Malam itu, kompleks asrama pondok pesantren mendadak hening dengan cara yang tak biasa. Ketika lonceng kayu di gerbang utama berdentang sembilan kali menandakan mulainya akhir pekan, ketua asrama kami atau biasa disebut dengan Pak Lurah, yang dikenal dingin menginstruksikan seluruh pengurus untuk mengunci gerbang samping. Sebuah pengumuman mendadak disebarkan dari mulut ke mulut: malam ini, sebuah ritual kuno yang terlarang akan digelar di aula utama.
Aku, yang saat itu sudah menginjak kelas IX, berjalan menyusuri lorong redup menuju aula yang terletak tepat di pusat kompleks. Di kanan dan kiri aula, pintu-pintu kamar santri yang tertutup rapat seolah memendam rahasia. Langkah-langkah kaki ratusan santri bergesekan dengan lantai semen dingin, menciptakan pantulan suara aneh yang merambati dinding-dinding tua. Bau asap kemenyan tipis entah darimana asalnya mulai menusuk hidung, berpadu dengan udara malam pesantren yang selalu menusuk tulang.
Suasana di aula mencekam. Semua santri dikumpulkan melingkar, sementara di tengah-tengah ruang berdiri Lurah dengan tatapan tajam tak berkedip. Tidak ada senyum, tidak ada gurauan. Ia menatap kami satu per satu, seolah sedang menyeleksi siapa yang cukup berani untuk menantang takdir malam itu.
Dengan suara berat dan berbisik, Lurah mulai membuka pembicaraan. Ia menceritakan kisah yang selama ini hanya jadi mitos bisikan di kamar mandi belakang: Pesugihan Tuyul. Ia mengklaim bahwa di bawah fondasi aula tua ini, terdapat entitas kecil yang bisa dipanggil pada jam-jam krusial untuk mendatangkan uang tunai secara mendadak bagi siapa saja yang bersedia menjadi perantara.
Pak Lurah sampai mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan keruh. Katanya, itu bahan buat memanggil makhluk halus. Dia juga berbisik kalau makhluk itu paling suka sama tempat gelap dan bau sarung yang lembap.
Ceritanya makin bikin merinding gara-gara sesekali ada angin malam yang mendadak bertiup kencang. Suara jendela kayu aula yang berderit kena angin makin sukses bikin bulu kuduk kami berdiri.
"Iki dudu dolanan," bisik Lurah, suaranya seperti desis angin malam. "Sopo sing wani, bakal oleh hasil. Tapi lek gak siap mental, mending balik kamar saiki."
Rasa penasaran bercampur takut mendadak menyengat udara. Bulu kuduk beberapa santri di dekatku berdiri tegak.
“Serius iso entuk duit, Kang?” tanya seorang santri kelas VII dengan suara bergetar, matanya melotot panik tapi tergiur.
“Iyo. Tapi syarate berat. Sekali kamu melangkah maju, kamu gak iso mundur,” jawab Lurah dingin tanpa mengepalkan tangan.
Satu per satu, santri yang tergiur dan penasaran mulai mengacungkan tangan. Aku, yang tetap berada di barisan tengah, perlahan mengangkat tangan dan melangkah masuk ke dalam kelompok terpilih itu. Dalam hati, aku menatap wajah-wajah polos adik-adik kelas VII yang tubuhnya sudah mulai gemetaran.
Persyaratan ritual pun dibacakan. Syaratnya aneh dan bernuansa mistik: para peserta diwajibkan melepaskan seluruh pakaian luar mereka, menyisakan pakaian dalam, lalu duduk berjongkok merapat ke lantai. Setelah itu, tubuh mereka harus ditutupi rapat-rapat menggunakan sarung masing-masing, menyerupai kepompong raksasa yang siap bertapa di tengah kegelapan.
Semua dilakukan saat lampu neon aula masih menyala, memantulkan bayangan-bayangan aneh di dinding. Aku melihat beberapa santri mulai ragu, wajah mereka pucat, keringat dingin menetes di pelipis. Namun, tekanan atmosfer yang begitu serius dan pandangan mata pengurus yang mengintimidasi memaksa mereka untuk tetap menunduk dan menuruti setiap instruksi.
"Persiapan rampung," bisik Lurah.
JEKLEK!
Lampu aula dimatikan total.
Seketika, kegelapan pekat menelan seluruh ruangan. Tidak ada seberkas cahaya pun yang menembus. Jam dinding tua di sudut aula menunjukkan pukul satu dini hari tepat.
Tik... tik... tik...
Suara detak jarum jam terdengar begitu nyaring dan menakutkan, berpacu dengan denyut nadi para peserta. Dari luar, suara jangkrik bersahutan seperti jeritan samar dari kegelapan malam. Udara di dalam aula terasa kian berat dan mengencang.
Di tengah kegelapan, aku jadi teringat kejadian tahun lalu. Dulu aku juga merasakan dinginnya lantai semen ini dan jantung rasanya mau copot gara-gara membayangkan bentukan makhluk halus yang bakal keluar.
