Ibu cuma mau pergi mengaji saja ke Wonosari. Kita sudah ingin pergi ke pengajian itu sejak lama,” Karta berkilah demi menjaga garis perjuangannya membawa kabur ibunya dari rumah yang lebih cocok disebut kandang singa yang suka mengamuk tidak mengenal belas kasihan.
“Sebentar! Ayah telpon teman Ayah dulu, Kapolres Wonosari. Ayah perlu pastikan semuanya berjalan dengan jujur,” ayahnya mencoba memastikan kebenaran keterangan Karta.
Setelah memperoleh keterangan dari Kapolres Wonosari, wajah ayahnya berubah merah seperti iblis yang kerasukan iblis lain. Keiblisannya langsung mewujud dalam tamparan kerasnya kepada wajah Karta dan tonjokan bertubi-tubi pada istrinya. Ia murka seperti kerasukan setan, seolah tidak ada orang yang bisa mendinginkan lonjakan emosinya yang sudah mendidih karena ia dibohongi oleh keluarganya sendiri.
Peristiwa ini adalah tragedi kesekian kalinya, ketika Karta melihat ibunya menangis dalam diam. Karta sering melihat jeritan ibunya yang tidak bersuara karena – setelah suatu waktu Karta bertanya mengenai alasan ibunya tidak menjerit ketika dipukul ayahnya – seorang istri adalah pakaian bagi suami. Ia harus menjaga aib suami, termasuk tindakan suami memukul istrinya.
Peristiwa ini merupakan goncangan emosi kesekian kalinya bagi Karta, ketika Karta mendengar ibunya merintih kesakitan sambil meminta maaf kepada ayahnya dengan bersimpuh di atas kakinya. Sebenarnya Karta merasa jijik melihat ibunya harus menyembah-nyembah seperti itu, seolah ibunya telah melanggar suatu hukum moral yang tidak bisa dimaafkan oleh siapapun. Padahal, ibunya hanya ingin merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Sesederhana itu. Namun, Karta juga pada saat yang sama memahami bahwa ibunya dibesarkan dalam keluarga yang menempatkan istri di posisi yang lebih rendah daripada suaminya. Karta berjanji bahwa suatu hari nanti ia akan membawa ibunya menuju kedamaian yang tidak menuntut bahasa tubuh yang merendahkan dirinya sendiri.
Wajah lebam ibunya memantik gejolak amarah Karta yang ingin direalisasikan melalui cara-cara yang dapat kembali dilakukan setelah kemarahan ayahnya semalam. Wajah ibu hari ini seperti bukan wajah ibu. Wajah ibu tampak hancur dikubur hidup-hidup oleh kekerasan menahun yang dialaminya. Wajah ibu tampak tenang, namun menyiratkan protes yang sangat dalam. Karta ingin memperkuat protes yang dilakukan ibunya melalui cara yang lebih nyata.
Ketika ia mengingat masa muda ibunya yang pernah diceritakan ibunya kepadanya, ia tertegun sejenak. Ibunya termasuk orang yang tidak diuntungkan sistem untuk memperoleh pendidikan tinggi, sehingga aksesnya pada wawasan emansipasi sangat terbatas. Ibu hanya tahu bahwa kita harus berbuat baik pada sesama, di samping berbakti pada suami. Dua hal itu, menurut kepercayaan ibunya, akan membawanya menuju kebahagiaan sejati yang akan diberikan sesudah kematian. Karena itu, sekalipun berkali-kali dipukul ayahnya, ibunya selalu mempertanyakan kecakapan dirinya sebagai seorang istri. Ia berpikir apa yang kurang bagi suaminya sebagai seorang istri, sehingga ia harus menerima kekerasan yang sangat pedih dan mengiris hati.
Karta tidak mengetahui persis pikiran ibunya. Hal itu dapat dipahami karena ibunya tidak tergolong pandai menangkap masalah. Tingkat pendidikan menjadi alasannya. Karenanya pula, Karta kerap menyalahkan dirinya sendiri akibat kegagalannya menangkap isi pikiran ibunya yang ia cintai itu. Namun, Karta tetap harus berpikir realistis dengan melihat situasi yang ia hadapi. Kekecewaannya pada diri sendiri akibat gagal memahami isi pikiran ibunya tidak boleh membuatnya melupakan cara kabur dari rumah.
Karta menimbang cara yang justru menimbulkan rasa hormat bagi ayahnya tanpa membuat ayahnya curiga seperti yang terjadi semalam. Ia harus tahu jaringan ayahnya dan cara pandang ayahnya melihat kehidupan. Karta sempat frustrasi memikirkan hal itu. Namun, ia mengingat satu hal. Ayahnya sangat hormat pada sosok kyai. Ia tidak pernah berani menyelidik keterangan yang disampaikan seorang kyai, siapapun itu. Karta menduga bahwa cara itu tidak akan membuat ayahnya mengkonfirmasi keterangan Karta dengan melakukan tindakan tertentu. Baginya, cara itu lebih mulus daripada yang dilakukan semalam. Tantangannya sekarang adalah menunggu momen yang tepat bagi Karta untuk mengatakan bahwa ia akan pergi menemui kyai bersama ibunya. Karta ingat bahwa kegiatan seorang kyai terkenal di pesantren di Wonojati yang juga ayahnya kagumi berlangsung setiap minggu. Karta harus mempersiapkan segalanya, termasuk mengarahkan ibunya soal skenario yang harus dijalankan untuk kabur.
