Lia selalu menyukai tempat-tempat yang tidak diketahui orang lain. Karena itu, ketika mendengar cerita tentang pohon raksasa di tengah Hutan Kalindra, ia memutuskan untuk mencarinya sendiri.
Pohon itu ternyata jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya. Batangnya menjulang seperti menara, sementara akar-akarnya menjalar ke segala arah bagaikan ular batu yang tertidur. Saat matahari mulai tenggelam, Lia mengitari pohon tersebut dan menemukan sesuatu yang aneh.
Di bawah salah satu akar terbesar terdapat sebuah pintu kecil berwarna perak. Pintu itu tampak tua, tetapi tidak berdebu. Ukiran bunga dan bintang menghiasi permukaannya. Yang paling aneh, pintu itu berdiri begitu saja di antara akar-akar pohon, seolah memang tumbuh dari sana.
Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatian. Lia meraih gagang pintu dan memutarnya. Klik. Pintu terbuka. Di baliknya tidak ada tanah atau akar pohon, melainkan langit berwarna ungu yang dipenuhi pulau-pulau terapung. Burung-burung bercahaya terbang melintasi awan keemasan.
Lia menahan napas. Kemudian ia melangkah masuk.
***
Dunia itu bernama Fantasia.
Ia mengetahuinya dari seorang wanita berjubah hijau yang menyambutnya di sebuah taman penuh bunga kristal.
“Selamat datang, Pengelana,” kata wanita itu.
“Pengelana?”
“Orang-orang yang datang melalui Pohon Gerbang.”
Selama beberapa hari berikutnya, Lia menjelajahi Fantasia. Ia menaiki naga angin yang lembut seperti awan. Ia berenang di sungai yang mengalir ke atas menuju langit. Ia berteman dengan makhluk kecil berbulu putih bernama Nimo yang bisa mengubah warna bulunya sesuai perasaan.
Fantasia terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Namun pada hari ketujuh, wanita berjubah hijau itu mengajaknya ke sebuah menara kaca yang berdiri di atas pulau terapung tertinggi. Di sana terdapat sebuah jam raksasa. Jarumnya bergerak sangat lambat.
“Ini Jam Dunia,” jelas sang wanita. “Jam yang menghubungkan Fantasia dan duniamu.”
Lia mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
“Waktu berjalan berbeda di sini.”
Wanita itu menunjuk jam tersebut.
“Tujuh hari yang kamu habiskan di Fantasia sama dengan tujuh tahun di duniamu.”
Lia merasa darahnya membeku.
“Tujuh... tahun?”
Wanita itu mengangguk.
“Ketika kamu datang, usiamu lima belas tahun. Di duniamu sekarang, usiamu dua puluh dua tahun.”
Lia mundur beberapa langkah. Ia membayangkan ibunya yang pasti mencarinya. Teman-temannya yang mungkin mengira ia menghilang. Rumahnya yang mungkin sudah berubah.
“Tapi aku bisa pulang, kan?”
“Bisa.”
Lia menghela napas lega. Namun wanita itu belum selesai berbicara.
“Hanya ada satu perjalanan lagi melalui pintu itu.”
“Apa maksudnya?”
“Jika kamu pulang, pintu akan tertutup selamanya.”
“Dan jika aku tetap di sini?”
“Kamu akan menjadi bagian dari Fantasia. Waktu tidak akan menyentuhmu seperti manusia biasa. Kamu dapat hidup ratusan tahun, menjelajahi dunia ini tanpa akhir.”
Kesunyian memenuhi menara. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Fantasia, Lia tidak tahu harus merasa senang atau sedih.
***
Malam itu ia duduk di tepi pulau terapung bersama Nimo.
“Kalau aku jadi kamu, aku akan tetap di sini,” kata makhluk kecil itu.
“Kenapa?”
“Karena Fantasia indah.”
Lia tersenyum tipis.
“Benar.”
“Tapi kamu sedang memikirkan seseorang.”
Lia menatap langit. Ia teringat ibunya yang selalu menunggu di beranda setiap kali ia pulang terlambat. Ia teringat suara tawa sahabat-sahabatnya. Ia teringat rumah kecil yang sering dianggap membosankan. Tiba-tiba semua kenangan itu terasa sangat berharga.
Keesokan harinya, Lia berdiri di depan pintu perak. Wanita berjubah hijau menunggunya.
“Sudah membuat pilihan?”
Lia mengangguk.
“Fantasia luar biasa. Tapi hidupku ada di sana.”
Wanita itu tersenyum.
“Pilihan yang berani.”
“Apakah aku akan melupakan tempat ini?”
“Tidak. Kenanganmu akan tetap ada. Namun kamu mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi.”
Lia menatap langit ungu untuk terakhir kalinya. Lalu ia melangkah melewati pintu.
***
Ia terjatuh ke tanah berlumut di bawah pohon raksasa. Hutan Kalindra masih ada. Namun semuanya terasa berbeda.
Ketika Lia kembali ke kota, ia hampir tidak mengenalinya. Gedung-gedung baru berdiri di mana-mana. Jalan-jalan yang dulu familiar kini berubah. Banyak teman sekolahnya telah tumbuh dewasa. Namun seseorang masih menunggunya. Ibunya. Wanita itu kini tampak lebih tua daripada yang diingat Lia.
Ketika melihat putrinya berdiri di depan rumah, air mata langsung mengalir di wajahnya.
“Lia...?”
Lia berlari memeluknya.
Untuk beberapa saat, tidak ada kata-kata. Hanya pelukan yang menebus tujuh tahun kehilangan.
***
Bertahun-tahun kemudian, Lia sering memikirkan Fantasia. Ia bertanya-tanya tentang Nimo, tentang sungai yang mengalir ke langit, dan tentang pulau-pulau terapung yang bersinar di malam hari.
Kadang-kadang ia merindukan dunia itu. Namun setiap kali melihat keluarganya tertawa bersama, ia tahu bahwa ia telah memilih jalan yang benar. Karena keajaiban terbesar bukanlah hidup selamanya di dunia lain. Melainkan memiliki orang-orang yang membuat waktu yang singkat di dunia ini menjadi begitu berharga.
Dan meskipun pintu di bawah akar pohon raksasa telah tertutup selamanya, kenangan tentangnya akan selalu hidup di dalam hati Lia. Seperti sebuah dunia rahasia yang tidak pernah benar-benar hilang.