Dosen itu akhirnya mengakhiri mata kuliahnya. Mahasiswa bersorak dalam hati masing-masing. Ada yang mengembuskan napas lega, ada yang buru-buru memasukkan buku ke dalam tas, dan sisanya hanya menatap jam dinding seolah baru saja dibebaskan dari sebuah hukuman.
“Sampai di sini pertemuan kita hari ini. Ada pertanyaan?”
Tidak ada yang menjawab.
Seperti biasa, tidak ada mahasiswa yang berniat mencari muka, apalagi kepada dosen yang satu ini. Begitu beliau meninggalkan ruangan, semua berhamburan keluar. Masing-masing mencari pelarian, mencari udara, atau sekadar mencari sesuatu yang bisa menjadi obat penenang bagi kepala yang sejak tadi penuh dengan cacian tanpa tujuan.
Entah berapa lama kami berada di luar kelas. Tanpa terasa, kami sudah kembali berkumpul di ruangan yang sama, menunggu dosen berikutnya yang, seperti biasa, belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Hari itu terasa sedikit aneh. Entah siapa yang memulai, tetapi hampir semua mata di dalam kelas mengarah ke tempat yang sama: lantai dua gedung sebelah, Fakultas Ekonomi.
Ada sesuatu yang sedang terjadi di sana. Empat mahasiswi berdiri di koridor. Mereka berbincang dengan santai, tanpa sedikit pun menyadari bahwa dari kejauhan ada puluhan pasang mata yang diam-diam memperhatikan.
Selalu ada sesuatu yang istimewa dari seorang gadis polos yang seolah hidup di dunianya sendiri. Mungkin karena tidak berusaha menjadi pusat perhatian, justru perhatianlah yang datang kepadanya.
Kevin, mahasiswa paling ceplas-ceplos di kelas kami, akhirnya bersuara.
“Yang pakai baju ungu itu paling cantik di antara mereka.”
Beberapa di antara kami tertawa kecil.
Aku rasa wajar kalau Kevin mengatakan hal seperti itu. Aku sendiri, meskipun hanya melihat sepintas, bisa memahami maksudnya. Namun kalau boleh jujur, rasanya memang hanya Kevin yang pantas mengucapkan kalimat tersebut. Di antara kami, dialah satu-satunya yang memiliki reputasi sebagai playboy.
Aku kembali memandang ke lantai dua. Gadis berbaju ungu itu masih di sana. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari jarak sejauh itu, suara mereka tentu tidak mungkin terdengar. Tapi entah mengapa, aku terus memperhatikannya.
***
Pelajaran berikutnya akhirnya selesai. Teman-temanku kembali mencari kesibukan masing-masing. Sebagian besar menuju kantin. Aku masih di dalam kelas, menyelesaikan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Sesekali mataku kembali mengarah ke lantai dua.
Gadis itu masih berbicara dengan teman-temannya. Aku menunggu. Tidak tahu apa yang kutunggu. Mungkin hanya ingin melihatnya sekali lagi.
Beberapa saat kemudian mereka mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Aku pun menyerah pada rasa penasaran dan kembali pada kesibukanku sendiri.
***
Hari itu tidak ada lagi mata kuliah. Aku menyalakan sepeda motor dan memutuskan untuk pulang. Matahari siang terasa menyilaukan. Semangatku mulai surut bersama kenyataan bahwa hari itu mungkin tidak akan menyisakan sesuatu yang istimewa.
Namun sesampainya di depan gerbang kampus, mataku seperti kembali menemukan tenaga. Gadis berbaju ungu itu berjalan ke arah selatan. Tanpa berpikir panjang, aku mengikuti arah jalannya.
Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Mungkin rasa penasaran. Mungkin kekaguman. Atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya dari keduanya.
Aku menjaga jarak, mengendarai motor perlahan di belakangnya. Entah dia menyadari keberadaanku atau tidak. Aku tidak peduli. Yang jelas, ada semacam amukan kecil di dalam dada setiap kali ia berjalan semakin jauh.
Sampai akhirnya aku kehilangan jejaknya. Sia-sia. Aku menghentikan motor.
Mungkin sekitar lima belas menit aku berputar-putar tanpa tujuan. Sampai tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.
“Bang, mengapa tidak ikut masuk saja?”
Aku berbalik. Dan untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti.
Ternyata dia. Dari jarak sedekat ini, wajahnya jauh lebih indah daripada yang sempat kubayangkan dari lantai dua gedung fakultas. Aku hanya diam. Memandangnya seperti seseorang yang baru pertama kali belajar bagaimana caranya memandang.
Ada pertanyaan yang melayang tanpa jawaban. Dia tersenyum.
“Bang?”
Aku masih diam.
“Kenapa tidak ikut masuk?”
Barulah aku sadar bahwa sejak tadi dia sedang berbicara kepadaku.
