Ibu, Garam Itu Masih Tersisa

Cerpen ini mengangkat kisah haru tentang kemiskinan, kasih sayang ibu, dan kenangan sederhana yang tak pernah hilang dari ingatan.

Hai, namaku Alfian, anak dari keluarga yang sederhana. Sejak kecil, aku sudah terbiasa makan seadanya, jauh dari seperti makanan yang dibawa oleh teman-temanku pada biasanya.

Ibu, Garam Itu Masih Tersisa

Aku masih mengingat suara sendok yang sedang beradu di dalam piring itu.

Ting...

Ting...

Suara kecil yang entah darimana berasal sampai sekarang masih selalu kuingat-ingat begitu jelas dalam memoriku. Hari itu, di atas meja makan ada sepiring nasi putih yang sudah dingin. Tidak ada sayur bahkan lauk yang dibawa seperti dari rumah seperti teman temanku.

Ayahku, Budi Sanjaya, bekerja sebagai buruh di desa. Ia sering pergi untuk mencari nafkah dan tidak selalu pulang setiap hari. Sesekali, ia hanya mengirimkan uang untuk kebutuhan kami sehari-hari. Terkadang pemberian uang dari ayah pun tak selalu cukup dalam memenuhi kebutuhan kami. Aku tahu Ayah bekerja dengan keras. Namun, saat itu aku belum tahu mengapa Ibu selalu berpikir berkali-kali sebelum memakai uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Aku belum mengerti mengapa Ayahku tidak selalu membersamai kami di rumah ini. Ia sedang berjuang untuk mencari nafkah untuk keluarga.

Hanya nasi di dalam piring.

Dan di sampingnya, sebuah wadah yang berukuran kecil yang berisi garam. Aku duduk di lantai menggunakan karpet yang sudah usang, sementara Ibu sedang memasak di dapur. Tangannya mengaduk sesuatu di dalam wajan kecil yang sudah lama tidak mengeluarkan suara desis minyak.

“Bu,” panggilku dengan suara pelan.

“Iya, Nak?” jawab Ibu.

“Lauknya mana, Bu?” tanyaku dengan ekspresi bingung.

Tangan Ibu tiba-tiba berhenti sejenak.

Kemudian ia menoleh sambil tersenyum tipis.

“Garam juga lauk, kan, Nak?”

Aku tidak menjawab satu kata pun dalam mulutku.

Ibu mengambil sedikit garam dengan ujung jarinya, lalu menaburkannya ke atas nasi yang masih hangat. Setelah itu, ia mengambil minyak bekas menggoreng yang masih tersimpan di botol kecil dan menuangkannya sedikit ke dalam nasi yang bercampur garam.

Tidak banyak.

Hanya cukup untuk membuat nasi itu terlihat mengilap.

“Coba dimakan.”

Aku menatap piringku cukup lama dan merasa bingung apakah makanan itu enak untuk dimakan? Bahkan rasanya pun aku tidak tahu seperti apa.

Di usia yang 10 tahun, aku belum mengerti banyak hal tentang uang. Aku hanya tahu bahwa teman-temanku bisa membawa bekal dengan lauk yang berbeda-beda. Ada yang membawa telur goreng. Ada yang membawa ayam goreng. Ada pula yang setiap pagi diberi uang untuk membeli makanan di sekolah.

Sementara aku? Kadang nasi dengan kecap. Kadang nasi dengan garam. Dan hari itu, nasi dengan garam dan minyak bekas. Aku mengambil satu suapan. Asin rasanya. Aku mengambil suapan kedua. Masih asin. Tetapi aku harus memakannya. Bukan karena rasanya enak. Hanya saja, aku hanya tidak ingin perutku kosong dan melihat ibu bersedih karena aku tidak mau makan yang sudah disiapkan.

Dari sudut mata, aku melihat Ibu kembali ke dapur.

“Bu, Ibu sudah makan?” Tanyaku.

“Sudah.” Menjawab dengan singkat.

Jawabannya cepat sekali. Terlalu cepat.

Aku percaya begitu saja. Waktu itu aku belum tahu bahwa ada jenis kebohongan yang lahir bukan karena seseorang ingin menipu orang, melainkan karena ia ingin membuat orang yang disayanginya merasa baik-baik saja. Termasuk Ibu.

Malamnya, aku terbangun karena haus. Rumah sudah gelap. Aku berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil air.