Tapi sekarang, melihat adik-adik kelas ketakutan sambil sembunyi di balik sarung, aku malah setengah mati menahan tawa supaya tidak ketahuan mereka.
Lurah mulai membaca mantra dengan suara pelan, seperti bisikan tak bertuan yang muter-muter di udara. Komat-kamit... komat-kamit... Suaranya berpindah-pindah tempat dengan cepat, membuat bulu kuduk makin merinding. Di balik sarung, tubuh-tubuh yang menunduk itu mulai bergetar hebat. Beberapa santri terdengar menahan napas, bahkan ada yang mulai membaca ayat kursi dengan suara tertahan dan gagap.
Lima menit berlalu seperti berabad-abad. Kegelapan itu terasa bernapas. Keheningan merayap begitu mencekam hingga suara bisikan napas sendiri terdengar menyiksa.
Tiba-tiba, suara bacaan mantra Lurah terhenti secara mendadak. Udara seolah membeku.
Satu detik... dua detik...
"TAKBIIRRRRR!" jerit Lurah dengan suara menggelegar menembus kegelapan.
"BISMILLAHI... ALLAHU AKBAR!"
CKLAK! Lampu neon menyala terang benderang secara mendadak!
Dan pada hitungan detik yang sama, sebelum mata mereka sempat menyesuaikan diri dengan cahaya, kami para pengurus yang sudah bersiap di sekeliling aula langsung melompat maju dan MENARIK SARUNG yang menutupi tubuh para peserta dengan sekali sentakan kuat!
"HIYAAAAAA!"
Seketika, aura horor yang mencekam hancur berkeping-keping, berganti menjadi kekacauan paling absurd yang pernah ada di pesantren!
Aula yang tadinya seram berubah total menjadi arena kepanikan massal. Puluhan santri yang hanya mengenakan celana dalam mendadak histeris! Ada yang berteriak histeris menutupi badannya dengan tangan kosong, ada yang berguling-guling di lantai mencoba merebut kembali sarungnya, ada yang lari terbirit-birit menabrak tiang aula, bahkan ada yang sampai melompat menimbun temannya sendiri demi bersembunyi dari pandangan orang lain!
Ada santri yang refleks nutupin muka pakai kedua tangan padahal badannya sama sekali enggak ketutup kain. Ada juga yang malah berusaha merangkak ke bawah panggung aula buat sembunyi. Suasananya benar-benar makin kacau dan kocak.
"SARUNGKU! SARUNGKU NGENDI?!" jerit seorang santri kelas VII sambil jongkok memeluk lututnya dengan wajah merah padam.
Suara gelak tawa langsung meledak hebat menggelegarkan aula! Para pengurus tertawa sampai berguling-guling di lantai melihat pemandangan kacau balau tersebut.
Aku berdiri di barisan pengurus, memegangi perut yang sakit karena tertawa terlalu keras. Wajah-wajah yang tadinya pucat ketakutan karena tuyul, kini berubah menjadi pucat karena malu setengah mati.
Dua tahun yang lalu, saat aku masih kelas VII, aku yang menjadi korban. Aku masih ingat betul betapa paniknya ketika sarungku ditarik, dan betapa malunya aku harus lari-lari kecil mencari sarung sambil ditertawakan senior.
Tapi tahun ini... jalan ceritanya berbeda.
Tahun ini aku bukan lagi korban. Aku adalah dalangnya!
Cerita tentang ritual memanggil tuyul, uang gaib, kemenyan, dan suasana mencekam tadi hanyalah skenario matang yang dirancang oleh Lurah dan kami para pengurus kelas VIII. Tidak ada tuyul. Tidak ada mistik. Tidak ada uang. Yang ada hanyalah prank massal tahunan untuk menyambut anggota baru dalam tradisi keakraban asrama.
Malam yang tadinya terasa bagai film horor itu ditutup dengan tawa riuh yang pecah di seluruh sudut pondok. Para santri yang tadinya panik, perlahan mulai sadar kalau mereka baru saja dikerjai habis-habisan. Sambil menggerutu dan tersipu malu, mereka akhirnya ikut tertawa menertawakan kebodohan diri mereka sendiri yang sempat percaya pada cerita tuyul.
Hidup di pondok memang aneh sekaligus indah. Kadang, ketakutan paling membuncah dan suasana paling mencekam bisa berubah menjadi kenangan paling manis hanya dalam hitungan detik.
Dan sampai sekarang, setiap kali aku mendengar suara detak jam tua...
Tik... tik... tik...
Aku tak lagi merasa merinding. Aku justru langsung tersenyum sendiri, teringat pada suatu malam gelap di aula, di mana ritual tuyul terlarang berubah menjadi peristiwa paling konyol dalam hidup kami.
Penulis:
Ahmad Firjaun Balya Barlaman merupakan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik. Saat ini, aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan, baik intra maupun ekstra, serta terus mengembangkan kemampuannya dalam bidang kepenulisan.