Ketika hari yang ditunggu tiba, Karta mengatakan pada ayahnya bahwa ia dan ibunya akan sowan kepada kyai di Wonojati. Ayahnya segera tahu mereka akan menemui siapa. Secepat kilat, ayahnya menyetujui keterangan mereka. Karta merasa lega mendengar persetujuan ayahnya. Ia merasa jalan menuju kebebasan ibunya kurang selangkah lagi. Ia melihat sorot mata ibunya pun memancarkan harapan. Raut wajahnya tampak seperti baru dibasuh air surga: sangat sumringah. Syukurnya, ayahnya tidak mencurigai sorot mata dan raut wajah istrinya itu.
Karta dan ibunya keluar dari ‘kandang singa’ tanpa ada hambatan dari ayahnya. Mereka berjalan dengan lega dan gembira karena langkah menuju kebebasan yang sesungguhnya sedang dilalui. Pintu keluar rumah mereka menjadi titik awal perjuangan mereka menuju situasi yang dipenuhi cinta-kasih, alih-alih kekerasan. Karta melihat ibunya seperti baru diberikan selendang oleh malaikat penghuni surga yang berpihak pada mereka. Seolah, ibunya disambut oleh kekuatan tertentu yang tidak tahu datang dari mana, tetapi pengaruhnya nyata kepada ibunya. Karta melihat ibunya menaruh harap pada kehidupan ini setelah ibunya menyadari bahwa ia tidak lagi bersama suami yang hanya tahu memukul tanpa tahu mengasihi dan mengayomi.
“Karta, terima kasih sudah membantu Ibu,” ucap ibunya.
Karta yang merasa heran dengan ucapan ibunya langsung cepat-cepat merespons, “Ibu tidak perlu berterima kasih. Kita memang sudah harus keluar dari rumah jahanam yang dihuni iblis. Karta sangat menyayangi Ibu sepenuh hati. Tidak mungkin perempuan yang secara tulus membesarkanku hingga aku bisa menempuh perguruan tinggi kubiarkan mati bonyok oleh tangan iblis,”
“Ibu memang sudah ingin keluar dari rumah jahanam itu sejak lama. Tapi, Ibu harus menunggu kamu dewasa. Ibu tidak mungkin keluar rumah tanpa ada penghasilan yang dapat Ibu pegang untuk membesarkanmu. Jalan satu-satunya untuk membesarkanmu saat itu adalah dengan tetap bertahan dengan Ayahmu,” tegas ibunya.
“Seharusnya aku yang berterima kasih pada Ibu. Ibu mengajariku makna perjuangan. Perjuangan harus diarahkan untuk hal-hal baik. Ibu juga mengajariku arti kompleksitas situasi sosial yang melihat perempuan hanya sebagai objek seksual dan pendamping suami. Aku belajar langsung dari pengalaman. Ibu adalah perempuan hebat, teguh, dan gigih. Aku ingin pandai menguasai sikap macam itu, bahkan akan kubawa sikap macam itu hingga ke lubang kuburku. Aku tidak berlebihan, tapi ini caraku menjaga komitmenku terhadap perjuangan melepaskan setiap perempuan dari belenggu situasi yang tidak menguntungkan mereka,” jawab Karta menceritakan makna situasi yang dialaminya.
“Selanjutnya, Ibu punya rencana apa?” lanjut Karta
“Sebenarnya Ibu tidak punya banyak rencana. Kita juga sudah tidak punya rumah. Tapi, Ibu hanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Ibu mau menata emosi Ibu dahulu sejenak, sembari menyembuhkan lebam bekas pukulan iblis waktu itu dan segera memeriksakan rasa sakit di wajah Ibu ke rumah sakit,” jawab ibunya dengan lembut namun tegas.
“Aku setuju, Bu. Kita istirahat sejenak dulu di mana pun. Rumah kita hari ini adalah jalanan. Bagi orang seperti kita, rumah yang sekadar menjadi tempat meneduh dari panas dan hujan tergolong barang mewah. Aku akan menjaga Ibu sepenuh hatiku,”
Hari demi hari berlalu setelah banyak malam jahanam dialami ibu Karta. Karta tidak akan memaafkan laki-laki bajingan yang sudah melukai ibunya. Karta juga akan mencari jalan penghasilan dengan cara apapun selama tidak merugikan orang lain demi menambah penghasilan yang didapat ibunya. Mereka mengamen dan bekerja serabutan asalkan pundi-pundi rupiah dapat dikumpulkan sekadar untuk makan di hari itu. Hidup memang tidak memihak orang-orang seperti Karta dan ibunya. Namun, bagi mereka, hidup harus dijalani tanpa bisa berbuat banyak. Sebab, sebelum mereka beranjak lebih jauh untuk memprotes situasi yang dialami, mereka sudah dipecundangi oleh situasinya lebih dulu. Banyak halangan yang susah mereka atasi, kecuali muncul suatu perubahan sosial yang berlangsung cepat dalam rangka membalikkan situasi yang terjadi, sehingga orang macam Karta dan ibunya dapat hidup sejahtera bersama semua orang.
Biodata Penulis:
Galih Ernowo Widianto, mulai belajar menulis sastra seperti puisi dan cerpen. Harapannya, keruwetan di kepalanya bisa disalurkan dengan cara yang lebih luwes. Ia bisa disapa melalui Instagram @galih.ernowo