Saat melewati ruang tengah, aku melihat Ibu duduk sendirian. Di hadapannya tidak ada piring. Tidak ada nasi. Tidak ada lauk. Hanya segelas air putih.

Aku berdiri di balik pintu. Ibu menghela napas panjang. Kemudian ia membuka tutup wadah beras dan melihat isinya.

Aku tidak tahu jelas apa yang sedang dipikirkannya. Namun, untuk pertama kalinya aku merasa ada sesuatu yang tidak kumengerti dari kehidupan kami. Sesuatu yang selama ini hanya kulihat sebagai “tidak punya lauk”. Padahal mungkin jauh lebih besar dari itu. Aku kembali ke kamar tanpa mengatakan apa-apa.

Waktu terus berjalan.

Aku tumbuh. Perlahan-lahan, aku mulai mengerti harga beras, harga minyak dan bagaimana Ibu harus selalu mempertimbangkan berkali-kali sebelum mengeluarkan uang.

Dulu, aku hanya tahu bahwa nasi harus dimakan ketika sedang lapar. Sekarang, aku mulai mengerti bahwa untuk menyiapkan sepiring nasi saja, ada banyak hal yang diperjuangkan.

Keadaan keluarga kami perlahan mulai berubah, meskipun tidak selalu mudah dan semakin aku mengerti, semakin kuat aku dalam mengingat piring itu. Nasi yang ditaburi garam. Sedikit minyak bekas. Serta senyuman ibu yang aku anggap biasa saja. Ternyata semuanya salah. Senyum itu adalah cara Ibu menyembunyikan khawatir.

Suatu hari, ketika sudah berumur 15 tahun, aku kembali makan bersama Ibu. Ayah pun sudah kembali tinggal bersama kami.

Di meja ada banyak sekali berbagai macam makanan. Ada ayam goreng, tempe, tahu, dan sayur sop yang tersaji di atas meja. Aku mengambil lauk, lalu tanpa sengaja melihat tempat garam di samping piring.

Aku terdiam.

Tiba-tiba aku teringat masa kecilku. Yang baru pertama kali makan dengan garam dan minyak bekas.

“Bu,” kataku.

“Iya?”

“Dulu aku pernah makan nasi cuma pakai garam sama minyak bekas, ya?”

Ibu hanya tertawa kecil.

“Kamu masih ingat?” Jawabnya dengan tersenyum.

Aku mengangguk.

“Ingat banget, Bu.”

Ibu tidak menjawab setelah mendengar jawabanku. Ia hanya tersenyum sambil mengambilkan lauk untukku. Aku menundukkan kepala. Ada sesuatu yang terasa sesak di dada.

Dulu aku mengira yang paling menyedihkan dari makanan itu adalah tidak adanya lauk. Sekarang aku sadar, yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa saat aku kecil dan sibuk memikirkan kenapa tidak ada lauk yang seharusnya sudah disiapkan oleh ibu, ada seorang ibu yang mungkin sedang memikirkan bagaimana cara agar anaknya tetap bisa makan esok hari.

Aku mengambil sedikit garam. Kutaruh di ujung piring. Bukan karena aku ingin kembali pada masa itu. Aku hanya ingin mengingat rasanya. Sedikit. Hanya sedikit.

Dan benar saja. Rasa asin itu masih sama seperti yang aku makan dulu. Tetapi kali ini, yang membuat mataku panas bukan garamnya. Melainkan kenangan tentang seorang ibu yang pernah berkata,

“Garam juga lauk, kan?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

Ibu, garam itu masih terasa dalam ingatanku. Bukan lagi sebagai rasa kekurangan. Melainkan sebagai rasa cinta yang dahulu belum mampu kupahami. Dan mungkin, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah benar-benar lupa bagaimana rasanya menjadi anak kecil yang makan nasi dengan garam dicampur minyak bekas sementara di seberang piringnya, seorang ibu sedang berusaha memastikan anaknya tidak pernah merasa bahwa hidup sedang begitu sulit.

Alfianto Nugraha

Penulis:

Alfianto Nugraha merupakan mahasiswa Administrasi Publik di STIA AAN Yogyakarta. Ia memiliki ketertarikan pada dunia literasi dan menulis sebagai ruang untuk mengabadikan pengalaman, perasaan, serta hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara untuk menyampaikan cerita dan menemukan makna dari berbagai peristiwa kehidupan sehari hari.

© Sepenuhnya. All rights reserved.