Aku mendadak merasa seperti mahasiswa yang salah masuk kelas, lalu baru menyadarinya ketika dosen bertanya, “Kamu sejak kapan jadi mahasiswa saya?”
Aku mencari kata-kata yang pantas untuk keluar dari mulut, tetapi sebelum sempat menemukannya, dia sudah berjalan meninggalkanku.
Entah dari mana datangnya keberanian, aku meninggalkan kendaraan dan berjalan di sampingnya. Kalimat pertama yang keluar dari mulutku justru sebuah kebodohan.
“Aku nggak tahu tadi kamu masuk ke kantin itu.”
Dia menoleh. Kemudian tersenyum lagi. Aku tahu aku baru saja mengatakan sesuatu yang aneh. Mungkin sangat aneh. Tapi entah mengapa, aku menyukai senyuman itu.
Dan dari senyuman itu, muncul satu kesadaran yang membuatku sedikit gugup. Jangan-jangan dia tahu. Jangan-jangan sejak tadi dia tahu bahwa aku mengikutinya.
Kami terus berjalan. Ternyata rumahnya hanya sekitar seratus meter dari kampus. Pantas saja dia tidak menggunakan kendaraan.
Aku kembali merasa seperti manusia paling bodoh di dunia, berjalan di samping seorang gadis yang dalam pikiranku sudah menjelma menjadi peri salju. Sampai akhirnya ia berkata dengan sangat sopan,
“Bang, ini asrama perempuan. Lelaki dilarang masuk.”
Aku mendengarnya. Jelas. Tetapi anehnya, kakiku masih saja mengikuti langkahnya.
Beberapa meter kemudian, dia berhenti tepat di depan pagar asrama. Bangunannya tampak seperti sebuah rumah besar yang dijadikan tempat tinggal bersama.
Aku ikut berhenti. Tidak ada kata-kata. Hanya diam. Namun diamnya cukup jelas untuk menjelaskan bahwa perjalanan kami sudah selesai.
Aku sadar, secara halus, dia sedang mengusirku. Aku pun berdiri di sana beberapa saat, tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Yang jelas, aku tidak mungkin terus berdiri di sampingnya.
Dan siang itu, aku menemukan sebuah nama untuk semangat baru dalam hidupku.
Purple Girl.
***
Siang tetap berjalan seperti biasa. Matahari masih panas. Jalanan masih ramai. Debu masih beterbangan. Tidak ada satu pun yang berubah. Namun entah mengapa, aku ingin menikmati semuanya.
Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang membuat hari biasa terasa berbeda.
Waktu pasti berlalu. Aku tahu itu. Tetapi tetap saja ada orang-orang yang berharap waktu berhenti, walau hanya sebentar. Hari itu, akulah salah satunya.
Aku masih berada di sekitar kampus, menikmati secangkir Sanger Pancong. Sesekali mataku mengarah ke jalan menuju asrama perempuan. Aku menunggu. Tidak tahu apa yang kutunggu. Mungkin berharap dia kembali lewat. Mungkin berharap ia menyapaku sekali lagi. Mungkin hanya berharap senyum itu muncul di hadapanku untuk kedua kalinya.
Bosanku entah ke mana. Panas pun tidak lagi terasa. Selama masih ada sedikit harapan untuk melihat senyum itu, rasanya aku sanggup bertahan lebih lama.
Namun sore akhirnya datang, menjemput siang seperti biasa. Dan keras kepalaku pun perlahan menyerah. Aku pulang ke rumah (indekos) dengan membawa harapan yang telah dicabik-cabik waktu.
Aku bukan lagi si penunggu malam. Kini aku hanya seorang pemuja harapan—menunggu sesuatu yang bahkan belum tentu akan datang. Aku rela menjadi apa saja. Aku siap menunggu sesuatu yang sudah pasti tidak pasti. Meski aku tahu, menunggu selalu memiliki satu risiko yang sama: sakit.
***
Sesampainya di rumah, aku disambut riuh suara. Ada yang tertawa, ada yang berbicara, ada pula yang melemparkan beribu pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin kujawab. Padahal biasanya aku adalah manusia pertama yang membuka pintu rumah. Hari itu justru aku menjadi orang terakhir yang masuk. Dan entah mengapa, aku benci menjadi si pengetuk pintu.
Aku berjalan menuju kamar. Kutaruh tas di sudut ruangan. Kurebahkan tubuh di atas tempat tidur. Untuk pertama kalinya hari itu, aku punya waktu untuk berpikir. Tentang empat gadis di lantai dua. Tentang baju ungu. Tentang jalan pulang. Tentang senyuman. Dan tentang seorang gadis yang bahkan belum kukenal namanya.
Aku tersenyum sendiri. Sial. Seharian penuh aku menjadi manusia bodoh. Tapi untuk pertama kalinya, kebodohan itu terasa menyenangkan.